Mohon bijak dalam membaca, jangan lompat Bab dan blom like ya ...😘
Qyana Selyana Putri, gadis cantik yang mengalami transmigrasi kedalam tubuh seorang gadis yang bernama Astara Kalyana Rayder, gadis cantik yang menjadi kesayangan kelima kakak laki-lakinya.
Meski begitu, Astara tidak merasa bahagia, apalagi sejak dia kehilangan kedua orangtuanya saat dia masih berusia sepuluh tahun, Astara merasakan kehampaan di dalam hidupnya, hingga membuatnya tidak lagi memiliki semangat untuk hidup.
Namun hal itu tidak pernah dia perlihatkan di hadapan kelima kakaknya, hingga suatu malam, setelah pembicaraan dia dengan seorang wanita, kekasih dari Sang kakak pertama. Setelahnya, Astara memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Hilangnya jiwa Astara, rupanya membuat raga itu di isi oleh jiwa Qyana yang pada saat yang sama telah di bunuh oleh sahabatnya sendiri.
Tak rela dengan takdir hidupnya yang seperti itu, Qyana memutuskan untuk menerima hidupnya yang kedua menjadi Astara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Adiramanis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
@@@@@@
"Kau tidak ingin pulang," ucap seorang wanita cantik yang terlihat sedang duduk di hadapan seorang pemuda yang sudah beberapa minggu ini tidak pulang kerumahnya.
"Apa Tristan yang menyuruhmu untuk menyuruhku segera pulang," jawab pemuda itu yang tidak lain adalah Ashlan.
Yang selama beberapa minggu ini, dia sebenarnya tinggal di sebuah Vila milik mendiang Ibunya, dan wanita yang ada di hadapan Ashlan sekarang adalah Karina, sahabat Ashlan dan Tristan sejak kecil.
"Dia tidak mengatakan menyuruhmu untuk segera pulang, hanya saja kemarin dia bilang jika Astara terluka," jawab santai Karina mengenai pesan yang disampaikan Tristan pada dirinya.
"Astara terluka, bagaimana bisa," ucap Ashlan tak percaya.
"Aku tidak tahu cerita pastinya seperti apa, hanya saja Tristan bilang jika ada seorang wanita gila yang sengaja mendorong Astara, dan katanya, wanita itu juga sempat adu mulut dengan adik kesayangan kalian itu,"
"Apa kau yakin Tristan mengatakan hal itu," ucap Ashlan yang merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Karina barusan.
"Tentu saja, jika kau tidak percaya, lebih baik sekarang kau hubungi Tristan,"
Ashlan terdiam, sebab, dia merasa aneh dengan sikap Astara yang sedikit berubah setelah dia sempat masuk kerumah sakit waktu itu. Dia bahkan baru sadar, jika selama ini Astara sering pergi keluar rumah tanpa kesulitan.
Sangat berbanding terbalik dengan jiwa Astara yang akan merasa tidak nyaman saat berada di luar rumah, dan akan mengalami serangan panik saat ada seseorang yang mendekatinya.
Namun hal itu tidak bisa Ashlan lihat pada diri Astara yang sekarang, yang membuatnya berpikir jika adiknya yang sekarang, seperti bukan adik yang dulu pernah dia kenal.
"Kenapa diam, tidak ingin pulang dan menemui adikmu," ucap Karina yang heran saat melihat Ashlan terdiam.
"Entahlah Karin, aku merasa aneh dengan sikap Astara belakangan ini, dia seperti bukan adikku yang dulu," jawab Ashlan mengutarakan apa yang dia pikirkan.
"Kenapa kau bisa bicara seperti itu, jika kau bicara seperti ini di hadapan Astara, aku yakin dia akan langsung tersinggung dengan ucapanmu itu,"
"Tapi sikapnya yang sekarang benar-benar bertolak belakang dengan sikapnya yang dulu, dan entah karena apa, dia selalu berada di situasi yang tidak menguntungkan untuk dirinya," ucap Ashlan yang teringat situasi yang sempat membahayakan Astara belakangan ini.
"Jika seperti itu, pernakah kamu berpikir jika Astara sebenarnya ingin berusaha lepas dari trauma dan rasa sakitnya selama ini, dan mungkin saja karena hal itu, dia bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih kuat lagi, tanpa terus-terusan tenggelam dengan masa lalu yang menyakitkan bagi dirinya," ucap Karina memberi pengertian pada Ashlan.
"Apa memang benar seperti itu," kata Ashlan yang terlihat masih ragu dengan perkataan Karina barusan.
"Jika hal itu masih membuatmu penasaran, kenapa tidak bertanya langsung pada Astara," ucapnya yang kemudian beranjak dari duduknya.
"Aku ..."
"Sudahlah, tidak perlu banyak berpikir, lebih baik sekarang kita pulang," ucap Karina yang langsung menarik tangan Ashlan agar beranjak dari duduknya.
Yang setelah itu, mereka langsung pergi meninggalkan Vila, menuju kediaman Rayder.
\*\*\*
**Di kediaman Rayder**.
Astara dan keempat kakaknya sedang berkumpul di ruang keluarga, Vian dan Arya terlihat sedang bermain game.
Sedangkan Astara memilih duduk di antara Tristan dan Adrian yang tengah sibuk dengan tablet mereka masing-masing.
"Kupikir kalian dirumah untuk menemaniku, tidak tahunya kalian malah asik dengan urusan kalian masing-masing, kalau seperti ini mending aku di temani kak Ayra aja," gerutu Astara.
Yang hal itu malah membuat Tristan dan Adrian terkekeh saat mendengar Astara yang baru kali ini mengeluh pada mereka.
Sedangkan Vian dan Arya hanya menatap bingung kearah Adrian dan Tristan yang tertawa kecil barusan.
"Maaf Princess, kamu jadi merasa di abaikan ya ..." ucap Adrian sambil mematikan tablet miliknya dan mengusap sayang kepala Astara.
Begitupula dengan Tristan yang melakukan hal yang sama, seperti apa yang dilakukan oleh Adrian barusan.
"Tidak masalah, toh sudah biasa diabaikan," jawab Astara sambil memakan keripik yang sejak tadi ada di pangkuannya.
"Kok gitu sih Princess, maaf jika kami mengabaikan kamu, sekarang apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Tristan yang mencoba mencari tahu apa yang di inginkan adik kesayangan mereka itu.
"Mau bermain bersama kami Princess," sahut Arya yang mengajak Astara untuk bergabung dengan dirinya dan Vian yang sedang bermain game.
"Aku tidak bisa bermain game,"
"Kalau begitu apa yang ingin kau lakukan Kaly sayang," sahut Vian yang terlihat menghentikan bermain game, dan fokus melihat kearah Astara.
"Em ... gimana kalau pergi jalan-jalan keluar," jawab Astara yang merasa bosan karena tidak melakukan sesuatu hal yang berarti.
Dan sangat berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu, yang setiap harinya di isi dengan kegiatan di luar rumah, entah itu bekerja, atau membantu Melisa di Panti asuhan.
"Kenapa sekarang kau sangat suka sekali pergi keluar rumah hem ..." ucap Tristan sambil mencubit pipi Astara, dan membuat Astara menatap kesal pada Tristan yang sudah mencubit pipinya.
"Memangnya kenapa, kan bosan jika setiap hari berdiam diri di rumah terus. Lagipula, aku kan tidak memiliki kesibukan lain, jadi tidak masalah kan jika aku suka jalan-jalan dan menghabiskan uang kalian," jawab Astara sambil melihat keempat kakaknya secara bergantian.
"Tidak masalah Princess. Hanya saja, bukankah dulu kamu lebih suka berdiam diri di rumah Princess," sahut Arya yang merasa heran dengan perubahan sikap Astara sekarang.
"*Gawat, apa mereka curiga padaku, duh ... salah ngomong nih* ..." batin gugup Astara.
"Sudahlah, tidak perlu berdebat lagi, lagipula kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama diluar, jadi kupikir tidak masalah jika kita menuruti keinginan Tuan Putri yang cantik ini," sahut Tristan yang kembali mencubit pipi chuby Astara.
"Kak Tristan, bisa enggak sih ... enggak pake nyubit pipi segala," kesal Astara sambil memegang sisi pipinya yang di cubit oleh Tristan barusan.
Yang setelahnya, hal itu membuat keempat kakaknya tertawa karena melihat sikap mengemaskan Astara.
Hingga tak lama setelahnya, suara tawa mereka berhenti saat Vian dan Arya melihat Ashlan dan Karina yang baru memasuki kediaman mereka. Begitupula dengan Adrian dan Tristan yang menoleh kebelakang saat mendengar suara langkah kaki mendekat kearah mereka.
Merasa penasaran, Astara juga ikut menoleh kebelakang, dan merasa terkejut saat melihat Ashlan pulang bersama dengan seorang wanita yang Astara tidak tahu siapa dia.
"Sepertinya kalian ingin pergi ke suatu tempat," ucap Ashlan yang sudah berdiri di dekat kelima adiknya yang sedang berkumpul bersama.
"Ya, dan Anda tidak diajak," jawab Astara yang kemudian beranjak pergi menuju kamarnya untuk menganti baju.
Mengabaikan Ashlan yang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Astara barusan. Lalu, baru setelah mendengar keempat adiknya tertawa, Ashlan akhirnya sadar jika Astara sedang merajuk padanya.
**TBC**
alur ceritanya menarik
/Hey//Hey//Hey/