Kehidupan sederhana yang dijalani, berubah hanya dalam sekejap mata saat mengetahui identitas suaminya.
Dalam waktu satu malam dia berubah menjadi istri milyarder.
Lylia Federick Richards tidak pernah tahu tentang identitas suaminya yang ternyata adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis yang selama ini dinyatakan hilang.
Memiliki suami milyarder tak selamanya menyenangkan. Banyak hal yang hanya bisa dipendam tanpa diungkapkan. Apalagi saat serangkaian kejadian mengerikan menerpa dan hampir membuat nyawa melayang.
Mampukah Lylia bertahan dan tetap membersamai Xavier dalam keadaan apa pun?
Mampukah Xavier melindungi Lylia dari orang-orang yang berniat mencelakainya?
Simak kisahnya Xavier dan Lylia hanya di sini ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei-Yin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Hukuman
Pada akhirnya Layla mengakui semua perbuatannya dengan sang suami yang telah merencanakan penyerangan pada Xavier dan Lylia.
Mereka berdua mengakui dan berkata sama sekali tidak ada niat untuk membunuh. Jonathan hanya kesal dan emosi sesaat karena merasa Xavier sangat keterlaluan. Pria itu bertindak semaunya dengan memberi peraturan baru. Jika ada penarikan uang dalam jumlah besar harus tetap melalui persetujuannya sebagai pemegang kendali.
“Jika kau tidak berniat membunuh, tak mungkin ada sniper yang menembakkan pelurunya. Untungnya peluru itu meleset dan hanya melubangi kaca. Pikirkan jika itu kepala kami? Bagaimana caranya kau bertanggung jawab, hah!” lontar Lylia dengan nada marah.
“Kau jangan melebihkan. Aku tidak menyewa sniper!” teriak Jonathan tidak terima.
“Lalu siapa yang menyewa sniper itu, hah? Atau adakah orang lain yang melakukannya? Katakan!”
“Wanita bodoh! Sudah kukatakan aku tidak menyewa sniper. Aku hanya menyewa orang-orang itu untuk menculikmu.” Jonathan pada akhirnya ikut mengumpat karena kesal. Dia benar-benar tak melakukannya. Entah siapa, yang jelas ada orang lain yang melakukan penyerangan lain dengan mengkambing hitamkan dirinya.
Entah apa yang merasukinya. Keberanian Lylia muncul begitu saja saat amarah telah menguasai diri.
Saat Lylia kembali akan membalas, Xavier memintanya tetap diam dan tak melanjutkan.
“Apa sebenarnya yang kau inginkan, Paman?” tanya Xavier dingin dan tatapan menusuk tajam.
“Kau terlalu sombong, Xavier. Aku ini pamanmu, kau menolak permintaan penarikan uang dan membuatku malu. Kau pikir aku masih punya wajah? Kau keterlaluan!” ujar Jonathan dengan napas memburu.
“Aku memiliki alasan yang kuat untuk melakukannya, Paman. Jangan sampai aku membuka mulut dan membuatmu lebih malu lagi,” ujar Xavier penuh peringatan.
Roger menatap adiknya—Natalia dan suaminya—Damian dengan intens.
“Biarlah Xavier yang akan menentukan hukuman untuk Jonathan dan Layla. Aku tidak akan ikut campur,” ujar Roger mengejutkan.
“Tapi—” Natalia ingin menyanggah, tetapi Damian memberi kode untuk diam.
“Biarkan Paman dan Bibi pergi ke Pulau Terlarang. Itu hukuman yang paling ringan, selain karena aku tak bisa membunuhnya.” Suara Xavier membuat sepasang suami istri itu terkesiap. Bukan hukuman kematian, tetapi Pulau Terlarang sama dengan membunuh mereka secara perlahan.
Tubuh Layla gemetar hebat, pun dengan Jonathan yang langsung lemas.
Pulau Terlarang adalah tempat pribadi Xavier saat masih muda dulu. Dia menggunakan tempat itu sebagai tempat rahasia untuk menghukum orang-orang yang telah mengkhianatinya.
Jika sudah masuk tak akan ada tempat kembali kecuali jika Xavier yang memintanya.
Pulau itu tidak seperti bayangan di mana ada satu bangunan mewah dengan segala fasilitas canggih. Tidak ada hal seperti itu.
Di sana semua orang yang telah diasingkan harus bertahan hidup dengan cara masing-masing. Hanya ada sebuah gubuk kecil yang disediakan sebagai tempat berteduh.
Mereka yang bisa bertahan dan hidup adalah orang-orang yang memiliki tekad dan keberuntungan.
“Xavier, tolong jangan lakukan ini.” Layla meraung dengan tangisan penuh penyesalan. “Kita masih keluarga, kau tak bisa melakukan ini.”
“Xavier ingat jika kalian adalah keluarga, itulah sebabnya dia tidak melenyapkan kalian,” kata Roger dingin.
Tidak ada yang berani membela. Keputusan telah diambil dan tidak ada yang akan berubah meski menangis darah.
Kembalinya Xavier adalah ancaman. Selain karena dia jeli dalam menanggapi permasalahan, pria itu juga kejam dalam mengambil keputusan.
Xavier Thomas Bailey tidak sesederhana yang selama ini terlihat.
Tanpa mempedulikan bagaimana ekspresi orang-orang yang ada di dalam ruangan, Xavier segera mengajak Lylia pergi.
—
Tadinya Xavier berniat makan malam di rumah utama, tetapi suasana hatinya buruk dan memilih pergi.
Sebelum pulang keduanya makan di restoran lebih dulu.
“Jika bukan Paman Jonathan yang menyewa sniper itu, lalu siapa?” tanya Lylia yang penasaran.
“Memang bukan dia, Lylia,” jawab Xavier yang memang sudah tahu siapa pelaku aslinya. Namun, memilih pura-pura bodoh.
“Kau akan terkejut jika tahu siapa yang melakukannya,” lanjutnya dengan senyum penuh arti.
“Siapa?”
Xavier mendekatkan bibirnya ke arah telinga sang istri dan membisikan satu nama. Membuat wanita itu segera menoleh untuk mencari kebenaran. Tidak mungkin, kan?
“Kau bercanda? Tidak mungkin dia melakukannya, Vier,” sangkal Lylia. “Dia cukup tua untuk berpikir banyak.”
Xavier terkekeh. “Belum saatnya, Ly. Jika sudah waktunya akan terjadi perang yang sangat hebat.”
Meski tidak tahu dan bingung Lylia tetap mengangguk.
—
Setelah kepergian Xavier dari rumah utama, tampak semua anggota keluarga bisa menghela napas lega. Namun, tidak bagi Jonathan dan Layla yang tampak tak lagi bersemangat.
Mereka masih tetap diam dengan tatapan kosong. Berkali-kali menarik napas panjang dan mengeluarkannya, menyiapkan mental untuk menghadapi hukuman yang sesungguhnya.
Setelah makan malam, semua kembali ke ruangan pribadi masing-masing. Tidak ada lagi yang berminat berkeliaran di sekitar.
Henry menghela napas panjang karena Xavier masih memiliki belas kasih tak menghukumnya. Meski dia tak memiliki tempat di perusahaan, setidaknya dia bersyukur karena tak sampai mendapat hukuman seperti Jonathan dan Layla.
“Sudah hentikan apa pun yang tengah ada di dalam kepalamu. Jangan mencari masalah dengan Xavier. Pria tiran itu bahkan tak sungkan melakukan apa pun. Dia sudah berbaik hati tak menghukum dirimu. Tolong jangan libatkan dirimu lagi dalam masalah,” kata Starligt memperingati.
Xavier bukan tidak menghukum Henry. Pria itu melakukannya, hanya saja berbeda hukuman karena Henry tidak berniat menyakiti istrinya. Lain cerita jika pria paruh baya itu mengincar Lylia, mungkin tak akan ada ampun lagi.
“Dia memang ancaman. Seperti Helcurd, dia pria yang mengerikan,” gumam Henry nyaris tak terdengar.
To Be Continue ....
untuk author lanjut dong jangan bikin pembacamu penasaran 😁😁😁
lanjutan'y dong kak