Perjodohan yang di lakukan secara paksa berharap akan menjadi sebuah awal yang bahagia. Namun kenyataannya justru membuat hidupnya seolah seperti di neraka.
Nina Anjelin, gadis desa dari keluarga terhormat yang begitu di hormati seluruh warga desa bahkan kecantikannya sampai di sebut mataharinya desa karena terlalu sempurna.
Ia menikah sebab perjodohan dari keluarga yang memaksanya tanpa mengenal siapa sang calon suami.
Pernikahan yang harapan dari keluarga akan bahagia dan mengangkat setinggi mungkin derajat mereka justru menjatuhkan nama keluarga mereka serendah-rendahnya.
Menikah kilat dan di tinggal tanpa sebab, Nina justru yang hamil dengan sang suami menjadi buruan keluarga. Ia di cap sebagai wanita yang sangat rendah sebab hamil tanpa suami.
Rela keluar dari rumah demi mempertahankan sang buah hati. Nina justru di buru oleh keluarga sendiri dan berakhir bertemu oleh sekelompok orang yang tengah bertugas di hutan desa itu.
Hingga akhirnya ia bertemu salah satu pria di sekelompok orang itu dan ikut ke kota. Namun, bukan sebagai penolong. Nina justru di anggap sebagai mata-mata dan mereka akan memenjarakan Nina.
Bagaimanakah nasib Nina dengan sang tentara selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Berdua
Seperti ajakan Kevin sebelumnya, di sinilah Nina bersama sang anak malam ini. Makan bertiga dengan keadaan yang begitu tenang. Sebuah sky bar yang menampakkan keindahan malam hari di hotel mewah menjadi tempat pilihan Kevin. Ia akan meminta waktu untuk bicara serius dengan Nina. Wanita beranak satu itu terlihat tengah menikmati makanan yang super lezat menurutnya. Sesekali Kevin mengajak bercanda si bayi yang terbangun dari tidurnya.
“Percuma di ajak bicara, Abang. Dia kan masih terlalu kecil belum paham.” ujar Nina.
Kevin tak tega melihat Nina yang kesulitan makan, hingga akhirnya ia pun mengambil alih si baby ke dalam gendongannya. Berpikir mungkin akan sangat sulit tetapi dirinya memang harus belajar sebab anak Nina akan menjadi anaknya juga.
“Pelan-pelan, Bang.” ujar Nina sedikit ragu saat sang anak di gendong Kevin yang begitu nampak kaku.
“Nina, tangannya sepertinya kurang nyaman.” sahut Kevin yang menunjuk tangan bayi itu terhimpit tubuhnya.
Sejenak Nina gugup saat melihat itu. Apa artinya ia akan menyentuh tubuh pria itu demi mengambil tangan sang anak.
“Nina?” Panggilan Kevin membuat Nina sadar ketika ia melamun.
“Ah iya, Bang.” jawabnya.
Benar apa yang dia pikirkan. Tangan Nina tak sengaja menyentuh dada bidang pria tampan di depannya ini. Keduanya tampak canggung setelah itu.
“Makanlah dulu.” pintah Kevin.
Meski tak enak hati, namun Nina tak mau mengundur waktu. Lebih cepat lebih baik jika dirinya makan dan cepat selesai agar Kevin juga bisa makan setelahnya.
Keduanya pun harus makan bergantian demi menjaga si baby. Moment yang seharusnya bisa keduanya nikmati, tapi Kevin tak bisa egois. Wanita yang ia bawa saat ini bukanlah wanita yang masih sendiri. Ia memiliki tanggung jawab untuk selalu ada di samping sang anak yang masih bayi itu.
Hingga akhirnya selesai makan malam itu, Kevin berdehem sejenak untuk menetralkan diri dari rasa canggungnya.
“Nina, saya bertujuan mengajak kamu keluar malam ini karena niat saya yang ingin tahu apa kamu bersedia menjadi pendampingku?” Tanpa basa basi, itulah Kevin yang sebenarnya.
Nina terdiam sejenak mendengar ucapan pria di depannya saat ini. Tak tahu harus menjawab apa, sebab ini pertama kalinya ia berbicara mengenai hal yang serius seperti ini.
“A-apa abang serius juga bisa menerima anakku-“ belum selesai Nina berucap, Kevin sudah lebih dulu menyela kata-katanya.
“Dia anak kita. Bukan anakmu saja, Nina. Dari awal saya sudah katakan saya menerima semua yang ada pada diri mu dan juga hidupmu.” Nina beralih menatap sang anak yang nampak lelap di pangkuan Kevin saat ini.
Seorang bayi yang polos tentu tak akan pandai bertingkah di luar keinginannya. Ia akan sangat bisa merasakan kenyamanan dari orang yang tulus dengannya. Dan itulah yang harus Nina utamakan. Kebaikan Kevin selama ini pun tidak sepantasnya ia ragukan lagi.
“Iya, Bang. Saya bersedia menjadi penamping abang.” Kevin tersenyum menatap Nina yang menunduk malu saat ini.
Keduanya malam itu pun lanjut membicarakan semua perihal pernikahan dan rencana hidup mereka ke depannya. Rasanya Kevin tak sabar untuk segera menjalani hari dimana ia menjadi seorang suami dan seorang ayah. Tentu rasanya sangat menyenangkan. Apalagi kepulangannya setiap kerja di sambut dengan mereka berdua.
Membayangkan hal itu Kevin sampai tersenyum-senyum sendiri saat di depan Nina.
visualnya thort
TDK punya hati
semoga Kevin cepat menikahi nina
nyawa taruhannya.