Kecelakaan yang merenggut istrinya menjadikan Arkana Hendrawan Kusuma tenggelam dalam perasaan kehilangan. Cinta yang besar membuat Arkan tak bisa menghilangkan Charissa Anindya—istrinya—dari hidupnya. Sebagian jiwanya terkubur bersama Charissa, dan sisanya ia jalani untuk putranya, Kean—pria kecil yang Charissa tinggalkan untuk menemaninya.
Dalam larut kenangan yang tak berkesudahan tentang Charissa selama bertahun-tahun, Arkan malah dipertemukan oleh takdir dengan seorang wanita bernama Anin, wanita yang memiliki paras menyerupai Charissa.
Rasa penasaran membawa Arkan menyelidiki Anin. Sebuah kenyataan mengejutkan terkuak. Anin dan Charissa adalah orang yang sama. Arkan bertekad membawa kembali Charissa ke dalam kehidupannya dan Kean. Namun, apakah Arkan mampu saat Charissa sedang dalam keadaan kehilangan semua memori tentang keluarga mereka?
Akankah Arkan berhasil membawa Anin masuk ke kehidupannya untuk kedua kalinya? Semua akan terjawab di novel Bring You Back.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Dua hari terlewati. Tiba saatnya Arkan mendengarkan jawaban Anin setelah satu bulan ia berusaha mendapatkan hati Anin. Siang ini, keduanya sepakat untuk makan siang bersama di sebuah restoran.
Anin duduk tenang di kursi restoran sambil memperhatikan Arkan yang tengah memesankan makanan untuk mereka. Ia tak menyangka akan sedekat ini dengan Arkan.
"Kenapa terus menatapku?" Arkan menyentuh lembut tangan Anin yang berada di atas meja.
"Tidak. Aku hanya berpikir, kenapa bisa kau menyukaiku?"
Arkan terkekeh pelan. Istrinya ini, meskipun kehilangan ingatannya, tapi ucapannya tak jauh berbeda. Kalimat itu sering ia dengar ketika dahulu. Charissa selalu menganggapnya lelaki hebat, dan sering bertanya kenapa bisa dia menyukainya.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku menyukaimu," jawab Arkan, dan itu berhasil membuat Anin terkekeh pelan. "Jadi, bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Perasaan mu. Selama sebulan ini, bagaimana perasaan mu pada ku? Apa jawaban mu?"
"Tidak sabaran sekali," sahut Anin, tersenyum malu.
"Tidak sabaran juga tidak apa-apa."
Tawa Anin terurai pelan. Saat Arkan menggenggam tangannya, tawa Anin terhenti digantikan tatapan lembut.
"Aku tidak tahu harus menggambarkan seperti perasaan ku. Aku merasakan banyak hal, bahkan aku sempat menangis karena semua perasaan yang aku rasakan ini. Perasaan nyaman, aman, rindu, kehangatan, kerinduan yang besar, kesedihan, bahagia, suka, sayang, aku merasakan segalanya. Aku selalu ingin di dekatmu dan Kean."
"Jadi, jawabanmu?"
"Aku ... Aku sepertinya juga menyukaimu."
Arkan tersenyum. "Hanya suka?"
Anin menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. "Sepertinya ... lebih dari itu."
Arkan tersenyum lebar. Tangan Anin yang di genggamnya pun ia dekatkan ke bibir dan mengecupnya. "Terima kasih sudah merasakan semua itu saat bersamaku."
Anin mengangkat wajahnya. Ia tersenyum tipis dengan wajah yang memerah. "Kau yang lebih layak mendapatkan kata terima kasih ini. Terima kasih sudah membuatku merasakan semua hal ini. Semua kerinduan tak berdasar yang sering aku rasakan selama ini, aku temukan padamu dan Kean."
Arkan mengangguk pelan. Sekali lagi ia kecup tangan Anin, sebelum akhirnya seorang pelayan tiba dengan makanan pesanan mereka.
Anin berterima kasih pada pelayan dengan ramah seusai pelayan itu menyajikan makanan untuk mereka.
Tapi, belum juga keduanya mulai menyantap makanan tersebut, handphone Arkan tiba-tiba berdering, panggilan dari nomor yang tak dikenal.
"Angkat saja. Siapa tahu ada hal penting," ucap Anin ketika melihat keraguan di wajah Arkan.
Ucapan Anin tidak bisa Arkan abaikan. Dia menurut, menjawab panggilan dari nomor tersebut.
"Hallo? Apa ini dengan kerabat Ibu Monica Kusuma?"
"Ya, saya putranya."
"Saya dari pihak rumah sakit mengabarkan jika Ibu anda mengalami kecelakaan."
"Kecelakaan? Di rumah sakit mana?"
"Rumah sakit Medika."
"Saya segera kesana." Arkan langsung memutuskan panggilan sepihak. Anin yang mendengar percakapan sepihak saja merasa khawatir mendengar Arkan menyebut "kecelakaan" dan "Rumah sakit".
"Ada apa?"
"Ibu kecelakaan."
"Ya Tuhan."
"Aku harus segera kesana. Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku akan menghubungi pengawal untuk mengantarmu."
"Tidak masalah. Aku bisa naik taksi. Cepatlah kesana. Ibu mu pasti sangat membutuhkanmu."
"Tidak. Kau tidak boleh naik taksi. Tunggu pengawal datang menjemputmu. Okey?"
Anin mengangguk. Dia tidak akan membantah lagi. "Baiklah. Kau hati-hati."
"Pakai ini." Arkan meletakkan kartu hitam di atas meja, lalu mendekat untuk mengecup singkat kening Anin. "Aku pergi dulu."
Tanpa menunggu respon Anin, Arkan meninggalkan restoran dengan langkah lebar. Anin hanya bisa menatapnya dari jauh. Pandangannya lalu tertuju pada kartu hitam di atas meja setelah Arkan benar-benar menjauh dari restoran.
Ia menarik nafasnya panjang. Kartu ini, sudah beberapa kali Arkan berikan padanya selama sebulan ini. Sering ia tolak, dan hanya sekali ia gunakan untuk membeli beberapa barang untuk anak panti. Dan hari ini Arkan kembali memberikannya padanya.
"Permisi, Nona. Anda Nona Anin?" Tatapan Anin langsung beralih pada dua pria dengan tubuh besar yang dibalut jas rapih berkacamata hitam layaknya seorang bodyguard, sama persis dengan dua orang pria yang beberapa kali ia ketahui mengikutinya.
"Ya, saya Anin. Maaf, kalian siapa, ya?"
"Kami pengawal utusan Tuan Arkan. Tuan meminta kami mengantar anda," jawab seorangnya.
Anin menatap ragu. Entah kenapa dia merasa tidak yakin pada dua orang itu.
Melihat keraguan di wajah Anin pun membuat salah seorang dari keduanya mengeluarkan sebuah handphone lalu menunjukkan pesan yang dikirimkan Arkan pada mereka.
Dan tepat saat itu juga Anin mendapat pesan dari Arkan yang mengatakan bahwa dia sudah menyuruh pengawal menjemputnya. Tapi, masih ada keraguan di hati Anin.
"Nona jangan takut. Kami pengawal kepercayaan tuan Arkan. Kami juga yang selama ini mengawasi anda, semua itu atas perintah Tuan Arkan. Tuan tidak ingin anda mengalami kesulitan. Jadi, Tuan mengutus kami untuk diam-diam menjaga anda."
Segera Anin mengirimkan pesan pada Arkan untuk memastikan, walau sebelumnya sempat ragu, takut menggangu fokus Arkan. Dan akhirnya ia merasa cukup yakin dan mau mengikuti mereka setelah mendapat pesan balasan dari Arkan.
***
Arkan meletakkan kembali handphonenya setelah membalas pesan dari Anin. Ia kembali fokus menyetir. Rumah sakit Medika cukup jauh. Dia harus bisa cepat sampai disana. Entah bagaimana keadaan Ibunya disana.
Ketika dalam fokus yang tak terpecah, handphone yang ia letakkan begitu saja tiba-tiba berdering. Panggilan masuk dari salah satu pengawal yang diutusnya untuk mengantar Anin pulang. Segera Arkan menjawab.
"Hallo, Tuan?"
"Hm."
"Nona Anin diculik!"
Arkan seketika mengerem mobilnya secara mendadak. Beruntung tidak ada satu kendaraan pun dibelakang mobilnya.
"Katakan sekali lagi!" Suara Arkan berat, penuh emosi dan kegelapan.
"No-Nona diculik."
"Sialan! Kenapa bisa?"
"Setelah mendapat pesan dari Tuan, tiba-tiba beberapa pria menyerang kami. Kami kalah jumlah, Tuan. Mereka menyamar dan membawa Nona."
"Sialan!!" Arkan langsung memutuskan panggilan. Ia bingung sekarang. Ibunya atau istrinya?
Dalam kebingungan yang menyelimuti, handphone miliknya kembali berdering. Kali ini panggilan dari Rafi, sahabatnya.
"Hallo, Arkan. Aku sudah dapatkan informasi pelaku."
"Katakan."
"Meraka adalah Vanesha dan Tante Monic."
"Ibu?"
"Ya, Ibu mu. Ibu tiri mu!"
Arkan mengeraskan rahangnya sambil menggenggam kuat stir mobil. Kenyataan seperti apa ini? Ibunya adalah pelaku kejahatan yang menimpa istrinya. Marah, sedih, tak menyangka, semuanya dapat ia rasakan.
Rafi yang ada diseberang telpon hanya terdiam. Ia tahu bagaimana perasaan Arkan sekarang. Orang yang ia percaya, orang yang ia anggap sebagai ibu adalah orang yang sama yang menghancurkan kehidupan bahagianya.
Dalam kesenyapan yang membelenggu itu, Arkan tiba-tiba teringat sesuatu. Ibunya yang kecelakaan, ia ingin memastikannya.
"Rafi?"
"Ya?"
"Istrimu perawat di rumah sakit Medika kan?"
"Iya. Kenapa?"
"Beri tahu dia untuk mengecek pasien kecelakaan atas nama Ibu."
"Oke." Tanpa banyak bertanya alasannya, Rafi segera memutuskan panggilan dan menelpon istrinya. Dia mencium bau-bau tak baik yang akan menimpa sahabatnya tersebut.
Tak butuh waktu yang sangat lama, Rafi kembali menghubungi Arkan.
"Tidak ada nama Tante monic, dan tidak ada pasien kecelakaan."
"Sialan!" Arkan memukul stir mobil dengan keras. Dia sangat frustasi. Bagaimana bisa dia kecolongan seperti ini?
"Ada apa? Katakan padaku, Arkan!"
"Istriku dalam bahaya! Rafi, kau lacak keberadaan Anin melalui handphone nya."
"Oke."