NovelToon NovelToon
TERSESAT DI DESA MISTERIUS

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mata Batin / Tumbal
Popularitas:240.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.

Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.

Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.

Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berlomba dengan waktu : 32

Krak.

Krakk.

Tiga sosok manusia yang tadi berpamitan pergi ke kebun, sedang menikmati meremuk tulang rusuk setelah daging menempel pada bagian keras di asap habis dikunyah.

Wujud bu Sasmi, Widi, dan Tejo tetap manusia pada umumnya, tapi yang tidak normal – barisan gigi runcing dan terdapat sepasang taring.

Ketiga sosok itu duduk di atas tanah. Bersantai seraya memandangi kebun teh hijau terbentang luas. Tidak ada siapa-siapa di sana selain mereka.

“Daging si Mayang mau dimasak apa nanti?” Widi meludahkan sesuatu yang menyangkut di sela gigi, ternyata remukan tulang remaja laki-laki.

Tubuh malang itu sudah dieksekusi, selesai di awetkan, dan mulai dinikmati, sebelumnya juga disantap oleh Abeer.

“Kata Aan, digulai. Dia bilang, orang kota suka makan bersantan dan berlemak,” jawab Tejo, kini beralih menghisap sebatang rokok.

“Biar mereka merasakan daging temannya sendiri. Aku paling suka melihat betapa rakusnya si gendut itu,” yang dimaksud bu Sasmi adalah Abeer.

“Menurutku ada yang aneh dengan sosok gadis berambut pendek itu. Sorot matanya penuh misteri, seakan dia mengetahui tentang kita,” Tejo mencurigai Candra Kanti.

Bu Sasmi menggulung lengan kemeja batik lawas, terlihat memar kebiruan dekat siku. “Hanya si pemilik keistimewaan, tulang wangi darah manis yang dapat meninggalkan luka pada tubuh kita, sulit hilangnya, membutuhkan waktu lama.”

“Jadi, dia gadis istimewa yang diceritakan mbah Munah?” Widi mengibas-ngibaskan tangan berminyak, tulang tidak lagi manis disesap, dibuangnya.

“Kupikir, dia cuma gadis biasa dengan pemikiran kritis, maka dari itu sengaja menahan diri kala dipukul sebuah kayu. Ternyata bukan hanya meninggalkan luka berbekas, badanku juga seperti meriang.” Bu Sasmi mengurut leher terasa pegal-pegal.

Tejo terlihat tertarik, sangat fokus mendengarkan. “Beberapa kali ku dapati dia mengode Ahwaya. Gadis yang biasanya lahap makan daging manusia sudah diolah, dan dicampur bubuk melemahkan sistem kekebalan tubuh, menaikan emosi, tiba-tiba berhenti. Tak lagi mau makan daging dengan alasan masuk akal.”

“Bukan dia bodoh, tapi terlalu pintar memainkan peran, seolah tak tahu apa-apa, ternyata diam-diam melakukan penyelidikan. Candra Kanti harus segera dieksekusi saat malam bulan purnama tiga hari lagi.” Widi berdiri, menaikan celana katun yang dikenakannya.

“Ayo, kita tangkap secara bersamaan saja mereka!” ajaknya berambisi menyudahi menampung para tamu yang sebenarnya calon mangsa.

Bu Sasmi, dan Tejo beranjak, mengikuti langkah Widi menuju ke mobil terparkir di tepi jalan kebun teh.

***

Sedangkan di sisi lain, setelah mendengar titah Nyai, Candra Kanti bergegas mengelap air matanya.

“Kita harus bergegas, sebelum mereka memergoki, wajib melarikan diri!” Dengan berpegangan pada dinding, dia beranjak. Memaksakan diri untuk kuat.

“Kabur kemana?” Aji menarik Aya agar tidak kepanasan terkena suhu api menyala.

“Gak tahu, asal keluar dulu dari sini!” Kanti mengibas-ngibaskan tangan.

“Sambara, Abeer. Lebih baik kalian menggali tanah untuk mengubur jenazah Mayang dan remaja dalam karung. Jadikan satu tempat saja demi menghemat waktu,” ia mulai berpikir keras, mengambil keputusan cepat.

Namun kedua pemuda belum bisa diajak bicara apalagi diberi tugas, sampai suara Kanti terdengar membentak. “Kalian mau mampus disini? Bernasib sama seperti Mayang dan remaja tadi, iya?”

Sambara terhenyak, seakan baru tersadar dari lamunan.

Abeer juga mulai bereaksi, tapi masih bertahan di posisinya.

“Kalau gak mau gali lubang, biar aku yang mencangkul. Tugas kalian menurunkan anggota badan Mayang!” nada Kanti tersirat ancaman.

“Biar aku yang menggali.” Sambara keluar, kakinya dipaksakan berjalan. Di belakangnya, Abeer menyusul. Mereka tidak akan sanggup bersentuhan dengan wanita tinggal raga itu.

“Aji, tolong sandarkan Aya di luar pintu. Kita gak bisa meletakkannya jauh dari jangkauan! Terus carilah sebuah karung,” firasat Kanti mengatakan, akan ada bahaya besar.

“Iya.” Aji membopong Ahwaya, menyandarkan tubuh masih pingsan itu di bawah alat tuas.

“Mayang, aku izin makamin tubuhmu, ya? Maaf, ada bagian telah hilang, tidak lagi utuh,” air matanya kembali merebak.

Aji termangu, berdiri di tengah-tengah batas pintu, memegang karung berbahan plastik, diambil dari dapur kotor. Rasanya sakit sekali melihat seseorang dikenal lumayan dekat, pergi tanpa pamit, tahu-tahu harus menyaksikan bagian dirinya dalam kondisi mengenaskan.

Di luar, berdekatan dengan pohon beringin, Sambara, Abeer bekerja keras menggali tanah. Peluh mereka bercucuran.

Aji mengambil tangga bambu yang disandarkan pada ujung tembok, lalu diberdirikan di samping sepasang kaki tergantung.

“Biar aku aja yang melepaskan dari alat gancu,” tanpa membuka sandal gunungnya, Kanti menjejak anak tangga.

Tidak dapat dipungkiri, dia sebenarnya jijik, tengah menahan mual, harus tetap kuat.

Kanti memeluk kaki kanan bagian betis, langsung saja kulitnya Mayang terkelupas memperlihatkan daging pucat, minyak lemak membasahi kaos panjang yang dikenakan temannya.

Eheggg.

Hampir saja Kanti muntah, tapi masih bisa ditahannya. Mengusir rasa jijik, mengesampingkan ketakutan, dia mengangkat kaki dalam pelukan dengan ditahan tangan kanan. Lengan kirinya memiringkan alat gancu agar melepaskan tusukannya pada daging pangkal paha.

Satu kaki Mayang sudah masuk ke dalam karung yang diangkat tinggi-tinggi oleh Aji.

Kanti kembali berusaha melepaskan kaki satu lagi dan sebuah tangan temannya. Terakhir, kepala tanpa badan.

Tidak sampai hati ia menarik keatas wajah mensiratkan penderitaan detik-detik hembusan napas terakhirnya.

Kanti menghindari menyentuh kuat rambut kusut Mayang, takut kulitnya mengelupas.

“Maaf Mayang,” cicitnya seraya mendekap wajah kehilangan sepasang bola matanya.

Tubuh Mayang sudah dibungkus karung, ujungnya diikat batang padi, lalu dipanggul Aji, dibawa keluar.

“Aya, hei bangunlah! Kita harus lari dari sini!” Kanti menendang kaki Ahwaya, kedua tangannya berminyak lemak badan Mayang, begitu juga dengan pakaiannya.

Mendapatkan guncangan, perlahan kelopak mata Aya terbuka. Kala sudah sadarkan diri, pertama yang diingatnya kaki tergantung. “Ma … yang.”

“Hei, lihat aku!” Kanti berjongkok di depan gadis masih mulai histeris.

“Kan_ti … Mayang dia, hiks hiks. Kenapa mereka sangat kejam? Salah kita apa?” suaranya kala oleh isak tangis.

“Aya, gak ada waktu menangisi Mayang disaat kita dalam bahaya. Ayo makamin dia secara layak. Setelahnya pergi dari sini. Jangan sampai perjuangan jiwanya demi memberitahukan siapa dalang dibalik kematiannya sia-sia,” bujuknya bernada pelan, netra kembali berkaca-kaca.

Ahwaya mulai bisa mengendalikan diri, terlebih melihat bagaimana penampilan Kanti. Rasa empati sekaligus kagumnya mendominasi. “Terima kasih, Kanti. Kamu berusaha keras melindungi aku dan lainnya.”

“Ayo!” Kanti mengangguk, tidak membantu Aya berdiri.

“Lubangnya belum cukup dalam. “Aji masuk lagi, berniat memanggul karung jasad gadis remaja, tapi tidak dapat mengangkatnya dikarenakan batu pemberat.

Dia kesampingkan perasaan mengganjal dalam hati. Karung bagian luar dibuka, plastik penampung ditarik agar terbebas dari beban tidak seharusnya.

Aji berhasil memanggul sang gadis terbungkus plastik transparan, direndam garam kasar.

Kanti dan Aya sama-sama menghela napas panjang, pandangan mereka memburam oleh air mata bercucuran.

‘Mandilah Kanti! Minyak lemak Mayang yang melekat pada pakaianmu, membuat mereka dapat melacak keberadaan kalian! Kurang dari tiga puluh menit, Sasmi dan lainnya sampai disini! Cepatlah!’

“Kenapa, Kanti?” Aya heran melihat Candra Kanti termenung.

“Ayo buruan! Mereka sudah sangat dekat!”

.

.

Bersambung.

1
Monica Lora
kanti kanti nungguin ni.. nungguin aji aku mah..
Siti Siti
kak cubliikkkk dirimu gak di kurung aksateeee kan 😁😁😁kok aku tidak bisa mendeteksi keberadaan dikau🙈🙈🙈🙈
Betri Betmawati
mudah mudahan bisa ya,
ngk rela Kanti sampai nikah SMA aksata
Monica Lora
kantii bangunlh teman mu rindu.. bangunlh .pakai logika mu..madanada hidup dipedalaman tak jelas begitu akan bahagia
Abu bakar
bagus
neni nuraeni
semoga mereka segera menemukan titik terang agar tidak trlmbat menolong Candra Kanti,,, semoga pelindung knti bebas dan mngetahui knti ada di alam yg sama agar ibu Laila bisa mlck knti lewat pelindungnya,,, ayo knti sadar kamu cpt sadar... keluargamu serta temanmu Merinduknmu
Albina
memang kalo di daerah kyk bgt pantng ngmng smbrgn
Y.S Meliana
sabar beerr 😟
baru baca lg karya kak cublik yg ini, saking sibuk'y d dunia nyata
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo Kanti kamu sadar kl itu hanya jebakan Aksata agar kamu tinggal di sana bersama Aksata 😏😏 kasihan keluargamu setiap hari menangisi mu dan teman"mu jg pd sedih liat kamu seperti itu 😏😏 apa Resendrya gak bisa bantu sama sekali Thor jujur saya gak rela kl Kanti nikah sama Aksata dan hidup di dunia siluman 😏😏
AFPA
Gak ada yg bisa nolong..ni dasah juga ga bisa nerawang dimana keberadaan jiwa kanti
tapi...ada seseorang yg bisa nolong kanti....CUBLIK...lah orangnya
KAK CUB..please jangan sama set-an sesat ya
Watiningsih
kamu jahat aksata kamu terobsesi pada kanti, kasian kanti terkurung di desa sunyi dia merasa kesepian bagai hidup di sangkar emas, sampai kapan kamu akan bohongi kanti. Jika kebenarannya terungkap kamu akan dibenci kanti
Diah_Kustantie ✨💛
Gercep seminggu lagi pernikahan pas juga seminggu lagi perban aji dibuka semoga ada jalan kemudahan buat kanti kembali.kek nya emang harus di nikahin kanti sama aji sebelum keduluan sama Aksata.
AFPA
saset..set-an..aku sebel..
jahat banget..
kanti..ayo usaha..
ga rela kl.kanti pasangan sm harimau
berharap aya,pacarnya, ember ,aji bisa ingat lagi
siapa yg hapus ingatan mereka ber 3?
Aprisya
coba minta bantuan sama suami ainur aja Bu laila
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
sulit banget ya ... kekuatan aksata gak main2 ini berarti,..ni dasah aja susah masuk nya
Mudahlia Fitha
ayo dong Mak ah ini GK lucu AQ udah merinding disko ini
Shee_👚
nah ya bener, tombak candra kanti dari si pecundang aksata.
duh aku ko ya sebel banget sama aksata🙈
Shee_👚
ini berarti mayang, aji, abeer dan Aya anak tunggal semua ya. kecuali kanti yang punya sodara kembar
Shee_👚
aku ngak kuat😭😭😭😭😭
mereka bingung dengan perasaan mereka sendiri, merasakan sedih, kehilangan, dan menyayangi tanpa tau sebabnya.

kaya orang linglung
Shee_👚
semoga pertemanan kalian langgeng dan saling bantu, saling jaga satu sama lain😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!