"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lara
FLASHBACK ON
"Bintang, tolongin gue, gue mohon, gue salah, lain kali gue gak akan pergi tanpa pamit sama kalian lagi, tolong keluarin gue, gue mo-hon." Suara Rain kian melemah karena dia sudah seharian dikurung digudang tanpa makanan ataupun minuman karena dia pergi tanpa pamit pada Bintang dan keluarganya tanpa alasan yang jelas.
Rain adalah seorang dokter jantung disalah satu rumah sakit ternama dan kepergiannya kemarin karena ada pasien gawat yang harus segera dia tangani, tapi profesinya sebagai dokter memang dia sembunyikan bahkan di rumah sakit dia lebih dikenal dengan nama Inka bukan Rain.
Handoko, ayah dari Rain adalah salah satu alasan Rain menyembunyikan profesinya sebagai dokter karena dia sangat benci jika anaknya menjadi dokter dan Handoko hanya tahu kalau Rain itu seorang designer yang terkadang juga menjadi guru.
Badan Rain sudah sangat lemas, dia sudah tak mampu menggedor dan berteriak untuk meminta tolong kembali, dia hanya bisa bersandar di pintu dan perlahan menutup mata.
Bintang yang mendengar teriakan Rain tak ada niatan untuk membukakan pintu itu, dia malah pergi meninggalkan Rain tanpa mencari tahu kondisi Rain padahal dia tahu kemarin dia dan keluarganya sudah menyiksa Rain sebelum akhirnya mengurung Rain, padahal kepergian Rain tak mengundang kerugian apapun untuk Bintang maupun keluarganya.
Malam harinya, Bintang pulang bersama teman-temannya dengan kondisi rumah yang masih gelap.
"Tumben rumah lo masih gelep jam segini?" Tanya Rasta.
Bintang menyalakan lampu setelah membukakan pintu lalu mereka semua masuk. "Rain gue kurung di gudang." Singkat, jelas dan padat.
"Dari kapan lo kurung dia? Emang dia salah apa lagi?" Tanya Jems sambil melihat pintu gudang yang tak ada pergerakan tak seperti biasanya saat Rain dikurung.
"Dari kemarin, dia pergi tanpa izin." Bintang membuka kulkas dan mengambil beberapa buah lalu menaruh didepan teman-temannya.
"Gila lo, dari kemarin gak lo kasih makan juga? Biasanya lo kurung cuma beberapa jam." Tanya Resta.
"Sudah si gak usah dibahas lagi, biarin dia merenungi kesalahannya."
"Gue mau ke toilet dulu, kebelet," Pamit Jems lalu berlari kekamar mandi setelah dia mengeluarkan gas beracunnya.
"Buset, kentut lo baunya busuk amat, kaya sampah."
"Ampasnya ikut keluar kali."mereka tertawa mengingat Jems yang memang tak bisa menahan kentut.
Setelah selesai menuntaskan hajatnya, Jems keluar dari toilet dan menatap gudang sangat lama karena memang toilet yang berada disebelah gudang.
" Rain, lo masih hidup?" Lirih Jems.
Tak ada sahutan dari dalam, tapi perasaan Jems semakin ingin membukakan pintunya, entah kenapa. Padahal Jems biasanya jadi orang yang sangat bodo amat terhadap Rain.
Jems membuka kunci dengan sangat pelan takut Bintang mendengarnya membukakan pintu gudang, tapi saat pintu terbuka sedikit Jems kaget karena yang dia lihat pertama kali adalah darah dan setelah dia berusaha mendorong pintu itu dia mendapati Rain yang sudah pingsan dengan darah di sekujur tubuhnya.
"BINTANG, RAIN MATI." Teriak Jems dan itu membuat Bintang dan yang lain kaget dan berlari ke gudang.
Mereka tak kalah kaget dengan keadaan Rain tapi Bintang langsung mengecek nafas dan denyut nadinya yang masih ada hanya sangat lemah.
"Dia masih hidup."
"Lo gimana sih Jems kok bilang Rain mati, dia masih hidup," Protes Resta.
Bukannya menjawab, pertanyaan Jems membuat Bintang sedikit tersentak. "Penyiksaan apa yang lo lakukan sama Rain sampai keadaannya separah ini? Apa kesalahannya sebanding dengan apa yang dia alami sekarang?"
Bintang diam dan sedetik kemudian dia mengangkat badan Rain dengan sedikit panik.
"Resta, tolong siapkan mobil!" Pinta Bintang dan mereka semua langsung berlari untuk membawa Rain ke rumah sakit.
FLASHBACK OFF.
'Maaf Rain, aku dulu pernah membuat kamu mengalami penyiksaan yang jauh lebih parah dari apa yang mama lakukan sama Helena dan penyiksaan aku juga membuat kamu harus terbaring tak sadarkan diri dirumah sakit selama seminggu.' batin Bintang.
Sedari sampai dirumah Bintang hanya diam, pikirannya berputar pada penyiksaan yang selama 4 tahun pernikahannya dengan Rain telah dia lakukan pada Rain.
'Semenderita itu kamu dulu sama aku Rain, maaf, maafin aku.'
"Tang, inget Rain ya?" Tanya Jems yang menyadari kalau Bintang hanya diam saja dari tadi tapi Bintang tak menjawab.
"Mau kerumah gue gak ketemu Lara?" Tanya Andra.
"Lara?"
"Iya Lara, dia ada dirumah gue, Rain sebenarnya gak ijinin gue bilang sama lo dimana Lara tapi sepertinya sekarang lo butuh Lara."
"Gue mau ketemu Lara." Bintang berdiri dan diikuti teman-temannya untuk pergi kerumah Andra.
'Kalau dengan ketemu Lara bisa membuat lo sedikit lebih tenang gue akan ijinkan lo ketemu tapi kalau Lara gak mau ketemu lo gue juga gak bisa maksa dia,' batin Andra sebelum akhirnya dia mulai menjalankan mobil menuju rumahnya.
Sementara dirumah sakit, Black masih ditangani dokter dan Sira sudah tak henti menangis, disana juga ada Alvin atau orang yang Black panggil Pin.
"Lo tenang dulu, Black pasti kuat."
"Apa mereka semua bisa selamat kak?"
“Bisa, lo harus yakin mereka akan selamat, jika kecelakaan dulu juga tidak bisa membunuh mereka, lo harus yakin kalau kali ini mereka akan selamat kembali.”
“Iya kak, semoga mereka semua kuat.
Sementara di resto kondisi sudah cukup kondusif sampai ada seorang anak yang menangis.
“Buna mana? Kakak buna mana?” Keysha yang sekarang sedang menjaga kasir bingung, siapa yang dimaksud anak ini sebagai buna karena saat dia melihat sekeliling tidak ada pengunjung yang merasa kalau anak ini anak mereka.
“Sayang, kalau boleh tahu buna kamu namanya siapa?” Tanya Keysha sambil jongkok, dia tak tahu kalau anak yang sebelumnya diperebutkan dan menjadi alasan awal Black masuk rumah sakit adalah anak ini karena dia baru datang setelah resto kembali kondusif jadi dia hanya tahu tentang ceritanya tapi dia tak tahu anaknya yang mana.
“Buna Rain.”
‘Rain? Oh jadi ini anak yg harus kita jaga.’ batin Keysha.
“Buna lagi pergi keluar sebentar, kamu mau apa? Mau makan atau main?”
“Mau buna aja, panggilin buna kak.” Pinta Naren sambil memegang tangan Keysha.
“Buna nanti pulang, kamu makan dulu habis itu main sama kakak ya, tadi buna bilang kalau kamu mau nurut sama kakak kalau buna pulang mau dibelikan hadiah.” bujuk Keysha agar Naren mau nurut sama dia dan gak merengek meminta Black untuk pulang karena itu gak mungkin.
“Hadiah?”
“Iya hadiah, kamu mau hadiah apa?” tanya Keysha sambil berharap jika permintaan Naren bukan sesuatu permintaan yang aneh ataupun mahal.
“Boleh apa saja?”
“Boleh dong, mau apa? Mainan atau makanan?” Keysha yang meyakini jika dua hal itu yang kemungkinan akan Naren minta.
“Aku mau Lara.”
BERSAMBUNG