Setiap tindakan kekerasan yang dilakukan, baik disengaja atau tidak, akan berakibat pada gangguan atau kerusakan psikis dan atau fisik seseorang.
Karya ini mengisahkan tentang seorang wanita yang dikaruniai wajah cantik, bertubuh indah dan molek. Namun berada pada tempat dan lingkungan yang salah, hingga mengalami pelecehan dan tindak kekerasan demi kekerasan. Semua itu meninggalkan jejak yang melukai dari waktu ke waktu.
'JEJAK LUKA' ini dikisahkan, agar kita bisa berhati-hati dan waspada pada orang yang ada di sekitar kita. Baik saudara atau yang kau anggap teman baik.
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan selalu bahagia. ❤️ U.
🙏🏻Selamat membaca 💟
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Jejak Luka 26.
...~•Happy Reading•~...
Beberapa waktu kemudian, Enni benar-benar mengambil gaji dengan menyerahkan semua kartu bergambar mawar yang diberikan para pelanggan padanya. Setelah itu, dia memberikan kepada Prita seperti yang dijanjikannya.
Enni juga diizinkan untuk bertemu Prita setiap minggu oleh Mami Sinna, sebab alasan yang diberikan oleh Enni bisa diterima. Bahwa Prita akan mengajarinya berbagai posisi dan cara melayani pelanggan yang datang ke tempat itu. Mami Sinna percaya ucapan Enni, sebab Prita orang lama dan tidak membuat masalah di tempat itu.
"Mba, ini terakhir dari semua kartu yang aku simpan itu. Mami Sin sudah kasih semuanya." Enni berkata sambil menyerahkan gaji terakhir yang diambilnya kepada Prita. Sebab dia mengambil gajinya dengan memberikan kartu secara cicil, tidak sekaligus banyak seperti pertama kali.
"Baik. Ini buku tabunganmu yang sudah aku buat. Belum semua uangmu aku tabung, sebab aku bawa uangmu bertahap. Terlalu banyak, kalau sekaligus." Prita memperlihatkan buku tabungan salah satu bank swasta atas namanya kepada Enni, sambil menunjuk jumlahnya.
"Makasih, Mba." Ucap Enni sambil melihat isi tabungannya sepintas, lalu kembalikan buku tabungan tersebut kepada Prita lagi.
"Mulai berikutnya, kartu yang kau terima jangan ditumpuk. Kau bisa ukur, berapa banyak kartu yang bisa langsung dibayar oleh Mama Sin." Prita jadi tahu banyaknya kartu yang dimiliki Enni, dari jumlah uang yang diberikan padanya.
'Uang tipsnya banyak, sebab banyak pelanggan juga yang dia layani.' Prita berkata dalam hati saat melihat tumpukan uang yang dikeluarkan dari amplop coklat.
"Mulai sekarang, kalau sudah ada beberapa lembar di tanganmu, segera berikan pada Mami Sin. Supaya sama-sama ngga repot atau terjadi sesuatu, hingga kau ngga bisa tukar kartumu." Prita memberikan nasehat, supaya Enni bisa terima haknya tanpa kendala atau penundaan seperti sebelumnya.
"Iyaa, Mba, makasih. Aku makin mengerti saat menukar kartu-kartu itu. Untung aku masih bisa tukar dan ngga dibilang sudah expired." Enni jadi tersenyum dengar ucapannya. Prita juga ikut tersenyum sambil menepuk dahinya.
Selesai membicarakan uang, Prita memberikan tips dan cara melayani yang dia ketahui dari pengalaman bertahun-tahun. Agar Enni tidak mengalami kesulitan dalam menghadapi berbagai karakter pria yang datang ke tempat itu.
"Iya, Mba. Banyak macam, cara, rupa dan maunya. Kadang bikin aku terkaget-kaget." Enni menceritakan pengalamannya melayani para pria dengan gaya yang diminta.
"Jangan semua dituruti dan harus pintar mengulur waktu, supaya kau ngga kecapean. Kita bukan robot se^x yang bisa non stop." Prita mengingatkan Enni lagi, agar lebih hati-hati dan bijak hadapi pria yang dilayani.
"Iya, Mba, makasih. Aku ngga bisa lama di sini, sebab nanti malam ada tamu. Mami Sin tadi pesan, aku jangan lama-lama." Enni memberitahukan apa yang dikatakan Mami Sinna padanya.
"Yaa, uda. Kau istirahat dulu. Hati-hati dengan pelanggan yang suka melalui jalur khusus. Kadang pria yang begitu, untung-untungan." Prita mengingatkan dari pengalamannya dan yang dia dengar dari penghuni lain.
Enni mengangguk kuat, sebab sebelumnya dia pernah mengalami tindak kekerasan dari pria yang pakai jalur khusus. Tapi dia tidak mau bicarakan itu dengan Prita, agar tidak panjang pembicaraan dan dimarahi oleh Mami Sinna.
Setelah pamit, Enni segera kembali ke kamar untuk mempersiapkan semua yang akan dikenakan pada malam hari, lalu beristirahat.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Menjelang malam tiba, Enni sudah berdandan cantik dan wangi untuk menunggu tamu khusus yang dikatakan Mami Sinna untuk dilayani. Walaupun dia sudah terbiasa melayani, tapi saat menunggu tamu di kamar selalu membuat hatinya tidak tenang.
Saat pintu kamarnya terbuka, Enni berdiri dari kursi untuk menyambut pria yang diantar oleh Mami Sinna. Dia berusaha tersenyum manis, agar tidak dipelototin Mami Sinna.
"Silahkan duduk, Pak." Enni mempersilahkan pria yang datang bersama Mami Sinna duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan dalam kamar itu, atas permintaannya.
Enni minta kursi tambahan untuk kamarnya, agar tidak mempersilahkan tamu duduk di tempat tidur. Jadi sekarang sudah ada kursi tambahan, selain kursi meja rias.
Enni sedikit lega, sebab pria yang akan dilayaninya sudah berusia lebih dari setengah baya. Lebih tua dari pria pertama yang pernah dia layani sebelumnya.
"Kau ngga punya pakaian lain, selain itu?" Tanya bapak yang sudah duduk di kursi, setelah mereka ditinggal berdua oleh Mami Sinna.
Enni sontak melihat ke arah bapak itu dan juga ke pakaiannya sambil berpikir tentang maksud pertanyaannya. Dia merasa pakaiannya tidak bermasalah dan cocok dengan postur tubuhnya yang langsing dan padat berisi.
"Maaf, Pak. Ada masalah dengan pakaian yang saya pakai ini?" Enni bertanya pelan dan sopan, sambil menerka maksud bapak tersebut.
"Ngga masalah. Tapi saya mau kau berpakaian minim dan terbuka, sebagaimana profesimu." Bapak itu berkata sambil menggerakan tangannya ke arah tubuh Enni. Lama matanya tidak bergeser dari dada Enni.
Kemudian ia melihat Enni dari kepala sampai ke kaki. Hal itu dilakukan berulang kali. Enni jadi mengerti, bapak itu mau melihat tubuhnya tanpa halangan.
"Ooh... Saya kenakan pakaian terbuka atau tertutup, akan dilepaskan juga kan, Pak." Enni berkata sambil mengambil kursi meja rias lalu duduk agak jauh dari bapak itu.
Dia tidak duduk di tepi tempat tidur, agar bisa mengulur waktu. Dan juga supaya tidak langsung diterjang, seperti yang dikatakan Prita.
Ucapan Enni membuat bapak itu terhenyak, lalu melihat Enni dengan serius. Enni langsung mengangkat tangannya, karena mengira bapak tersebut mau protes.
"Saya akan pakai pakaian yang bapak maksudkan, kalau tidak perlu dilepaskan." Enni berkata dengan berani. Dia mulai belajar tidak diatur oleh pelanggan.
Prita sudah mengajarinya berbagai cara melayani pria dari berbagai usia. Baik cara membalas ucapan atau menghindari permintaan yang agak menyimpang.
Melihat usia bapak tersebut, Enni berpikir, mungkin ia sudah tidak kuat berselancar di atas ranjang, jadi hanya mau memuaskan matanya saja dengan melihat tubuh wanita seksi. Pemikiran itu membuat Enni sedikit lega.
"Kalau tidak perlu dilepaskan, untuk apa saya ke sini dan harus keluarkan duit banyak? Ayoo, ke sini." Bapak itu berkata dengan kesal, lalu memanggil Enni sambil menepuk pahanya.
Hal itu membuat Enni terkejut. 'Ternyata, bapak ini masih bernafsu juga.' Enni berkata dalam hati, lalu berjalan mendekat, lalu duduk di pangkuannya. Enni merasa seperti balita bongsor yang dipangku bapaknya.
Dia sengaja duduk membelakangi bapak tersebut, sambil memikirkan cara untuk melayani pria yang sudah terbilang tua itu, agar tidak bermasalah.
Tanpa menunggu lama, bapak itu langsung memegang kedua buah dada Enni tanpa membuka bajunya. Lalu tangannya mulai menggerayangi tubuh Enni tanpa berikan kesempatan untuknya bergerak atau menepis.
Ia tidak memperdulikan tubuh Enni yang tiba-tiba kaku. "Kau kira saya sudah tua dan tidak kuat lagi?" Bapak tersebut membalikan tubuh Enni ke arahnya.
"Bukan menganggap ngga kuat, Pak. Tapi ngga usah buru-buru." Enni tidak meneruskan ucapannya, agar bapak tersebut tidak kesal. Dia justru khawatir dengan jantung bapak tersebut, jika terlalu bernafsu.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
derita anak pertama kalau orang tua tinggal 1 dan tidak perhatian lagi jadi banyak pikiran.
tinggalkan saja kekasihmu nes sekarang sudah selingkuh kedepan pasti selingkuh lagi.
selingkuh seperti penyakit tak ada obat
nyesek banget ada korban rudapaksa..