Hanah Rawlee yang tidak sengaja bertemu dengan sosok laki-laki misterius di dalam bus tiba-tiba mengalami hal aneh yang tak masuk akal.
Setelah selamat dari kecelakaan maut 3 tahun lalu, hal janggal dan juga mengerikan terjadi di dalam hidupnya, Hanah bertemu dengan sesosok mahluk mengerikan yang ingin membunuhnya saat di dalam perjalanan. Saat itulah dia bertemu dengan Adia Hiro seorang pemuda pemberani dari pasukan khusus bernama DAF.
Lewat Hiro, sedikit demi sedikit Hanah mengetahui jati dirinya yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diqa alisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
"Dari mana saja kau, kenapa pulang terlambat?" Ucap Hiro.
Hiro dan Nuara menungguku di depan pintu rumah, mengintrogasiku seperti pelaku tindak kriminal.
"Kau bilang akan pulang cepat, matahari saja sudang meninggi?!" Ujar Hiro.
Dia tak mau berhenti.
"Kau tak tahu betapa aku menghawatirkan keadaanmu?" Hiro mendekat.
"Aku ada urusan sebentar!" Jawabku singkat.
"Urusan. Tapi kenapa kau tak memberitahu ku?" Ucap Hiro.
Dia cerewet sekali, apakah begini rasanya jika punya saudara laki-laki.
"Bukan urusan yang sangat penting. Lagi pula sejak kapan kalian berdua kompak!" Ucapku.
"Kau tak tau seberapa banyak bahaya yang menunggumu di luar sana, bahkan dengan kemampuanmu yang sekarang, kau tak cukup cakap untuk membela diri!" Sambung Nuara.
"Aku tidak selemah itu!" Aku tak terima.
"Kalau tidak, mana mungkin aku sekhawatir ini padamu!" Hiro menimpali.
"Pokoknya aku baik-baik saja!"
Braakkk...
"Hanah. Buka pintunya aku belum selesai bicara, Hanah!" Hiro bersikeras.
Aku menutup pintu rumah lalu menguncinya, menyebalkan sekali jika harus mendengarkan ocehan mereka.
************
"Tadi pagi kau bertindak menyebalkan dan mengusir kami. Sekarang, kau malah meminta kami untuk menemanimu pergi!" Ucap Nuara dengan nada rendah.
Aku tersenyum masam menatap nya, perkataan Nuara benar, tapi aku tak punya pilihan lain selain meminta bantuan pada mereka.
"Ah pemandangan dari sini indah, aku lupa kalau kereta api ini melewati perkebunan lavender karena setiap kali melintas selalu ketiduran!" Ucapku mengalihkan pembicaraan.
"Menyebalkan, padahal aku belum selesai bicara!" Nuara menggerutu.
Hiro tertidur pulas di kuris belakang, katanya dia lelah karena menungguku pulang dengan tidak tidur sampai matahari terbit.
40 menit kemudian, kami sampai di pasar laut Vesta. Kerusakan akibat memerangi Anuagra Sagr yang mengamuk masih terlihat jelas dan belum terpulihkan.
Terutama pada alun-alun kota, ditempat Anuagra Sagr di eksekusi oleh dewa kematian. Perasaan ngeri atas ingatan itu masih membekas dan membuat bulu kudukku berdiri.
"Ahh tempat ini rupannya!" Ucap Hiro meregangkan badannya sambil menguap.
"Kerusakannya parah sekali!" Sambung Nuara.
"Hei!" Hiro memanggil Nuara, "aku bertanya karena penasaran. Saat itu, apa yang sedang kau lakukan di tempat ini?"
Mereka berdua saling melihat satu sama lain dengan tatapan sejurus.
"Aku ada urusan di sekitar sini!" Jawab Nuara singkat.
"Urusan apa?" Tanya Hiro.
Nuara tak langsung menjawab, mereka kembali bertatapan dengan gelagat curiga.
"Kenapa kau ingin tahu?" Nuara menyerang balik.
"Memangnya aku tak boleh tau?" Hiro bersikeras.
Mereka berdua selalu bertengkar untuk hal-hal seperti ini.
"Aku tak mau mengatakannya, kenapa aku harus melaporkan segala hal padamu!" Nuara menolaknya mentah-mentah.
"Apa, kenapa tidak. Ternyata benar, kau memang menyembunyikan sesuatu!" Hiro menimpali.
"Apa maksudmu, kenapa aku harus menyembunyikan sesuatu darimu!" Nuara kesal bukan main.
"Lalu kenapa kau tak mau mengatakan nya!" Hiro tak mau mengalah.
Nuara mengurut pelipis lalu memejamkan mata, sepertinya dia kalah dengan Hiro yang keras kepala.
"Aku menukar hasil panen ku di pasar ini dengan daging dan juga ikan segar, lalu sisa nya ku jual untuk membeli alat-alat sihir dan obat-obatan herbal!" Ucap Nuara.
"Memangnya di tempat mu tak ada pasar?" Timpal Hiro.
"Bukannya tidak ada, hanya saja di tempat ini mereka masih menggunakan sistem barter sesama pedagang, dan juga persediaan rempah herbal di pasar ini melimpah ketimbang di tempat lain!"
Akhirnya mereka berdua mereda dengan sendirinya, keputusan baik karena aku tidak berusaha menghentikan mereka.
"Kenapa kau tak mengatakannya dari awal, jika kau menjawab nya dengan jujur, aku tidak mungkin mencurigaimu!" Hiro memancingnya lagi.
"Itu karena kau terlalu memaksaku, tau!" Pekik Nuara hilang kesabaran.
"Dasar, apa semua suku Irfa bertempramen buruk sepertimu?" Hiro tak berhenti.
"Yang bertempramen buruk itu kau!" Nuara terpancing.
"Astaga!" Aku mengiringi langkah mereka berdua sambil mendengarkan ocehan seperti ini selama beberapa hari.
Sepuluh menit dari pasar laut Versa, kami akhirnya sampai di rumah ayahku.
Tempat ini tak berubah dari terakhir kali ku tinggalkan, pintu dapurnya masih terbuka di penuhi daun kering yang terbawa masuk oleh angin.
Keadaan dapurnya masih sama, juga tumpukan piring bersih yang belum selesai di pindahkan ayah ke rak piring, suasana ini tak berubah sama sekali, ayahku memang tak pernah pulang sejak hari terakhir dia pergi.
"Hanah!" Panggil Hiro.
Dia menghawatirkan ku.
Aku membalikan badan dan tersenyum dengan mereka.
"Mau ku buatkan kopi?" Tanyaku.
*************
"Sejak kecil, aku sudah berada di panti asuhan. Aku tak pernah tahu dari mana asalku. Pengasuh panti selalu bilang, apapun keadaan kami sekarang, dari mana asal kami, semua itu tak penting, asal kami semua saling memiliki satu sama lain, dunia akan memandang kami dengan pandangan yang sama!" Ucapku.
Mereka berdua duduk di hadapanku, menikmati secangkir kopi dengan udara bersih dari lautan.
"Lalu saat aku berumur 10 tahun, pemilik dan pengasuh yang mengasuhku dari kecil telah berganti dengan pemilik dan pengasuh tamak, teman-temanku yang dulu baik, kini bersaing mencari muka demi bertahan hidup. Aku berpikir untuk pergi dari tempat itu dan mencari kehidupan lain yang layak, tapi sebelum pergi, ketua panti mengabarkan, aku akan di adopsi oleh seorang laki-laki lajang yang sakit-sakitan!"
Aku melanjutkan.
"Begitu banyak peraturan tentang syarat adopsi, para calon orang tua kadang tak mendapatkan hak karena tak mencukupi syarat, status melajang juga tidak termasuk sebagai syarat pengadopsi. Tapi, melihat pemilik panti yang tamak, dan juga hal lain di atas pengetahuanku, sepertinya tak ada yang tak mungkin!"
Mereka berdua menyimak tanpa menyela.
"Mencurigakan. Begitu banyak berita tentang teman-temanku yang berakhir tragis setelah di adopsi. Ku pikir hidupku telah berakhir di tangan pria asing yang punya niat jahat, tapi ternyata, hidupku jauh lebih baik dari apa yang ku bayangkan!"
Aku mengangkat kepalaku.
"Ayahku. Dia adalah orang paling lembut yang pernah ku kenal, memperlakukan ku seperti anak kandung yang lahir dari darah dagingnya sendiri, memberikan ku privasi melebihi yang ku minta, hati nya sehangat nyala lilin di tengah kegelapan. Memilikinya di sisiku sudah cukup membuatku tetap hidup!"
Aku menatap mereka satu persatu lalu menundukan kepala.
"Reaksi ku kemarin mungkin berlebihan, tapi saat mendapat kabar dari Vincent. Dunia ku seakan runtuh, aku tak bisa membayangkan hidupku tanpa ayah!" Ucapku.
Mereka berdua tetap diam.
"Aku berharap bisa secepatnya menemukan ayahku!"
"Pasti!" Pekik Hiro tiba-tiba.
Aku terkejut, suara Hiro yang penuh semangat hampir membuatku terperanjat dari tempat duduk.
Dia beranjak dari kursinya lalu memegang kedua lenganku.
"Kita pasti akan menemukan ayahmu, pasti!" Ucapnya lagi.
Aku menatapnya tanpa berkedip, dada ku bergemuruh.
"Aku yakin dia baik-baik saja, ayahmu akan selalu dalam keadaan sehat!" Timpal Nuara.
"Kalian!" Aku menatap mereka secara bergantian.
"Jadi, Hanah!"
Hiro mencengkram lembut kedua lenganku.
"Menangis lah saat kau ingin menangis, aku mengerti bagaimana rasanya menahan tangis saat kau ingin menangis!"
"Hiro!" Panggilku.
Seketika air mataku menggenang, sampai tak sanggup ku tahan. Mereka berdua kompak membesarkan hati ku, perasaan asing ini membuat dada ku hangat.
ini kebenarannya tapi kenapa kedengerannya jadi kek omong kosong 🤣
Tapi perasaan gak ada yang berubah. Ngapain lu hapus bab lama, padahal komentar sama like-nya udah bejibun
Baca bab baru kaga idep
mana Ujan Meteong?!