"Jika kamu tidak mau menikah dengan Louis secara suka rela, anggap saja ini sebagai tanda balas budimu karena aku telah membiayai seluruh pengobatan ibumu."
Perkataan Fradella membuat dunia Irene runtuh. Baru saja dia bahagia melihat ibunya bisa berjalan kembali, tapi kini Irene harus ditimpa cobaan lagi.
Menikah bukanlah sesuatu yang mudah. Menyatukan dua insan yang berbeda, dua kepribadian menjadi satu dan saling melengkapi kekurangan masing-masing itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Bagaimana dengan nasib Irene setelah pernikahannya dengan Louis. Pernikahan antara pelayan dan sang presdir, akankah berjalan layaknya pernikahan pada umumnya?
Lalu akankah Louis membukakan hatinya untuk Irene setelah mereka menikah? Ikuti kisah Irene dan Louis disini ya🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna afrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alat Perekam
ANDA BACA KARYA SAYA
SAYA BACA KARYA ANDA
ANDA KOMEN SESUAI ALUR
SAYA JUGA MELAKUKAN HAL YANG SAMA
ANDA PROMO, SAYA JUGA AKAN PROMOSI DI LAPAK ANDA.
ANDA HANYA MEMBERI LIKE DAN MEMINTA FEEDBACK, SAYAPUN SAMA.
MUDAHKAN..
MARI BIASAKAN UNTUK SALING BERBAGI BAHAGIA😊😊🙏🏻🙏🏻
❤❤ Happy Reading💛💛
"Sinta sudah keluar dari penjara, Pak?" tanya Hari.
"Iya, itu benar," jawab Polisi itu.
"Siapa orang menjamin wanita ini?" tanya Louis dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
"Mohon maaf, Tuan. Untuk identitas si penjamin kami tidak bisa memberitahukan kepada anda ataupun orang lain.Karena ini juga menjadi permintaan langsung dari orang tersebut, dia ingin identitasnya dirahasiakan." Louis terlihat kesal saat mendengar jawaban dari polisi itu.
"Jadi kasus ini tidak bisa diproses, Pak?" Hari membuka suara karena melihat wajah Louis yang sudah merah padam.
"Bisa saja, namun pesan ancaman ini tidak terlalu berbahaya. Tidak melukai dan juga tidak ada tindakan secara langsung. Jumlah pesan juga sedikit, hanya sepuluh pesan. Dan yang seharusnya melaporkan juga ibu Irene selaku korban disini." Jelas polisi itu.
Louis terlihat sedang berfikir keras sejenak, sebelum akhirnya dia memilih untuk undur diri dari kantor polisi.
"Terima kasih atas penjelasannya, saya akan memberi kabar untuk kelanjutan kasus tabrak lari ini." Louis berdiri diikuti oleh Hari yang memberikan hormat terlebih dulu kepada polisi itu.
Kali ini Hari yang menyetir mobil sesuai perintah dari Louis. Suasana mobilpun kian sunyi karena Louis yang masih berusaha berfikir dengan keras tentang orang yang sudah membebaskan Sinta.
"Aku pikir dia pasti orang dari kalangan atas." Celetuk Louis tiba - tiba.
"Apa Bos?" tanya Hari yang tidak mendengar jelas apa yang baru saja Louis katakan.
"Orang yang menjamin wanita tak tahu diri itu pasti orang dari kalangan atas. Aku sangat yakin akan hal itu," ucap Louis dengan ekspresi seriusnya.
"Maksud Bos, Sinta ya?" dengan polosnya Hari menanyakan hal itu, membuat Louis ingin menampol wajah laki - laki ini.
"Idih Bos ko malah melototin aku si, aneh." Hari berguman dengan lirih.
Suasana mobil kembali hening, Louis kembali berfikir dan Hari tidak tahu apa yang tengah bosnya fikiran.
Di dalam ruang rawat, Fradella meninggalkan Irene dan Else bedua. Dia ijin keluar sebentar untuk menjenguk temannya yang juga dirawat di rumah sakit ini.
"Selamat atas kehamilan anak kembarmu," ucap Else dengan wajahnya yang menyiratkan kebencian.
"Aku harap anakmu perempuan, agar dia tidak menjadi pewaris keluarga Chen." Irene masih diam mendengarkan ocehan Else yang terasa menyayat hati banginya.
"Harusnya kamu sadar diri, seorang pelayan yang dikasihani oleh majikannya. Hah." Tanpa sadar Irene mulai menitikkan air matanya. Tanpa Else berbicara kepadanya seperti itu, Irene sudah sadar diri. Mendapat cinta dan perhatian dari Louis juga sebuah anugrah yang sangat besar baginya.
Irene memang pernah berharap mendapat cinta dari Louis, tapi dia tidak menyangka jika akan mendapatkan cinta Louis yang begitu besar.
Else terlihat mengeluarkan sesuatu dari tasnya, wajah jahatnya memastikan suasana sekitar.
"Kak Else mau apa?" tanya Irene yang ketakutan.
"Tentu saja aku ingin menyingkirkan kedua bayi sialanmu itu. Ha ha ha ha ha." Suara tawa Else terdengar sangat mengerikan di telinga Irene. Bagi Irene itu bukanlah tawa, tapi sebuah kode bahaya yang akan segera menimpanya.
"Jangan Kak, kumohon Kak." Irene hanya bisa menangis sejadi - jadinya. Dia ingin memencet tombol nurse call tapi apa daya, tangan Irene tidak sampai untuk menggapainya.
"Aku tidak akan membunuhnya, aku hanya ingin mereka lahir tanpa otak nantinya." Senyum yang Else sunggingkan tiba - tiba hilang karena ada suara yang mendekat ke arah ruangan itu.
Krekk..
Else langsung memasukkan benda itu ke tasnya. Louis dan Hari terlihat memasuki ruangan itu, sedangkan Else hanya bisa diam karena kegugupannya.
"Sayang," panggil Louis.
"Kamu nangis?" tanya Louis mengamati wajah Irene. Matanya yang sembab tidak dapat membohongi Louis.
"Enggak, kamu cepet banget. Emang urusanya sudah selesai?" tanya Irene mengalihkan pembicaraan.
"Jawab dulu pertanyaanku!" Dengan nada tegas Louis mengatakannya membuat Else akhirnya membuka suara.
"Sebenarnya tadi Irene merasa kram di perutnya. Dia nangis, tapi kata dokter tidak apa - apa. Itu suatu hal yang wajar terjadi pada ibu hamil." Louis hampir saja percaya dengan penjelasan Else, tapi dia tetap bertanya kepada sang istri yang lebih ia percayai.
"Benarkah begitu Sweetheart?" tanya Louis dengan lembut.
"Em, itu, iya Sayang. Apa yang dikatakan Kak Else benar. Tapi sekarang sudah tidak apa - apa, percayalah." Irene memegang tangan Louis dengan erat. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya, menguatkan hatinya. Irene terpaksa berbohong kepada Louis, karena dia tidak mau hubungan kakak dan adik ini menjadi keruh.
"Momy dimana?" tanya Louis.
"Momy menjenguk temannya yang juga di rawat di rumah sakit ini. Mungkin sebentar lagi Momy kembali." Baru saja Irene menyelesaikan ucapannya, tiba - tiba pintu terbuka dan benar itu adalah Fradella.
"Itu Momy," ucap Hari spontan.
"Yang sopan." Bentak Louis.
"Kamu ini ya Louis, jangan galak - galak kepada Hari. Ngak apa - apa Hari, panggil Momy saja ya." Hari tersenyum mendengar kata - kata Fradella, tapi Louis terlihat cemberut karena sang momy lebih membela Hari dibandingkan dirinya.
"Sayang, ini ada buah, teman Momy yang memberinya untukmu. Dia juga nitip salam untuk kamu dan kedua cucu Momy." Fradella mendekati Irene, mengelus lembut perut buncit wanita itu.
"Bagaimana Louis?" tanya Fradella tiba - tiba.
"Dia katanya tidak sengaja melakukannya, pandangannya kabur dan mobilnya menjadi oleng. Tapi aku tetap menyerahkan semua keputusan kepada Irene, dia juga sudah berlutut di depanku waktu di kantor polisi tadi," ucap Louis dengan panjang lebar.
"Jadi kamu habis dari kantor polisi?" tanya Irene yang terlihat kaget.
"Iya Sayang. Maaf tidak memberitahumu, aku ngak mau kamu memikirkan hal yang berat."Louis mencoba merayu Irene agar istrinya ini tidak merajuk.
"Emm iya Sayang, aku mengerti." Irene menyunggingkan senyum termanisnya ke arah Louis.
Di tengah keromantisan mereka, Hari terlihat berjalan ke arah tempat tidur pasien.Semua orang hanya diam melihat pergerakan misterius yang Hari lakukan.
"Ini apa?" Hari mengambil sebuah benda dari bawah tempat tidur pasien.
"Tunggu Hari." Louis mengambil benda itu dari tangan Hari.
"Ini alat perekam, siapa yang memasangnya?" Louis bertanya - tanya.
"Momy apakah ada orang lain yang masuk ke ruangan ini?" tanya Louis.
"Momy rasa tidak Louis, Irene juga tidak tidur dari tadi. Dan ada Else juga disini menemani Irene," jawab Fradella yang juga tidak tahu.
"Hanya ada perawat yang masuk memberikan makanan ini tadi, selepas itu tidak ada lagi yang masuk." Tukas Irene.
Di luar ruang rawat itu, seseorang yang memakai pakaian perawat terlihat berbincang dengan serius dari telfon gengamnya.
"Sudah aku pasang sesuai perintahmu. Dan pastikan kau akan menepati janjimu," ucapannya.
"Dimana kau menaruh alat perekam itu?" tanya seseorang dari sebrang.
"Di bawah tempat tidur, sudah aku pastikan tidak akan ada yang melihatnya," tutur perawat gadungan itu.
"Baiklah, kau bekerja dengan baik. Tetaplah seperti itu, dan jangan pernah melakukan kesalahan."
Sambungan telfon terputus, wanita itu membuang pakaian perawat yang ia curi ke dalam tempat sampah. Setalah dirasa aman, dia pergi dari rumah sakit itu dengan wajah yang puas.
"Selidiki siapa yang menaruh alat perekam ini Hari, cepat!" perintah Louis dengan tegas kepada asistennya.
"Siap, Bos," jawab Hari dengan sigap.
Siapa sebenarnya yang menaruh alat perekam itu? Untuk apa dia memasangnya?. Batin jahat Else bertanya - tanya.
suka dg kisahnya yg tdk memperdulikan kasta