"Jangan terlalu berlebihan Alya, ingat pernikahan kita ini hanya pura-pura. Kita menikah bukan karena keinginan kita, jalani saja sewajarnya. Jangan berharap aku akan menjamahmu!"
Alya Adelia Wijaya. Gadis muda yang statusnya masih pelajar, harus merelakan masa mudanya untuk menikah dengan seorang pria yang menjadi pilihan orang tuanya.
Tanpa sepengetahuannya, orang tuanya sudah menjodohkannya semenjak mereka masih kecil dan Alya sendiri tidak pernah tahu kalau dirinya ternyata sudah dijodohkan.
Setelah menikah, ia merasakan kehidupannya berubah drastis. Awalnya dimanja oleh orang tuanya, kini harus mengabdikan hidupnya pada suaminya yang selalu bersikap dingin dan jutek.
Mampukah Alya membuat pria jutek itu berubah sikap dan bisa menerimanya dengan baik?
Atau mungkin dia putuskan untuk meninggalkan pria yang tidak pernah menganggapnya sebagai pasangan?
Cover: free licence, freepik.com
Edit : sampul buku written by Ika Dw.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Andai Kau ada di Posisiku
Rivaldo Akhirnya berhasil meluluhkan hati Alya. Dia meyakinkan dirinya akan melindungi gadis itu dan tidak akan pernah meninggalkannya.
"Kita bisa pulang sekarang?" Setelah Alya tenang, ia berniat untuk mengajak Alya segera pulang karena hari juga sudah mulai larut malam.
Alya hanya diam. Sebenarnya dia masih malas untuk pulang dan bertemu kembali dengan mertuanya, karena yang ada dia hanya akan terbawa emosi terus, namun ia tak berani mengungkapkan kejengkelannya pada sang mertua.
"Al, kenapa kamu diam aja kita pulang ya? Di sini sangat sepi, nanti kalau ada orang jahat gimana?"
"Ya itu urusan kamu lah. Tadi kamu bilang akan melindungiku, berarti kamu juga harus siap menghadapi siapapun," jawab Alya.
"Iya maksud aku melindungi kamu dari hal-hal yang buruk tapi bukan berarti aku harus menjadi jagoan. Orang jahat kalau keluar selalu membawa sajam, sedangkan aku nggak bawa apa-apa? Bisa-bisa aku ditebas habis sama mereka, dan kamu akan menjadi janda muda," bantah Rivaldo.
Alya terkekeh sedikit terhibur berada di luar bersama orang yang menjengkelkan. Pria yang membuatnya jengkel setiap hari kini sedikit memberikan kenyamanan.
"Nggak apa-apa lah kalau aku jadi janda muda, toh aku juga nggak buruk untuk dipandang. Kalau aku jadi janda muda pasti akan banyak yang ngantri."
Dengan percaya dirinya gadis itu berseloroh.
"Memangnya kamu bansos, yang bisa dijadikan antrian? Nggak ada istilahnya Rivaldo menjadikan istrinya janda muda. Kamu sudah terukir menjadi pasanganku dan itu artinya aku harus bisa melakukan apa saja untuk melindungimu."
Diam-diam Rivaldo juga pandai beladiri. Dia pernah mengikuti Kendo saat ia masih berada di Jepang untuk melanjutkan kuliahnya.
"Serius ini Om? Om nggak lagi gombalin aku kan?" Gadis itu menatapnya dengan seringaian.
"Gombalin gimana? Memangnya aku ini raja gombal yang suka gombalin perempuan? Sorry ya, aku bukan pria hidung belang."
Hati Alya berbunga-bunga, saat sang suami menyatakan dengan keinginannya sendiri ingin melindungi dan belajar mencintainya.
"Al, coba tatap mataku. Apakah kamu masih meragukan aku sebagai pasanganmu? Di sini di tempat sunyi ini, aku nyatakan jika diriku akan bersedia untuk melakukan apa saja demi kamu. Izinkan aku untuk menjadi perisai buat kamu, aku janji akan belajar untuk memperbaiki kesalahan yang sudah kuperbuat padamu. Aku sadar terlalu naif dan arogan, aku juga sadar akan keegoisanku."
Rivaldo menggenggam kedua tangan Alya dan menatapnya dalam-dalam. Gadis itu pun membalasnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Degup jantung Alya seketika berdetak dengan kencang. Entah ada hal yang tidak biasanya telah terjadi spontan begitu saja.
'Hei kenapa jadi aneh gini ya? Kenapa aku jadi nervous ditangkap sama dia? Biasanya aku biasa-biasa aja saat dia melototiku. Kenapa tatapannya beda banget sama biasanya?'
Dalam hati gadis itu menggumam. Pria di depannya itu tak mau lepas pandang darinya dan itu membuatnya menjadi canggung.
"Om jangan menatapku seperti itu, aku jadi risih," seru Alya langsung membuang muka. Lama-lama bertatapan dengan wajah tampan suaminya bisa membuat kesehatan menurun.
Pria itu menaikkan satu alisnya dengan berkata. "Kamu risih sama aku Al? Kenapa kamu risih sama aku? Apa aku ini kurang tampan? Apa aku ini kurang mapan? Atau aku ini kurang .."
Dengan cepat Alya menjawabnya. "Lebih tepatnya kurang pengertian. Kamu suka buat aku emosi terus selama tinggal sama kamu Om! Kamu selalu saja menyudutkanku dan itu yang membuatku risih dan kurang yakin dengan ucapanmu itu."
"Oh astaga! Masih juga dipermasalahkan. Bukannya aku tadi udah bilang sama kamu, Aku janji di depan orang tuaku dan juga di depan kamu sendiri, kalau aku akan mempertahankan rumah tangga kita dengan memperbaiki diriku. Aku janji akan memperbaiki sikapku yang menurut kamu buruk di matamu. Apakah tidak ada secercah kepercayaan sedikitpun buat aku? Aku ini manusia yang jauh dari kata sempurna, Alya. Apakah aku salah jika aku melakukan kesalahan dan ingin berubah belajar untuk lebih baik?"
"Ya nggak ada salahnya orang mau berubah, tapi kan untuk percaya itu juga nggak mudah," bantah Alya.
"Ya sudah Al, terserah kamu saja. Aku udah capek, ayo kita pulang sekarang."
Setelah cukup lama di luar mereka memutuskan untuk segera pulang di rumah kedua paruh baya itu juga sudah menunggunya mereka menyesali apa yang sudah dikatakannya termasuk Beni yang sudah membuat Alya kecewa dengan ucapannya.
"Al, aku minta tolong sama kamu ya? Nanti kalau ketemu sama Mama sama Papa kamu bersikap biasa saja. Kamu jangan jutekin mereka ya," pinta Rivaldo mewanti-wanti sang istri agar tetap bersikap baik kepada orang tuanya.
Alya mendengus dengan menggerutu. "Orang tua salah malah dibelain. Harusnya kamu kasih tahu pada mereka jangan bersikap seenaknya sendiri terhadap aku. Di sini orang tuaku tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga kita. Bahkan mereka tidak pernah tahu bagaimana sikapmu terhadapku. Kalau saja mereka tahu sikapmu yang tidak pernah baik padaku, mungkin mereka juga tidak mengizinkan aku untuk tinggal bersamamu di sini. Jadi orang jangan egois Om! Mentang-mentang orang tua sendiri harus dibela mati-matian walaupun tahu mereka telah bersalah."
"Bukannya aku belain mereka Al, tapi untuk menghormati orang tua, kita harus bersikap baik. Aku tahu hatimu masih dongkol, aku sendiri juga dongkol sama mereka, tapi nggak seharusnya kita membenci orang tua kita sendiri. Seburuk-buruk apapun ucapan orang tua, kita harus tetap menghormatinya jangan sampai karena satu kesalahan saja membuatmu menjadi buta hati dan tidak mau mengakui mereka sebagai mertuamu."
Rivaldo benar-benar khawatir Alya akan berbalik menyerang orang tuanya, atau bahkan lebih kejam lagi Alya tidak mau bertegur sapa dengan mereka. Padahal Ia sangat tahu orang tuanya jauh lebih respek pada Alya dibandingkan dengan dirinya. Orang tuanya sengaja bicara seperti itu karena tidak ingin membuat Alya dan orang tuanya menaruh kekecewaan padanya.
Di sepanjang perjalanan Alya hanya diam tidak bergeming sama sekali. Mereka berkecamuk dalam pikirannya masing-masing. Tak ingin suasana nampak begitu garing, Rivaldo pun mulai berbasa-basi menawarkan makanan buat sang istri.
"Kamu lapar nggak? Kalau lapar kita bisa makan di luar."
"Lapar?! Bukannya tadi kita udah makan? Kalau kamu mau makan, ya makan aja, aku nggak mau makan," balas Alya.
"Ya kali aja kamu lapar lagi setelah marah-marah sama aku. Bisa jadi kan, kamu kehilangan banyak tenaga setelah ngomel-ngomel."
Rivaldo memang senang mencari gara-gara yang ujung-ujungnya menciptakan perdebatan diantara mereka. Walaupun Alya cukup keras kepala, tapi kehadirannya membuat hidupnya lebih bersemangat kembali.
"Ck! Kau pikir aku ini sudah tidak waras begitu? Bisa-bisanya kau bilang aku suka marah-marah. Aku marah karena sudah sikap kalian yang tidak bisa menghargaiku. Andai saja kau ada di posisiku, yakin kau tidak akan emosi?"