Gaharu Raga Argantara, harus pasrah menerima hukuman dari Papinya. Raga harus tinggal di desa tempat tinggal Kakek Nenek nya selama 6 bulan.
Dan ternyata disana ia terpikat oleh gadis cantik, sekaligus putri dari supir keluarga nya di kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nanam padi
***
Pagi di desa selalu datang lebih cepat daripada di kota.
Kabut tipis masih menggantung rendah ketika Raga menapakkan kakinya di pematang sawah. Udara dingin menyelinap masuk ke paru-parunya, membawa aroma tanah basah yang asing, namun entah kenapa terasa menenangkan. Langit masih berwarna kelabu pucat, sementara matahari baru saja mengintip malu-malu dari balik perbukitan.
Raga menghela napas panjang.
Sejak kecil, Raga memang sering datang ke desa ini saat liburan sekolah. Namun, kunjungannya selalu sebatas duduk di teras rumah milik kakeknya, membantu nenek di dapur. Ia tidak pernah benar-benar terjun ke sawah. Tidak pernah menyentuh lumpur. Tidak pernah menanam padi dengan tangannya sendiri.
Hari ini, semua itu berubah.
“Raga, jangan bengong terus. Nanti keburu panas,” suara berat Kakek Dani terdengar dari belakang.
Raga menoleh. Kakeknya berdiri dengan caping anyaman di kepala, kemeja lengan panjang yang sudah pudar warnanya, dan celana digulung hingga betis. Di wajah tua itu terukir garis-garis usia, namun sorot matanya tetap tajam dan penuh wibawa.
“Iya, Kek,” jawab Raga cepat.
Di samping Kakek Dani, berdiri dua orang pekerja sawah yang sudah akrab dengan lumpur dan terik matahari. Mereka tersenyum ramah pada Raga, seolah sudah tahu betul bahwa pemuda itu masih canggung dan asing dengan pekerjaan hari ini.
Sawah yang akan mereka tanami berada di desa sebelah, tidak terlalu jauh dari rumah Kakek Dani. Hamparan tanah berlumpur itu membentang luas, dengan air yang menggenang tenang, memantulkan bayangan langit pagi.
Raga menuruni pematang dengan hati-hati, namun tetap saja kakinya langsung tenggelam di lumpur.
“Waduh—” Raga hampir kehilangan keseimbangan.
Salah satu pekerja cepat menahan lengannya. “Pelan-pelan, a. Nanti juga terbiasa.”
Raga tertawa kecil, sedikit malu. Lumpur dingin merayap di sela-sela jari kakinya, membuatnya refleks meringis.
“Awalnya memang nggak enak,” ujar Kakek Dani. “Tapi kalau sudah nyemplung, kamu bakal ngerti kenapa orang desa betah hidup begini.”
Mereka mulai bekerja.
Kakek Dani berdiri di depan, memegang ikatan bibit padi muda berwarna hijau segar. Dengan gerakan yang sudah sangat terlatih, ia menusukkan bibit itu ke lumpur, satu demi satu, dengan jarak yang rapi. Tangannya bergerak cepat namun tenang, seolah mengikuti irama yang hanya ia dengar sendiri.
Raga memperhatikan dengan saksama.
“Sekarang kamu coba,” kata Kakek Dani sambil menyerahkan segenggam bibit padi.
Raga menerimanya dengan hati-hati. Tangannya terasa kaku. Ia meniru gerakan kakeknya, menekan bibit ke lumpur.
Namun bibit itu malah miring, hampir roboh.
Kakek Dani tersenyum tipis. “Jangan ragu. Tanah ini harus kamu yakinkan kalau kamu serius.”
Raga menarik napas, lalu mencoba lagi. Kali ini ia menekan lebih dalam. Bibit padi itu berdiri tegak, meski jaraknya tidak serapi milik kakeknya.
“Lumayan,” kata Kakek Dani. “Belajar itu pelan-pelan. Sama kayak hidup.”
Matahari mulai naik perlahan. Kabut menghilang, digantikan sinar hangat yang menyentuh kulit. Keringat mulai mengalir di pelipis Raga, bercampur dengan lumpur yang menempel di betisnya.
Tangannya pegal. Punggungnya terasa berat.
Namun anehnya, ia tidak mengeluh.
Di tengah kesibukan itu, Raga sesekali menoleh ke sekeliling. Sawah-sawah lain juga mulai ramai. Suara tawa, percakapan ringan, dan gemericik air menyatu menjadi simfoni pagi desa.
“Capek?” tanya Kakek Dani ketika mereka berhenti sejenak.
“Capek, Kek,” jawab Raga jujur. “Tapi, rasanya beda.”
Kakek Dani tertawa kecil. “Itu tandanya kamu mulai kenal akar kamu sendiri.”
.
Matahari tepat berada di atas kepala ketika Raga dan Kakek Dani akhirnya meninggalkan sawah.
Langkah mereka pelan menyusuri pematang, tubuh sama-sama lelah, namun wajah Kakek Dani terlihat puas. Caping masih bertengger di kepalanya, sementara baju Raga basah oleh keringat dan bercak lumpur yang mengering tak beraturan. Setiap kali melangkah, otot kaki Raga terasa bergetar, seolah menolak diajak bergerak lagi.
Namun ia tetap tersenyum kecil.
Jam menunjukkan hampir pukul satu siang saat mereka sampai di halaman rumah.
“Masuk, ga,” ujar Kakek Dani sambil membuka pintu. “Cuci kaki dulu. Lumpur sawah jangan dibawa masuk rumah.”
Raga mengangguk. Ia duduk di bangku kecil yang berada di belakang rumah, mengguyur kakinya dengan air dingin. Lumpur yang sejak pagi menempel perlahan luruh, mengalir bersama rasa lelah yang ikut tersapu.
“Capek banget, Kek,” ucap Raga sambil mengusap wajahnya.
“Kalau nggak capek, berarti kamu nggak kerja,” jawab Kakek Dani santai. “Orang hidup itu harus ngerasain capek, biar tahu nikmatnya istirahat.”
Di dalam rumah, Raga segera mengganti pakaiannya. Kaos bersih terasa seperti hadiah. Ia lalu duduk bersila di ruang tengah, punggungnya bersandar pada sofa, Nafasnya mulai teratur, tubuhnya pelan-pelan rileks.
Tak lama, Nek intan datang membawa dua gelas teh hangat.
“Minum dulu,” katanya.
Raga menerima gelas itu, meniup permukaannya pelan sebelum menyeruput. Rasa manis dan pahit teh bercampur sempurna, mengalirkan kehangatan hingga ke dada.
“Jam tiga nanti jadi kamu mau ke rumah produksi?” tanya nek intan.
“jadi nek,” jawab Raga. “Sekalian ngecek produksi.”
Nek intan mengangguk paham. “Bagus. Usaha itu juga tanggung jawab. Jangan cuma kamu perhatiin.”
paling bener sih raga sama bulan