Edam Bhalendra mempunyai misi— menaklukkan pacar kecil yang di paksa menjadi pacarnya.
"Saya juga ingin menyentuh, Merzi." Katanya kala nona kecil yang menjadi kekasihnya terus menciumi lehernya.
"Ebha tahu jika Merzi tidak suka di sentuh." - Marjeta Ziti Oldrich si punya love language, yaitu : PHYSICAL TOUCH.
Dan itulah misi Ebha, sapaan semua orang padanya.
Misi menggenggam, mengelus, mencium, dan apapun itu yang berhubungan dengan keinginan menyentuh Merzi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadisin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lulu
“Sial! Dimana gadis itu?! Aku hanya kelilipan tujuh detik dan dia sudah menghilang. Ck, Marjeta!”
Kerjaan Ebha tak lagi mengawasi Merzi yang menari melainkan mencari gadis itu. Entah kapan, tapi Merzi menghilang dari kerumunan anak-anak yang sedang berjoget. Padahal tadi dia hanya mengucek matanya sebentar karena hewan kecil tiba-tiba menabrak matanya.
Menghilangnya Merzi tentu membuat Ebha terkejut luar biasa. Matanya hampir saja keluar dari tempatnya.
Dia bahkan ikut masuk ke lantai dansa demi memastikan kehadiran Merzi. Ebha juga memanggil Merzi di tengah-tengah anak muda-mudi itu.
Sekarang, lelaki itu berkeliling. Kemana saja yang menurutnya Merzi akan berada disana. Entah di meja makan, kamar mandi atau tempat penitipan barang. Dia jelajahi dahulu tempat-tempat terdekat dari lokasi pesta.
“Bolehkah aku menghukum nona kecil itu ketika menemukannya? Kenapa dia semakin nakal?”
Sementara anak yang sedang dicari itu berjalan tak tentu arah sambil membawa dua gelas di tangan kanan dan kirinya.
“Ck, dimana Lulu? Dia menyuruhku mengambil minuman ini tapi malah menghilang. LULU—Awh! Ssttt! Sakit...”
Merzi menyandung kaki meja. Karena kepalanya terasa pusing dan terus berputar membuatnya harus bersandar pada dinding untuk menjaga keseimbangan tapi tetap saja langkahnya salah.
Sambil terus meringis, Merzi membungkuk guna mengusap jempolnya setelah meletakkan dua gelas yang dipegangnya tadi. Dia buka heels yang dipakai dan samar-samar ujung jarinya itu memerah.
“Sakit sekali. Ssttt. Ebhaaa.” Bibirnya melengkung ke bawah. Wajah dan matanya sudah memerah, entah karena menahan tangis atau karena pengaruh alkohol. Mungkin juga karena keduanya.
“Ugh! Yeah ... disana, Sayang. Eumm.”
Dengan wajah yang masih kesakitan Merzi mengernyit mendengar suara aneh yang tak jauh dari tempatnya. Dia menggelengkan kepalanya untuk memfokuskan telinga dan pikirannya. Berusaha menangkap lebih jelas suara samar itu.
“Oh, Lulu ....”
“Ahh ... you are so sexy, Luke. My guard.”
Merzi membelalak. Dia melihat pada ruang dengan pintu yang tak tertutup rapat. “L-Lulu ... dan Luke? Bukankah dia ... aw! Kepalaku sakit sekali. Dimana Ebha?” Merzi meremas kepalanya. Dia menggeleng lagi untuk mengusir sejenak pandangannya yang buram.
“Apa yang mereka lakukan? Apakah itu benar-benar Lulu dan bodyguard-nya? Aku harus memeriksanya. Ayolah, kepala jangan pusing sebenatar dulu.”
Dengan terus berpegangan pada dinding, Merzi berjalan mengendap-ngendap. Sungguh, ini adalah kali pertamanya dia ingin mengetahui sesuatu harus dengan usahanya sendiri. Dalam kondisi setengah sadar pula. Biasanya dia hanya perlu mengandalkan Ebha.
Suara-suara aneh yang Merzi dengar tadi semakin jelas. Walaupun kesadarannya hampir melayang, Merzi yakin bahwa suara dengan rintihan itu adalah Lulu yang dia cari-cari.
Tapi dia masih ragu. Maka dengan perlahan dia dorong pintu sebuah kamar asal suara Lulu terdengar. Dibukanya hingga dia bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana.
“Astaga, Lulu!” Merzi menutup mulutnya. Membekap suaranya sendiri. Ternyata benar itu suara Lulu.
Namun bukannya membuka pintu lebih lebar, Merzi hanya diam mematung disana. Gadis itu menonton apa yang sedang temannya lakukan.
Lulu–gadis itu mendongak kala lehernya disapu oleh lidah panas milik sang bodyguard. Jemari lentik dengan nail art merah menyala itu meremas rambut pendek Luke. Mulutnya hampir tak pernah menutup saking dahsyatnya permainan lidah Luke.
“Luke ....”
“You are so sweet, Lulu, like sugar.”
“Yes, i am. Your sugar baby.”
Mata Merzi berkedip-kedip mendengar kalimat licin itu. Apa yang mereka bicarakan? Pikirnya.
Merzi kembali fokus ketika kedua insan itu kembali sibuk.
Tangan Luke yang ramping dan berurat itu menjalar menuju dada Lulu. Meremas kuat salah satu benda padat Lulu hingga membuat gadis itu mendesah lebih hebat. Bisa Merzi lihat kakinya Lulu sampai menegang saking kesakitan–menurutnya–karena ulah penjaga temannya itu.
Disaat seperti itu, Merzi membayangkan dia yang duduk diatas meja itu dan Ebha mengurungnya sambil mencengkram lehernya dalam ciuman yang dalam. Dia merasa geli sekaligus penasaran.
“Kita akan melakukannya disini, Nona?”
Suara Luke membuat Merzi tersentak dan menoleh kembali. Dia terkesiap melihat dada Lulu yang sudah terpampang tanpa penutup. Buah dadanya senantiasa dalam genggaman Luke.
Gaun gadis itu ternyata sudah tak ditempatnya. Melorot hingga pinggang. Bahkan Luke pun hampir sama kacaunya dengan Lulu. Dasi, jas, dan ikat pinggangnya sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
Lulu mengangguk sambil menggigit bibirnya. Tangan Luke yang memijat dadanya terasa begitu nikmat dan penuh candu. “Aku suka hal baru. Kau bawa kondom, kan?” Dengan gerakan sensual, tangannya Lulu merayap ke paha Luke.
Gantian Luke yang memejam sejenak lalu menggigit bibirnya. “Anda yang memasukkannya ke dalam kantong saya, Nona.” Dia gigit gemas puncak merah dada Lulu dan meremasnya lagi.
“Ah, begitu? Kantong sebelah mana aku memasukkannya tadi? Aku lupa. Apakah disini?” Lulu meremas benda kembung milik Luke. Meremas beberapa kali sampai membuat Luke mendesah penuh nikmat.
“Ahh, Nona.”
Luke menubruk kembali bibir Lulu. Menuntut ciuman panas di musim dingin.
Di tempatnya Merzi merasa tengkuknya memanas tetapi kakinya dingin karena dia melepas kedua heels-nya di tempat dia kesandung tadi.
Induk ayam–tidak–bapak ayam alias Ebha masih berkeliling bahkan dia sudah naik ke lantai dua masih tetap mencari Merzi. Gema lagu yang diputar dengan volume penuh itu terdengar samar-samar.
“Dimana aku harus mencari ... mu lagi—bukankah ini heels Marjeta?” Ebha melangkah lebar menuju nakas yang tak jauh dari tangga. Dia melihat ke kanan–Merzi tidak ada, dan ke kiri–dia melihat seorang perempuan berdiri di depan sebuah ruangan.
Ebha memicing guna memperjelas penglihatannya. “Itukah dia?” Ebha mengambil heels Merzi dan memanggil nama gadis itu. Namun sang empu tak menyahut.
“Nona Merzi!”
Kesal, Ebha berhenti memanggil Merzi. Dia berjalan dengan langkah lebar pada gadis itu. Entah apa yang dia intip di depan disana.
Ebha menyentuh pinggang Merzi. “Marjeta.” Panggilnya.
“Ah!” Merzi tersentak. Dia menoleh dan mendapati Ebha yang menatapnya dengan alis terangkat sebelah. Diusapnya dadanya untuk menenangkan jantungnya. “Ebha.” Bisiknya.
“Apa yang kamu lakukan—“
“—Sutt...” Merzi jinjit untuk menutup mulut Ebha. Suara bariton lelaki itu bisa membuat dua manusia yang sedang asyik bercumbu di dalam sana akan gagal fokus.
Ebha semakin bingung. Dia melongokkan kepalanya ke dalam kamar dan mengerti kenapa Merzi menyuruhnya diam. Dalam hati lelaki itu tertawa lucu. Dasar ratu intip!
Merzi menurunkan tangannya dari mulut Ebha tapi berpegangan pada lengan kokoh lelaki itu.
Keduanya kini ikut mengintip ke dalam sana.
Namun ketika mereka melihat ke dalam, Ebha langsung menutup mata Merzi.
“Ebha!” Protes Merzi dengan suara tertahan.
“Kita pulang sekarang. Tidak boleh melihat orang yang sedang bercinta, Nona.” Ujarnya langsung mengangkat tubuh Merzi.
“Tidak! Turunkan Merzi, Ebha. Merzi masih ingin berpesta.”
Merzi meronta tapi tentu tak ditanggapi oleh Ebha.
Dia tidak akan membiarkan Merzi melihat barang lelaki lain. Merzi hanya boleh melihat barang miliknya.
Dan tadi, dua insan itu sudah topless dan akan memasuki acara utama.
“Ebha kenapa sih malam ini? Kenapa Ebha tidak seseru biasanya? Putar balik, Ebha!”
“Tidak.”
“Ebha!”
Duarr!
Citt!
“Kyaa!” Merzi terlonjak dan memeluk tubuh Ebha di sampingnya. “Suara apa itu, Ebha?” Gadis itu ketakutan.
Ebha mengerem dan melihat langit dari dalam mobil. “Sepertinya akan turun badai.”
“L—lalu?”
“Kita tidak bisa pulang. Saya akan mencari hotel.”
Merzi mengangguk saja. Keinginan berpestanya lenyap dibawa suara guntur yang membuatnya kaget tadi. Tubuh gadis itu menggigil kedinginan.
Sebelum memutar setirnya, Ebha melepas sweaternya dan memasangkannya pada Merzi.
“Kamu sudah berani menipu saya, hm?” Ebha mengusap pipi Merzi dengan punggung jarinya.
Elusan Ebha itu malah membuat Merzi merinding. “H—hah? S—siapa yang menipu Ebha?”
Tak membalas, Ebha menubruk Merzi dengan tatapan datarnya. Dia biarkan beberapa saat hening diantara mereka lalu menjauhkan badannya dan melanjutkan perjalanan.
Diam-diam Merzi menghela napas lega tapi kemudian kembali merapatkan badannya pada Ebha. Kepalanya masih terasa pusing.
Tibanya di hotel, Ebha langsung membopong Merzi menuju kamar yang telah dipesankan oleh sekuriti yang berjaga.
Cukup dengan mengatakan putri kecil Oldrich butuh kamar, resepsionis langsung mencarikan.