Di tinggalkan oleh sang ibu bersama adik dan ayahnya membuat Abraham merasa sangat membenci sosok wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
Sehingga membuat Abraham bersumpah pada dirinya sendiri, bahwa ia harus menjadi orang kaya, supaya laki-laki itu bisa membalaskan dendamnya pada ibu kandungnya sendiri.
"Kau bukan anakku lagi, Abraham! Kau hanya bocah pem bunuh!"~ Selena berteriak pada anak yang kira-kira baru saja berusia 10 tahun itu.
"Ibu lah pem bunuh itu!"~ Abraham dengan gigi yang menggeletuk terlihat membuang sebilah pisau yang sudah berlumuran darah ke depan Selena yang sedang menangis histeris.
🌹🌹🌹🌹🌹
Penasaran, kuy kepoin yukk! Jangan lupa kasih dukungan dengan cara Like, Komen dan tambahkan ke Favorit. Eits, jangan lupa juga kasih bintang lima😄
Satu lagi, bijaklah dalam memilih bacaan jika tidak suka SKIP!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mual
"Hoek!" Terdengar suara Nadia yang malah muntah-muntah. "Hoek ... hoek, hoek ...."
Suara itu semakin terdengar sangat jelas di indera pendengaran Abraham yang pada malam ini, laki-laki itu terlihat baru saja pulang ke rumah utama.
"Bi Ayu, siapa yang muntah-muntah?" tanya Abraham pada Ayu, yang rupanya juga bekerja di rumah utama selain di mansion pria arogan itu.
"Nona Nadia, sudah dua hari ini Nona Nadia selalu saja muntah-muntah. Setelah sarapan bahkan setelah Nona Nadia selesai menggosok gigi," jawab Ayu sedikit takut. "Kata Nona Nadia kemarin dia masuk angin, coba Tuan tanyakan langsung apa benar Nona Nadia masuk angin. Soalnya saya menemukan ini di dalam kamar mandinya." Dengan tangan gemetaran Ayu memberikan Abraham testpack yang bergaris dua.
"Apa Bibi benar-benar menemukan ini di dalam kamar mandi, Nadia?" tanya Abraham hanya untuk sekedar memastikan.
"Benar sekali Tuan, saya menemukannya ketika saya kemarin mengambil cucian di dalam kamar mandi Nona Nadia," jawab Ayu dengan perasaan yang tidak karuan karena ia tahu selama ini Nadia tidak terlalu dibiarkan bebas oleh Abraham lalu sekarang di dalam kamar mandi wanita itu Ayu malah menemukan testpack. Bukan maksud asisten rumah tangga itu berpikiran yang tidak-tidak pada adik Abraham itu. Akan tetapi, siapapun pasti akan berpikiran hal yang sama jika menemukan benda pengecek kehamilan itu.
"Kenapa Bibi baru bilang sekarang?" Dengan rahang yang mulai mengeras Abraham menanyakan itu pada Ayu.
"Maaf Tuan, saya takut nanti saya salah menduga. Sehingga saya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Anda." Ayu menunduk ketika ia menjawab pertanyaan Abraham. "Sekali lagi saya benar-benar minta maaf pada Anda Tuan."
Abraham mengangkat tangannya untuk menyuruh Ayu pergi dari sana, karena saat ini pria arogan itu ingin naik ke lantai dua dimana kamar Nadia berada. Sebab Abraham ingin menanyakan semua ini pada sang adik langsung.
"Tuan, tapi saya mohon jangan kasih tahu Nona Nadia jika saya yang memberikan Anda testpack itu." Ayu benar-benar takut jika saja Nadia tahu jika dirinya yang saat ini memberikan Abraham alat pengecek kehamilan itu. Bisa-bisa Nadia akan menjadi membencinya nanti. "Tuan apa Anda ingin berjanji untuk itu?"
"Pergi ke kamar Bibi Sarah, karena ini sudah waktunya dia meminum obat dan untuk masalah Nadia serahkan semuanya padaku." Setelah mengatakan itu Abraham terlihat mulai menaiki anak tangga dengan perasaan yang tidak menentu. Pria arogan itu juga sangat berharap jika testpack itu bukan punya sang adik.
"Semoga tidak akan ada yang terjadi," gumam Ayu pelan sambil menggigit kukunya. "Jika Tuan Abra mengatakan yang sebenarnya, maka dapat aku pastikan Nona Nadia akan membenciku." Cemas itu yang saat ini Ayu rasakan.
***
Tok ... tok, tok ....
Abraham mengetuk pintu kamar Nadia, karena saat ini ia benar-benar ingin menanyakan apa yang terjadi pada Nadia. Sehingga adiknya itu terus saja terdengar muntah-muntah dari tadi.
"Nadia, ini Kakak!" seru Abraham yang semakin mengetuk pintu itu dengan sedikit keras. "Nadi, apa kamu baik-baik saja di dalam?" Sambil terus saja mengetuk pintu kamar Nadia, pria arogan itu terus saja berpikiran positif, karena dirinya tidak mau berburuk sangka dulu pada Nadia.
"Kak Abra, tunggu sebentar." Suara Nadia kini mulai terdengar. "Aku buka dulu pintunya setelah itu baru Kak Abra masuk." Terlihat Nadia berjalan ke arah pintu dengan raut wajah yang panik, karena ia takut jika saja Abraham mendengarnya muntah-muntah.
"Cepat Nadia, apa kamu tidak merindukan Kakak? Sudah dua minggu ini Kakak tidak pulang, tapi kamu malah tidak menyambut Kakak di pintu uta–" Kalimat Abraham terputus gara-gara pintu kamar Nadia sudah terbuka. Bukan cuma itu saja adik dari pria arogan itu langsung saja terlihat berhambur ke dalam pelukan Abraham.
"Kak Abra, aku merindukan Kakak." Nadia memeluk Abraham dengan sangat erat. "Kenapa nggak bilang-bilang kalau Kakak mau pulang? Apa jangan-jangan Kakak sendiri yang tidak sayang denganku?" Si manja Nadia malah semakin menempel pada Abraham.
"Apa kamu masuk angin?" tanya Abraham yang mengabaikan pertanyaan Nadia.
"Darimana Kak Abra tahu, kalau aku ini sedang masuk angin? Apa Kakak ini seorang tabib?" celetuk Nadia supaya Abraham tidak menanyakan hal yang aneh-aneh pada dirinya. "Katakan sekarang darimana Kakak tahu kalau aku ini sedang masuk angin?" Dengan wajah yang pucat pasi Nadia lagi-lagi terdengar bertanya pada Abraham.
"Kita masuk dulu, nanti Kakak akan memberitahumu." Abraham sekarang mengajak Nadia untuk masuk, karena ia takut jika nanti percakapannya dengan sang adik ada yang akan mendengarnya.
Revan enak nasibnya
aku kirimin Mawar 2 ya.. 🥰🥰