Tia adalah seorang gadis biasa yang ingin mengubah nasib keluarganya menjadi lebih baik, bahkan bercita-cita ingin menjadi penulis hebat dan berharap mendapat suami yang bisa mengangkat derajatnya, akan tetapi apalah daya, sejak tia bertemu dengan duda yang sudah merusak hidupnya dan menghancurkan segala impian juga harapannya, tia pun ahirnya pasrah dengan keadaan dan menerima nasibnya yang harus menjalani hidup dengan duda itu walou hidup sederhana. tapi apakah tia akan menyerah begitu saja dengan ke inginannya setelah menikah dengan si duda itu.
baca cerita selanjutnya ya.! di angkat dari kisah nyata, entah percaya atau tidak. tapi begitulah kenyataannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pejuang keluarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersesat karna otak buntu dan depresi
Pada ahirnya aku menerima semua apa yang telah terjadi, aku menjalani semua kehidupan ini dengan rasa hampa dan berjalan mengikuti seiringnya waktu. Apapun yang akan terjadi di masa depan nanti aku sudah tak peduli, bahkan aku sudah sangat pasrah, entah itu baik atau buruk, entah itu benar atau salah aku sudah tak peduli, hidup ku benar-benar sudah sangat kacau, hingga aku tak menghiraukan lagi perhatian keluarga ku, aku sudah masa bodo dengan semua orang, otaku sudah gila, aku sudah deperesi dengan apa yang sudah menimpa ku, hingga aku berani melawan semua hal yang di larang agama, termasuk perzinahan aku lakukan tanpa berpikir panjang.
Otak ku sudah benar-benar kalut dan buntu. Tapi aku tak berani melakukannya dengan lelaki lain aku hanya melakukannya dengan Kak Heri saja karna memang dia yang pertamakali berani menjamah tubuh ku, dan dia juga nanti yang akan menjadi suami ku, yaaa mentang-mentang kita sudah tunangan, jadi rasa hawatir ku sedikit berkurang, tapi rasa takut tetap menyelimuti, jujur aku takut hamil, karna setiap kali Kak Heri bertemu dengan ku pasti selalu melakukan hal itu dengan ku, entah di manapun tempatnya, benar-benar sangat gila. Aku juga takut kalo dia gak bertanggung jawab, hanya itu yang aku takutkan saat itu.
Setiap kali pulang kerja Kak Heri pasti langsung ke rumah ku tanpa pulang ke rumah Emaknya.
1 bulan sudah Kak Heri bekerja seperti biasanya, lalu dia menelponku memberi tau ku kalo dia akan pulang dari tempat kerjanya dan langsung ke rumahku.
Trililing...trililili...ling...
Henpon ku berdering seperti biasa dari Kak Heri, yang selalu menelpon ku setiap malam sebelum tidur.
" Halo Yank, lagi apa? Udah tidur belum?" tanya Kak Heri dari sebrang sana.
"Emm, iya aku udah ngantuk, mau tidur," jawab ku malas.
"Jangan tidur dulu, sebentar aja temenin, aku kangen terus sama kamu yank," jawabnya sedikit memaksa.
"Ya udah iya, iya," jawab ku dengan sedikit jengkel.
"Mau ngomong apa sih, penting, kalo gak penting besok lagi deh, aku bener- bener udah ngantuk ni," jawab ku lagi, menolaknya halus dengan alasan.
"Em, ya udah kalo udah ngantuk, bobo aja, besok juga aku mau pulang kok," jawab Kak Heri datar.
"Ya udah si, kalo mau pulang ya pulang aja, sampai besok aja ya daah," jawab ku santai tanpa menghiraukannya.
"Dah Sayank, met bobo ya, emmuach," jawab nya dari sebrang sana semabri memberi ciuman jauh.
"Blwee," hanya itu saja yang keluar dari mulut ku tanpa basa basi lagi.
Telpon pun aku tutup, tuut...tuut...ttut.
"Yunk yank yunk yank, pale lo kenyang kali," rutuk ku, yang merasa ingin mengeluarkan isi perut ku kalo dia memanggil ku begitu.
Aku pun langsung merebahkan kembali tubuh ku dengan menutupkan selimut setengah badan, dan langsung tertidur lelap.
*
*
*
Ke esokan harinya Kak Heri pun menelpon lagi, saat dia sudah di perjalanan pulangnya, sore hari dia sudah sampai di jalan Ci Awi yang sebentar lagi akan sampai ke terminal Tasik, mungkin sekitar 4 jam lagi sampai ke rumah ku.
trililing telili...liling...henpon ku berbunyi lagi, lalu aku pun menjawabnya.
"Halo," jawab ku biasa saja.
"Halo Neng, aku lagi di jalan ni, sebentar lagi juga sampai," ucapnya dari sebrang sana memberi tau posisinya sekarang.
"Iya sukur kalo gitu, semoga selamat sampe rumah ya," jawab ku datar
"Iya aamiin, kamu kenapa Yank? Kok kaya gak semangat gitu aku pulang," tanya Kak Heri menduga-duga.
"Gak apapa, biasa aja, kenapa?" jawab ku malas.
"Oh, kirain lagi sakit, kalo sakit di obat, istirahat, makan yang banyak," ucapnya so perhatian.
"Hemh, so perhatian," rutuk ku lirih.
"Ya udah kalo gitu aku mau ke rumah Nenek, mau bantu-bantu dulu di rumah Nenek," jawab ku yang males mendengarkan ocehannya dia terus.
"Ya, oke, kalo gitu, aku juga mau tidur dulu sebentar ngantuk banget ni, semalem gak bisa tidur, inget terus sama kamu," jawab Kak Heri so gombal.
*
*
Beberapa jam kemudian, si Duda kucay itu sampai juga kerumah, karna aku memang sedang rebahan dikamar ku, sambil membaca buku novel yang aku pinjam dari keponakan ku, anaknya Bibi bernama Puji, karna aku memang suka membaca, buku apa saja aku baca, bahkan sampai koranpun aku membacanya, jahaha...cius nie, mieapa coba ampe koran-koran di baca bahaha...judulnya tuh menarik banget loh, judulnya tu ANAK KEMBAR BEDA AYAH. Ah sungguh aneh, kembar tapi ayahnya beda, pedahal berojolnya bareng, sungguh di luar daguan, eh di luar dugaan maksudnya. Hiehie...maaf. Autornya lagi eror kayanya nie.
Saat sedang asyik membaca tiba-tiba Kak Heri mengetuk jendela kamar ku, kemudian dia melihat ku yang tak bergeming sedikit pun dengan posisi membelakangi jendela. Walaou aku sadar akan kehadiran Kak Heri, kemudian Kak Heri memanggil-manggil ku, supaya aku berbalik ke arahnya.
"Neng, Neng Tia...!" Teriak nya dengan nada tinggi hingga naik 2 oktaf.
"Eh ada tamu to, masuk ajah pintunya gak di kunci kok," jawab ku sembari berdiri dan berjalan menghampiri Kak Heri yang sudah di depan puntu, lalu aku membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk dan duduk.
Sedangkan Mamah sedang gak ada dirumah dia ke jakarta nemuin Bapak, karna sekolah sedang libur jadi Mamah ke sana sama si Bilal dan Kahfi, sedangkan Rara adik ku yang cewe dia gak ikut karna gak mau. Jadi dia sama aku, Nenek dan Bibi.
"Kak, kita dirumah Nenek yu, gak enak kalo di sini gak ada orang," ajak ku karna risih di rumah hanya berdua.
"Ya udah ayo, emangnya Mamah kemana?" tanya Kak Heri yang tidak tau karna aku lupa memberi taunya.
" Mamah lagi ke jakarta, kemarin udah 2 hari," jawab ku singkat, sambil berdiri hendak beranjak ke rumah Nenek, begitu pula dengan Kak Heri yang mengekori ku dari belakang.
Tak terasa malam pun sudah tiba, aku tidur di rumah Nenek dan si Duda kucay tidur di rumah dengan adik ku Rara di ruang tengah, tapi jam 3 dini hari aku terbangun dan pindah ke rumah menghampiri si Duda kucay itu karna pintu tak di kunci jadi aku langsung masuk ke rumah dan tidur di sebelahnya si Duda kucay, aku pikir dia gak akan terbangun eh ternyata malah terperanjat kaget saat melihat ku ada di sampingnya, lalu dia segera melancarkan aksinya.
Dengan sigap Kak Heri langsung memeluku dengan erat dan segera membukakan kail celananya, membuat benda pusakanya menonjol hingga membuat ku merasa geli,aku merasakan sesuatu yang mengeras di bokong ku, tanpa banyak alasan Kak Heri langsung menancapkan pusakanya ke marwah ku dan berbisik di telingaku.
"kangen banget Sayang," ucap Kak Heri lirih dan tak lama mengeluarkan cairannya dengan sangat cepat pedahal baru masuk.
Pikiran ku yang kacau tak karuan karna tegang dan takut, membuat ku tak bisa berkutik dan tak bisa berpikir jernih. Aku pun langsung beranjak menjauh dari Kak Heri dan segera membersihkan marwahku, lalu aku berbaring kembali di kursi tanpa sepatah kata apapun lagi, aku menoleh ke arah si Duda kucay itu ternyata dia udah tidur kembali tanpa merasa dosa ataupun bersalah, "apa semua lelaki seperti itu ya?" pikir ku
Aku yang tak bisa tidur kembali karna perasaan ku yang sangat was-was dan ketakutan, hingga menjelang subuh Nenek menghampiri ku ke rumah, mungkin Nenek merasa hawatir karna melihat ku yang langsung kerumah tadi jam 3 pagi. Nenek langsung mengintrogasi ku dengan pertanyaan dan cecaran yang sangat ketakutan kalo aku melakukan hal yang tidak baik pedahal memang melakukannya tapi aku berbohong, ya mau gimana lagi hemh.
"Neng lagi apa? Udah bangun belum, tumben masih malem udah bangun terus langsung pindah ke rumah biasanya juga susah kalo bangun subuh," cerocos Nenek bertanya tanpa jeda sambil langsung menerobos masuk ke rumah tanpa ba bi bu, dengan nada suara naik 2 oktaf dan marah.
"Ya gak kenapa-napa, emang kenapa? Lagian kita gak ngapa-ngapain ini kok, aku kira tadinya udah subuh eh ternyata baru jam 3 mau balik lagi tanggung jadi aku tidur lagi di sini, di kursi," jawab ku santai pedahal hati merasa cemas gak enak dan takut Nenek curiga.
"Untung sajah aku tadi langsung pindah ke kursi," gumam ku dalam hati.
Nenek pun langsung balik lagi ke rumahnya tanpa mengatakan apapun lagi, mungkin dia jengkel dan kesel liat kelakuan ku yang gak bisa di atur, hmh.
"Kira-kira...Nenek curiga gak yah? Hemmh, biarin aja lah masa bodo," pikir ku cemas. Tapiii bisa juga sih kalo Nenek curiga, ah masa bodo lah, biarin aja dari pada ribet bikin pusing, ya gak sih.
Yah seperti biasa si Duda kucay memang selalu berkelit dan jago ekting kaya di sinetron, dia pura-pura tidur pules pedahal udah kebangun lagi nguping pembicaraan Aku dan Nenek.