Gadis manis itu menghilang begitu saja meninggalkan luka yang cukup dalam untuk seorang sang most wanted. Hingga bertahun-tahun lamanya Darren memendam kebencian pada Dila
Setiap mengingat gadis itu darah Darren mendidih, Darren merasa terbuang, padahal Darren yang digilai para gadis itu memilih Dila, gadis sederhana yang energik. Darren tak ingin bertemu gadis itu lagi
Namun takdir berkata lain, ia malah dipertemukan lagi dengan Dila >>>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia temanku
Dila menatapi hamparan mawar merah dikasur dengan sprei pink dikamar Apartement itu. Dila yang duduk berselonjor itu wajahnya cemberut, sejak lama ia menunggu Darren
" Kemana dia, katanya mau menginap." Gerutu Dila menatapi sekitar Apartement yang luas
" Dasar pria pembohong, dia bilang menganggap ini semua honeymoon." Gerutu Dila lagi
" Sangat mengesalkan." Gerutu Dila melirik jam didingding yang sudah menunjukan pukul 11 malam. Tapi nyatanya Darren belum juga ada saat ini
Dila tak bisa tidur, lalu ia memutuskan keluar kamar dan ke balkon. Dila menatapi pemandangan kota malam ini, suara hiruk pikuk masih terdengar. Dila menikmati semilir angin sambil mengusap pelan perutnya
Dan Dila cukup terkejut ketika kedua tangan ikut menyentuh perutnya
" Ini sudah malam, kenapa belum tidur?" Dila tak menjawab bibirnya malah cemberut. Darren mengerutkan dahi melihat itu
" Kenapa?"
" Aku bosan seharian dirumah."
" Besok aku akan mendaftarkan kelas yoga ibu hamil untukmu." Seketika Dila memutar tubuh, wajahnya menengadah menatapi wajah tampan suaminya
" Memangnya hari ini dihotel banyak pekerjaan?" Darren tak langsung menjawab, ia terdiam sebentar. Entah kenapa ia merasa bersalah
" Ya cukup banyak." Saut Darren akhirnya ia berbohong lagi, sebenarnya kenapa Darren harus berbohong, bukankah pernikahan mereka hanya pernikahan diatas kertas, pernikahan terpaksa yang tidak Darren inginkan. Tapi kenapa Darren harus berbohong?Keduanya saling menatap sampai jemari Darren menyentuh pipi Dila
" Kau menungguku?"
" Untuk apa aku menunggumu."
" Jawab saja kau menungguku."
" Tidak."
" Lalu kenapa kau belum tidur."
" Sudah kubilang aku bosan."
Darren hanya tersenyum lalu mengajak Dila duduk di sofa balkon itu. Dengan Dila yang berada didepan dan Darren memeluk tubuhnya dari belakang
" Kenapa tidak memakai baju tidur yang kubelikan?"
" Memangnya harus."
" Harus, sudah tugasmu membuat suamimu senang." Bibir Dila mencebik membuat Darren kembali tersenyum. Darren menyingkirkan rambut Dila kesamping agar lebih jelas menatapi wajah Dila
Lalu Darren menunjuk bibir Dila dengan jari telunjuknya. " Kau tidak bisa berbohong, bibirmu selalu mengeluarkan suara saat aku bergerak cepat." Bisik Darren
" Kenapa kau mesum sekali." Gerutu Dila menepis jemari Darren
" Tapi kau menyukainya, aku tahu." Dila mendelik sebal
" Aku mau tidur." Dila mencoba menepis satu tangan Darren
" Aku tahu kau menungguku."
" So tahu sekali."
" Kalau tidak, kenapa bunga mawar itu belum kau singkirkan. Itu artinya kau menungguku."
" Aku hanya."
" Berhenti jual mahal seperti ini." Potong Darren menarik dagu runcing Dila, kedua mata itu saling menatap
" Aku mengantuk, biarkan aku tidur." Ucap Dila bangkit berdiri mencoba meninggalkan Darren dan masuk kedalam
Tapi disusul Darren, dalam sekali tarikan ia memangku tubuh itu ala pengantin dan membawa Dila menuju ranjang
" Turunkan aku." Ucap Dila menepuk pundak Darren tapi pria itu malah tersenyum nakal
Dila tampak malu-malu ketika Darren menbaringkannya diatas kasur
Sambil menatapi Dila, Darren membuka satu persatu kancing piyama tidur merah maroon tersebut. Anehnya Dila seperti terhipnotis, ia tak menolak. Saat terbuka tangan Darren langsung menyusup kebalik bra
Darren mencubit pelan puncak dada itu membuat tubuh Dila menggeliyat. Darren tersenyum nakal lalu meraup bibir merah jambu itu dengan rakus
Dalam sekejap Darren mampu membuat tubuh itu polos tanpa busana. Darren menarik kedua paha mulus Dila ke tepi kasur. Darren membuka kedua paha itu dan membenamkan wajahnya disana
Membuat Dila menjerit pelan dan tubuhnya bergerak tak karuan. Darren senang bermain-main disana rupanya, suara bibir dan lidahnya memecah kamar sunyi mereka
Darren tersenyum setelah puas membuat tubuh Dila bergetar lalu ia mengukung tubuh itu dibawahnya dan menyatukan adiknya dalam kehangatan. Membuat kasur dengan hamparan bunga mawar berbentuk love itu bergoyang dan berantakan
" Euuhhmnn Dila." Darren mencengkram kuat kedua paha Dila sambil menekan lebih dalam sang adik yang mengeluarkan kecebong-kecebongnya didalam sana
Nafas Darren ngos-ngosan menatapi Dila yang juga tersengal-sengal. Percintaan mereka selalu panas dan menggairahkan, ditambah Dila yang selalu berisik menambah semangat Darren dalam memuaskannya
Darren membuka kemejanya yang basah oleh keringat, lalu pelan-pelan melepaskan penyatuannya dengan Dila. Darren menatapi surga dunianya itu, Darren berjongkok dilantai menatapi cairan putih kentalnya meleleh keluar
Ketika Dila sadar miliknya ditatapi Darren, Dila merapatkan kedua pahanya. Darren melihat Dila sejenak lalu memaksa membuka kedua paha Dila lagi
" Hentikan Darren."
" Aku sudah melihat semuanya, untuk apa malu."
" Kalau sudah melihatnya ya sudah kenapa lama sekali."
" Kenapa kau jadi cerewet sih." Darren akhirnya bangkit dan duduk disamping Dila
Darren mengusap keringat di kening Dila." Tidurlah, bukankah kau besok akan check up?"
" Kau mau menemaniku?" Darren mengangguk lalu ia mengambil selimut dilantai. Darren menyingkirkan hamparan mawar dikasur sebelum membawa Dila tidur dipelukannya
Dila sudah tidur, tapi Darren masih terjaga. Pandangannya kelangit-langit kamar sambil jemarinya mengusap-usap puncak kepala Dila. Wanita itu terlelap sampai mendekur dengan bahu Darren menjadi bantalnya
-
Darren, bangun." Dila menggoyang tubuh itu secara pelan. Darren masih mendekur keras, pria itu masih nyaman dibawah selimut. Padahal hari sudah menunjukan pukul 10 pagi
" Darren, kau tidak bekerja hari ini?"
" Berhenti menggangguku Dila." Dila menghela nafasnya lalu mendekati Darren
" Ini sudah jam 10." Ucap Dila setengah berteriak tepat didepan kuping Darren
" Berisik sekali, aku seorang boss. Mau kerja mau tidak, tidak masalah." Gerutu Darren membalikan badan membelakangi Dila
Dila tersenyum memperhatikan tingkah Darren yang seperti anak kecil. Semenjak bersama Darren, semenjak sikap pria itu membaik hidup Dila terasa lebih berwarna. Dila sangat berharap ini selamanya, ya dia bersama Darren dan anaknya kelak
Tapi sepertinya tidak mungkin, sejak awal Darren selalu menegaskan siapa Dila dimata Darren. Ia hanya seorang ibu tapi bukan seorang istri yang Darren cintai. Bukan istri yang Darren inginkan, bukan Natasha yang Darren akui didepan semua orang. Dila hanya seorang istri yang disembunyikan Darren
Dan untuk beberapa bulan kedepan, Dila akan mencoba membuat hidupnya semanis mungkin bersama Darren. Meski tidak selamanya setidaknya Dila punya kenangan yang indah dihidupnya
Karena Darren tak kunjung bangun. Akhirnya Dila memutuskan menuju dapur. Dila akan memasak makanan kesukaan Darren, mudah-mudahan kesukaan pria itu masih sama seperti dulu, pikir Dila
Dila berusaha keras pagi ini agar masakannya benar-benar enak dan cocok dilidah Darren. Kebetulan sekali pria itu sudah bangun, wajahnya sudah fress karena sudah mandi
Darren memakai pakaian santai yang selalu ia bawa didalam mobilnya. Celana hitam dan kaos oblong puting cukup membuat ayah sang jabang bayi itu terlihat tampan pagi ini
Dila tersenyum melihat Darren lalu ia membawa sebuah mangkok kaca besar kemeja makan. Dimeja makan itu sudah tersedia beberapa hidangan
" Ayo kita sarapan." Ajak Dila duduk dikursi lebih dulu
Mencium aroma masakan, tentu membuat perut Darren berbunyi. Darren mendekat dan duduk didepan Dila. Ketika melihat hidangan dalam mangkok kaca, Darren terpaku
Sementara Dila sibuk menyendok nasi kedalam piring untuk Darren. Sebelum mengambil lauk Dila menatap Darren
" Aku tidak bisa memakan ini." Kata-kata itu cukup membuat Dila mematung sejenak
" Kau tidak menyukainya."
" Aku alergi rumput laut." Jelas-jelas Darren tidak punya alergi apapun, jelas-jelas Dila tahu Darren sangat suka sup rumput laut buatan ibunya dulu. Apa mungkin selera Darren kini berbeda
" Kalau begitu aku akan memasak sup ayam."
" Tidak perlu aku akan makan seadanya." Jawab Darren mengambil alih piring nasi ditangan Dila. Dila tampak sedih karena sudah cape-cape ia membuat sup itu untuk Darren
Darren hanya mengambil telur dadar dan tumis daging cincang untuk makan paginya. Suasana pagi ini jadi berbeda untuk Dila, Dila juga tampak tak nafsu makan
Keduanya larut dalam pikiran masing-masih. Setelah makan Dila membersihkan semua hidangan dimeja itu kedapur. Sementara Darren sibuk menerima telpon yang sepertinya dari Natasha
Didapur Dila membuang sup rumput laut yang masih banyak itu sambil kedua matanya mengeluarkan airmata. Kehamilan membuat Dila sensitif dan sangat cengeng
" Dila, jam berapa janji dengan dokternya?" Cepat-cepat Dila mengusap airmatanya
" Sebentar, aku selesaikan ini dulu." Tak ada jawaban dar Darren membuat Dila memutar kepalanya kebelakang. Pria itu menatapi Dila dengan bersedekap dada dan menyandarkan tubuhnya pada pantry, entah apa yang pria itu pikirkan
" Aku kekamar sebentar." Dila berjalan melewati Darren yang mana Darren segera mengikutinya
Melihat kamar yang berantakan, Dila membereskannya terlebih dulu. Sementara Darren hanya memperhatikan Dila
Selesai, Dila mengambil tas hitamnya dan keluar begitu saja melewati Darren. Dahi Darren berkerut karena itu, ia merasa tidak punya salah pada Dila
Lalu Darren mengejar Dila, ia memegang jemari lentik itu untuk ia genggam. Dila mencoba menepis namun Darren kuat memegangnya
" Aku bukan nenek-nenek jompo yang harus dipegangi." Ucap Dila
Darren tersenyum manis karena ucapan itu
" Memangnya harus nenek jompo saja, ibu hamil yang sukanya marah tanpa sebab pun harus dipegangi seperti ini."
" Aku tidak marah."
Darren tersenyum lagi lalu melepaskan genggamnnya. Dan berubah jadi menggandeng bahu Dila
" Aku akan memberimu hadiah setelah kita melakukan chek up."
Dila tampak tertarik, ia melihat Darren
" Menurutmu bayi kita pria atau wanita? Kalau kau benar, aku akan memberimu hadiah."
" Seorang pria." Jawab Dila cepat
" Dan kalau salah, kau akan menerima hukuman."
" Dia pasti seorang pria, karena aku berharap dia seorang pria."
" Tapi kupikir dia seorang wanita, karena kau mudah sekali marah."
" Apa hubungannya." Darren tak menjawab ia hanya mengedikan bahunya
Keduanya memasuki mobil yang Darren parkirkan dibasement. Mobil melaju sedang menuju rumah sakit didekat Apartement lama Dila
Dila dan Darren langsung masuk keruangan dokter obegyn. Ini pertama kalinya untuk Darren dan didalam sana Darren tampak sibuk melihat-lihat gambar proses pembentukan bayi dari titik kecil sampai berbentuk manusia
" Silahkan ibu berbaring." Dila menurut dan membiarkan dokter melakukn usg diperutnya
" Dokter, apa jenis kelaminnya sudah bis diketahui."
" Masih belum terlihat jelas karena usia kandungan masih 18 minggu. Tapi bila diperhatikan sepertinya ini baby girl."
Darren yang duduk disamping Dila itu sibuk menatapi gambar monitor besar dimana bayinya dan Dila sudah terbentuk
" Dila, sepertinya dia sangat mirip denganku." Dila menengadah melihat layar monitor dengan 4 dimensi
Seperti ucapan Darren, masih dalam kandungan saja sudah terlihat anak mereka sangat mirip dengan ayahnya
" Bapak, ibu. Saya sarankan jangan terlalu sering melakukan hubungan suami istri." Darren tampak terkejut dan malu dengan ucapan dokter, bahkan sejak beberapa hari terakhir Darren hampir sehari dua kali menyetubuhi Dila
" Baik Dok." Jawab Darren pelan
" Beberapa bulan kedepan dibatasi ya pak, minimal seminggu sekali." Darren terpaku, jangankan seminggu sekali. Semalam menganggurkan Dila rasanya Darren tidak tahan
Dila tersenyum menatapi Darren, sepertinya Dila akan punya alasan untuk menolak Darren sekarang
Setelah melakukan beberapa pertanyaan dan pemeriksaan seputar kehamilan. Dareen menggandeng Dila keluar dari ruangan tersebut
" Darren."
Deg
Jantung Darren hampir copot ketika terpergoki oleh Natasha
" Nat." Darren menyembunyikan keterkejutannya dan langsung melepaskan gandengannya dari Dila
" Sedang apa kamu disini?" Tanya Natasha tapi pandangan itu pada Dila lebih tepatnya pada perut Dila
Darren tampak kebingungan
" Ini aku mengantar temanku melakukan check up kehamilannya." Mendengar itu Natasha menatap Darren, dengan dahi berkerut
" Bukankah seharusnya bersama seorang suami, kenapa-"
" Suamiku sudah meninggal." Jawab Dila membuat Darren menoleh kearahnya. Natasha yang awalnya tampak berpikiran buruk terhadap Darren itu tampak lega
" Nat, kamu sedang apa disini?" Bahkan panggilan Darren begitu lembut pada Natasha, pikir Dila. Entah kenapa hatinya terasa sakit saat ini
" Haidku tidak teratur akhir-akhir ini. Jadi aku melakukan pemeriksaan."
" Kalau begitu masuklah." Tapi bukannya masuk, Natasha malah mendekati Darren dan memegang tangannya
"Tunggu aku sebentar, kita makan siang bersama. Bersama temanmu juga." Darren tak bisa berkata-kata, ia hanya mengangguk sebagai jawaban
Sementara Natasha masuk keruangan dokter obegyn itu
" Bolehkah aku pulang lebih dulu."
" Tidak, aku akan mengantarmu." Darren tampak kebingungan saat ini. Darren menarik jemari lentik Dila untuk duduk dikursi tunggu
" Terima kasih, kau sudah mengerti aku." Dila tak menjawab, ia hanya menunduk
" Aku mau pulang."
" Setelah makan siang, kita pulang." Jawab Darren menatapi Dila
" Aku pulang sendiri saja."
" Dila, aku tahu kau tidak nyaman. Tapi tolonglah aku untuk kali ini." Darren memelaskan wajahnya yang mana makin membuat Dila merasa sedih, secinta itukah Darren pada Natasha?
" Aku janji akan melakukan apapun yang kau mau." Jika tak malu mungkin Dila sudah menangis saat ini. Tapi sekuat mungkin Dila menyembuyikan airmatanya. Ia kuat, sejak dulu Dila wanita yang kuat
Tak lama menunggu, Natasha keluar. Wajah itu sumringah memandangi sang kekasih. Ketiganya berjalan keluar rumah sakit dengan Natasha yang menggelayuti lengan Darren sementara Dila dibelakang
Ketiganya duduk disebuah meja bundar coffee shop yang tak jauh dari sana
" Kita belum berkenalan. Aku Natasha." Ucap wanita cantik itu mengulurkan jemarinya pada Dila. Dila tersenyum lalu menjabat jemari Natasha
" Dila."
" Sudah berapa lama kalian berteman."
" Sejak sepuluh tahun yang lalu. Dila teman sekolahku."
" Wahh luarbiasa juga ya." Saut Natasha
" Aku turut berduka atas suamimu." Dila hanya tersenyum
" Darren sangat baik, dia mau membantuku."
" Tenang saja, sekarang tidak hanya Darren. Aku akan ikut membantumu, teman Darren adalah temanku juga kan. Iyakan sayang."
Darren memaksakan senyumnya dan mengangguk
" Baiklah Dila, kau mau pesan apa?"
" Sebenarnya aku sudah makan."
" Pesanlah cemilan." Perintah Darren mendorong menu kedekat Dila. Dila menurut ia membuka lembar demi lembar menu tersebut lalu memesan croisant dan latte
" Satu Americano, spagheti bolognese satu, carbonara satu, strawberry jus less ice satu." Ucap Natasha, ia sudah hapal kesukaan Darren membuat Dila menunduk, dada wanita itu bergemuruh hebat. Rasa cemburu mulai Dila rasakan, Dila mulai meyadari arti Darren untuknya
Natasha tiba-tiba menyentuh jemari Dila diatas meja." Dengar Dila, selama ini aku tidak punya banyak teman wanita. Karena kamu adalah teman Darren, maka aku ingin lebih dekat denganmu. Bolehkan sayang?" Tanya Natasha menoleh pada Darren dengan senyuman manisnya
Sekali lagi Darren hanya mengangguk dan membalas senyuman Natasha