lahir sebagai wanita bukanlah pilihan seseorang, menjadi kuat juga bukanlah pilihan seorang wanita, kebahagiaan adalah harapan bagi seorang anak perempuan yang di dipersunting lelaki pilihan hati.
kisah ini menceritakan kehidupan rumah tangga empat saudara perempuan, yang punya banyak impian menikah adalah kebahagiaan, namun kisah pernikahan jauh dari ekspektasi air mata selalu hadir dalam setiap permasalahan, jatuh bangun ke empat saudara ini mempertahankan rumah tangganya, ada begitu banyak harapan dalam setiap air mata yang menetes dalam doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERAYU SANG KAPTEN
Erwin meminta maaf lagi untuk kesekian kalinya, sambil terus menggaruk tangan, leher dan punggungnya.
Novi merasa aneh saat melihat itu, Ia pun mendekati sang suami, dan Ia sangat kaget melihat banyak ruam di sekujur tubuh Erwin.
"Astagfirullah A.. Apa ini rasanya gatal?"
"Gatal.. Sangat gatal"
"Mah, Mamah Maya"
Panggil Novi dari dalam ruangan.
"Ada apa Novi? kenapa Kamu berteriak?"
"Ini Mah... Lihat A Erwin Ruam di sekujur tubuh"
"Ya ampun, sebenarnya kenapa ini yah, Mamah panggilkan Dokter sebentar"
Dokter pun memeriksa keadaan Erwin, Dokter mengatakan,
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, ini hanya efek karena berhenti mengkonsumsi pemakaian pil itu, 3 hari juga sudah sembuh"
"Alhamdulillah kalau tidak berbahaya"
Dan dokter mengatakan jika besok kondisi erwin sudah stabil bisa rawat jalan di Rumah.
"Alhamdulillah.. Terimakasih ya Dokter informasinya"
Novi pun kembali tenang hatinya, walaupun Ia sempat dikecewakan berkali-kali oleh Erwin, namun perhatiannya dan rasa peduli terhadap suaminya masih besar.
"A... Aku mohon sekali tolong berenti berhutang, cukup ini yang terkahir"
"Iya Novi Aku janji, Aku benar-benar minta maaf, dan Aku menyesal telah berbuat jahat sama Kamu"
"Terimakasih A, Aku sangat apresiasi atas perubahan yang A Erwin lakukan, dan niat baik yang ingin A Erwin tunjukkan, dan tolong jangan lagi kecewakan Aku dalam hal apapun"
Ketika mendengar ucapan Novi yang seperti ini, seketika Erwin mengingat perselingkuhannya dengah Citra, Ia pun terdiam merasa bersalah.
"Kenapa A?
"Apa... Tidak ada apa-apa"
"A.. Apa masih ada yang A Erwin sembunyikan dari Aku?"
Erwin terlihat gugup, jantungnya berdegup kencang, apakah Ia harus mengatakan tentang perselingkuhannya, tapi hatinya mengatakan jika Aib ini Novi tidak perlu tahu.
"Gak ada Novi, Kamu sudah lihat semua keburukan Aku, tidak ada yang Aku tutupi"
Novi tersenyum tipis, kemudian Ia mengajak suaminya untuk makan walau hanya sedikit, sebab selama masa pelepasan ketergantungan obat-obatan, Erwin jarang sekali makan.
Rina dan Rian kini telah tertidur, Asri merasa lelah hari ini banyak sekali yang Ia kerjakan, dari memasak, mencuci pakaian tetangga, pergi ke rumah Kakaknya, dan malam ini lelah mengajak Rina dan Rian bermain.
Asri duduk di atas ranjang, kemudian Ia berbicara pada suaminya.
"Terimakasih untuk malam ini, anak-anak begitu terlihat bahagia"
"Ayah juga ikut senang melihat Anak-anak bahagia, oh iya... Ini uang untuk bayar hutang ke Kakak Mu"
Asri pun tersenyum tipis melihat 3 lembar uang yang di berikan suaminya.
"Sudah ada..? Terimakasih yah, nanti Bunda akan sampaikan sama Kak Mai"
"Iya.. Dan ini hasil pendataan Ayah hari ini"
Asri terdiam menatap heran pada suaminya.
"Ayah.. Berikan ini semua ke Bunda?"
"Iya.. Bukankah ini yang Bunda mau, keterbukaan pendapatan Ayah"
Asri tersenyum haru, rasa hatinya tak bisa di jelaskan, dalam benaknya berpikir apakah ini nyata, suaminya mau memberikan semua hasil pendataannya.
Saking harunya Asri sampai menangis merasa bahagia atas apa yang baru saja terjadi.
"Bunda kenapa menangis?"
"Ayah apakah ini serius, benarkah ini?"
Ferry pun tersenyum tipis, lalu Ia mengatakan, jika dirinya sangat mencintai istri dan anak-anaknya.
"Sebab itu Ayah mencerna seharian tadi ucapan Bunda, dan Ayah sangat menyadari bahwa Ayah selama ini sudah zalim terhadap Bunda"
Semakin merasa bangga Asri mendengar ucapan sang suami, Ia amat sangat bersyukur bahwa suaminya mau mengakui kesalahannya dan memperbaikinya.
"Ayah janji ya, ini bukan seperti penyakit yang tiba-tiba sadar, lalu beberapa hari kemudian penyakit nya kembali lagi"
"Ayah janji, mulai detik ini, Ayah akan beri semua uang pendapatan Ayah, agar supaya Bunda yang mengelola keuangan Rumah tangga Kita"
Betapa bahagianya Asri mendengar ucapan suaminya, dan seketika Asri pun memeluk sang suami dengan erat.
"Terimakasih... Terimakasih Ayah"
"Sama-sama"
Ferry tersenyum bahagia di balik pelukan itu akan ucapan terimakasih, merasa bangga akan ucapan Terimakasih dari istrinya kepada dirinya.
"Baru kali ini Aku merasa Istri ku benar-benar bangga terhadap Aku"
Ujarnya berkata dalam hati.
"Asri... Kamu jangan pernah berpikiran untuk berpisah lagi ya?"
Asri tertawa kecil, kemudian Ia menjawab,
"Bercerai, sedikitpun Bunda gak pernah berpikir untuk bercerai, kata cerai yang selalu Bunda katakan itu hanya bentuk dari perasaan lelah Bunda mengahadapi Ayah selama ini, dan sekarang lihat hasilnya, Ayah mau memperbaiki kesalahan Ayah yang artinya Ayah masih mencintai Bunda dan anak-anak"
Ucap Asri sambil tersenyum kecil.
Dan bisakah Ferry bertahan dengan perubahan sikapnya, atau ini semacam penyakit yang sewaktu-waktu bisa kambuh lagi.
Lagi-lagi Citra main gila dengan kapten kapal alias atasannya, Ia mendapatkan uang banyak setiap harinya saat ini, sebelum kapten tergoda padanya Ia hanya mengandalkan uang pemberian Erwin.
Namun rasa nyaman dan rasa nafsu hanya sedikit perbedaannya, terkadang setelah melakukan hubungan seksual dengan sang kapten, Citra teringat dengan Erwin yang sudah dua hari ini tak menemui dirinya.
"Besok siang jadwal masuk kapal, dan lusa kapal sebuku akan berada di tengah laut untuk service, Aku akan punya banyak waktu berduaan lagi dengan Erwin"
Citra tersenyum-senyum sendiri, rasa percaya dirinya begitu kuat, hingga Ia tidak tahu jika hubungan Erwin dengan istrinya mulai membaik.
"Ini untuk Kamu"
Ucap sang kapten memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Terimakasih ya Kapten, oh iya Kapten, Aku punya ini"
Citra memperlihatkan beberapa butir pil eksim itu kepada Kapten kapal.
"Apa ini?"
"Ini adalah benda yang mampu membuat Kita merasa nyaman, dan lebih percaya diri"
Kapten menatap Citra dengah tatapan bingung.
"Coba dulu deh Kapten, kalau sudah ngerasain baru komentar"
"Tapi ini bukan narkoba kan?"
"Ya bukanlah Kapten, masa narkoba bentukannya seperti ini, ini tuh pil yang bisa membuat rasa percaya diri Kita tuh jadi lebih tinggi"
Citra sengaja mengajak Kapten kapal mengkonsumsi pil gila itu, sebab jika sudah kecanduan dan ketergantungan, Kapten kapal secara tidak langsung akan selalu membutuhkan Citra demi sebutir pil sama halnya yang Ia lakukan pada Erwin 5 tahun silam ini.
Sungguh pemikiran yang jahat bukan, kapten memandangi pil tersebut, masih ada ragu dalam benaknya untuk mencoba, namun Citra terus merayu sang Kapten agar mau mencicipi satu atau dua butir pil tersebut.
"Masih ragu Kapten, ini bukan narkoba Aku jamin ini di jual di apotik bebas, Kapten tahu gak, kenapa Aku begitu liar di atas ranjang? Ya karena obat ini Kapten"
Kapten pun tersenyum tipis sepertinya Ia sedang membayangkan cara berhubungan seksual tadi bersama Citra.
"Jadi ini bisa membantu membuat hubungan Kita menjadi lebih gairah begitu?"
"Iya, benar Kapten, makanya coba dong dua butir saja, pasti Kapten akan terus ketagihan.
Dan seorang Kapten kapal Ia tak tahu apa efek jahat dari ketergantungan mengkonsumsi pil gila ini, dengan bodohnya kapten pun menuruti perkataan Citra.
"Baik.. Aku minum"
Kapten pun meminum pil itu untuk pertama kalinya.
"Efeknya kapan bekerja?"
"Ya kalau hanya dua saja gak akan terasa Kapten, Kapten harus meminumnya sebanyak 15 butir setiap hari"
"Bagitu ya"
Tak lama terdengar suara dering ponsel milik kapten panggilan dari sang istri.
"Halo Mah, iya sebentar lagi Aku pulang"
Panggilan pun di akhiri dan kapten segera berkemas untuk pulang ke rumahnya.
"Baiklah besok lagi ya Aku akan meminum pil itu sesuai petunjuk Kamu, karena Aku ingin tahu hasilnya"
Mungkin yang ada di pikiran kapten kapal ini hanya soal ranjang saja, Ia tak bisa memikirkan efek jangka panjang dari ketergantungan mengkonsumsi pil eksim itu.
Sedangkan Citra tersenyum lebar, karena Ia telah berhasil membujuk Kapten kapal menjadi seperti dirinya, pecandu obat-obatan dan jamu-jamuan.
...***...
Akhirnya Erwin sudah kemabli pulang ke Rumah.
"Alhamdulillah Kamu sudah bisa rawat jalan di rumah, Erwin Mamah mohon sama Kamu ya, apapun rintangan yang menghalangi Kamu untuk lepas dari ketergantungan itu, Kamu harus ingat ada janji yang pernah Kamu Ucapkan untuk istri Kamu dan juga dengan Mamah"
"Iya Mah, Aku akan berusaha, Aku juga ingin hidup sehat Mah"
"A, Kamu mau mandi, Aku siapkan air hangat ya?"
"Gak Novi, Aku cuma mau ingin makan masakan Kamu"
Novi tersenyum hangat, ini lah yang Novi inginkan suaminya meminta dirinya untuk memasak dengan cara yang lembut.
"Aku akan masak untuk Kamu, tapi kalau tidak enak...."
"Aku akan tetap memakannya"
Jawab Erwin sambil tersenyum tipis, Novi pun semakin tersenyum lebar.
"Ya sudah, Aku ke dapur yah?"
Setelah Novi pergi ke dapur, Bu Maya berkata sesuatu.
"Gitu dong, suami istri harus romantis, jangan kasar sama istri"
Erwin merasa malu karena sikap dan kelakuannya sewaktu kemarin-kemarin.
"Mah.. Tolong bantu Aku ya, Aku takut gak bisa jaga emosi Aku lagi"
"Iya Win.. Sebisa Mamah, Mamah akan tinggal disini menjaga Kalian"
Erwin sangat berterimakasih pada Ibunya, dan kali ini memang Erwin ingin benar-benar berubah.
Erwin, hrsnya terus terang dg Novi ttg Citra. dan janji gk akan mengulang. Agar video itu tdk dijadikan Citra sbg alat utk mengancam