Mayra memilih meredam sendiri perasaan cintanya pada seorang pemuda tampan yang merupakan teman satu sekolahnya, sekaligus putra bungsu dari sebuah keluarga baik hati yang sudah begitu banyak membantunya.
Mayra sadar, perasaannya tidak mungkin berhasil, terlebih pemuda tersebut telah memiliki seorang gadis sebagai tambatan hatinya.
Lalu, apakah cinta Mayra benar-benar tidak akan mungkin terwujud?
Yuk, ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Pergi!" pekik Mayra. Wajah gadis itu tampak memerah, nafasnya terdengar memburu dengan kedua telapak tangan yang mengepal erat. Jelas terlihat, jika Mayra berusaha keras mengendalikan emosi yang bisa meledak saat itu juga.
Agam, pemuda itu masih berdiri bergeming. Ia cukup terkejut dengan reaksi Mayra yang berada di luar dugaan. Gadis yang selalu patuh itu kini berani berteriak bahkan melayangkan telapak tangan pada wajah tampannya.
"Agam, aku bilang keluar dari kamarku!" Sekali lagi Mayra berkata dengan intonasi tinggi dan begitu lantang. Merasa semakin kesal, karena Agam tidak mau mengerti juga.
Rahang Agam kembali mengeras, merasa begitu terhina karena Mayra semakin berani membangkangnya. Setelah melayangkan telapak tangan, kini gadis itu berteriak mengusirnya keluar, padahal tempat yang menjadi kamar Mayra adalah rumah keluarganya sendiri. Maka dengan emosi yang kian membuncah, Agam menatap tajam gadis yang berdiri di hadapannya. Tangannya Kembali mencengkram erat rahang Mayra, mendorong kasar tubuh gadis itu hingga membentur dinding. "Kamu tidak berhak mengusirku! Ini rumahku! Kamu hanya pembantu di rumah ini!" ujarnya dengan penuh penekanan di setiap kata yang ia lontarkan.
Deg...
Mayra tertegun, rasa panas dan nyeri di rahang dan punggungnya tidak sebanding dengan rasa nyeri di hatinya, saat Agam kembali melontarkan kalimat yang membuatnya tersadar akan posisinya di rumah itu. Air mata tampak membanjiri wajah yang berubah memucat. Kekuatannya melawan Agam, seolah luntur hanya dengan sebuah kalimat yang mampu memporak porandakan perasaanya, membuat gadis itu kian terpuruk.
Agam melihat dengan jelas perubahan ekspresi Mayra, bahkan wajah gadis itu tidak lagi terlihat memerah, melainkan kian memucat. Agam yang sempat terbawa emosi, bergegas melepas cengkraman tangannya. "Mayra, a-aku... "
"Aku mohon keluarlah!" potong Mayra lirih. Gadis itu menatap Agam dengan tatapan kosong. Kalimat yang baru Agam lontarkan terus menggema berulang kali di kepalanya.
Agam menelan keras Saliva. Sudut hatinya terluka melihat tatapan kosong Mayra terhadapnya.
"Agam, kumohon!" ulang Mayra dengan intonasi yang kian merendah.
Tak tahan melihat gadisnya yang tampak berantakan dengan raut wajah memelas, Agam memalingkan wajah. Menyugar rambut, memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Pemuda itu lantas memilih menuruti permintaan Mayra, ia berbalik badan kemudian keluar dari dalam kamar Mayra dengan perasaan kacau.
Begitu Agam keluar dan pintu kamar kembali tertutup rapat, seketika itu pula tubuh Mayra meluruh ke atas lantai. Air mata membanjiri wajahnya yang tampak berantakan. Mayra menangisi nasibnya. Tertampar sebuah kenyataan, bahwa ia tidak memiliki siapapun sebagai tempat bergantung, bahkan tempat ternyaman nya saat ini pun, bukanlah miliknya. Karena itu, Agam merasa bebas mempermainkan perasaanya.
Dengan sedikit sisa tenaga, Mayra bergeser untuk membuka laci kecil tempat menyimpan sebuah benda berharga baginya. Sebuah kalung silver dengan liontin berbentuk hati, mungkin sudah ada bersamanya saat kedua orang tuanya tega meninggalkannya di depan pintu panti asuhan 18 tahun yang lalu.
Begitu menemukan benda yang di maksud, Mayra mendekap erat benda itu, lantas membawanya menuju ke atas kasur. Di atas kasur, Mayra menatap liontin berbentuk hati itu dengan air mata yang berlinang.
"Kenapa, kalian tega meninggalkanku seperti ini?" lirihnya.
****
Di dalam kamar, Agam merebahkan tubuh di atas kasur empuk. Kedua matanya menatap langit-langit kamar, sementara pikirannya kembali terbayang wajah kecewa Mayra saat dirinya mengatakan kalimat yang mungkin begitu menyakiti hati gadis itu. "Sial, kenapa aku mengatakan hal itu padanya!" gumam Agam. Kedua tangan Agam yang menggenggam erat meninju kasur empuknya.
Agam kembali menegakkan tubuh, ia teringat tentang janji temunya dengan Daddy Rayyan. "Aku harus segera bertemu dengan Daddy. Hanya Daddy yang bisa membuat Ridho dan Keluarganya berantakan seperti Bayu!" Tidak ingin lagi menunda, Agam segera meraih ponsel untuk menghubungi sekretaris pribadi Daddy Rayyan. Ia harus memastikan, Ridho dan keluarganya mendapat balasan dari apa yang sudah ia lakukan pada Mayra. Membuat gadis patuh itu menjadi seorang gadis pembangkang saat ini. Agam tidak bisa menerima itu.
*****
anggp aja itu harga dibagi dua 😜
,, aku berasa mengalami lompat waktu, menilik masa lalu si cassanova arogan 😌
pelan2 mayra udah bisa nerima ridho. tapi ya gitu sih. kalo dipikir2 hidup mayra udah enak sebetulnya
serbuk apa tuh yg ditaburin ridho ke mayra? obat nganu kah?
mungkin ridho kayak gitu karna ridho berpikir mayra masih blm bisa berpaling dari agam
arsene di beberapa part ini dapet porsi yg cukup banyak
gimana ya agam kalo tau mayra udah nikah?
nana hyun jadi inget kekoreaan
agam juga tipe yg setia sih walau begitu anaknya
saya kalo di posisinya ridho kalo ngelakuin itu udah dibentak2 habis, mungkin bisa aja dicoret dari kartu keluarga. beruntung banget jadi ridho. mayra juga beruntung, tapi biasanya yg kayak ini ujungnya bikin galau terus
felicya sepertinya perempuan ga bener sampe jadiin kevin temen ranjangnya.
agam ini dia betul2 cinta sama mayra. sejauh yg saya baca (walau lupa2 inget karna udah lama banget ga baca lagi) agam cuma bersikeras sama mayra. cewe lain ga diperlakuin sespesial itu sama agam, kayaknya agam ini ga buaya2 banget deh, perlakuan dia ke cewe lain sama ke mayra rasanya cukup berbeda