NovelToon NovelToon
Dikejar Guru Killer

Dikejar Guru Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:67.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Shana bersedia menjadi pengganti bibi-nya untuk bertemu pria yang akan di jodohkan dengan beliau. Namun siapa yang menyangka kalau pria itu adalah guru matematika yang killer.

Bagaimana cara Shana bersembunyi dari kejaran guru itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33 Pertandingan voli

.......

.......

"Ambillah. Kalian bisa belanja." Ibu itu berkata dengan ramah. Tentu ini membuat Shana girang. "Sekalian kasih dua, Merta."

"Oh oke Bude. Ini." Perempuan bernama Merta itu mengeluarkan satu lagi voucher belanja. Shana menerima kartu itu dengan wajah bahagia yang di tahan.

"Terima kasih ...," ujar Shana bersungguh-sungguh.

"Ya. Terima saja. Toh kamu juga berhak mendapatkannya karena sudah berbuat baik," ujar Ibu ini seraya menyentuh lengan Shana dengan lembut. Beliau begitu ramah dan bijak bicaranya. "Sudah ya, kami pulang lebih dulu. Kalian juga harusnya langsung pulang. Ini sudah malam. Belanjanya besok aja." Bagaimanapun perempuan itu adalah seorang ibu, beliau memberi nasehat pada dua cewek ini.

"Baik." Mereka mengangguk.

"Terima kasih ya." Merta mengucapkannya sambil tersenyum. Di balik wajahnya yang cerewet, perempuan ini ramah juga.

Shana pun melepas kepergian dua orang itu dengan hati lega. Mobil yang mereka tumpangi menjauh dari minimarket. Setelah itu mereka terpaku pada voucher di tangan Shana.

"Wah, rejeki nih. Satu untuk kamu." Shana menyerahkan satu voucher belanja pada Mia.

"Enggak, itu untuk kamu." Mia menolak.

"Kan ada dua."

"Pahlawannya kan kamu. Yang berkorban sampai guling-guling di tanah juga kamu, jadi itu buat kamu."

"Iya, tapi aku mau kasih ke kamu kok." Shana memaksa.

"Enggak." Mia menahan tangan Shana menyodorkan kupon belanja itu. "Kupon ini buat kamu sendiri, terus aku belikan aja jajanan apa gitu pakai kupon satunya, jangan banyak-banyak." Mia tahu dia tidak berhak atas hadiah itu, karena dia kebagian paniknya saja ketika melihat Shana di atas aspal bergelut dengan wanita copet tadi.

"Beneran nih?" goda Shana seraya tersenyum.

"Iya beneran. Udah ayo pulang."

"Katanya mau dibelikan jajanan?"

"Besok aja, keburu malam." Mia memperlihatkan waktu di pergelangan tangannya. Sudah jam setengah 12 malam.

"Oh, iya. Kita harus pulang memang." Shana ingat soal bibinya. Motor pun melaju dengan cepat diatas aspal. Apalagi jalanan mulai sepi.

***

Di rumah, Raisa sudah menunggu Shana dengan wajah tegang. Setelah mendapati rumah tidak ada orang, di langsung panik. Apalagi ketika ponsel Shana tidak bisa di hubungi.

Dengan kebingungan, Raisa masih berharap bocah itu datang segera. Ia berjalan mondar-mandir di teras. Resah gelisah bercampur jadi satu.

Tidak lama orang yang di tunggu muncul. Masih dengan Mia di jok belakang.

"Sepertinya Bibi Raisa marah banget, Shan," ujar Mia. Tanpa di katakan pun Shana mengerti. Ini pertama kalinya dia pulang sampai malam begini.

Tangan Raisa bersedekap. Raisa bersiap memarahi keponakannya.

"Dari mana saja kamu, Shana?" tegur Raisa dengan suara yang datar tapi penuh ancaman.

"Maaf, Bi." Shana langsung membungkuk meminta maaf.

"Aku pikir harus merasa salah karena sudah meninggalkan kamu sampai larut malam. Ternyata justru kamu yang keluyuran sampai malam."

"Aku enggak keluyuran, Bi," bela Shana.

"Kalau enggak keluyuran apa? Ini memangnya jam berapa? Memang pantas main terus pulang sampai jam segini?" Raisa mengomel. "Yang aku takutkan itu, Bapak mu datang ke sini ketika kamu enggak ada di rumah. Bahkan kamu baru pulang malam begini. Kan kamu tahu, Bapakmu itu datang ke sini enggak bilang-bilang."

Kata-kata Bibi ada benarnya.

"Ayo ngaku, darimana kamu sampai pulang malam?" desak Raisa. "Jangan bilang latihan voli ya. Mana ada latihan voli sampai hampir jam 12 malam begini."

"E ... Aku kerja." Shana terpaksa mengaku.

"Kerja? Kerja apaan malam begini?!" Terlihat dari raut wajah Raisa, dia sedang overthinking. Bahkan pikirannya pada hal yang jelek.

"Jangan berpikiran jelek dong, Bi. Aku kerja bener kok." Shana langsung mencoba menghapus pikiran jelek bibinya.

"Kamu masih sekolah, terus pulang malam-malam katanya kerja? Bisa kamu bayangkan apa yang ada di dalam kepala Bibi ketika kamu mengatakannya?" Raut wajah Raisa khawatir dan resah.

"Aku kerja di cafe."

"Apa?! Jadi apa kamu?!" Tangan Raisa mengguncang lengan Shana. Wajahnya panik. Pikirannya sudah kemana-mana.

"Apa sih, Bi. Aku hanya jadi pelayan biasa kok." Shana kesal dengan prasangka bibinya. Bibirnya cemberut.

"Benarkah?" tanya Raisa tidak percaya. Dia mencoba meneliti keponakannya seksama.

"Iya, kok Bi Raisa. Dia kerja part time buat nambah saku." Mia menimpali. Raisa melihat ke arah teman keponakannya. "Aku juga ikut soalnya." Dia juga harus bisa menyakinkan bibi temannya karena akhirnya dia juga harus menginap.

Raisa melihat ke Shana dan Mia bergantian. Dia memang tidak meragukan kalau keponakannya adalah anak baik, tapi melihat pergaulan sekarang, dia harus waspada juga.

"Baiklah. Bibi mencoba percaya. Mia, kamu harus menginap. Ini sudah malam. Besok pagi-pagi aku antar pulang." Selain peduli pada Shana, dia juga peduli pada teman keponakannya.

"Baik Bi Raisa." Mia tersenyum lega.

"Sebelum tidur makan dulu," pesan Raisa. Meskipun belum pernah punya anak, dia sudah di coba dengan seorang anak. Jadi kadang keibuannya juga muncul. "Bibi beli sate ayam tadi. Juga ada es krim di kulkas."

"Terima kasih Bibi Raisa." Mia dan Shana senang di suruh makan. Karena kejadian tadi, lapar menyerah perut mereka.

***

Pertandingan voli. Di lapangan PKM.

Jika lainnya sudah siap masuk ke dalam area perlombaan dengan santai, berbeda dengan Shana yang masih kebingungan di area parkir.

"Gimana, Mia? Pak Regas muncul?!" teriak Bebi yang juga masih di area parkir menemani Shana.

"Enggak ada!" Mia yang berdiri di dekat pintu masuk area PKM menggerakkan tangannya.

"Duh, gimana sih Pak Regas. Dia bilang pasti bawa kartu pelajarku ketika aku mau lomba, tapi sekarang malah enggak muncul," gerutu Shana.

"Tapi beliau enggak mungkin bohong kan?" Bebi berusaha menenangkan.

Pak Nanang muncul dari area dalam.

"Gimana Shan? Pak Regas sudah datang?" Pak Nanang sudah di beritahu soal kartu pelajar yang di bawa Pak Regas. Beliau yang sudah masuk lebih dulu kembali lagi keluar demi melihat keadaan muridnya.

"Belum Pak." Shana menjawab.

"Dia pasti datang kok." Pak Nanang sepertinya sudah ada komunikasi dengan temannya itu soal ini.

"Tapi sampai sekarang beliau belum muncul Pak," ujar Shana gusar.

"Tenang aja." Pak Nanang terlihat santai.

Shana menipiskan bibir kesal. Dimana yang lainnya sudah masuk ke dalam, dia masih di area parkir menunggu Pak Regas membawa kartu pelajarnya.

"Ayo masuk. Jangan nunggu di sini," ajak Pak Nanang.

"Kalau nunggu di sini aku lebih tenang Pak. Kan semua pasti masuk dari pintu itu," tunjuk Shana pada gerbang masuk PKM.

"Kayaknya enggak deh. Kayaknya Pak Regas lewat pagar sana," canda Pak Nanang mencairkan suasana. Bebi tergelak. Shana makin menipiskan bibirnya. Sebal.

Mia yang melihat Pak Nanang muncul berlari mendekati mereka.

"Shana bisa masuk Pak?" tanya Mia semangat.

"Kalau maunya Bapak ya gitu, tapi panitia tidak memperbolehkan."

"Emangnya Pak Regas kemana sih, Pak? Si Shana bisa-bisa stress duluan sebelum tanding karena kartu pelajar nih." Mia protes.

"Hahaha bisa aja kamu. Jangan stress, nanti minta kompensasi aja sama Pak Regas." Pak Nanang malah memberi ide yang ampuh.

"Emang Pak Regas mau, Pak?" selidik Mia.

"Kan dia bikin kamu stres nunggu. Jadi bisa dong. Coba aja nanti." Ide gila muncul dari Pak Nanang.

"Memangnya Pak Regas bisa di coba-coba? Kan orangnya tidak peduli dan tegas Pak ..." Shana tidak terima.

"Hahaha. Sudah. Itu orangnya datang," tunjuk Pak Nanang yang melihat Regas muncul dari gerbang masuk.

Semua menoleh bersamaan. Helaan napas lega pun terdengar hampir bersamaan juga.

1
Chalimah Kuchiki
fokus tanding shanan... 💪
Kasandra Kasandra
double up
Kasandra Kasandra
double up kak
Ezy Aje
lanjuuut thor
Chalimah Kuchiki
males bgt pak regas ngegalauin pacarnya ya 🤭🤭 ga sabar deh gmn nanti bakal sama shanan
Ezy Aje
lanjuttt bnyk
Andriani
lanjut kk....
Andriani
weleh... kenapa menjadi rumit...
Kasandra Kasandra
lanjut... double up kak
Ezy Aje
lanjut
Herlin
Haaa.... kok Mia lgs bilang Pak Regas ya?🤔
Herlin
Poor Shana....
keep fighting 💪
Andriani
Shana keren deh . love you Shana.
Andriani
thanks kk... udah up...
Andriani
mantaap Shana... aku suka gaya lo. berani dalam kebenaran, kalo kita gak salah kenapa takut...
Kasandra Kasandra
lanjut... double up kak
Ezy Aje
lanjuut
Herlin
Shana diam, Regas yg kebingungan😅
Herlin
Cie..... Shana udh mengakui Pak Regas tampan 😂
Herlin
Kasihan Regas pingin nikah tapi kekasihnya belum mau..... atau malah sebenernya ga mau? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!