Kaisar Hou adalah seorang kaisar bijaksana dan baik hati. Ia juga menyandang gelar sebagai kaisar termuda di dinasti Ming. Pada umurnya ke 17 tahun ia sudah di nobatkan sebar seorang raja dan mampu membawa kerajaannya pada puncak kejayaan.
Namun hidupnya berakhir dengan begitu tragis di tangan saudaranya. Bahkan kekasihnya juga mengkhianati dirinya.
Namun dewa masih menyayanginya. Alhasil ia bereinkarnasi pada tubuh seorang siswa lelaki pada abad ke 21.
Namun sayangnya kehidupan siswa lelaki itu cukup sulit. Ia di cap sebagai pecundang dan selalu jadi objek bullyan teman temannya.
Lalu bagaimana Hou melalui rumitnya kehidupan barunya itu? Mampukah dia bertahan pada kerasnya dunia asing ini?
Yuk ikuti berjalanan Hou dalam menghadapi keras nya abad ke 21. Next reading guys😀😁😁😁
*Update setiap hari Selasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofie Otviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
...Abaikan Typo......
...Selamat membaca..❤...
Aria dan Hu berjalan bersama. Mereka berdua berjalan ke arah taman yang ada di bagian belakang gedung akademic Assasin. Hu berjalan di belakang Aria beberapa langkah.
“Apa nyonya baik baik saja?” tanya Aria membuka pembicaraan mereka setelah hening melanda mereka beberapa saat.
“Baik nona, semua baik baik saja. Aku dengar nona sedang sakit akhir akhir ini. Ibunda sangat mengkhawatirkanmu kemarin” ucap Hu dengan memandang punggung Aria yang nampak sangat mungil baginya.
“Sampaikan salamku kepada Nyonya, sampaikan pula padanya jika aku baik baik saja. Kemarin aku hanya sedikit kehilangan kendali” ucap Aria dengan memegang dadanya yang sempat bergetar sakit.
“Tolong jaga kesehatan anda nona, ibunda akan sangat khawatir jika hal seperti kemarin terulang kembali” ucap Hu memperingati Aria.
Aria pun menatapnya dengan pandangan sendu. “Baiklah... aku akan berkunjung jika aku merasakan sakit kembali”
“Baik nona, seperti juga lebih baik. Kalau begitu hamba undur diri sekarang”
“Baiklah.. sampaikan salamku untuk nyonya”
“Baik yang mulia” ucap Hu, dan lekas meninggalkan tempatnya. Meninggalkan Aria seorang diri di sana.
Srakk..
Aria menyibak semak semak yang tak jauh dari dirinya. “Kau menguping” ucap Aria menatap Lino yang tengah tersenyum kecut melihat wajah kekasihnya yang terlihat garang.
“Maaf” pekik Lino dengan senyum masam.
Aria menghela nafasnya lelah. “Apa kau mendengarnya?”
Lino tidak mengangguk. Ia bangkit dari duduknya dan mendekati Aria. Lino memandang wajah Aria dengan senyum tipis. “Aku tahu. Aku tak perlu mendengarnya lagi” ucap Lino, mengusap pipi Aria lembut dengan punggung tangannya.
Aria membulatkan matanya, antara terkejut dan tidak paham dengan perkataan kekasihnya.
“Apa yang kau tahu??” tanya Aria sedikit panik.
Lino membawanya ke dalam pelukannya. Membelai punggung Aria pelan dan mengecup puncak kepalanya sayang. “Semuanya. Aku tahu semua tentangmu”
“Apa maksudmu, apa yang kau tahu tentangku? Dan bagaimana kau tahu?” ucap Aria tercekat. Di tenggorokannya seperti ada rasa pedih yang mencokol, hingga membuatnya susah berbicara.
“Rahasia. Kau tidak boleh tahu tentang itu” ucap Lino dengan senyum sendu. “Yang terpenting. Aku akan selalu menghentikanmu jika kau membuat keributan besar”
“Apa yang kau maksud. Aku benar benar tidak paham Lino” ucap Aria mulai sedikit kesal dengan sikap Lino yang seakan tahu akan semua hal.
Lino hanya mampu tersenyum dan mengusap pelipis Aria menggunakan ibu jarinya dengan lembut. Lino tak ingin berbicara atau pun menjawab pertanyaan Aria. Yang jelas, ia akan selalu melindungi gadisnya.
“Kau sangat tidak jelas” marah Aria, mulai menampilkan ekspresi si putri es yang dingin tanpa perasaan.
Lagi lagi Lino tersenyum dan mencubit pipi Aria dengan gemas “Dasar gadis pemarah”
“Kau menyebalkan.. ck!”
...🐁 🐁 🐁 🐁...
Bland berjalan ke arah kelas Lino. Namun di sepanjang perjalan kesana, Bland selalu melihat setiap kelas yang entah mengapa menjadi gaduh. Entah apa yang di bicarakan para assasin ini hingga membuat keributan yang lumayan heboh.
“Lino..” panggil Bland saat berada di ambang pintu kelas lelaki yang sudah memiliki janji dengannya tersebut.
Lino yang sedang duduk di bangkunya dengan memejamkan matanya pun memalingkan perhatiannya pada Bland yang tengah menunggunya di ambang pintu kelasnya.
Grakk..
Suara deritan dari bangku Lino mampu membuat senyap kelasnya yang tadi sangat bising karna tamannya yang sedang berbisik-bisik. Melihat suasana aneh itu Bland pun menatapnya aneh.
“Ada apa dengan suasana kelasmu?” tanya Bland saat Lino sudah berdiri di hadapannya dengan membawa sebuah tas yang lumayan besar, berisikan senapan.
Entah jenis apa yang di gunakannya kali ini. Karna Lini mempunyai 3 buah senapan yang cukup membuat orang merinding ketika mengetahui tipe aslinya.
Sejauh ini ada tipe senjata api yang pernah Lino gunakan. Pertama, Taurus Raging Bull yang ia gunakan untuk pembukuaan awal dulu. Setelah pertarungan sengit melawannya dahulu menggunkan pistol tersebut, rangking kemampuan Lino selalu di kabarkan meningkat setiap waktu.
Bahkan ada beberapa kakak kelas yang sengaja bersikap sinis dengan Lino karna iri dengan kemampuannya yang sekarang. Yah.. siapa yang tak iri dengan manusia sampah yang berubah menjadi dewa senjata.. mungkin tidak ada hahaha..
Yang kedua adalah Rheinmetall MG3, senjata garda depan yang selalu menjadi andalan sebuah pasukan penembak jitu, karna senjata itu merupakan senjata serba guna. Kecepatannya mencapai 820m/s dengan jarak efektif 200 – 1200 meter. Benar-benar senjata gila!
“Kita akan menjemput Eric bukan?” tanya Bland kembali membuka percakapan di antara mereka. Lino hanya mengangguk singkat dan mereka kembali diam di antara kehinangan yang melanda.
“Oh.. kakak” panggil Kend dengan berlari ke arah Lino dan Bland yang berjalan ke arah mereka. “Ada apa?” tanya Lino melihat adiknya yang seperti sedang panik.
“Eric.. dia kehilangan kendali. Mereka sampai memanggil polisi untuk menghentikannya. Aku tak bisa keluar dari sekolah sekarang untuk membenarkan segelnya. Apa kau bisa menolongnya?” ucap Kend panik.
Lino masih saja tenang endengarkan berita menggemparkan seperti ini. Kend dan Bland yang menatapnya pun menghela nafasnya penat. “Dingin sekali..” keluh Kend dengan menghela nafasnya susah.
“Apa yang harus di lakukan? Aku juga bisa sedikit sihir kuno untuk membuat segel” ucap Bland dan ia pun berdiskusi bersama engan Kend.
Tanpa menghiraukan Lino yang masih saja diam dengan memandang ke arah luar jendela. Di kejauhan sana, ia melihat sebuah ledakan besar yang terlihat seperti ledakan bom yang penah ia lihat di televisi. Kesan ‘waw’ itu langsung mucul ketika kakinya merasakan getaran akibat ledakan tersebut.
“Apa anak kecil bisa sekuat itu?” gumam Lino menatap kehancuran yang ada di depan matanya.
“Ayo..” ucap Bland menarik Lino pergi.
“Apa itu benar-benar Eric??” tanya Lino kepada Bland yang sudah mendengarkan semua kemungkinan kondisi Eric dari Kend.
“Aku juga tidak tahu, tapi di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika menyangkut ilmu gelap dan para iblis”
“Apa maksudmu??”
Bland menatap Lino datar. “Hahhh.. mangkannya jika Kend menjelaskan situasinya, tolong dengarkan wahai tuan putra mahkota yang asli!” celetuk Bland dengan pandangan kesal.
“Jangan memanggilku seperti itu” protes Lino benar benar tak senang mendengar sebutan ‘putra mahkota’ tersebut.
“Baiklah.. baiklah.. jadi begini! Keponakanmu itu pernah menjadi percobaan ilmu hitam dari kakeknya! Pati nona Anita sangat tersisa saat itu. belum lagi Eric masih sangat kecil saat itu”
“Hem.. manusia memang lebih kejam dari pada iblis, asal kau tau saja” celetuk Lino menimpali kalimatnya tersebut.
Bland menatap Lino yang sedang berlari di sampingnya. Kilasan ingatan menyakitkan kembali berulang. Fakta yang memilukan hatinya kembali berputar di otaknya seperti sebuah video yang di restart berulang kali.
Bland tersenyum getir. “Mungkin kau benar”
Selalu Semangat ya kak. Dan Mari kita saling mendukung. Terima-kasih