Azka yang biasanya duduk di bangku cadangan saat pertandingan basket, tiba-tiba ada yang merasuki tubuhnya dan memberinya kekuatan. Dia menjelma menjadi pemain basket profesional.
Raga Azka kini dikuasai oleh jiwa lain. Bagaimana jika jiwa itu adalah mantan dari mamanya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu?
Masalah apa yang belum dia selesaikan di dunia ini hingga membuat jiwanya menetap di dunia? Apa dia memang diutus untuk menjaga Azka dan meraih impiannya melalui raga Azka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
"Azka? Aku merasa kamu adalah Azka, sahabatku. Apa kamu memang terlahir kembali di tubuh Azka ini?"
Azka tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Yah, mungkin karena aku sangat merindukan Azka jadi aku merasa kalau kamu itu adalah Azka, sahabatku." Tomi menepuk bahu Azka lalu merengkuh bahunya. "Setelah ini, apa kamu mau pulang?"
Azka hanya terdiam. Sebenarnya dia tidak bisa berbohong dengan Tomi. Dia juga sangat ingin sahabatnya tahu jika jiwa yang berada di dalam raga itu memang sahabatnya yang telah lama mati.
"Kenapa kamu diam saja? Memikirkan apa?"
Azka hanya menggelengkan kepalanya. Banyak sekali yang dia pikirkan saat ini. Tapi yang terpenting adalah mengungkap status Ezra. "Om Tomi, ikut aku sebentar."
"Kemana?" tanya Tomi.
Azka berdiri dan menarik tangan Tomi.
Tomi hanya menurutinya. Dia menatap tarikan tangan Azka dan cara berjalannya benar-benar mirip sahabatnya. Dia ikuti saja apa mau Azka kali ini.
Setelah sampai di tempat parkir, Azka memastikan terlebih dahulu motor Ezra. Setelah tahu motor Ezra tidak ada di tempat parkir, barulah dia menaiki motornya. Dia melajukan motornya ke depan mobil Tomi. "Om Tomi, ikuti aku."
"Iya."
Azka memakai helmnya lalu melajukan motornya menuju rumah Ezra. Jika memang Ezra adalah anak kandung Tomi, pasti Tomi sangat bahagia bertemu dengan anak kandungnya. Meskipun sebenarnya dia sangat penasaran, mengapa Ezra seperti membenci Tomi. Dia yakin, jika Ezra sudah tahu jika Tomi adalah Ayah kandungnya.
Beberapa saat kemudian, Azka menghentikan motornya di depan gang dan menunggu mobil Tomi. "Om, parkir di sini saja."
Tomi memarkir motornya di depan sebuah ruko yang kosong. Begitu juga dengan Azka. Kemudian mereka masuk ke dalam gang itu dengan berjalan kaki.
Azka menghentikan langkah kakinya di depan rumah Ezra, dan kebetulan sekali Ezra sedang berjongkok di teras rumahnya membenarkan sepeda motornya.
Ezra kini mendongak menatap Azka yang berdiri di dekatnya lalu menatap Tomi yang berdiri di samping Azka. Seketika dia berdiri dan masuk ke dalam rumahnya. Ezra akan menutup pintu rumahnya tapi Azka menahannya dengan kuat.
"Ezra, tunggu dulu. Gue mau bicara. Lo kenal kan sama Om Tomi?" kata Azka. Dia terus menahan pintu itu agar tidak tertutup.
Akhirnya Ezra membuka pintu itu dan menatap mereka berdua. "Tidak! Gue gak kenal!"
Sedangkan Tomi semakin bingung dengan percakapan mereka berdua. "Azka, apa maksudnya? Dia siapa?"
"Om Tomi sadar tidak? Kalau wajah dia mirip dengan Om Tomi," kata Azka.
Tomi menatap wajah Ezra, memang benar wajah Ezra sangat mirip dengannya.
Ezra tersenyum miring. "Memang kenapa? Di dunia ini banyak wajah yang mirip."
"Lo tahu sesuatu kan tentang Om Tomi? Gue bisa menyimpulkan apa hubungan kalian hanya dengan melihat foto yang ada di ruang tengah." Azka masih terus menahan pintu itu. Dia ingin masalah itu segera selesai.
"Apa nama ibu kamu Emil?" tanya Tomi. Dia mengingat kembali masa lalunya. Dia pernah melakukan dosa termanis itu bersama Emil sebelum dia pergi ke luar negeri. Setelah itu, dia sama sekali tidak bisa mencari kabar tentang Emil. Apa Emil hamil anaknya dan sekarang sudah besar?
"Iya, kenapa?" jawab Ezra. Dia masih saja menatap benci Tomi.
"Siapa Ayah kamu?"
"Ayah aku sudah lama mati, bahkan sebelum aku lahir." Ezra membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumahnya tanpa menutup pintu itu karena Azka masih saja menahan pintu itu.
Azka kini menyusul langkah Ezra. "Ezra, jangan seperti ini, nanti lo menyesal. Kalau Om Tomi memang Ayah lo, lo bilang saja."
Seketika Ezra membalikkan badannya. Dia mengepalkan tangannya dan menatap kesal pada Azka yang selalu saja ikut campur dengan hidupnya. "Kenapa menyesal? Masih pantas seseorang yang tidak bertanggung jawab itu disebut Ayah!"
Ada sesuatu yang menghimpit dada Tomi saat mendengar hal itu. Dia baru mengetahui satu kenyataan ini. "Jadi benar kamu anak aku?"
Ezra mengeraskan rahangnya. "Anak? Setelah bertahun-tahun menghilang tanpa tanggung jawab, masih bisa menyebut anak."
"Aku sudah mencari Emil, tapi dia terus menghindar," kata Tomi.
"Mencari? Seluas apa kota ini sampai Anda tidak bisa mencari Mama. Mungkin dulu aku bangga saat Mama menceritakan tentang sosok ayahku yang menjadi pemain basket hebat, tapi setelah aku beranjak dewasa dan mengerti semuanya, aku semakin membenci Anda. Anda egois, hanya memikirkan impian itu tanpa memikirkan Mama. Apa Anda tahu bagaimana rasanya Mama hamil tanpa suami lalu membesarkan aku seorang diri dan bekerja tak kenal lelah sampai sekarang. Sudah terlambat jika Anda kembali sekarang. Aku tidak akan pernah menganggap Anda sebagai Ayah." Ezra menekan ujung matanya yang mengembun. Semua kekecewaannya telah tercurah. Dia membalikkan badannya dan masuk ke dalam kamarnya lalu menutup rapat pintu kamar itu.
Tomi mengusap wajahnya. Dia keluar dari rumah sederhana itu dan duduk di teras rumah. Hidup memang penuh kejutan, dia tidak pernah menyangka jika dia sudah mempunyai seorang putra dan sekarang sudah SMA. Impian yang telah dia raih selama ini terasa percuma, jika seseorang yang dia sayangi terluka karenanya.
"Om Tomi bicara baik-baik saja sama Tante Emil agar kesalahpahaman ini selesai. Ezra sudah tahu kalau Om Tomi itu Ayahnya, itu berarti Tante Emil menceritakan semuanya pada Ezra, tidak ada yang ditutupi. Hanya saja Ezra menganggap jika Om Tomi adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab karena meninggalkan mamanya begitu saja demi cita-cita Om Tomi."
Tomi menarik napas panjang lalu menghembuskannya agar rasa sesak di dadanya sedikit mereda. "Iya, baru kali ini aku menyesal sudah meraih impianku."
"Om Tomi masih bisa memperbaikinya. Semua belum terlambat." Azka menepuk bahu Tomi. Apa yang dilakukannya itu membuat Tomi menatapnya.
Aku semakin yakin, jika dia benar-benar Azka.
"Tomi ...."