Seorang gadis desa yang di jerumuskan oleh ayah tirinya sampai harus bekerja di rumah bordill. Camelia, 16 tahun benar-benar merasa muak bekerja di rumah bordill itu, dia merasa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pada gadis muda yang bekerja di sana karena paksaan seperti dirinya. Camelia ingin merubah aturan kehidupan di desa Muara itu. Dia tidak ingin lagi melihat ada wanita yang nasibnya sama dengannya. Dia ingin menutup semua rumah bordill di desa itu, bahkan di desa-desa yang lain. Meski tidak mudah, tapi Camelia tidak akan pernah menyerah sampai nafas terakhirnya untuk mengangkat derajat kaum wanita di desanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Camelia pun menjadi nyonya Jeky, beberapa orang sudah tidak heran. Gunjingan juga banyak mereka bicarakan. Karena sudah banyak yang tahu sejak istri pertama dari Jeky sakit, Jeky memang sudah kerap kali mengunjungi lentera malam dan membayar mahal untuk Camelia.
Saat Camelia menuju ke dapur untuk memilih menu makan malam hari ini. Dia mendengar saudara ipar Jeky yang masih tinggal di rumah itu membicarakannya.
"Dasar lacurr gak tahu diri, dia pasti puas sekarang setelah Mima meninggal. Dia malah bisa jadi Nyonya Jeky. Padahal penyakit Mima makin parah karena tahu suaminya tiap malam datang ke tempat seperti itu. Gak tahu malu, sekarang apa-apa kita harus minta tolong sama dia, gak sudi sekali aku" kata adik Mima pada salah satu pelayan setianya.
"Sabar nyonya" kata pelayan itu.
Camelia sebenarnya cukup geram mendengar apa yang dikatakan oleh adik ipar dari mendiang mantan istri suaminya sekarang. Tapi sehubungan dia masih punya pekerjaan yang lebih penting yang sedang menunggunya dan juga dia harus pergi ke pendaftaran calon kepala desa karena hari ini adalah hari terakhir pendaftaran, Camelia berusaha mengabaikan apa yang dia dengar itu.
Camelia tetap melangkah maju ke arah dapur untuk memberikan menu makan malam kepada para pelayan yang memang sudah mengerti kalau dia adalah nyonya di rumah ini dan perintahnya adalah mutlak di rumah ini.
Jeky sudah memanggil Camelia, mereka akan pergi ke lentera malam, karena untuk mendaftar ke tempat pendaftaran paling tidak harus membawa sekitar 30 orang sebagai simbolisasi saja kalau Camelia memang punya banyak pendukung untuk melaju dalam pemilihan.
Karena Cokrodima namanya sudah rusak, meskipun dia ingin mencalonkan diri lagi, namun masih menjadi perdebatan apakah akan bisa di terima oleh panitia atau tidak. Mungkin untuk diterima dia bisa melewati jalur belakang dengan begitu banyak uang yang harus dikeluarkan.
Dan kemungkinan untuk menang sangat kecil bagi Cokrodima, karena Camelia benar-benar sudah sangat terkenal di desa muara sekarang. Semua itu berkat Jeky dan Adjie. Kedua pria yang selalu ada untuk membuka semua jalan yanb tertutup untuk Camelia.
Camelia sudah mendaftar, dia punya dua lawan sampai jam 12 malam nanti kalau memang Cokrodima tidak maju ke pemilihan.
Camelia pun kembali ke lentera malam untuk bekerja setelah mendaftarkan diri di tempat pendaftaran.
"Akhirnya kamu benar-benar bisa mendaftar Camelia, aku sangat.. aku tidak bisa berkata-kata" kata Laila yang memang sangat takjub dengan terobosan baru yang di ambil oleh Camelia.
"Semua ini berkat kamu juga kak, semua usahamu, kepercayaan mu padaku, berkat kalian semua satu langkah lagi aku akan sampai pada mimpiku, membebaskan para wanita dari pekerjaan yang... " Camelia menjeda kalimatnya.
Dia tak bisa mengatakan betapa dirinya merasa rendah diri menjadi seorang kembang di sebuah rumah bordill. Menjadi pemuas para pria hidung belang, tak punya masa depan, tidak bisa memiliki sebuah keluarga, tak bisa melihat matahari dan menghirup udara bebas di luar rumah bordill.
Sekarang, tinggal satu langkah lagi maka dia akan membawa semua wanita-wanita yang setiap malamnya harus menangis karena menahan siksaan dan rasa sakit akibat beberapa pria yang sukanya main kasar, terlepas dari semua itu.
Namun, kadangkala setiap niat baik itu akan banyak sekali mendapat halangan, rintangan dan duka.
Saat Camelia dan yang lain tengah sangat bersemangat untuk kampanye mereka beberapa hari lagi. Seorang utusan kepala desa di mana ibunya berada tengah mengendarai motornya dengan kecepatan sangat kencang.
Suara motor yang begitu kencang, membuat para pekerja di lentera malam terkejut, dan menghentikan pekerjaan mereka.
"Nona Camelia... Nona Camelia" teriak pria yang langsung melompat dari motornya itu.
Camelia yang mendengar namanya di teriakan oleh seseorang lantas keluar dari ruangannya dan menuju ke depan pintu lentera malam.
"Camelia ada apa?" tanya Laila yang juga menyusul Camelia.
Camelia menggelengkan kepalanya dan terus melangkah, entah kenapa suara pria itu membuat hatinya merasa tidak enak.
"Nona..."
"Siapa kamu? mau apa?" tanya penjaga pintu.
"Nona, aku Juned, kepala desa Lukman yang memerintahkan aku datang kemari" kata Juned.
Mata Camelia langsung melebar mendengar kalau pria itu adalah utusan dari desa, dimana dia menitipkan ibunya pada kepala desa Lukman.
"Biarkan dia masuk" kata Camelia kepada para penjaga di depan pintu lentera malam.
Pria itu tampak sangat panik, Laila bahkan melihat motor yang dia kendarai tidak dalam posisi berhenti yang seharusnya. Motornya terlihat di geletakkan begitu saja, bahkan mesin sepeda motor itu sepertinya masih menyala.
"Nona, ibu nona... ibu nona di culik" kata Juned.
Camelia menutup mulutnya tak percaya.
"Bagaimana bisa? bukankah aku minta pada kepala desa Lukman untuk menjaga ibuku dan tidak membiarkan dia pergi dengan siapapun? para penjaga, aku juga sudah menempatkan beberapa penjaga di sana, bagaimana bisa ibuku di culik?" tanya Camelia yang panik.
"Kami minta maaf nona, semua penjaga itu tewas, pelayan kepercayaan ibu nona juga tidak ada. Sepertinya ada yang berkhianat, dan pagi ini. Kami lihat semua penjaga tewas, di rumah Bu Asri, Bu Asri tidak ada. Ada sepucuk surat di atas meja. Tuan Lukman sedang berusaha mencari juga, beliau menitipkan surat ini, dan surat yang kami temukan di atas meja rumah bu Asri" kata Juned memberikan dua buah surat itu.
Camelia dengan cepat langsung meraih surat itu dan membacanya. Dia membaca surat dari kepala desa Lukman terlebih dahulu. Yang kurang lebih isinya dalam meminta maaf karena dia lalai dalam menjaga Asri ibu kandung dari Camelia. Dia juga mengatakan dalam suratnya kalau dia juga tidak akan menghubungi pihak yang berwajib untuk mencari keberadaan ibu Asri dan mengusut kematian yang terjadi kepada para penjaga Ibu Asri karena ada ancaman dari surat itu, kalau dia melakukannya maka keselamatan Bu Asri akan di pertaruhkan. Namun kepala desa Lukman, tetap akan mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Bu Asri.
Lalu Camelia membaca surat yang kedua. Surat yang tertera dengan nama yang sangat jelas di akhir surat itu. Surat yang mengatakan, jika Camelia tetap maju mencalonkan diri menjadi kepala desa, maka dia akan melihat ibunya besok sudah tidak bernyawa.
Camelia meremass kuat surat itu.
"Gandara" geram Camelia.
Di dalam suratnya, Gandara juga mengatakan, kalau sampai Camelia melapor pada polisi, maka dipastikan ibunya tidak perlu menunggu besok untuk tiada.
"Camelia" kata Laila yang ingin tahu isi surat yang membuat Camelia sangat marah itu.
"Gandara, dia menculik ibuku. Dia ingin aku mundur dari pencalonan ku sebagai kepala desa" kata Camelia dengan mata berkaca-kaca.
***
Bersambung...
semangaaat camelia aq yakin kamu pasti pemenangnya💪💪💪👍👍👍