Tahun 9.999 Dunia hancur akibat peperangan yang di sebabkan oleh manusia, dengan berbagai alat tempur canggih, seperti Robot dan sebagainya.
Di dunia yang sudah hancur tersebut terdapat penyintas yang masih bertahan hidup di dunia yang baru.
Arian Smeltz Pria berumur 22 tahun, salah satu penyintas yang bertahan hidup di Dunia baru, dia menemukan sosok Robot saat sedang melakukan penjelajahan demi menemukan tanah yang subur.
Robot tersebut merupakan sebuah Sistem yang akan membantu Arian membuat kehidupan barunya di dunia yang sudah rata dengan tanah tersebut.
Arian membangun sebuah peradaban baru, hingga lama kelamaan tanah yang tadinya di huni oleh dia dan keluarganya saja, mulai di datangi penyintas lainnya.
Sosok dua Wanita cantik kakak beradik yang pandai bela diri dan menggunakan senjata tertarik kepada Arian.
Mereka pun membangun keluarga bersamaan dengan membangun sebuah peradaban baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alveandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Selesai
X-Ray membunuh pasukan Hole yang terus melawan, sementara mereka yang ketakutan dan lebih memilih sembunyi, ia dan kedua rekan robotnya membiarkan mereka begitu saja.
Perintah Arian selalu terpatri dalam data Sistem dalam tubuhnya, ia tidak mungkin melupakan hal itu begitu saja.
Ketiga robot tersebut terus membombardir pasukan Hole, mereka tidak membiarkan mereka bernapas sekalipun.
"Aku tidak mau mati!" teriak salah satu pasukan Hole yang teringat dengan anak istrinya.
"Apa kita tidak bisa menyerah saja?" timpal yang lainnya.
Mereka sekarang sudah mulai tahu kalau kekuatan robot pemukiman Smeltz sangatlah luar biasa, kekuatan mereka tidak sebanding dengan robot-robot itu, bahkan robot-robot mereka sudah hancur semua, sehingga mereka semua sudah tidak memiliki garis depan lagi.
Hingga akhirnya sisa dua puluhan orang pasukan Hole tersisa menyerah, mereka membuang senjata mereka di tanah dan mengangkat tangan berharap ketiga robot itu mengampuni mereka.
Melihat sudah tidak ada yang menyerang lagi, X-Ray menyuruh kedua rekannya untuk berhenti menyerang.
Arian yang melihat hal itu, ia bergegas naik robot senjata dan menghampiri area pertempuran tersebut. Ia datang sendirian, melarang yang lainnya ikut, karena takut mereka belum menyerah sepenuhnya.
"X-Ray, amankan mereka semua!" perintah Arian menggunakan alat komunikasi kusus yang diciptakan X-Ray untuk dirinya.
"Baik Tuan!" jawab X-Ray yang langsung mengamankan orang-orang tersebut.
X-Ray menyuruh mereka semua berbaris, ketika Arian sudah sampai di sana, para orang-orang tersebut tampak ketakutan.
Arian melihat mereka semua dengan seksama, tampak semuanya terlihat sangat ketakutan. Ia menghela napas berat, karena tahu posisi mereka yang serba salah.
"Alpa, One, Kalian bawa mereka ke pemukiman! Bilang kepada Ayahku suruh mengisolasi mereka terlebih dahulu!" perintah Arian tegas.
"Baik Tuan!" jawab kedua robot itu sigap.
Melihat kedua robot yang bisa berbicara dengan tuannya, pasukan Hole terkejut, ternyata memang benar kalau robot-robot yang mereka hadapi sangatlah canggih, tidak seperti robot mereka yang hanya bisa menembakkan senjata saja.
Alpa dan One menggiring pasukan Hole tersisa ke pemukiman Smeltz, orang-orang tersebut tampak sangat sedih.
Arian mengabaikan hal tersebut terlebih dahulu, ia menatap para robot dan pesawat yang hancur. Matanya berbinar-binar, dengan adanya sisa-sisa pertempuran tersebut, ia akan memiliki banyak bahan untuk memperkuat pertahanan pemukiman Smeltz.
"X-Ray, bawa benda-benda tersebut ke pemukiman, kita akan punya banyak kerjaan!" perintah Arian bersemangat.
X-Ray mengangguk mengerti, ia mulai mengumpulkan pesawat, robot dan senjata sisa pertempuran lalu membawanya ke pemukiman Smeltz, karena terlalu banyak X-Ray tidak bisa membawanya sekaligus.
...***...
X-Ray akhirnya berhasil membawa rampasan perang ke halaman pemukiman Smeltz, benda-benda rongsokan tersebut tampak menggunung di sana.
"Selesai juga, terimakasih kerja kerasnya X-Ray," puji Arian sambil tersenyum simpul.
"Sudah menjadi tugas saya tuan," jawab X-Ray mantap.
Arian hanya menganggukkan kepalanya, ia kemudian menghampiri pasukan Hole yang di tangkap, tampak mereka sedang di ikat satu sama lain di pojok halaman dengan di awasi beberapa orang.
"Tuan Arian," sapa para penjaga mereka.
Arian hanya mengangguk, dan mendekat ke para tahanan tersebut. "Apa kalian masih ingin hidup?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Tentu saja tuan!" jawab salah satu dari mereka dengan percaya diri.
Pasukan Hole lainnya menganggap rekannya itu bodoh, karena mereka pikir tidak mungkin kalau Arian akan membiarkan mereka hidup begitu saja.
Arian tersenyum. "Apa kamu mau melakukan apa saja yang aku suruh?" tanya Arian memastikan.
"Tentu tuan, saya akan melakukan apapun!" jawabnya mantap.
"Lepaskan dia!" perintah Arian kepada penjaga mereka.
Penjaga mengangguk mengerti, mereka melepaskan orang tersebut, dan orang itu bergegas menghampiri Arian kemudian membungkukkan badan.
"Apa ada yang mau seperti dia?" tanya Arian lagi.
Tampak semua orang di sana menundukkan kepalanya, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Arian. Pria itu hanya tersenyum getir, ia tahu kalau mereka pikir dirinya akan mengeksekusi orang tersebut.
Arian tidak terlalu banyak menunggu, baginya satu orang saja sudah cukup, untuk membuktikan kalau mereka bisa bertahan hidup jika mau bekerja sama membangun pemukiman Smeltz.
Orang yang maju kedepan di bawa Arian pergi, pria itu langsung menaruhnya di ladang, karena di sana yang memang kekurangan orang, mengingat sedang ada penambahan luas ladang.
klo awal2 cerita jgan mnculin heroine dlu klo bsa fokus ke inti cerita dlu nnti pertengahan bru mnculin heroin
awal2 muncul gni ujung2nya beban nnti.
saran aja broo