Berawal dari pertemuan yang tak sengaja di masa kecil, ternyata meninggalkan dampak besar bagi seorang pria tampan bernama Rengra.
Ia tak pernah menyangka, keputusannya untuk kabur demi menjauh dari hiruk pikuk masalah keluarga setelah kedua orang tuanya meninggal, justru mempertemukannya dengan Laura.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Akankah pertemuan itu benar-benar mengubah cara pandang Rengra terhadap seorang wanita?
Mari simak kisah mereka dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ~ 33
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Renggra Wijaya bin Anggara Wijaya dengan adinda Laura Anindia dengan uang senilai dua miliar rupiah, tunai."
"Saya terima nikahnya tersebut, tunai." jawab Renggra lantang.
"Sah!"
"Sah!
"Sah!"
"Sah!"
Mereka semua mengucap syukur dan doa yang dipanjatkan bersama-sama.
Di sisi lain Laura mendengar suara pria yang secara lantang mengucapkan ikrar itu terdiam mendatar. Kini statusnya telah sah menjadi seorang istri dari pria yang saat ini sedang sibuk memanjatkan doa yang di pimpin seorang ustadz yang cukup terkenal di ibu kota.
Tak berapa lama kata aamiin juga mereka lantunkan bersama. Dada yang bergetar hebat tadi, begitu saja menjadi tenang. Pria yang mengusap wajahnya kini, telah sukses mempersunting gadisnya.
Lirikan matanya sontak melintasi area sekitar. Gadisnya belum juga keluar. Entah mengapa begitu lama sekali wanita itu datang. Rasa-rasa ia takut gadisnya kabur kembali. Jika itu terjadi, ia tak memberi ampun pada gadis yang telah sah menjadi istrinya.
Kedua mata pria itu terpaku sesaat seorang wanita menggunakan pakaian pengantin menutupi wajahnya mendekati Renggra. Hati pria itu sungguh berdebar tak karuan. Mengapa wanitanya harus di tutup seperti itu? Apakah ini termasuk tradisi baru? Renggra menjadi gelisah sendiri. Ia telah membayangkan bahwa wajah gadisnya hari ini terlihat begitu cantik.
Namun, kedua alis Renggra mengerut. Ada yang aneh dari tubuh wanita di hadapannya itu. "Ayo Reng di buka," ucap Angga.
Pria tampan itu mengikuti saja. Ia secara perlahan membuka kain yang menutupi wajah gadisnya. Setelah semuanya terbuka Renggra terperanjat sembari berteriak kecil. Sudah tentu semua orang tertawa puas.
Nova, menggunakan pakaian pengantin itu untuk menjahili sahabatnya. "Mas, aku sudah datang," ucapnya sembari mengedipkan kedua matanya.
Renggra yang berdebar itu semakin tak karuan. Sahabat serta keluarganya memang sangat jahil. Ia saat ini tak bisa bernapas lega jika seperti ini.
"Lo lebih baik minggir. Jangan membuat masalah," ucap Renggra masih memegang dadanya.
"Jangan kayak begitu Mas. Kita belum kiss wedding," ucap Nova yang memajukan bibirnya.
Sontak saja Renggra mendorong wajah Nova untuk menjauh. "Jangan buat masalah Nov. Mana istri gue?" Renggra mulai cemas, takutnya dugaannya salah.
"Masa Lo nggak lihat," balas Nova menunjuk seseorang yang sudah berada di belakang Renggra.
Tentu saja dengan secepat kilat Renggra memutar posisinya untuk melihat gadisnya. Lagi-lagi pria itu terkena tipuan lagi. Sungguh Renggra menjadi semakin berdebar. Ke mana gadisnya saat ini? Wajah pria tampan itu menjadi sangat kesal di campur cemas.
"Mari kita sambut mempelai wanitanya untuk masuk ke dalam ruangan," ucap pemandu acara itu untuk menenangkan pikiran pria yang saat ini terlihat kalang kabut.
Renggra kembali menoleh ke pintu yang cukup besar nan tinggi itu terbuka. Wajah gadisnya secara perlahan terlihat. Kini bukan jantung saja bergetar hebat. Melainkan tatapan pria itu tak bisa berpindah ke lain arah.
Wajah yang anggun, hiasan tipis minimalis namun terlihat luar biasa. Gadisnya begitu sangat cantik hari ini.
Sedangkan di posisi Laura, ia terus berjalan perlahan mendekati pria yang tampannya semakin tak terkendali lagi. Pakaian pengantin yang sangat pas dan membentuk sekali otot tangannya, menjadi pria itu seperti pria sejati yang memiliki jiwa wibawa yang cukup besar.
Laura yang sempat ikut tertawa melihat di layar televisi yang terpanjang di sampingnya sesaat melihat pria dingin itu terlihat kesal saat ia tak kunjung keluar. Apakah prianya saat ini sangat takut jika ia kabur dan membatalkan pernikahan ini? Sepertinya ia lebih tak mau mengecewakan ibu asuhnya dan semua tamu yang hadir.
Gadis itu berusaha tersenyum sembari duduk di samping pria yang terus menerus menatapnya. Bukan Laura tak risih di pandang pria yang seakan membuat gadis itu menjadi gelisah sendiri. Apa mungkin hiasannya tak sesuai dengan pria itu? Laura menekukkan wajahnya.
"Reng," panggil Angga memecahkan lamunan Renggra.
Renggra masih melihat wajah Laura, belum sadar dengan panggilan Angga.
"Halo Renggra," ucap Nova di telinga Renggra. Sudah jelas pria tampan itu menoleh dan sedikit menjauhi. Tatapan mata pria itu begitu nyata sangat kesal. Ia seperti tak di beri kesempatan untuk melihat gadisnya.
"Sabar," bisik Nova kembali.
Renggra berusaha mengatur napasnya dan kembali melirik gadisnya.
"Sekarang silahkan kedua mempelai memasangkan cincin masing-masing," ucap pemandu acara.
Sudah jelas Renggra mengambil cincin di atas meja itu dengan perlahan mengambil tangan gadisnya. Jari kuku dan kulit tangan wanita itu di hias menggunakan henna berwarna putih. Sungguh menambahkan keindahan cincin yang di sematkan oleh Renggra.
Apalagi cincin itu di pesan langsung ke ahlinya. Sudah tentu tak ada duanya di dunia ini.
"Silahkan mempelai wanitanya giliran memasangkan cincinnya," ucap pemandu acara itu lagi.
Laura tentu mengikuti. Tangan pria itu sudah di angkat dengan ia tinggal memasukkan saja. Gadis itu tak percaya bahwa saat ini ia benar-benar telah menikah dengan pria yang nyaris sempurna itu.
Entah mengapa ketakutan Laura menjadi meningkat. Selain menikah paksa, ia juga harus menerima bahwa ia tak akan pernah di cintai oleh suaminya itu.
Semua orang mengucapkan syukur. "Sekarang silahkan mempelai prianya mencium kening istrinya. Untuk kameramen silahkan di tangkap dengan bagus," ucap lagi pemandu acara itu.
Laura mendelik. Gadis itu takut jika Renggra menciumnya. Bisa-bisa ia langsung hamil. Gadis itu pun sedikit menjauhi sesaat Renggra yang secara perlahan akan mencium kening gadisnya. Walau yang ia harapkan adalah bukan kening saja, melainkan bibir yang selalu terbayang di benak pikiran pria matang itu.
Namun ia malahan seperti tak mendapatkan keduanya sesaat gadisnya menjauhi. Kerutan alisnya mendalam. Apa gadisnya secara terang-terangan menolaknya?
Laura pun mendekati Renggra untuk berbisik. "Itu Mas, bisa nggak ciumannya nanti aja. Selain malu di lihat orang, aku takut langsung hamil saat ini. Entar orang-orang berpikir apa kalau misalnya langsung isi di hari ini," ucap gadis itu secara terang-terangan tanpa basah basi lagi.
Tentu seketika saja Renggra menahan tawanya. Sepertinya ada yang salah pada pemikiran gadisnya.
Semua orang yang melihat tentu terdiam menyaksikan kedua pengantin itu sibuk berbisik saja. Di mana sekarang Renggra yang berbisik di telinga gadisnya. "Mas jamin, Kau nggak akan hamil saat ini hanya gara-gara ciuman. Jika itu terjadi, Mas akan bertanggung jawab. Lagian Kau nggak bermain dengan pria lainkan?" tanyanya memastikan.
Sudah jelas Laura menggeleng cepat. "Saya berani bersumpah nggak pernah berpacaran bahkan melakukan hal lainnya," ucap Laura mengangkat salah satu tangannya.
Pria itu kembali mendekati telinga istrinya. "Jika begitu, untuk sebuah dokumen. Izinkan aku mencium keningmu. Aku jamin nggak akan membuatmu hamil," Renggra sekilas saja tersenyum tipis.
"Bisik-bisik tetangga terus. Yang lain di suruh jadi obat nyamuk," sindir Nova.
Sudah tentu kedua pasutri itu melihat sekitarnya. "Masa Kau akan meninggalkan momen sakral ini?" tanya Renggra kembali berbisik untuk membujuk gadisnya.
Kedua alis wanita cantik itu mengerut. Sembari mengangguk. Lagian sekali saja tak mungkin membuatnya hamil. Laura kembali pada posisinya.
Renggra memegang kepala gadisnya untuk di tarik secara perlahan. Kemudian ia menempelkan bibirnya di kening gadisnya. Rasa ciuman itu sangat tanggung sekali ia lakukan.
Renggra tanpa rasa malu memindahkan bibirnya mencium bibir gadisnya. Sontak semua orang terkejut dengan aksi Renggra yang bar bar itu. Termasuk gadis yang terpaku dan kedua matanya melebar sesaat bibirnya ikut ternodai.