NovelToon NovelToon
Kembalikan Anakku, Adinata

Kembalikan Anakku, Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: doubleareya

Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.

Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.

Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.

Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Toko roti Pelipur Lapar

“Mbak, saya mau ambil pesanan saya, ya.”

Nadine menganggukkan kepalanya sambil memberi senyum tipis ke seorang ibu yang menghampirinya di meja kasir. “Pesanan atas nama siapa, Bu?”

“Ahmaria.”

“Tunggu sebentar, ya, Bu. Saya carikan pesanan Anda di dalam dahulu.”

Andin mendatangi Nadine yang sedang berdiri di bagian kasir. “Ingin kemana, Nad?”

“Aku ingin mengambil pesanan Bu Ahmaria di dalam. Kamu jaga bagian kasir dahulu, ya, An.”

Andin menganggukkan kepalanya. “Mudah. Hati-hati, ya, Nad.”

“Karyawan baru, An?”

Andin menatap Bu Ahmaria yang berdiri berhadapan dengannya. “Bisa disebut begitu, Bu.”

“Saudaramu juga, ya, An? Kan bundamu pernah bilang kalau dia tidak menerima karyawan untuk membantunya mengurus toko roti ini.”

“Benar, Bu. Dia sepupu saya, namanya Nadine.”

“Cantik wajahnya. Kelihatan ramah dan penyayang, ya. Sedang hamil?”

Andin menganggukkan kepalanya. “Iya, Bu. Sudah terhitung hampir 4 bulan. Tolong beri doanya, ya, Bu untuk sepupu saya dan kandungannya semoga sehat.”

Bu Ahmaria merupakan pelanggan lama toko roti Pelipur Lara milik ayahnya. Setiap 3 hari, dia akan datang untuk mengambil pesanan dengan jumlah yang banyak. Dia menjual roti dari toko ayahnya di Kantin Sekolah Dasar. Dia datang ke sini dengan waktu yang sama dan tentu ayah sudah menyiapkan pesanan milik dia dengan teliti.

“Bu, ini pesanannya.” Bunda datang dengan membawa 2 kresek besar berisi roti yang Bu Ahmaria. “Saya beri tambahan 2 bungkus roti yang akan menjadi menu baru di toko. Belum saya jual karena masih resep uji coba. Nanti kalau ada kekurangan, telpon saya saja, ya, Bu. Seperti biasa.”

Bu Ahmaria menganggukkan kepalanya sambil tertawa. “Kamu ini. Selama saya membeli di sini, saya tidak mendapat kekurangan apapun, ya, Bu. Rasa roti, pelayanan dan harga selalu mantap bagi saya.”

Bunda dan Andin tertawa.

“Semoga pesanan Bu Ahmaria di toko saya lebih banyak lagi, ya, Bu,” canda Bunda.

“Amin. Saya jadi merasa istimewa karena mendapat tester gratis dari Bu Divaz. Pasti rasanya khas dan selalu enak. Terima kasih, ya, Bu.” Bu Ahmari membuka tasnya mengambil dompet yang berisi lembaran uang untuk membayar pesanannya.

“Aish, sama-sama, Bu Ahmari.”

Andin menerima beberapa lembar uang dari tangan Bu Ahmari dan membuka laci untuk memberi kembalian. “Terima kasih, ya, Bu.”

“Sama-sama, An.”

“Bu, saya bantu bawa ke motor Anda. Pagi ini membawa motor ‘kan, Bu?”

Bu Ahmari menganggukkan kepalanya sambil memasukkan dompetnya ke dalam tas. “Terima kasih sekali lagi, Bu Divaz. Jadi merepotkan Anda.”

“Saya tidak merasa direpotkan, Bu. Jangan bosan pesan ke toko roti saya, ya.” Bunda membawa 1 kresek dan Bu Ahmari membawa 1 kresek lainnya. “Bunda ke depan dulu, ya, An. Tadi Nadine membawa tester menu baru. Kamu coba, ya, nanti kasih tahu Bunda kurangnya ada dimana.”

“Iya, Bun.”

Nadine membawa piring berisi 3 roti yang masih terlihat hangat. “Ini menu barunya, An. Maaf, ya agak lama kembali ke sini.”

Andin menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa, Nad. Kamu tinggal masuk ke kamarmu, aku juga tidak apa-apa. Santai saja di sini.”

“Duduk di sini, Nad.”

Nadine duduk di salah 1 kursi plastik yang disediakan di bagian kasir, sedangkan Andin duduk di kursi plastik lainnya.

“Aku tadi hangatkan roti ini karena aku lagi pengen makan roti hangat, tapi sepertinya ini malah menjadi roti panas, bukan roti hangat lagi.” Nadine meringis menatap Andin. “Maaf, ya. Kalau kamu ingin makan rotinya sekarang, aku bisa ambilkan roti lainnya untuk kamu coba, An.”

Andin menggelengkan kepalanya. “Tidak usah, Nad. Aku makan roti ini bersamamu saja.”

“Halo, boleh saya memesan roti.”

Nadine dan Andin menatap pelanggan baru yang berdiri di depan mereka. Mereka berdiri secara bersamaan.

“Boleh. Silahkan pilih rotinya, ya. Saya akan mengambilkannya untuk Anda.”

Andin melangkahkan kakinya ke etalase kaca dan diikuti oleh pelanggan tersebut, sedangkan Nadine berdiri berhadapan dengan komputer di depannya. Dia menjalani hari ini dengan semangat. Senyum di bibirnya tidak pudar ketika berhadapan dengan orang-orang di depannya. Dia mengusap perutnya sebentar sambil menatap Andin yang sedang melayani penjual.

Nadine menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis ketika pelanggan tersebut menatap ke arahnya sebentar. Dia kembali menatap komputer sebentar dan menatap ke depan lagi. Dia kembali tersenyum tipis ketika bertatapan dengan pelanggan tersebut. Dan ketiga kalinya dia bertatapan sambil tersenyum tipis.

Nadine merasa aneh dengan tatapan yang diberikan oleh pelanggan tersebut. Pelanggan asing yang tidak pernah Nadine temui selama dia membantu ayah dan bunda berjaga di toko. Dia menggelengkan kepalanya ketika Andin dan pelanggan tersebut melangkah ke arahnya.

“Kenapa, Nad?” Nada dan raut wajah kekhawatiran ditunjukkan oleh Andin ketika melihat Nadine.

Nadine menggelengkan kepalanya sambil memberi tawa kecil. “Tidak apa-apa, An. Sudah selesai memilihnya? Sebentar saya hitung totalnya.” Nadine menerima wadah berisi roti yang dipilih pelanggan tersebut.

Nadine mengeluarkannya 1 per 1 dengan hati-hati sambil menginput harga ke komputer.

“Hamil berapa bulan, Mbak?”

Nadine menghentikan gerakannya sebentar. Dia menatap pelanggan yang berdiri di depannya dan mengulas senyum tipis. Walau dia merasa curiga, tapi dia tidak akan menunjukannya secara gamblang. “4 bulan, Mas.”

“Pola makan dan istirahatnya dijaga, Mbak. Hamil muda sangat butuh penjagaan ekstra.”

1
doubleareya
Halo, teman-teman 👋🏻👋🏻 Terima kasih sudah membaca cerita Adinata - Nadine yaaa, aku mau minta tolong kepada teman-teman untuk memberi dukungan cerita ini dengan suka dan komentar yaaa 🤍 🤍 Aku sangat terbuka dengan saran dan kritik yang baik untuk cerita ini yaa 😙💛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!