Siena yang jatuh cinta pada kakak angkatnya! waw...., kok bisa?
Bisa dong! Bagaimana tidak, Vino seorang pria mapan, ganteng nggak ketulungan, bikin para gadis siap mengantri untuk jadi pacarnya meskipun dia sudah punya seorang pacar tentunya. lalu bagaimana nasib Siena Ya? apa dia akan dapatkan cinta Vino, sang kakak angkat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mungkinkah ini cemburu?
Setelah memastikan Keisa berada di rumah yang aman dan nyaman, Vino dan Siena memutuskan untuk kembali pulang. Mobil melaju di jalan yang sepi, namun suasana di dalam mobil terasa berat dan sunyi. Siena duduk diam di kursinya, memandang keluar jendela dengan pikiran yang berkecamuk. Meski Vino sudah menjelaskan bahwa hubungannya dengan Keisa sebatas teman yang peduli, Siena masih merasa ada sesuatu yang tidak terkatakan.
Suasana di dalam mobil terasa dingin dan canggung. Vino, yang biasanya mencoba menghidupkan suasana dengan obrolan ringan, kali ini lebih banyak diam. Ia tahu bahwa Siena masih menyimpan banyak pertanyaan dan keraguan, namun ia belum menemukan cara yang tepat untuk menjelaskannya lebih jauh.
Siena akhirnya memecah keheningan, dengan nada pelan, "Kak, aku masih belum bisa percaya sepenuhnya. Kenapa Keisa harus menghubungi kamu duluan, bukan aku? Bukannya selama ini aku yang lebih dekat dengannya?"
"Sien, aku nggak tahu kenapa Keisa memilih meneleponku. Mungkin dia hanya panik dan butuh bantuan cepat, dan saat itu dia ingat aku. Nggak ada yang lebih dari itu." Vino menjawab dengan hati-hati.
Siena menghela napas, merasa masih ada yang kurang dari jawaban Vino, "Tapi... kamu kelihatan begitu panik, Kak. Seolah-olah... ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar teman."
Vino mengerti kekhawatiran Siena. Ia tahu adiknya bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hubungan biasa antara dia dan Keisa, meskipun ia sendiri tidak sepenuhnya menyadarinya sampai sekarang.
"Siena, aku nggak mau kamu salah paham. Aku memang peduli sama Keisa, karena dia sudah banyak melalui hal-hal berat. Tapi itu bukan berarti ada sesuatu di antara kami yang lebih dari sekadar kepedulian. Aku cuma ingin memastikan dia baik-baik saja." ucap Vino berusaha lebih terbuka. Ia merasa belum waktunya Siena tahu semuanya. Ia tidak mau lebih membebani Siena ataupun Keisa dengan masalah ini.
"Aku ngerti, Kak... tapi aku masih perlu waktu untuk mencerna semua ini." ucap Siena masih dengan nada ragu.
Vino mengangguk pelan, menyadari bahwa hanya waktu yang bisa membuat Siena benar-benar menerima penjelasannya. Mereka melanjutkan perjalanan pulang dalam keheningan yang masih terasa tegang, meskipun kini ada sedikit pengertian di antara mereka. Siena tahu bahwa Vino tidak berbohong, tapi perasaannya masih bercampur aduk, dan butuh waktu untuk benar-benar mempercayai kata-kata kakaknya.
Setelah perjalanan pulang yang penuh ketegangan, Vino dan Siena akhirnya tiba di rumah. Namun, suasana di rumah tidak kalah mengejutkan. Kedua orang tua mereka, yang biasanya hanya pulang pada akhir pekan, sudah menunggu di ruang tamu dengan ekspresi serius. Melihat kehadiran mereka, Siena dan Vino langsung merasa ada sesuatu yang mendesak.
Vino dan Siena segera memberi hormat kepada kedua orang tua mereka, lalu duduk di sofa yang lain, menunggu dengan cemas. Siena bisa merasakan ada ketegangan yang lebih besar daripada yang mereka alami sepanjang hari ini. Wajah orang tua mereka yang biasanya penuh senyum kini tampak tegang, terutama setelah mereka menatap Vino dengan penuh pertanyaan.
"Vino, kami baru saja mendengar kabar bahwa kamu membatalkan pertunangan dengan Airin. Kami ingin tahu alasannya. Apa yang terjadi?" tanya pria berperawakan tegas itu dengan nada yang tidak kalah tegas namun tetap terkontrol.
Vino menunduk sejenak, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan keputusannya. Siena yang duduk di sampingnya merasa semakin tegang. Ini adalah momen yang sangat krusial, dan dia tahu bahwa apapun yang akan dikatakan Vino sekarang bisa mempengaruhi banyak hal.
"Pa, ma ... aku tahu ini mengejutkan, tapi aku merasa tidak bisa melanjutkan pertunangan dengan Airin. Hubungan kami tidak berjalan seperti yang diharapkan, dan aku tidak ingin memulai pernikahan dengan fondasi yang lemah." jawab vino dengan suara tenang tapi penuh ketegasan.
"Vino, kamu tahu kan betapa pentingnya pertunangan ini bagi keluarga kita? Airin adalah gadis yang baik, dan keluarga mereka sudah sangat dekat dengan kita. Membatalkan pertunangan ini bisa menimbulkan banyak masalah." ucap wanita elegan yang duduk di hadapan mereka itu dengan nada sedikit malah dan bingung.
Vino mengangguk, sepenuhnya sadar akan konsekuensi dari keputusannya. Namun, ia tidak ingin berbohong pada dirinya sendiri atau pada Airin tentang perasaannya.
"Ibu, Ayah, aku paham apa yang kalian rasakan. Tapi aku juga harus jujur pada diriku sendiri dan pada Airin. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini jika aku tidak merasa yakin. Aku tidak ingin memulai pernikahan dengan kebohongan atau keraguan." jawab vino dengan nada serius.
Papa Siena menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, "Jadi, apa yang sebenarnya membuatmu ragu, Vino? Ada sesuatu yang belum kamu katakan pada kami?"
Vino terdiam sejenak, merasa bahwa mungkin ada bagian dari dirinya yang belum sepenuhnya dipahami oleh kedua orang tuanya. Namun, ia juga tidak ingin membuat situasi menjadi lebih rumit.
"Tidak ada yang spesifik, Ayah. Hanya perasaan yang tidak bisa diabaikan. Aku tidak ingin membohongi diri sendiri dan terpaksa menjalani pernikahan yang mungkin tidak akan membuat kami berdua bahagia." jawab vino dengan nada berat.
Siena hanya bisa duduk diam, merasakan ketegangan yang semakin memuncak. Ia tahu bahwa Vino sedang dalam situasi sulit, dan apapun yang dikatakan sekarang mungkin tidak akan sepenuhnya memuaskan kedua orang tua mereka.
"Vino, kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Tapi kamu juga harus memahami bahwa keputusan ini bukan hanya tentang perasaanmu, tapi juga tentang keluarga kita. Pastikan kamu tidak membuat keputusan yang akan kamu sesali nanti." sahut sang mama kali ini dengan nada lebih lembut, meski masih kecewa.
Vino mengangguk, berusaha menunjukkan bahwa ia memahami kekhawatiran orang tuanya. Namun, dalam hatinya, ia tahu bahwa keputusan ini adalah yang terbaik untuk semua pihak, meskipun sulit diterima sekarang.
Bersambung
Happy reading
bahaya loh klw mengeluarkan racun dengan cara di hisab..bisa bisa berpindah racun nya lewat mulut...👍😁
sekedar info 🙏😁
Syarat yg diberikan papa wijaya jika vino lolos dr ujian diberikan papa wijaya akan segera menikahi siena...
Vino tipe tidak menyerah pekerja keras pasti tantangan yg diberikan tuan wijaya terwujud,,,
Tantangan yg diberikan tuan wijaya bs mewujudkannya tetep semangat siena sll mendukungmu....