Blurb
Kiran Hanna Yasmin, merasakan hidupnya hampir sempurna dan jatuh cinta pada pria terbaik. Nyatanya bukan cinta, dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam cara cepat untuk menuntut hak dari seorang Indra Jaya. Kehidupan Kiran seakan jungkir balik dan berubah ketika ayahnya memutuskan menikahkan Kiran dengan orang kepercayaannya.
Bukan kisah benci jadi cinta, tapi keadaan yang semakin rumit manakala Kiran hamil dan merasa diabaikan. Pecundang datang dengan penyesalan dan berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya, situasi menjadi semakin sulit macam benang kusut.
Kepada siapa cinta Kiran akan berpindah hati?
***
“Ini bukan kisah drama seperti tulisan-tulisanmu, tapi kehidupan nyata yang harus kita jalani. Sama seperti dirimu, aku pun memiliki kisah cinta sendiri.” == Brama Aji Sena.
“Aku tidak butuh rasa kasihan, pergilah dengan rasamu karena cintaku akan berpindah pada hati yang tepat." == Kiran Hana Yasmin
======
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 ~ Banyak Anak
Brama heran melihat satu buah koper tidak jauh dari pintu. Ia pulang untuk menjemput Kiran dan mendatangi kediaman mertuanya.
“Bi, ini koper siapa?”
“Punya mbak Kiran, katanya baju Pak Brama.”
“Kirannya mana?” tanya Brama lagi.
“Mungkin masih di kamar.”
Brama berjalan menuju kamarnya, tapi tidak ada Kiran di sana. Ia berdecak mengingat kamar mereka sempat terpisah. Ternyata benar, Kiran berada di kamarnya. Masih asyik dengan laptop dipangkuan dan headset di kepala.
“Eh, Mas Bram,” seru Kiran saat pria itu duduk di sampingnya lalu melepas headset.
“Belum siap?”
“Sudah kok.” Kiran merapikan laptopnya dan menyimpan ke dalam ransel untuk dibawa, begitu pula dengan gadget lainnya. “Ayo,” ajak Kiran sudah berdiri.
“Aku lihat koper di depan, isinya apa?”
“Oh, itu pakaian Mas Bram. Di rumah Ayah masih banyak barang-barangku, tapi perlengkapan Mas Bram belum ada. Jadi mau aku tinggal di sana, lain kali kalau menginap nggak usah bawa ganti. Ayo, Erlan udah tunggu aku.”
Kiran menarik tangan suaminya membuat pria itu berdecak dan segera berdiri. Sejak tadi dia ingin segera pulang karena rindu dengan istri bocahnya, tapi yang dirindukan malah merindukan pria lain meskipun adiknya sendiri.
“Tiba-tiba aku malas dan lelah, sepertinya kita berangkat nanti saja.” Brama kembali duduk di sofa.
“Mas.”
“Aku butuh multivitamin.”
“Vitaminnya disimpan di mana?” tanya Kiran.
“Di sini.” Brama menarik tangan Kiran dan meraih pinggangnya lalu memposisikan tepat di pangkuannya.
“Eh.”
“Diam.”
“Tapi aku sudah hmmpp ….”
Brama membungkam mulut Kiran dengan cium4n lembut dan perlahan berubah menjadi pagutan panas. Kiran sempat mengeluh karena pintu kamar belum dikunci, tapi itu hanya alasan. Tidak ada yang berani masuk sembarangan.
Setiap melihat atau mengingat istrinya, gairah Brama selalu datang. Apalagi mendengar lenguuhan di atas ranjang membuatnya semakin menggila. Kiran boleh saja menyangsikan cinta Brama, tapi tidak bagi pria itu.
Sejak menjejakan kakinya di kediaman Dhananjaya, saat Ayahnya masih menjadi asisten Yudis. Brama sudah tertarik gadis bernama Kiran yang saat itu masih berseragam putih abu sedangkan dirinya sebagai staf di perusahaan akhirnya dipindah tugas menggantikan sang Ayah yang mulai sakit-sakitan.
“Om Bram.” Kiran kerap menyapa dengan wajah ceria, bahkan tidak sungkan meminta traktir makanan yang dilarang oleh Ayahnya. Benar-benar bocah, tapi itu yang membuat Brama menyukai Kiran yang menggemaskan. Sadar diri karena tidak selevel dengan gadis itu membuat Brama mengalihkan perasaannya pada perempuan bernama Vira, karyawan butik Narita.
Meskipun dia dan Vira bisa dikatakan satu level strata sosial, nyatanya Brama harus pasrah karena penolakan Vira. Bahkan berkai-kali.
“Mas Bram kenapa sih nggak bisa tunggu nanti malam, aku ‘kan sudah mandi. Malah harus mandi lagi,” keluh Kiran berusaha meraih pakaiannya yang tadi dilempar Brama saat berhasil dilucuti.
“Aku mandikan, kamu tinggal diam. Kayak tadi, diam tapi mulut mendessah terus.”
"Mau gimana lagi, masa harus nyanyi."
***
Dalam perjalanan ke rumahnya, Kiran terus mengoceh. Mengeluhkan ulah Brama yang diangap angin lalu oleh pria itu. Bahkan Brama hanya fokus pada kemudi, meskipun hatinya senang luar biasa. Keluhan dan untaian kalimat kekesalan Kiran terdengar seperti lagu cinta di telinga Brama.
“Mas Bram dengarkan aku nggak sih?”
“Dengar kok. Suamimu ini multitasking. Telinga aku dengar semua yang kamu katakan meskipun pandangan dan fokus ke depan.”
“Masih nggak percaya? Kamu sendiri sering merasakan. Senjataku bekerja, tangan dan mulut juga bekerja di bagian … Kiran, cubitanmu berbahaya,” seru Brama sambil menjauhkan tangan istrinya. Cubitan yang dirasakan di paha kirinya cukup mengejutkan.
“Otak mas Bram mesum terus.”
“Nggak masalah, toh mesum ke istri sendiri bukan istri orang lain.”
“Emang berani mesum ke perempuan lain?” tanya Kiran sudah bersedekap dan tubuhnya agak menyerong ke arah sang suami yang masih fokus mengemudi.
Brama tersenyum, sepertinya menarik membuat Kiran marah dan cemburu. Meskipun cukup beresiko karena cubitan wanita itu mirip-mirip dengan capitan kepiting.
“Bukan masalah berani atau tidak. Masalahnya mau atau tidak,” sahut Brama dan cukup memprovokasi.
“Mas Bram mau dan berani mesum ke perempuan lain?” tanya Kiran dengan suara lirih.
Pernyataan Brama cukup membuat Kiran sesak. Indra sudah menipunya mentah-mentah dan sekarang saat dia sudah membuka hati dan menutup luka lama, dihadapkan dengan kenyataan yang tidak ramah untuk hati dan perasaannya.
“Ya … nggak juga.”
“Terus maksudnya apa?” tanya Kiran lagi bahkan suaranya bergetar. Air mata sudah lolos dari ujung mata.
Brama yang menyadari kalau Kiran ternyata menanggapi guyonannya dengan serius pun menoleh. hatinya mengumpat mendapati air mata sudah membasahi pipi wanitanya.Bergegas ia menepi dan berhenti, lalu melepas seatbelt.
“Sayang, kamu kok nangis?”
“Ada perempuan lain di hati Mas Bram?”
Terdengar isak tangis Kiran. Brama menangkup wajah itu setelah mengusap air mata. Tangan Kiran sempat menepis tangan Brama, tidak berhasil.
“Maaf, aku tidak serius. Aku tidak berani Kiran dan tidak mau. Hubungan kita bukan main-main dan aku sudah tegaskan ini dari awal.”
“Tadi, Mas ….”
“Ssttt, maaf. Aku tidak mau berpaling dan tidak berani, kamu bisa pegang kata-kataku.”
Kiran menatap lekat wajah suaminya. Dia bingung menerjemahkan tatapan itu.
“Tidak percaya?”
Kiran bergeming.
“Aku akan buktikan kata-kataku.”
“Dengan cara?”
“Aku hamili kamu berkali-kali, sampai kita punya banyak anak.”
“Hah.”
dari awal bab, dah trasa beda aja👍