NovelToon NovelToon
Ha Tan Wa

Ha Tan Wa

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romansa Fantasi
Popularitas:458.5k
Nilai: 5
Nama Author: Si_Ro

*Harta Tahta dan Wanita*
Prekuel dari novel 'Kutumbalkan Tubuhku'

Laras tidak pernah menduga, kalau semua kekayaan yang dia nikmati selama ini, didapat dengan cara paling laknat.

Sang suami tidak pernah mau bercerita banyak tentang pekerjaanya, walau dipaksa.

Hingga suatu malam...

Dengan mata dan kepalanya sendiri, Laras melihat sang suami tercinta masuk ke dalam satu-satunya kamar, yang sangat terlarang bagi semua penghuni rumah. Termasuk dirinya, tentu. Tubuh Laras langsung bergetar hebat, ketika dia berhasil mencuri lihat isi didalamnya, melalui lubang kunci.

Dan sejak malam itu, Laras bisa menebak apa yang telah dilakukan oleh suaminya untuk mendapatkan semua kemewahan.

Keadaan semakin rumit, saat Laras mengetahui kalau di dalam rahimnya telah tumbuh benih cinta. Dia tidak mau kejadian lalu terulang, lagi. Cukup satu kali saja.

Laras tidak akan rela, kalau sang calon jabang bayi yang masih sucinya, ikut menanggung dosa. Lalu, langkah seperti apa yang akhirnya akan diambil oleh Laras?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HTW 33

Aku bersender pada mobil, sambil menatap rumah Ayah. Tempat tinggalku sejak lahir, hingga saat ini. Tidak banyak yang berubah dengan bangunannya. Tapi sejak Ibu dan Nuri memutuskan pergi, rumah ini menjadi sepi. Dan akan makin terasa sepi, karena Ayah tidak lagi bisa menemaniku, di sini.

“Aku merindukanmu, Ayah. Sekarang Tyo sendirian,” aku hanya mampu bergumam, karena orang yang ingin kuajak berbincang sudah tidak ada.

Rumah dua lantai itu gelap. Halaman yang biasanya selalu bersih, kini dihiasi oleh daun-daun kering yang jatuh dari pohonnya. Bahkan rumput liar pun mulai tumbuh di beberapa tempat.

“Nak Bram sudah datang?” Bi Mira menyapa, dan menyambut kedatanganku.

“Iya, Bi.”

Aku masih betah bersender di samping mobil, saat Bi Mira kembali masuk ke dalam rumah. Pintu utama, sudah di buka lebar. Tapi aku enggan beranjak.

Tak lama, Paman Agus muncul dari pintu samping.

“Bagaimana kabar Nyonya dan Nak Nuri? Apa Adik dan Ibumu, menolak untuk ikut kemari?”

“Mereka berdua baik-baik saja. Ibu menolak, karena lebih betah tinggal di kampung. Terasa lebih tenang, katanya. Tapi Nuri…”

Paman Agus mengangguk. Jelas beliau tahu apa yang akan aku katakan. Nuri adalah orang yang menahan kepergianku untuk kembali ke rumah Ayah. Tidak mudah untuk mendapat izin darinya.

Aku melepas kaca mata hitam yang kupakai. “Apa ada kabar baik, yang ingin paman sampaikan?”tanyaku kemudian.

Paman Agus mengangguk. “Paman sudah menemukan orang-orang itu.”

Aku menegakkan punggung. Menatap sopir kesayangan Ayah, dengan rasa penasaran. “Orang-orang itu?”

“Sebenarnya mereka tidak pantas di sebut dengan orang. Mereka lebih cocok di sebut dengan para ********.”

Aku semakin tidak sabar mendengar penjelasan Paman Agus. Beliau berkali-kali menjeda, dan terlihat menahan emosi. Nada geraman dan tangan yang terkepal kuat, membuatku tahu, kalau Paman Agus merasakan apa yang aku rasakan. Yaitu kemarahan.

“Mereka harus bertanggung jawab atas kematian Tuan Besar. Harus!”

“Siapa mereka, Paman?”

Paman Agus meraih kedua tanganku, dan menggenggamnya erat. “Berjanjilah pada Paman, Nak Bram.”

“Berjanji apa, Paman?”

“Kali ini, biarkan Paman yang turun tangan langsung untuk memberikan pelajaran pada para ******** itu,” pinta Paman.

Keringku mengerut, mendengar permintaan Paman.

“Apa maksudmu, Paman?”

“Paman ingin membalas dendam. Membalas perbuatan yang telah mereka lakukan pada Tuan Besar. Paman benar-benar ingin melakukannya. Tolong berikan izinmu, Nak Bram. Paman mohon….”

“Tidak Paman. Tyo yang akan melakukannya sendiri,” tolakku.

“Tidak! Jangan mengotori tanganmu dengan hal sepele seperti ini. Tangan bersihmu tidak boleh tercemari oleh darah para ******** itu. Paman tidak rela!”

“Tapi ini adalah dendam Tyo, Paman. Ayah meninggal karena kesalahan Tyo. Paman tidak perlu ikut campur. Cukup berikan semua info yang Paman tahu, tentang orang-orang yang telah membuat Ayah terluka sampai meninggal!”

“Kalau begitu Paman tidak akan memberi info apapun,” tolak Paman.

“Paman! Paman! Berikan identitas mereka padaku, Paman!”

Aku terus memanggil, sembari mengikuti Paman Agus yang sudah berbalik dan berjalan menjauh. Tapi sepertinya, beliau tidak berniat berhenti. Apalagi memberikan apa yang aku minta.

Aku berdecak, frustasi. Tidak mungkin rasanya bagiku, untuk memaksa Paman. Tapi info itu sangat penting. Aku ingin tahu, siapa yang telah berani berbuat jahat pada Ayah. Terlebih, mereka telah membuat aku dan Nuri kehilangan sosok Ayah.

“Silahkan makan dulu, Nak Bram.”

Bi Mira menata makanan di meja makan, lalu menarik kursi khusus untukku. Kursi milik Ayah.

Aku menatap ragu.

“Sekarang Nak Bram yang harus duduk di kursi ini,” ucap Bi Mira.

“Apa kamar Ayah sudah dibersihkan, Bi?”

Sebelum kembali ke rumah Ayah, aku meminta Bi Mira untuk membersihkan kamar utama yang biasa Ayah pakai. Aku berniat untuk tidur di kamar itu, mulai hari ini.

“Sudah, Nak Bram. Bibi langsung membersihkannya, kemarin. Kamar Tuan Besar sudah bisa di tempati,” jawab Bi Mira sambil menyendokkan nasi serta lauk untukku. Sama seperti yang biasa Bi Mira lakukan pada Ayah.

“Terima kasih, Bi.”

“Tidak perlu berterima kasih, Nak Bram. Bibi sama sekali tidak pantas menerima ucapan baik seperti itu. Bibi seharusnya minta ma….”

“Bi!” aku memotong ucapan Bi Mira. “Jangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Saat ini, Tyo sedang belajar menerima nasib yang sudah digariskan. Jadi tolong, berhentilah meminta maaf. Mari kita hidup bersama, sebagai keluarga. Bibi mau, kan?”

Tanpa suara, Bi Mira langsung bersujud di lantai. Air matanya mengalir deras, dengan wajah memerah.

“Se-seumur hidup. Bibi a-akan mengabdikan diri pada Nak Bram, seumur hidup.”

Melihat apa yang sedang dilakukan oleh Bi Mira, Paman Agus pun turut serta berlutut di depan kakiku.

“Kami akan selalu ada untuk Nak Bram. Kami akan mengabdi selamanya. Sampai maut menjemput kami.”

Aku menghela nafas, seraya meletakkan sendok yang ada di tangan. Menepuk pundak Paman Agus dan Bi Mira, bersamaan.

“Tyo lapar. Tapi Tyo tidak akan bisa makan, kalau melihat kalian duduk di bawah. Jadi bangunlah!”

Paman Agus dan Bi Mira sudah kembali berdiri.

“Temani Tyo makan. Dan duduklah di kursi itu!”

Aku menunjuk kursi-kursi kosong yang berada di samping kanan kiri tempatku duduk. “Jangan membantah!” aku menambahkan perintah, sebelum mendengar penolakan dari mereka.

Ini adalah makan malam pertama yang aku lalui di rumah Ayah, sejak kematian beliau. Terasa hambar. Tapi bukan karena makanan yang dimasak oleh Bi Mira, melainkan karena tidak ada sosok Ayah, yang biasanya akan duduk penuh wibawa di kursi yang kini aku duduki.

Aku mengeraskan hati.

Cukup sudah aku menyalahkan orang-orang yang ada di sekitar, untuk kesialan nasib. Tidak ada gunanya lagi menyalahkan Ayah, ataupun anak Paman Agus.

Aku hanya harus mengikuti arus jalan hidup yang sudah di tuliskan.

-

Tok tok tok

Meski tahu tidak akan ada yang menjawab, tapi aku tetap mengetuk pintu kamar Ayah sebelum menekan handle dan mendorongnya.

Wuusshh….

Mendadak, ada angin yang menyapu seluruh tubuhku tepat di ambang pintu. Angin yang entah berasal dari mana. Terasa sedingin es, yang membuat bulu kudukku berdiri seketika.

“Ini Tyo, Ayah….”

Aku merasa perlu untuk menyapa, sebelum melangkah masuk.

“Mulai malam ini, Tyo akan tidur di sini. Boleh kan, Yah?”

Sunyi. Angin yang tadi menyambut kedatanganku tidak lagi ada. Hilang.

Sebenarnya apa yang aku harapkan? Kenapa aku harus bertanya, sedangkan aku tahu tidak akan ada yang menjawab?

Perlahan, aku menapaki lantai kamar Ayah. Kamar yang sesungguhnya lebih terkesan sangat feminim. Dekorasi hasil tangan Ibu. Dan Ayah tidak mau mengubah apapun, sejak Ibu pergi.

Aku masih bisa merasakan kehadiran Ayah di kamar ini. Harumnya pun masih sama. Seolah Ayah sedang menungguku di ranjangnya.

“Ayah? Tyo minta izin untuk bisa menempati kamar ini. Kamar yang dulu Ayah tempati bersama Ibu. Tyo juga akan menjaga semua barang yang Ayah tinggalkan dengan baik. Semuanya akan tetap ada ditempatnya. Tyo akan menjaga semuanya, seperti keinginan Ayah. Tyo Janji,” ucapku sembari menatap foto Ayah dan Ibu di atas kepala ranjang.

.

.

.

Lama juga ya, ngga ketemu sama semua reader. Hehee…

By Si_Ro

**

Ayo dukung dan berikan POIN sebanyak-banyaknya untuk novel ‘Ha Tan Wa’, dan dapatkan giveaway menarik.

***

Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.

Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.

Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.

Dimanapun kita berada, jaga kesehatan dan ikuti anjuran pemerintah.

RAJIN CUCI TANGAN, JAGA JARAK DAN JUGA PAKAI MASKER

1
Nur Secha
lanjut thor,Q menunggu up nya lg,kpn nih d lnjut ceritanya....makin penasaran,💪💪 trs thor
Rinda_Rey
lanjuutt thor,sehat selalu.
apa anaknya laras bakal jadi jodohnya sekar ya🤔🤔
trus tyo terbebas dari iblis itu saat pembangunan jembatan itu ya thor 😲😲
Rinda_Rey
aku juga😭😭
Bunda Silvia
kalo ajeng alias laras ibunya sekar mengapa bram membenci anaknya
Aishnina(✿ ♥‿♥)
blm smpe ke cerita tentang sekar knp sdh ga lanjut lg thor...
pdahal mampir kesini krna abis baca Serena, ,penasaran sm kisah tentang sekar
Ibuk Kumaiyah
lama gak liat ternyata masih stak di sini belum ending jugak/Smug/
Arieee
meninggal nanti yang hidup Sekar anak ke 2 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Arieee
benang merah mulai terlihat 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Sri Yati
aku mampir author 🤗🤗 abis baca Serena lanjut kesini
Rendi
kenapa enggak dilanjutin padahal cerita sangat baguss, saya sangat suka ceritanya....
Komisah Izza
Luar biasa
Bayu Linggau
tulisanya kek gerak2😭
Bayu Linggau
lain kali tulisanya jgn kek gini kak mata ku pusing bacanya😭
Yuniar
kok ga mudeng ya ma alurnya
Rami Martha
Yaaaahhh
terpaksa menunggu deh
udah up nya dikit dikit malah bersambung lagi 🤦
Eline Yulistianti
lama banget gk up²... d lanjut khan cerita nya???
Ni Umayah
ak mampir lg
Rodiah Rodiah
semangat baca ceritanya Thor,seru bangeet
Rodiah Rodiah
semangat dan sehat selalu Thor💪🤲
Raffa&kaifa& Ibrahim
Thor apa kabar, cerita nya kenapa ga dilanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!