Diusia ke 18 tahun Abigail telah menjadi seorang pemain cinta yang handal. Saat dirinya akan melakukan pekerjaannya sebagai wanita malam, Abigail dipertemukan dengan salah seorang pria yang lebih layak menjadi ayahnya, namun sang pria merasa tatapan gadis yang ada dihadapannya seperti orang yang dia cintai. Si pria mengurungkan niatnya, karena merasa gadis muda yang berada dihadapannya seperti putrinya. Pria itupun langsung memberikan uang dan menolak untuk berhubungan dengannya. Abigail merasa tersentuh karena si pria yang bernama Javes Frederick itu sangat baik dan memperlakukannya seperti anak perempuannnya.
Disisi lain, Abigail dipertemukan dengan pria yang pernah menggunakan jasanya sebagai wanita malam yaitu seorang pengusaha tampan bernama Oricon yang jatuh cinta padanya. Namun, hubungan mereka mendapatkan rintangan besar karena Oricon telah bertunangan dengan sahabat masa kecilnya Emily. Akankah Abigail dapat bertemu dengan orang tua kandungnya dan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina0505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes DNA
Setelah persidangan selesai, semuanya merasa lega. Javes menghampiri Abigail,
"Akhirnya semua bisa diatasi. Selamat ya Abigail akhirnya kau bisa terlepas dari jerat hukum,"
"Iya tuan, ini semua berkat tuan Brady juga. Kalau tuan Brady tidak ada disini mungkin aku tidak tahu harus bagaimana lagi," jelas Abigail.
Dirinya merasa sangat bersyukur karena kunci utama dari kasus ini, yaitu tuan Brady masih tetap hidup. Jika tidak entah apa yang akan terjadi dalam hidup Abigail hari ini.
"Baiklah tuan Brady berhubung permasalahan telah selesai kami pamit dulu," ujar Jave pada pria paruh baya itu.
"Baiklah tuan Javes terimakasih atas waktunya," Brady mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Tuan Javes dan tuan Brady sekali lagi terimakasih telah membantu kami," Oricon yang berada disana tak lupa mengucapkan terimakasih pada Javes dan Brady karena telah membantu Abigail.
Setelah itu mereka berpisah.
***
Javes yang baru saja menuju ke parkiran, melihat ke arah Mia. Dia sengaja menunggu gadis itu untuk membicarakan sesuatu hal.
"Mia, aku ingin bicara denganmu sebentar," tukas Javes padanya.
Mia yang sedang jalan berbarengan dengan Harry segera menuju ke arah Javes karena atasannya yang memanggilnya.
"Ya pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Aku hanya ingin mengingatkan padamu mengenai Abigail, kamu masih ingatkan beberapa hari yang lalu aku pernah bilang Abigail adalah putriku," jelas lelaki paruh baya itu padanya.
"Ya aku ingat tuan,"
"Aku mau kau mencari tahu tentang gelang bermata zamrud yang dipakainya dan kalau bisa kau bantu aku mengambil sampel rambutnya supaya aku bisa melakukan tes DNA untuk memastikan dia benar putriku;" pinta lelaki itu padanya.
"Baik tuan, aku akan mencari tahu secepatnya," pungkas Mia.
Sebenarnya jika harus jujur ini cukup sulit bagi Mia, tapi dia harus mencari tahu kebenarannya. Dirinya juga penasaran apa benar Abigail adalah anak pengusaha kaya seperti Javes Frederick.
"Mia, sepertinya dari tadi kau terlihat serius sekali berbicara dengan tuan Javes. Apa yang kalian bicarakan?" selidik Harry sambil mengemudikan mobilnya.
Mia masih berpikir untuk berkata jujur atau tidak pada Harry.
"Mia kau mendengarkanku?" Harry merasa penasaran.
"Iya pak, sudah beberapa hari ini tuan Javes memintaku untuk membantunya menemukan putri kandungnya tapi aku bingung bagaimana mendapatkan sesuatu untuk tes DNA," jelas gadis itu padanya.
"Memangnya siapa putrinya yang kau maksudkan?" Harry merasa penasaran.
"Dia yakin sekali jika Abigail adalah anaknya,"
Harry membelalakkan matanya, terkejut dengan ucapan Mia, tapi ini menarik baginya pribadi. Apa ini suatu kebetulan atau mungkin takdir baik untuk Abigail?
"Ini sangat unik Mia, sepertinya banyak poin penting yang terlupakan oleh kita Mia," lelaki itu semakin penasaran dengan apa yang diceritakan Mia tadi padanya.
***
Sementara itu Oricon dan Mia telah sampai di apartemen. Oricon ingin membicarakan tentang permasalahannya pada Abigail.
"Sayang, ke sini sebentar aku mau bicara denganmu," pinta Oricon pada Abigail yang baru saja merapikan dirinya.
"Iya ada apa?" Abigail kini telah berada di dekat Oricon.
"Abigail jika aku bicara jujur padamu, apa kau tidak akan marah padaku?" Oricon menghadapkan tubuhnya pada Abigail.
Dia telah mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari, karena butuh keberanian untuk dia bisa bicara jujur pada wanita yang sangat dicintainya itu. Dia takut setelah dia berkata jujur Abigail akan membencinya.
"Sebenarnya tuan mau membicarakan apa? Aku tidak mengerti," Abigail mengernyitkan dahinya, merasa bingung.
"Begini Abigail, sebenarnya sebelum kita bertemu aku telah memiliki hubungan dengan Emily dan orang tuaku telah membuat kesepakatan untuk menikahkanku dengan Emily," lelaki itu menatap dalam manik kecoklatan milik Abigail.
"Iya aku tahu itu tuan, aku juga siap jika nantinya tuan harus meninggalkan aku," ucap Abigail padanya.
Oricon menghembuskan nafas berat. Ini sungguh dilema bagi dirinya, karena saat ini dia hanya menginginkan Abjgail bukan wanita lain.
"Tidak sayang, bukan itu maksudku. Aku membicarakan ini padamu karena aku ingin membuat kesepekatan," Oricon memberikan penawaran padanya.
Oricon mengambil sebuah kotak kecil dari saku celananya kemudian membukakan kotak itu untuk Abigail.
"Tuan apa ini?" Abigail terkejut saat Oricon menunjukkan sebuah cincin berlian yang sangat indah padanya.
"Aku meminta padamu, menikahlah denganku. Aku janji aku akan menjaga d melindungimu," pinta lelaki itu padanya penuh harap.
"Tapi tuan, bagaimana dengan nona Emily nanti?" sela Abigail padanya.
Bukan karena dia tidak ingin menerima penawaran yang diberikan Oricon. Sungguh ini suatu impian terbesarnya untuk bisa menikah, apalagi saar inb bersama seorang pria kaya raya seperti Oricon.
"Kamu tidak perlu khawatir aku hanya ingin memintamu untuk menikah denganku. Supaya semua yang telah kita jalani ini tidak sia-sia," Oricon mencoba membuat Abigail.senyaman mungkin dengan pembicaraan mereka
"Aku tidak tahu harus bagaimana, apa aku harus berbahagia atau tidak. Disatu sisi aku merasa bahagia karena kau mengajakku menikah namun disisi lain pasti akan ada keributan jika keluarga anda nantinya,"
"Asal kau percayakan semuanya padaku aku pastikan semuanya akan baik-baik saja," Oricon menggenggam tangan Abigail dan mencium punggung tangan wanita itu.
Sungguh ini semua membuatnya terharu sekaligus takut jika semua yang dilakukannya akan membuatnya terjebak dalam masalah.
"Aku mau tuan, tapi tuan aku takut jika tuan akan mendapatkan masalah," raut wajah gadis itu kinì menyendu.
"Tenanglah aku akan mengatasi semuanya," Oricon memeluk tubuh ramping gadis itu.
***
Dimansion, Emily dan keluarganya tengah membuat keributan pada keluarga Oricon.
"Beraninya anakmu menghina anakku dengan menghilang dari acara pertemuan keluarga. Apa ini caranya untuk membatalkan pernikahannya dengan putriku?" Edison terlihat murka dan merasa dipermalukan.
Sementara itu Emily menangis karena acara yang ditunggunya itu menjadi berantakan. Semua diluar dugaan dan hancur berantakan.
"Maafkan kami tuan Edison. Ini semua hanya kesalahpahaman. Aku akan bicarakan kembali semua ini dengan putraku Oricon dan percayalah anak itu pasti akan setuju," pungkas Emilio yang merasa tidak enak hati pada Edison.
Emilio cukup takut, jika Edison akan memutuskan hubungan kerja sama dengannya dan pasti itu akan sangat mempengaruhi perusahaannya nanti. Dia tidak ingin perusahaannya hancur dan bangkrut.
"Apa anda bisa memastikan putra anda akan menikahi putri saya?" tegas pria paruh baya itu lagi.
Dia sengaja menekan Edison untuk memastikan putrinya akan mendapatkan keinginannya.
"Ya aku akan pastikan anak itu akan menikahi putri anda tuan, percayalah aku bisa membuat anak itu pasti akan kembali lagi dan pernikahan itu pasti terjadi,"
Emilio begitu yakin, dengan sedikit tekanan yang nantinya dia berikan pada putranya itu, pasti Oricon akan menurut padanya dan semua akan sesuai seperti yang diinginkannya.