NovelToon NovelToon
Witch Hunter

Witch Hunter

Status: tamat
Genre:Perperangan / Action / Fantasi / Akademi Sihir / Iblis / Light Novel / Tamat
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayanagi Souma

Penyihir

Makhluk biadab yang memangsa manusia. Tak peduli siapa dirimu.
Mereka akan memangsamu. Membunuhmu.

Di dunia ini sihir terbagi dua.
Sihir cahaya dan sihir kegelapan.

Berabad-abad tahun lepas. Umat manusia berperang melawan makhluk mengerikan yang dinamakan penyihir. Sang para pengguna sihir kegelapan.

Umat manusia yang berjuang melawan mereka disebut 𝘛𝘩𝘦 𝘩𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. Mereka menggunakan sihir cahaya untuk membunuh para penyihir.

Kini saatnya untuk memburu penyihir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayanagi Souma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 –[ Gerbang Gehenna ]–

Januari, 1879.

Lubang hitam sebesar dua ratus meter itu menganga lebar di tengah medan lapang tanah yang sudah hancur. Retakan ngarai mengular panjang dari bukit hingga ujung pantai. Bercabang. Belum lagi suara langit bergemuruh, menghujani abu volkanik dan salju hitam dingin. Terkadang meteor gunung meramaikan suasana. Berdentum mendarat di tanah. Badai yang membekukan juga tiada niat untuk berhenti. Dibalik awan kelabu sana, rembulan berwarna merah darah menyinari. Juga lautan mengganas berusaha menenggelamkan pulau raksasa benua merah ini.

Hewan-hewan, tumbuhan hijau, bangunan yang ada di seluruh benua merah ini hancur sudah. Benua merah ini akan menjadi benua terkutuk. Ditambah gerbang Gehenna yang baru saja terbuka oleh Grand Witch yang menjelma sebagai anak kecil berumur sepuluh tahun berambut putih salju. Matanya berubah lebih tajam. Seperti mata naga. Berwarna merah carmine. Bergaris tajam pupilnya. Wajahnya tersenyum lebar. Seakan-akan inilah yang dia tunggu sedari dulu.

Kedua belas Hunter, ditambah Fang Tzu. Mereka berusaha bangkit berdiri walau tubuh hancur. Sebagian kaki dan tangan masih utuh. Yang tidak beruntung, tubuhnya berlubang dan anggota geraknya hilang atau terputus. Hanya Fang Tzu yang masih terlihat baik-baik saja. Walau dalam jiwanya tidak. Tubuhnya memanglah sebuah kutukan. Dia tidak bisa mati karena serangan fisik.

Mata lelah Fang memandang pemandangan mengerikan di depannya. Melihat anaknya yang tertawa terbahak-bahak. Lubang raksasa hitam yang mengeluarkan gemeretuk petir hitam mengerikan. Juga bencana alam yang semakin riuh mengganas.

Apakah ini akhirnya?

Aku gagal menyelamatkan umat manusia?

Lagipula, mungkin memang lebih baik manusia menghilang dari dunia. Mengapa kita masih terus berperang dengan kegelapan? Padahal semakin terang cahaya, semakin pekat pula bayangan kegelapan.

Untuk apa kita hidup? Terutama di dunia yang akan segera hancur ini?

...

"Wahai ... Kau ... Masih bisa bertarung?"

Seorang pria dengan rambut hitam panjang diikat dan jubah hijau bambu panjang. Membawa tongkat kayu panjang. Berdiri di depan Fang. Seorang lagi pria berambut coklat bergelombang panjang sebahu terikat. Dia juga mengenakan jubah, berwarna hitam. Membawa pedang waktu Goujian.

"Kalian ... Siapa?" Fang bertanya sembari bangkit berdiri. Mengambil pedang besarnya yang terjatuh di samping.

"Sebaiknya kita tunda perkenalan kita. Aku ingin kau membawa semua orang yang terluka ke tempat aman terlebih dahulu. Gunakan ini sebagai jalan keluar."

Pria berambut coklat memberi Fang sebuah kertas jimat. Berwarna hitam dengan tulisan dari darah. Tentunya Fang tahu bagaimana cara menggunakannya.

Fang mengangguk, "Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Fang ingin tahu. Kedua pria ini tak gentar sekalipun pemandangan mengerikan di hadapannya. Malah terlihat tenang dan santai. Mereka terlihat berumur empat puluh tahunan. Seumuran dengan Fang.

"Kami akan menahan Grand Witch dan menghentikan gerbang Gehenna terbuka."

"Gehenna?"

"Gerbang dunia kegelapan, dunia para iblis tinggal. Kami harus mencegahnya." jawab pria berambut hitam terikat.

"Sebentar lagi kita akan kedatangan seorang pria yang akan membantu kita. Sebaiknya gunakan tubuhmu yang masih sehat untuk menyelamatkan mereka yang sekarat. Kita tak punya banyak waktu." Pria berambut coklat mengingatkan Fang pada tugasnya. Dia mengangguk.

"Berhati-hatilah. Walau terlihat seperti anak kecil, jiwa Grand Witch ada di dalamnya."

Kedua pria itu mengangguk. Mengangkat senjata masing-masing.

"Tak perlu khawatirkan kami. Kami sudah lama mencari makhluk itu."

Siluet senyuman mantap melukis wajah kedua pria itu. Mereka tampak bisa diandalkan.

"Pergilah!"

Setelah satu kata, Fang segera berlari mengangkat badan Hunter bintang khusus yang masih hidup.

Sementara itu, kedua pria itu melesat cepat dalam sekejap. Menyerang Grand Witch yang melayang.

Dimulai dari pria berambut hitam panjang, tongkatnya entah bagaimana caranya berubah menjadi api. Berkobar besar. Dengan siluet indah garis hijau dalam kobaran apinya. Berlari secepat api berhembus.

Di kanannya, pria berambut coklat bergelombang panjang, menghunuskan pedang Goujian. Sangat cepat seperti waktu berhenti. Dia sudah berada di samping Grand Witch. Melancarkan serangan tanpa Grand Witch sempat melihat.

SLASH!

Grand Witch terpental ke tanah tanpa mengetahui apa yang menghantamnya. Dia lalu mendongak ke atas.

BUM!

Beruntun oleh pria berambut hitam, menyemburkan api sangat besar, sebesar gunung dari langit ke arah Grand Witch.

BLAR!

Membakar hangus badai salju. Membuka awan kelabu di langit. Membuat sinar rembulan darah menerpa medan tempur. Menerangi pemandangan gerbang hitam raksasa yang bergejolak.

"Dia tidak akan mati dengan itu saja Enlai Richu." Pria berambut coklat mendarat lembut di tanah. Menunggu kobaran api membumbung setinggi gunung padam.

Pria bernama Enlai turun mendarat lembut juga. "Aku tahu Chao Ren. Jangan menilai dari sampulnya. Grand Witch sudah hidup dari pertama kali sihir ada. Dia mustahil mati hanya karena serangan ini."

Benar saja apa yang mereka ucap. Grand Witch tampak segar bugar. Tertawa terbahak.

"Hahaha, ini menyebalkan. Keturunan pengguna sihir murni dan juga si penjagal. Kalian terlambat. Gerbang Gehenna baru saja terbuka. Dunia ini akan menjadi neraka. Sebaiknya kalian menyingkir, pengganggu!" Grand Witch mengacungkan tangannya.

BUM! DUAR!

Enlai dan Chao segera melompat mundur sangat jauh. Menghindari api hitam besar yang meledak. Membakar radius satu kilometer.

"Chao, sebaiknya kau menghancurkan gerbang itu sebelum iblis itu memanggil prajurit setannya!" Enlai berusaha berseru mengalahkan deru suara yang berisik.

Chao menoleh, mengangguk. "Kau urus anak kecil itu, Enlai. Jangan membuatku teralihkan!"

Enlai mengangguk, "Baiklah, ini akan menyenangkan."

"吾血如炎,燃尽凡尘!

神辉降临,万物臣服!

赤焰纯净,不灭不熄!

血炎神辉,照耀天地!

"Teknik darah ; 血液技术;死亡天使的化身。

(Xiěyè jìshù; Inkarnasi malaikat kematian.)"

Rambut hitam panjang Enlai berubah menjadi merah tua berujung hijau terang. Mata hijaunya menyala dengan titik tengah pupil merah terang. Tongkat berapinya membara besar. Seakan api adalah dirinya. Dan dirinya adalah api.

Dalam satu langkah ...

DUM!

Enlai menghantam Grand Witch ke samping. Menubruk tebing gunung. Hancur lebur gunung runtuh. Dalam sekejap Enlai mencecarnya, tidak memberi nafas.

DUM! BLAR! DUAR!

Api bersiluet hijau membakar gunung. Membuat Grand Witch terhenyak ke dalam bebatuan sejauh ratusan meter. Enlai terbang mengambang di depannya. Bertubi-tubi menghantam api.

BLAR! BLAR! BLAR!

Gentar gema seantero pulau benua merah. Enlai begitu mengerikan berusaha menghabisi lawannya.

Di sisi lain, Chao sedang berusaha membelah gerbang Gehenna. Satu per satu makhluk neraka berdatangan. Seperti anjing raksasa sebesar gedung dengan kepala tiga yang mengeluarkan nafas api. Atau setan yang membawa tombak bermata tiga. Atau raksasa lainnya yang membawa senjata mengerikan. Perwujudan dari neraka yang ada dalam buku dongeng. Keluar berhamburan dari gerbang Gehenna.

Chao lekas menebas semuanya dengan pedang waktu Goujian. Membelah kepala makhluk-makhluk menyeramkan itu. Sambil berlari mendekati gerbang Gehenna.

Mata coklatnya menyala terang keemasan. Mengekor setiap langkah dan tebasannya. Sekali tebasan, kepala sebesar rumah terpenggal. Cahaya coklat keemasan mengiringi setiap tebasannya. Membuat warna di bawah lubang hitam pekat. Dalam sekejap puluhan mayat monster neraka berjatuhan. Chao mulai mendekati gerbang Gehenna. Bersiap menebasnya menjadi dua ...

***

"Fang, kau harus membunuh anakmu itu nak. Dia bukan putramu yang kau kenal. Dia adalah iblis yang menjelma menjadi manusia. Jika tidak, maka tidak akan ada hari esok."

Guru Lao mencengkeram bahu Fang kuat-kuat. Kedua kaki dan satu tangan kirinya putus karena serangan Grand Witch terakhir. Dia bernafas tak beraturan. Fang membawanya ke tempat yang jauh dari medan perang. Mencari tempat aman untuk sementara.

Fang menggeleng. "Aku tidak mampu guru ..."

Air matanya berlinang karena mengingat kenangannya. Juga tubuh guru yang dicintainya. Dia merasa bersalah sekaligus lemah karena tidak mampu membunuh anaknya sendiri.

Guru Lao tersenyum lembut. "Tentu kau bisa Fang. Sedari awal ketika aku menjemputmu. Menatap matamu yang dipenuhi sedih dan amarah. Juga mengetahui kau memiliki tubuh yang diberkahi dewa. Aku ingin membawamu ke jalan yang benar. Mengajarkanmu, melatihmu cara mengendalikan kekuatan tubuhmu, menasehatimu tentang kehidupan. Itu karena semata-mata aku melihat sebuah harapan padamu Fang.

"Harapan bahwa kau akan mengakhiri perang tiada akhir ini. Mengakhiri kegelapan yang menyeruak buas melahap cahaya. Karena dalam jiwamu, aku melihat cahaya itu nak. Walau kau masih melakukan kesalahan. Itu bukan karena kesalahanmu. Namun, bagian dari takdir untuk menggapai kebaikan yang lebih besar." Guru Lao terbatuk darah. Keadaannya tidak akan bertahan lama.

Fang menangis deras tak bersuara. Mengingat semua perjalanan panjangnya. Rasa sakit dan bahagia yang sesaat. Apakah ditakdirkan untuk ini tuhan? Fang tidak tahu, dia tidak akan tahu.

"Fang, berjanjilah pada gurumu. Berjanjilah kau akan mengakhiri peperangan ini. Kau harus membunuh Grand Witch. Maukah kau berjanji, anakku?"

Satu lengan guru Lao terangkat, mengacungkan kelingking lemah. Fang mengaitkan jari kelingkingnya.

"Fang berjanji guru ..."

Suara serak menahan emosi Fang berucap. Lihatlah, guru Lao tersenyum mendengarnya. Menghela nafas panjang.

"Terimakasih, Fang. Aku tidak pernah kecewa padamu ..."

Setelah kata-kata itu, gurunya menghembuskan nafas terakhir. Fang memeluknya erat. Menangis terisak.

Satu menit, Fang kembali berdiri. Menatap semua wajah letih dan turut berduka pada rekan seperjuangan mereka. Sisa sebelas Hunter bintang khusus yang masih bertahan.

"Apa yang kita akan lakukan sekarang?" Lang membuka mulut. Bertanya. Keadaan dia kehilangan satu kaki dari betis kanan dan benturan keras di kepalanya. Entah berapa banyak luka dalam yang pemuda itu alami. Keadaannya tidak baik untuk bertarung. Begitu juga ayahnya, Wangshi. Dia kehilangan satu lengan kanan dan kaki kiri dengan luka lubang di perut yang disumpal kain kasar agar tidak mengeluarkan terlalu banyak pendarahan.

Fang memberi kertas jimat hitam padanya.

"Kalian semua gunakan ini untuk pulang."

"Bagaimana denganmu, Fang?" Kaisar Yunani bertanya, lengan kirinya putus. Namun, anggota tubuh lainnya utuh. Walau memar dan luka sayat dimana-mana.

"Aku ... Aku akan kembali ke medan tempur. Kedua pria itu mustahil mengalahkan Grand Witch tanpa bantuan. Selain itu, aku harus menepati janji guruku. Terima kasih atas perjuangan kalian. Sebaiknya kalian hidup untuk masa depan. Entah kemana bencana besar ini akan melebar. Kalian memiliki tanggung jawab yang lain di tanah air kalian."

"Baiklah, Hunter Fang Tzu. Semoga beruntung." Ratu Inggris mengucapkan salam perpisahan. Disahut oleh Hunter bintang khusus lain.

"Kalahkan anak itu Fang. Kau pasti bisa." Kaisar Yunani berseru menyemangati Fang.

"Selesaikan peperangan ini."

"Jangan ragu, teruslah berjuang!"

Wangshi melangkah mendekat, dipapah oleh putranya. Menepuk pundak Fang. "Kami pergi, semoga keluargamu beristirahat dengan tenang di atas langit sana."

Fang mengangguk. "Sampai jumpa."

Kertas jimat hitam Lang lempar. Lingkaran sihir berwarna ungu tercipta, cahayanya berpendar lembut. Sekejap kesebelas Hunter itu berpindah tempat. Teleportasi, menuju tempat yang dituju sesuai titik tujuan kertas jimat. Lantas, meninggalkan Fang sendirian. Gegas Fang berlari kembali ke arah medan tempur. Secepat angin berhembus ke barat.

"Aku akan membunuh penyihir biadab itu."

***

"Teknik tebasan dimensi; 时间分割斜线

Shíjiān fēngē xié xiàn! (Tebasan Pembelah Waktu!)"

Chao Ren berhasil merobek gerbang Gehenna. Baru setengah jalan, dirinya tertabrak Enlai yang terpental ke arahnya. Membuat gerbang portal itu menyatu kembali.

"Hei, Enlai! Bertarung yang benar!" Chao mendorong Enlai yang menghantamnya. Mereka berdua mendarat di tanah. Nyaris jatuh ke dalam ngarai berlava. Beruntung Chao menancapkan pedang Goujian sebelum benar-benar terjatuh. Tipis sekali.

"Hehe, maafkan aku. Grand Witch benar-benar mengamuk barusan. Badannya sudah berubah menjadi bentuk iblis. Karena itu aku terhempas sejauh ini." Enlai kembali bersiap, mengendalikan api siluet hijaunya membakar makhluk neraka. Menjadikan mereka sate. Atau daging bakar enak sepertinya. Dia ingin mencoba memasak makhluk neraka lain kali. Berliur karena mencium bau daging bakar.

"Kau tidak memikirkan makanan disaat seperti ini bukan?" Chao bertanya, menoleh, melihat wajah lapar rekannya sembari membakar makhluk raksasa dari neraka. Dia sangat tahu rekannya satu ini tukang makan. Bahkan daun-daun saja Enlai makan karena ingin mencobanya. Penasaran.

Enlai terkekeh, "Tentu saja iya. Makanan memberikan kita energi. Kau tahu itu kan Chao?" Tongkat apinya berputar, mengibaskan api sangat besar. Membakar makhluk neraka hingga hangus. Chao melotot ke arahnya.

"Arah jam sepuluh!" Chao berseru memberi tahu. Grand Witch dengan sosok iblis merah itu melempar bola api hitam raksasa. Mendarat mengarah kedua pria itu.

DUM! DUAR!

Enlai menusuk bola api hitam itu dengan tombak api raksasanya. Membuat ledakan besar di langit. Hujan api hitam dan api siluet hijau. Sungguh pemandangan tak terperi.

"Kau urus anak itu dengan benar Enlai. Aku harus membelah dua gerbang Gehenna. Dan jangan sekali-kali ganggu aku lagi." Chao berseru mengalahkan suara deru dentuman keras. Enlai mengangguk, dalam sekejap melesat ke depan Grand Witch si iblis Azazel.

Meluncurkan serangan tongkat api raksasa.

DUM!

Telak Enlai mengenai Grand Witch. Membelah dua bukit tinggi. Ngarai raksasa kini tercipta.

Iblis itu kembali mengambang. Perawakannya kini lebih tinggi seperti pria dewasa. Kulitnya berwarna merah darah keras. Walau wajah dan rambutnya tidak berubah. Wajah itu masih wajah Lao Tzu, anak berumur sepuluh tahun. Dia menggeram kesal. Hendak mengamuk.

^^^"תותח הלבול^^^

^^^(Meriam Kekacauan.)"^^^

Ribuan bola api hitam sebesar rumah melesat menembaki Enlai. Enlai berlarian menghindar dan menepis bola hitam itu. Berbahaya sekali jika terkena. Bisa membuat gunung tebal berlubang karena panasnya puluhan ribu derajat celcius.

"Hahaha, dasar manusia rendahan. Kalian takkan bisa melawan kekuatan seorang dewa!"

Grand Witch hendak menciptakan bola api hitam yang paling besar. Hingga menutupi gunung. Tangannya hendak teracung ke depan ...

ZRAT!

Tubuh Grand Witch lebih dahulu terhempas ke bawah menghantam tanah.

Fang kembali, setelah secepat kilat berlari, dia melompat lalu menebas Grand Witch dari atas. Bola api hitam raksasa itu lenyap. Karena sang tuannya kehilangan konsentrasi.

Grand Witch menggeram sangat keras, menggertakan rahang.

"FANG!!!"

***

1
Protocetus
bro
Story
Kok jadi POV 1🤔
Story
yang benar harusnya bergeming. 🤔
Ayanagi Souma: bergeming = tidak bergetar atau bergerak kecil

tak bergeming = bergerak atau bergetar kecil

source dari gugel
total 1 replies
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
gak nyangka baca sampai sini😅
Ayanagi Souma: terima kasih sudah membaca, semoga terhibur~
total 1 replies
Filan
udah jasad masih bisa mati juga hehe
Filan
jangan2 ga ada yg baca pesan dia wkwkwk...
Filan
emang bawa2 HP terus semua orang? Ada waktu ngetik daripada ngomong?
Ayanagi Souma: ponsel si Kai punya fitur voice changer, jadi ketikan dia bisa bersuara
total 1 replies
erlis nia★🎀
bagus bang..jngn lupa mampir yeah
Ceritera ini mirip-mirip sama inuyasa, ya gak sih?
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
apakah serigala nya kuat
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
kayak tulisan jepang bagus/Facepalm/
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
hadir bang.bagus novel nya
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
bahasa Korea ya/Doubt/
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
ngeri nya
Ayanagi Souma
Sizhu kan orang tampan dan pendiam😁👍
Filan
Dan bagaimana bisa dia terlihat ga kesakitan?
Filan: iya sih
total 2 replies
Filan
Dalam keadaan seperti itu bagaimana bisa ttp datar? /Sweat/
leasiee~。
hai kak aku mampir... yukk mampir juga di novel' ku jika berkenan 😊
Dian
Lanjut thor semangat 💪🏻
𝓛𝓮𝓸 [off]
jadi apa yang dimaksudnya Aamon?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!