Terlahir tampan, cerdas serta kaya adalah Impian semua orang. Tetapi berstatus jomblo di usia 28 bagi Aydan cukup meresahkan. Bukan karena tidak di sukai wanita, justru ia bagaikan gula yang di kerubuti semut. Semua wanita dari yang muda hingga janda, berlomba ingin menjadi istri seorang Aydan. Bahkan rela jadi yang kedua, ketiga dan seterusnya.
Masalah terbesar bagi Aydan ialah siapa wanita yang memiliki hati yang tulus menerimanya. Tidak memandang fisik dan uangnya. Hari gini, nyari yang original dan berhati baik itu bagai mencari jarum pada tumpukan Jerami bukan?
Berperan sebagai cleaning servis di rumah sakitnya sendiri adalah trik Aydan mencari wanita berhati emas, yang sudah hampir punah di muka bumi ini.
Simak petualangan cinta Aydan Atthallah Hildimar anak dari pasangan fenomenal Kevin Sebastian Mahesa dan Monalisa Hildimar pada OB Milik CEO.
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : PENELPON MAKSA
“Alhamdulilah, dompet kamu tebel beet sih Mad. Sehari ini aku udah terima dua lembar uang merah lho dari kamu. Spiil isi lainnya dong.” Canda Mara sembari sungguh bersyukur sebab hari ini ia mendapatkan keuntungan berlipat lipat.
“Nih, sisa 50 rebu selembar.” Aydan membuka isi dompetnya tanpa malu. Walau terlihat sisa selembar uang biru di sana, hanya dia yang tau dalam bagian ret sletingnya masih banyak uang merah sembunyi.
“Ku balikin deh, besok kamu bayarnya 10 ribu aja. Kan yang tadi kembalianmu masih 25 ribu, Mad.” Mara menganggap Rahmad sepertinya. Pegawai rendahan yang mungkin sulit membagi uang bulanan untuk mencukupi kebutuhan hidup.
“Kagak, kagak. Gua Ikhlas kok. Ambil aja, lagian kita juga udah dapat rejeki ini dari dari dokter Alluna.” Tolak Aydan yang menyerahkan paksa uang seratus ribu itu ketangan kanan Mara.
“Oke deh, aku terima kebaikanmu Mad. Berkah selalu yak.” Mara sungguh merasa hari ini mendapatkan berkah yang luar biasa, jualannya habis, pesanan untuk besok lumayan banyak, uang kembalian yang juga banyak, dapat minuman gratis pulak. Nikmat mana yang ingin di dustakan.
Rahmad alias Aydan buru-buru menuju pintu Gudang rahasianya. Untuk segera menyelesaikan tumpukan berkas yang Anggara sodorkan untuknya siang tadi. Mungkin malam ini ia akan pulang sebagai Aydan saja ke rumah Hildimar, agar tidak ada drama di cekal Ozan dan Tori lagi di pos penjagaan, bikin lama aja.
Aydan sudah menjelma menjadi direktur, tak sedikit pun ia merasa lelah akan pekerjaan ganda yang ia jalani. Hanya waktunya untuk ngeGym jelas berkurang, bahkan tidak ada. Tetapi menyikat closet dan mengepel lantai di ruang jenazah dan ruang Radiologi bagi Aydan cukuplah untuk sarana mengeluarkan keringat, sehingga ia dapat pastikan bentuk tubuhnya akan tetap terjaga.
“Permisi.” Anggara sudah berdiri di depan Aydan setelah mengetuk pintu dan mendengar suara Aydan menyilahkannya untuk masuk.
“Iya Pak Angga.” Jawab Aydan mendongakkan kepalanya kearah Anggara.
“Sebelumnya saya mau minta maaf Pak. Tadi siang saya sudah terlanjur mengumumkan perekrutan itu dan tanda tangan bapak saya gunakan dengan scanner. Sebab saya rasa lebih cepat di sebar, akan lebih baik. Tetapi itu hanya bersifat edaran elektrik, untuk fisik akan saya tempelkan dengan tanda tangan asli bapak.” Anggara merasa bersalah.
“Iya tidak apa-apa, karena sifatnya pengumunan. Berbeda jika itu adalah persetujuan atau pernyataan, wajib melewati saya.” Jawab Aydan kembali ke mode serius.
“Baik terima kasih Pak.” Jawab Anggara lega.
“Ini sudah saya dahulukan untuk pengumuman itu, silahkan di tempel di tempat biasa.” Aydan menyerahkan berkas yang sejak tadi di tunggu Anggara.
“Baik, siap pak.” Jawab Anggara penuh hormat. Anggara pun meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Aydan yang mulai focus dengan berkas yang memang harus dengan teliti dengan cermat.
“Permisi Pak.” Bagai dejavu Aydan mendengar lagi suara Anggara berseliweran di telinganya, ia mendongak dan mendapati wakilnya itu sungguh sudah berdiri lagi di depan mejanya.
“Ada apa lagi?” tanya Aydan agak bingung melihat Anggara ada di ruangannya kembali.
“Saya akan bantu bapak sampai selesai.” Jawabnya sungguh ingin membantu Aydan.
“Tidak usah Pa Angga. Ini sudah hampir magrib, pulanglah. Anak dan istri bapak tentu sudah menunggu bapak pulang.” Jawab Aydan dengan bijaknya.
“Tapi, bapak juga capek seharian ini bekerja, bahkan di dua bagian kan.” Anggara memang seperhatian itu.
“Gak masalah, saya senang melakukannya. Pulanglah, istri bapak lebih capek ngurus rumah dan anak sejak pagi.” Haduh kita nemu cowok kek Aydan di mana yak? Nyak mau loh, buat di jadiin suami kedua. Hihiihi.
“Terima kasih Pak. Tapi kalau ada apa-apa, tolong telepon saya ya.” Terasa sekali bahwa Anggara sangat cinta dengan pekerjaannya, tapi juga tau bahwa istri di rumahnya pun sudah tak sabar menunggunya pulang. Terlebih lagi hari itu adalah hari jadi pernikahannya yang ke 10 tahun. Jelas ia dan istri sudah memiliki rencana untuk merayakannya.
“Non dokter, maaf ya soal minuman jus naganya tadi. Gua boleh tebus dosa gak besok pagi?” bukannya lanjut kerja, pasca di tinggal Anggara, Aydan malah meraih ponsel lipat imutnya itu dan mengirim pesan untuk Alluna.
Satu menit, lima menit, lima belas menit. Ponsel Aydan tidak bergetar artinya SMSnya diabaikan oleh Aluna. Kembali ke tumpukan berkas dan berhenti sejenak untuk menjalankan sholat magribnya. Aydan melakukan itu semua dalam ruangannya yang serba lengkap itu, bahkan tempat tidur pun ada di sana. Untuk pulang ke rumah Hildimar atau rumah Babe Rojak, sebenarnya hanya pilihan saja. Sebab tetap berada di ruangan direkturnya pun sudah ala rumah bagi seorang Aydan.
Dengan kaos santai dan celana pendek, usai mandi dan menjalankan sholatnya tadi. Aydan akan berselancar di dunia maya untuk memesan makan malamnya. Tetapi, belum sempat ia klik untuk beli, pintu ruangannya kembali di ketuk oleh seseorang.
“Iya.” Aydan agak ragu membuka pintu itu dengan pakaian casual yang sudah melekat di tubuhnya.
“Paket.” Jawab Pria berjaket hijau memberi informasi padanya.
“Oke terima kasih.” Jawab Aydan bingung. Perasaan tadi dia belum menyelesaikan pembeliannya, tetapi kenapa sudah nongol aja tuh ojol ke depan pintunya. Aydan menuju sofa lalu meletakan box di tangannya ke atas meja.
“Terima kasih, saya boleh pulang cepat hari ini Pak. Jadi saya dan istri bisa merayakan anniversary kami yang ke 10. Ingat makan, jangan kerja terus Pak. Selamat menikmati. Anggara.” Itu adalah pesan yang ada di atas box makanan yang ternyata di kirim oleh Anggara. Aydan tersenyum senang, bangga pada wakilnya itu. Dalam perayaan hari jadinya, masih ingat jika atasannya jomblo dan mungkin gak ada yang ingetin makan.
Aydan buru-buru mengambil ponselnya, membuka aplikasi banking lalu mentransfer beberapa nominal yang ia rasa pantas diberikan pada pegawainya yang militant itu. “Happy Anniversay ke 10” Itu yang Aydan tulis pada kolom berita transferannya.
Begitulah nasib seorang jomblo, makan malam hanya di temani tumpukan berkas bahkan masih dalam ruangan kerja pulak. Mungkin benar yang Kevin katakan, bagaimana bisa cepat laku. Kalo pergaulannya hanya di rumah sakit dan ruang kerjanya saja.
Aydan hampir tersedak saat ia minum, tiba-tiba ponsel lipatnya berdering-dering. Tidak salah lagi itu pasti Anggara yang ingin mengucap terima kasih setelah dapat transferan lima juta sebagai hadiah anniversarynya. Agak malas Aydan melangkah mengambil ponselnya, mungkin ia perlu menghabiskan suapan terakhirnya terlebih dahulu, baru ia akan meladeni ucapan terima kasih bertubi-tubi itu dari Anggara.
Aydan terus saja merobek paha ayam muda yang di panggang dengan sempurna di hadapannya, Aydan tau. Anggara tentu membelinya di tempat favorit Aydan. Anggara sungguh pegawai yang sangat mengerti akan dia.
Kriiing
Kriiing
Tetapi penelpon ke ponsel lipat Aydan sepertinya tidak sabar menunggu makan malam Aydan itu selesai ia habiskan.
Bersambung …
ada pisang di gantung tali
udah lama nyak menghilang
apakah cerita masih berlanjut ?