Sakit tak berdarah dirasakan perempuan bernama Ananta Gayatri Rumi ketika laki-laki yang menjadi suaminya justru mendorongnya pergi. Tidak hanya itu Ananta Gayatri Rumi di ceraikan hanya karena masalah sepele, Laki-laki yang menjadi suaminya kecewa karena saat pulang kerja tidak menemukan istrinya di rumah.
Hanya perihal sepele yang menjadi alasannya.
Saat mengetahui kebenaran yang terjadi. Suaminya itu menyesal, tapi semua tak lagi sama. Talak sudah jatuh.
Tak habis akal, anak kepala desa itu memanfaatkan kedudukannya untuk menjerat istrinya yang sudah terlanjur dijatuhi talak tiga.
Dia memaksa Ananta Gayatri Rumi menikah dengan laki-laki pilihannya, laki-laki yang kerap perempuan itu ajak bicara.
Laki-laki tak sempurna yang akan dijadikan tumbal supaya dia bisa kembali rujuk dengan Ananta Gayatri Rumi.
Lantas siapa sebenarnya laki-laki pilihannya itu?
Benarkah rencananya sesuai dengan keinginannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekat Harsa
Seorang pria bangun saat Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Dia mengecek ponselnya dan ada beberapa kali panggilan dari sekretarisnya dia menghubungi sekretarisnya dan mengatakan bahwa dia tidak akan datang ke kantor hari ini. Pria itu meminta sekretarisnya mengirim semua dokumen yang harus diperiksanya melalui email saja. Dia juga menghubungi salah satu tangan kanannya untuk membelikan makan siang untuknya.
Setelah memeriksa beberapa pesan dan email yang masuk ia melirik ke arah tempat tidurnya yang berantakan. Tiada satupun wanita yang bergelung di sana ranjangnya tampak kosong.
Jaya kerap mabuk dan akhirnya bermimpi bercinta dengan Rumi. Dia sering memimpikan Rumi menghangatkan tempat tidurnya, tapi dia tidak tahu kapankah mimpinya itu akan jadi kenyataan.
Harsa selalu bermimpi bercinta sepanjang malam dengan Rumi, menguasai tubuh Rumi kembali, seperti malam-malam hebat yang selama ini mereka lalui selama 2 tahun pernikahan. Rumi selalu berhasil memuaskannya wanita itu berhasil membuatnya bergairah semalaman dan Harsa sangat bahagia.
Mengingatnya saja sudah kembali membuat Harsa menegang. Pria itu melemparkan asal ponselnya dan kembali bergelung di tempat tidur.
Setelah kejadian yang membuatnya cacat secara fisik akibat amukan Jaya, Harsa tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bagaimana Harsa bisa kembali tidur dengan perempuan lain yang tidak bisa memberikannya kepuasan seperti yang telah Rumi berikan padanya selama ini. Hati Harsa tidak bisa berbohong jika Rumi adalah satu-satunya wanita yang bisa membangkitkan gairah dan memuaskannya. Yang mereka lakukan selama ini adalah benar-benar bercinta bukan hanya sekedar berbagi tempat tidur.
Harsa menatap pada pigura besar yang memenuhi dinding kamarnya. Sebuah foto yang menampilkan sepasang suami istri yang tengah tersenyum duduk pelaminan.
Itu adalah potretnya bersama Rumi.
"Jandaku, yang akan tetap menjadi istriku."
Tangan Harsa bergerak di udara seolah menyentuh pipi Rumi di dalam bingkai besar dinding kamarnya.
"Aku rela menghambur-hamburkan uangku hanya untuk bisa melihatmu. Jika aku tidak ingin bersamamu lagi, aku tidak akan melakukan itu. Kau tahu bagaimana diriku kan sayang?"
Harsa menatap lekat pada pigura foto raksasa itu. Dua tahun lebih Harsa merubah segala kebiasaannya. Laki-laki itu menjadi gila kerja. Dan akan seperti ini ketika rasa rindunya pada Rumi tak tertahankan lagi. Hanya dengan bermimpi dapat memeluk wanita itu maka kerinduannya akan sedikit terobati dan Harsa esok hari akan kembali giat bekerja.
Banyak perubahan yang terjadi, Harsa menjadi laki-laki dewasa yang penuh kharisma namun dingin pada setiap wanita seolah cintanya sudah sirna di bawa sang mantan istri.
Harsa begitu Ingin mereka kembali bersama. Sangat ingin, hingga hampir gila karena obsesinya yang ingin segera kembali bersama dengan Rumi.
"Aku merindukanmu." Bibir itu tidak pernah bosan mengatakan kata-kata itu didepan bingkai tak bernyawa di hadapannya.
Harsa sudah mengetahui kediaman mantan istrinya, dia butuh waktu untuk merealisasikan rencana untuk menikahi wanitanya kembali.
"Tunggu sebentar lagi sayang... Kamu akan berada dalam genggamanku lagi."
******
Jaya menunggu Dafa dan Abahnya di salah satu restoran yang tidak terlalu ramai siang ini. Dafa akan datang membawakan data susulan yang diminta Jaya untuk pria itu diselidiki. Sementara Abahnya juga akan datang untuk bertemu dengan dengannya.
Tidak lama Dafa dan Abahnya itu terlihat memasuki restoran. Jaya melambai pada keduanya dan dua pria itu langsung menghampirinya.
"Kok sendiri San? Rumi nggak diajak?" Sapa Kiai Ahmad Sulaiman pada Hassan yang kini semakin tampan dan dewasa. Jaya tampak terurus dengan baik, terbukti betapa kekar lengannya saat ini.
"Hasan mau ketemu Dafa masalah pekerjaan Abah. Kalau ajak Rumi yang ada Hasan tidak fokus."
Mendengar ucapan putranya Kyai Ahmad Sulaiman hanya mampu tertawa kecil. Beliau sangat bersyukur Hasan sudah mulai ceria seperti dulu. Putranya juga sudah tidak lagi membatasi pertemuan Rumi dan Zahra.
Sepertinya Hasan sudah mulai mengikhlaskan kepergian putri semata wayangnya tercinta. Tidak ada kesedihan dirawat wajah pria paru baya itu. Beliau justru tenang mengetahui Hasan mau membuka hatinya untuk istrinya yang sekarang.
Usai makan siang bersama Abah dan juga Dafa. Jaya bergegas pulang. Butuh waktu satu setengah jam untuk sampai ke rumahnya bersama Rumi.
"Sayang, kenapa melamun?" Jaya memeluk Rumi dari belakang. Wanita itu sedang berdiri di depan jendela kamar mereka yang menghadap halaman yang penuh tanaman bunga.
Rumi hanya menggeleng. Tangannya dia letakkan di atas tangan Jaya yang memeluknya. Rumi dapat mencium aroma khas dari lelaki itu aroma parfum yang bercampur keringat yang menciptakan wangi khas seorang Jaya. Harum. Rumi sangat suka.
Jaya tidak ingin bertanya lagi, dia hanya langsung menggendong Rumi dan membawanya ke tempat tidur mereka yang sudah menunggu. Jaya seperti tidak pernah puas untuk menikmati Rumi. Beberapa hari ini dia seperti pria mesum yang selalu ingin menggauli istrinya, otaknya saat ini hanya ingin memikirkan Rumi. Membayangkan kenikmatan yang diberikan wanitanya itu bisa menyulut gairah Jaya dalam seketika.
Jaya tidak tahu kapan tepatnya? Tapi dia sadar bahwa cintanya juga sangat besar untuk Rumi, mungkin setara dengan cinta Pertamanya. Walau tak pernah diungkapkan Jaya tahu Rumi mengetahui isi hatinya.
Jaya juga masih sulit untuk percaya bisa menikahi Rumi. Jaya seperti mendapatkan bintang di kehidupannya.
Suara pintu yang diketuk beberapa kali membuat Jaya berjalan dengan pelan ke arah pintu untuk membukanya. Setelah sebelumnya menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri.
"Pak, saya ijin keluar sama.. sama.. " Lestari terlihat gugup.
"Sama pacar?" tanya Jaya penuh selidik.
Lestari tersenyum kikuk. Bosnya ini selain irit bicara, juga sangat irit ekspresi.
"Kalau sudah siap, nikah saja, dalam islam tidak ada istilah pacaran. Kamu harus tahu setiap kali kalian berdekatan dosa itu akan terus mengalir jika sebelum sah. Tapi ketika sudah sah, berdekatan justru mengalirkan pahala. Contoh saya dengan Ibu, kami dulu juga tidak berpacaran tapi alhamdulillah kan pernikahan kami baik-baik saja."
Lestari mlongo. Dia hanya ijin tapi malah dapat Siraman Qolbu.
Sejak kejadian Rumi yang kehilangan calon anaknya, Lestari memang menjadi ART tetap.
Antara Rumi dan lestari hanya beda satu tahun. Saat bekerja di tempat Jaya Lestari berusia 19 tahun sedangkan Rumi berusia 20 tahun. Dan kini Lestari sudah berusia 21 tahun setelah bekerja hampir 2 tahun dengan keluarga Jaya.
Selama 2 tahun bekerja dengan Jaya Lestari tidak sekalipun mendengar bosnya terlibat percekcokan. Masalah hebat yang dialami bosnya adalah ketika calon anak mereka tiada. Selebihnya keluarga bosnya terlihat begitu harmonis dan sejahtera.
Meskipun Lestari tidak menutup mata Bagaimana usaha Rumi untuk menjadi istri yang berbakti.
Lestari menjadi saksi jika berada di rumah, apapun makanan dan minuman yang disediakan untuk Jaya harus berasal dari tangan Rumi. Baik itu air putih sekalipun, Rumi yang memberi peraturan itu dan Jaya memang lebih suka jika yang menyediakan dan mengambilkan untuknya adalah Rumi.
Lestari hendak membatalkan rencana ijinnya, tapi suara Jaya kembali terdengar.
"Saya ijinkan, tapi kamu harus bisa jaga diri, Ibu sudah menganggap kamu seperti adiknya, tentu ibu akan sangat sedih jika terjadi sesuatu padamu."
Demi apapun. Ini adalah kali pertama Lestari mendengar kalimat Jaya begitu banyak. Lestari sampai tidak percaya dengan pendengarannya. Tapi, ini sangat nyata.
Saya sungguh terharu,
Karya Anda sungguh berkesan 🤍
Gnti nama jadi jaya?