NovelToon NovelToon
Rempah Sang Waktu

Rempah Sang Waktu

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Istana/Kuno / Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:30.5k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Seorang Food Vlogger modern yang cerewet dan gila pedas, Kirana, tiba-tiba terlempar ke era kerajaan kuno setelah menyentuh lesung batu di sebuah museum. Di sana, ia harus bertahan hidup dengan menjadi juru masak istana, memperkenalkan cita rasa modern, sambil menghindari hukuman mati dari Panglima Perang yang dingin, Raden Arya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 3 Warisan Darah Majapahit : 06. Catatan Kelam Bhairava

Pukul 15.45 WIB. Di Dalam Mobil SUV Arya.

Hujan turun semakin deras, menghantam kaca depan mobil yang melaju kencang. Di dalam kabin, suasananya tegang. Hanya suara wiper dan napas berat mereka yang terdengar.

Dimas duduk di kursi depan, memangku laptopnya yang berguncang. Ia sedang membuka file hasil pindaian naskah kuno yang ia simpan di hard drive eksternal.

“Kakang,” panggil Dimas tiba-tiba, matanya terpaku pada layar. “Saya baru ingat sesuatu. Simbol bunga teratai hitam di dada Bumi… saya pernah melihatnya di naskah Pararaton versi terlarang.”

Arya tetap fokus menyetir, matanya tajam menatap jalanan yang licin. “Jelaskan. Singkat.”

“Dulu, di akhir era Majapahit, ada sekte rahasia bernama Tantra Bhairava Kalacakra. Mereka menyembah kehancuran. Ritual mereka… sadis. Mereka percaya bahwa darah keturunan bangsawan murni bisa memberikan keabadian.”

Dimas menelan ludah, wajahnya pucat.

“Sekte itu di pimpin oleh seorang Resi buangan bernama Empu Seta. Dulu… dia dihukum mati oleh kerajaan karena menculik putra-putri pejabat istana untuk dikorbankan.”

Arya menginjak rem sedikit mendadak karena ada motor menyalip, lalu kembali ngegas.

“Empu Seta…” gumam Arya, mencengkeram setir. “Seta… Seto. Jadi, dia bukan orang baru.”

“Kemungkinan besar dia juga reinkarnasi, atau lebih buruk… dia menggunakan ilmu hitam untuk memindahkan jiwanya ke tubuh baru setiap kali tubuh lamanya rusak,” jelas Dimas. “Itu menjelaskan kenapa dia tahu kamu Raden Arya. Dia musuh lamamu, Ar. Kamu yang dulu memimpin pasukan untuk membasmi sekte mereka.”

Kirana di kursi belakang merinding. Ia memeluk Bumi yang masih pingsan lebih erat.

“Jadi dia dendam sama Arya?” Tanya Kirana.

“Lebih dari dendam,” jawab Dimas, menoleh ke belakang. “Bagi dia, Bumi adalah trofi. Dengan mengambil Bumi, dia membalaskan dendam masa lalunya sekaligus mendapatkan ‘wadah’ darah biru yang dia butuhkan untuk ritual abadi.”

Dimas merogoh tas ranselnya yang ada di bawah kaki. Ia mengeluarkan sebuah kantong kain kecil berbau menyengat dan menyerahkannya pada Arya.

“Apa ini?” Tanya Arya tanpa menoleh.

“Garam krosok yang dicampur bubuk besi kuning dan paku emas. Sesuai pesananmu, dan resep dari kitab kuno,” kata Dimas. “Senjata fisik kayak pedangmu itu cuma bisa melukai tubuh wadahnya (Ki Seto). Tapi untuk mengusir makhluk bayangan yang menjaganya… kita butuh ini.”

Dimas juga menyerahkan satu kantong kecil pada Kirana.

“Pegang ini, Na. Kalau ada bayangan hitam mendekat, lempar ini ke matanya. Jangan ragu.”

Arya menatap jalanan di depan yang mulai menyempit memasuki kawasan industri tua yang sepi. Gapura besi berkarat dengan tulisan pudar menyambut mereka.

“Kita masuk wilayah mereka,” kata Arya dingin. “Ingat formasi. Dimas, kamu mata dan telinga. Kirana, kamu benteng terakhir Bumi. Aku…”

Arya melirik pedang Katana di samping kursi pengemudi.

“…Aku yang akan memenggal kepala ular itu untuk yang kedua kalinya.”

Mobil SUV itu melintasi gapura angker itu, masuk kedalam kabut tebal yang tidak wajar. Sinyal GPS di ponsel Dimas mendadak mati. Layar menjadi hitam.

“Sinyal hilang,” lapor Dimas. “Kita buta sekarang.”

“Nggak,” bantah Arya. Ia menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya berdegup kencang, merespon aura jahat yang sangat familiar.

“Instingku kuncinya. Aku ingat bau busuk ini. Bau darah pengkhianat.”

Pukul 15.55 WIB. Di Dalam Gudang Gula Tua, Alas Roban.

Suasana di dalam bekas pabrik gula itu pengap dan berbau manis yang membusuk—bau tetes tebu yang sudah berfermentasi puluhan tahun, bercampur dengan bau dupa kemenyan.

Di tengah aula pabrik yang luas dan penuh mesin-mesin berkarat raksasa, Ki Seto berdiri di depan sebuah meja altar dari batu hitam.

Di atas altar itu, tergeletak Keris Kyai Sengkelat.

Namun, kondisi keris itu mengenaskan. Bilahnya dililit kawat berduri yang berkarat, dan gagangnya dibungkus kain kafan lusuh yang penuh bercak tanah kuburan.

Keris itu bergetar hebat. Tring… tring… Suara dengingnya terdengar menyayat hati, seperti hewan liar yang terperangkap dan minta tolong.

“Diamlah, besi tua,” desis Ki Seto, menepuk bilah keris itu dengan tongkat ularnya.

Setiap kali tongkat itu menyentuh keris, asap hitam mengepul, dan keris itu berhenti sejenak karena kesakitan.

“Tuanmu sebentar lagi datang,” gumam Ki Seto sambil menyalahkan tujuh batang lilin hitam di sekeliling altar. “Dia bodoh. Persis seperti di kehidupan lalunya. Selalu mengandalkan otot dan keberanian, tapi lupa bahwa perang itu dimenangkan oleh tipu daya.”

Ki Seto berbalik, menatap ke arah pintu gerbang gudang yang tinggi dan gelap. Di sekelilingnya, bayangan-bayangan hitam yang menempel di dinding dan mesin-mesin tua mulai bergerak-gerak gelisah. Mereka adalah abdi dalam tak kasatmata—arwah-arwah penasaran yang diperbudak Ki Seto.

“Kalian lapar?” Tanya Ki Seto pada kegelapan.

Suara desisan hiss… terdengar serempak dari segala penjuru ruangan.

“Sabar. Hidangan utamanya sedang diantar,” Ki Seto tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang di kikir runcing. “Darah anak itu untuk Tuan Besar kita. Tapi daging ayah dan ibunya… boleh kalian cabik-cabik sepuasnya.”

Tiba-tiba, getaran halus terasa di lantai beton yang retak. Debu-debu berjatuhan dari langit-langit.

Ki Seto memejamkan mata, menghirup udara lembap itu dalam-dalam.

“Bau bensin… bau karet ban panas… dan bau ketakutan,” bisik Ki Seto.

Matanya terbuka lebar, pupilnya mengecil seperti mata ular.

“Tamu kita sudah sampai di gerbang depan. Sambut mereka. Buat mereka terpisah.”

Ki Seto mengetukkan tongkatnya tiga kali ke lantai. TOK. TOK. TOK.

Seketika, kabut tebal berwarna kekuningan muncul dari lantai, merayap cepat menuju pintu keluar seperti banjir bandang, siap menelan mobil Arya yang baru saja memasuki area pabrik.

Ki Seto berbalik kembali menghadap altar, mengambil sebuah melati kecil.

“Sekarang, mari kita siapkan panggung untuk Wadah Kecil itu.”

1
Anchovy
Suka menghayal kalo hidup di jaman dulu 😂
Roro
kok bisa bikin cerita se seru ini yah thor
Roro
calon ulat keket kek nya nih
Akbar Aulia
tak tunggu lho thor jangan lama"
Anchovy
Makasih banyak ya kak, jgn lupa mampir juga di cerita nya Dipa n Sarah 🥰
bee may
makasih torr😍😍.q suka karya mu
Felycia Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
atulyaas
senengg banget thorr baca notif udah up, ditunggu kelanjutannya huhu semakin menegangkan tapi seru polll, cemungutss thorrrr
bee may
semangat kakak.. lanjut
Anchovy
Makasih ya kak udah suka sama ceritanya 🤗
atulyaas
thankss yaa kakaaa author udaa updateeee, sukakk polll ditunggu kelanjutannya 😍✨
atulyaas
ayooo kakkk updatee, huhu kurang banget rasanyaaa asli penasaran banget nunggu kelanjutannya 😭✨
Anchovy: 4 Chapter lagi ending ya kak🤭
total 3 replies
Anchovy
Waaah.. makasih banyak ya kak 🥰
Anchovy
Mahapatih punya ilmu kebatinan, keren ya kak.🤭
bee may
ya ampun cerita mu best kakak.. 💪💪 semangat
Akbar Aulia
Mahapatih ternyata orang sakti bisa tahu ada penyusup dari masa depan
Dewiendahsetiowati
hadir thor,gak ada jari emas kah
Akbar Aulia
wah, kembali ke masa kerajaan, ngeri" sedap
Anchovy
Makasih banyak ya kak🥰
Akbar Aulia
tetap semangat thor aku nantikankan lanjutannya,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!