NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Pagi setelah makan malam yayasan, Nabila datang ke kediaman Arga.

Ia tidak datang sendiri.

Rafi mengantarnya sampai gerbang, tetapi tidak ikut masuk. Alasannya sederhana: ia harus bertemu seseorang dari divisi proyek Pradipta Group. Alasan yang diucapkan dengan suara bangga, seolah satu janji temu sudah cukup membuktikan bahwa ia mulai diperhitungkan.

Nabila tersenyum saat mendengarnya.

Namun begitu mobil Rafi pergi, senyum itu turun.

Di tangannya ada kotak kue dari toko mahal. Di tasnya ada pesan Ratna yang belum ia hapus.

`Datangi Alya. Cari tahu apa yang dia simpan dari acara semalam. Jangan pulang tanpa informasi.`

Pesan itu terasa seperti duri di dalam tas.

Nabila pernah berpikir menikah dengan Rafi berarti ia akan masuk ke jalan yang lebih mudah. Dalam mimpinya, Rafi berdiri di puncak. Semua orang memanggilnya Nyonya Rafi. Ibunya menangis bangga. Orang-orang yang dulu meremehkan mereka datang meminta bantuan.

Tapi kenyataan beberapa hari ini berbeda.

Ratna memerintahnya seperti staf.

Daren tidak menganggap Rafi penting.

Alya justru semakin kuat di rumah Arga.

Dan Arga, lelaki yang seharusnya hampir mati, kini bisa duduk di acara keluarga dan membuat semua orang menahan napas.

Lilis membukakan pintu.

"Nyonya Nabila."

"Aku ingin bertemu Mbak Alya."

Lilis menunduk. "Nyonya Alya sedang di ruang kerja. Saya tanya dulu."

Nabila menahan diri agar tidak tersinggung. Dulu, di rumah Wiratama, semua pelayan langsung mempersilakannya masuk. Sekarang perawat kecil di rumah Arga berani membuatnya menunggu.

Beberapa menit kemudian, Lilis kembali.

"Silakan."

Alya berada di ruang kerja kecil lantai dua. Di atas meja ada laptop, map, dan beberapa foto yang langsung ditutup begitu Nabila masuk. Arga duduk di sofa dekat jendela, memakai sweater abu-abu, wajah masih pucat, tetapi matanya jernih.

Nabila berhenti sesaat.

Ia tidak siap melihat mereka bersama seperti itu.

Bukan romantis. Tidak ada pegangan tangan, tidak ada kata manis. Tapi mereka berada dalam satu ruangan seperti dua orang yang sedang mengurus hal penting, dan posisi itu membuat Nabila tidak nyaman.

"Mbak," katanya lembut.

Alya mengangkat mata. "Nabila."

Arga hanya mengangguk.

Nabila meletakkan kotak kue di meja kecil. "Aku bawakan kue. Mama bilang Arga mungkin sudah boleh makan sedikit yang manis, tapi aku tidak tahu aturan dokter, jadi terserah Mbak."

"Kalau tidak tahu aturan dokter, kenapa membawa?"

Senyum Nabila menegang. "Aku hanya ingin perhatian."

"Perhatian yang aman biasanya bertanya dulu."

Arga menutup mulut dengan punggung tangan, pura-pura batuk kecil.

Nabila melihatnya dan wajahnya memanas.

"Aku dengar semalam ada masalah di acara yayasan," katanya, memilih cepat masuk tujuan.

Alya menutup laptop. "Dengar dari siapa?"

"Banyak yang bicara."

"Banyak siapa?"

"Mbak, jangan seperti menginterogasi. Aku hanya khawatir."

"Khawatir pada siapa?"

"Pada Mbak. Pada keluarga. Pada nama Pradipta."

Alya bersandar. "Urutan yang menarik."

Nabila menggenggam tasnya. "Aku tidak mengerti kenapa Mbak selalu mengira aku punya niat buruk."

"Karena kamu datang membawa pertanyaan Ratna."

Wajah Nabila langsung berubah.

Arga menoleh.

"Apa maksud Mbak?"

Alya mengulurkan tangan. "Ponselmu."

"Untuk apa?"

"Kalau tidak ada pesan Ratna, berikan."

"Mbak tidak berhak memeriksa ponselku."

"Benar. Kamu juga tidak wajib berpura-pura datang karena rindu."

Nabila berdiri kaku.

Air matanya mulai naik, refleks yang sudah terlalu sering ia pakai.

"Aku adikmu."

"Adik yang memilih menyampaikan pertanyaan orang yang mencoba menghancurkan suamiku."

"Aku tidak tahu apa-apa soal itu!"

"Kalau tidak tahu, kenapa wajahmu pucat saat kusebut Ratna?"

Nabila membuka mulut, tetapi tidak ada suara.

Arga akhirnya bicara. "Nabila, duduk."

Nada suaranya tidak keras.

Namun Nabila menurut.

Mungkin karena ia masih membawa gambaran Arga sebagai lelaki sakit yang mudah dilewati. Mendengar suara itu tegas membuatnya bingung.

Arga menatapnya. "Siapa yang menyuruhmu datang?"

"Tidak ada."

"Nabila."

Satu kata. Datar. Tetapi cukup.

Nabila menggigit bibir. "Bu Ratna hanya... hanya bertanya apakah Mbak baik-baik saja."

Alya tersenyum tipis.

Arga berkata, "Dengan daftar pertanyaan?"

Nabila menatapnya cepat.

Kesalahan.

Arga melihat.

Alya juga.

"Ternyata benar," kata Alya.

Nabila panik. "Aku tidak bermaksud jahat. Bu Ratna menekan aku. Dia bilang kalau aku ingin Rafi diterima, aku harus membantu. Aku baru menikah, Mbak. Aku tidak punya pilihan."

Alya menatapnya tanpa emosi.

"Kamu selalu punya pilihan. Kamu hanya tidak suka pilihan yang tidak menguntungkanmu."

Air mata Nabila jatuh.

"Mbak mudah bicara begitu karena sekarang Mas Arga membelamu. Aku? Rafi belum punya posisi. Bu Ratna bisa membuat hidup kami sulit."

"Lalu kamu memilih membuat hidupku sulit lebih dulu?"

"Aku hanya takut!"

"Semua orang takut. Tidak semua orang menjual saudara."

Nabila tersentak seperti ditampar.

Arga diam.

Ia melihat Alya, lalu melihat Nabila. Mungkin ia mulai memahami bentuk luka yang dibawa istrinya dari rumah Wiratama.

Nabila menangis lebih keras. "Mbak tidak pernah mengerti. Dari kecil semua orang membandingkan kita. Mereka bilang Mbak lebih pintar, lebih tenang, lebih bisa diandalkan. Aku anak kandung, tapi Mbak selalu terlihat lebih pantas. Lalu setelah aku akhirnya memilih jalanku sendiri, Mbak tetap saja membuat semuanya berputar padamu."

Alya memiringkan kepala.

"Jadi masalahmu bukan aku diabaikan. Masalahmu adalah aku tidak cukup hancur setelah kamu mengambil Rafi."

Nabila membeku.

Kalimat itu terlalu tepat.

"Aku tidak mengambil--"

"Kamu mengambil karena kamu mengira Rafi adalah masa depan."

"Mbak!"

"Dan sekarang kamu takut masa depan itu tidak bergerak sesuai mimpi."

Wajah Nabila pucat total.

Arga menatap Alya.

Mimpi.

Kata itu kembali.

Nabila berdiri. "Aku pulang."

"Bawa kuemu."

"Mbak benar-benar kejam."

"Tidak. Aku hanya tidak lapar."

Nabila mengambil kotak itu dengan tangan gemetar.

Sebelum keluar, ia menatap Arga. "Mas Arga, aku minta maaf kalau kedatanganku mengganggu."

Arga menjawab, "Kalau nanti Ratna menekanmu lagi, jangan datang ke sini membawa air mata. Bawa bukti."

Nabila terdiam.

"Kalau kamu tidak bisa membantu," lanjut Arga, "setidaknya jangan menjadi alat."

Nabila keluar tanpa menjawab.

Setelah pintu tertutup, ruangan hening.

Alya membuka laptop lagi.

Arga berkata, "Dia tahu sesuatu tentang masa depan?"

Jari Alya berhenti di atas keyboard.

Ia tidak menoleh.

"Dia percaya dia tahu."

"Dan kamu?"

Alya menatap layar gelap sesaat.

"Aku tahu bahwa orang yang hanya melihat puncak tidak akan mengerti darah di tangga."

Arga tidak bertanya lagi.

Di bawah, suara mobil Nabila menjauh.

Hari itu, untuk pertama kalinya, adik yang datang sebagai mata-mata pergi sebagai orang yang terlihat terlalu jelas.

Di dalam mobil, Nabila tidak langsung pulang. Ia berhenti di tepi jalan komplek, menyalakan lampu hazard, lalu menatap wajahnya sendiri di kaca spion. Matanya merah. Bedaknya sedikit rusak. Tapi yang paling membuatnya takut bukan air mata, melainkan kalimat Arga.

Bawa bukti.

Seumur hidup, ia terbiasa membawa tangis. Tangis membuat Sinta memeluknya, membuat Hadi melunak, membuat Rafi merasa dibutuhkan. Tapi di rumah Arga, tangisnya tidak membeli apa pun.

Ponselnya bergetar. Ratna.

"Bagaimana?" tanya Ratna tanpa salam saat Nabila mengangkat.

"Mbak Alya tidak mau bicara."

"Kamu tidak berguna?"

Nabila menutup mata. "Dia sudah tahu saya datang karena Bu Ratna."

Hening. Lalu Ratna berkata dingin, "Kalau begitu belajarlah lebih pintar. Kamu ingin Rafi naik, kan?"

Di jalan yang sunyi itu, untuk pertama kalinya, Nabila merasa mimpinya bukan lagi cahaya di depan.

Melainkan tali di leher.

Sopir taksi online bertanya pelan, "Mbak, alamatnya jadi ke apartemen?"

Nabila baru sadar ia belum menjawab sejak tadi.

"Jadi."

Ia membuka kamera depan. Riasannya masih rapi, tetapi matanya tampak seperti orang kalah. Ia menghapus air mata yang belum jatuh, lalu mengetik pesan untuk Rafi.

`Aku tadi ke rumah Mas Arga. Kak Alya kasar sekali. Aku cuma ingin bantu.`

Jarinya berhenti di tombol kirim.

Untuk pertama kalinya, kebohongan itu terasa terlalu jelas bahkan bagi dirinya sendiri.

Namun bayangan Rafi kembali bekerja di ruang kecil, ditertawakan keluarga karena tidak pernah naik, membuat Nabila menekan tombol kirim juga.

Kalau tali itu sudah melilit lehernya, setidaknya ia ingin percaya ujung talinya menuju lantai yang lebih tinggi.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!