Pertemuan tak direncanakan antara CEO Reswara Corp dengan Alintha Kasandra merupakan awal kisah mereka.
CEO Reswara Corp yang merupakan penerus keluarga perusahaan Reswara, Reizan Danish Reswara diusia 25 tahun dia sudah memegang kendali perusahaan.
Lalu Bagaimana pertemuan antara Pemilik perusahaan dengan karyawan itu terjadi, dan apakah ada peristiwa lain selanjutnya.
Akankah Rei terpikat oleh keistimewaan Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erenkaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menepati Janji
Arah pandangku berhenti pada satu objek yang tak asing yang tengah duduk manis di kursi customer sambil meminum sebuah orange juice, dan dia pun tersenyum padaku.
"Hahhhhhh." ku hela nafas panjang, aku tak bergerak namun sosok itu yang kini mendekat ke arah ku.
"Sudah selesai mainnya."
o.
o.
Bibir ku kelu untuk menjawabnya bahkan hanya untuk menjawab iya atau tidak, karena aku seakan belum yakin kehadiran nya di depan mataku sekarang.
Greepppp..
Dia mendekap ku erat, nyaman sepersekian detik aku tak mampu bernafas. Memendam kerinduan yang mendalam sekaligus lega aku dapat melihatnya lagi.
"Mmmass." gumam ku menyadarkannya karena kita sedang berada di muka umum.
"Sebentar lagi Lin, masih kangen." jawabnya yang enggan menguraikan pelukannya.
Srettt..
"Ihhhh, gak malu apa banyak orang tau." ucapku sembari mencubit gemas pinggangnya.
"Awhhh ya ampun iya-iya." jawabnya lalu menggenggam tangan ku dan membawa ku keluar dari cafe.
Dia Reizan manusia yang beberapa hari ini atau bahkan sudah sebulan lebih kami tak bertemu kini dia telah datang. Meskipun dia datang disaat yang tak tepat karena bagaimana pun aku sudah mulai bergerak lebih.
"Maaf yah mas baru bisa pulang." ucapnya sembari mendudukkan ku disebuah taman masih di dekat cafe tempat ku interview beberapa saat yang lalu. Sebenarnya tak perlu dia menjelaskan kenapa sudah terlewat satu bulan dia baru datang karena bagiku saat ini dia sudah ada di depan ku sudah cukup membuktikan keseriusan nya.
"Nggak papa yang penting mas sudah disini sekarang." jawabku sembari menangkupkan tangan ku di wajahnya, hanya sekedar menamatkan jika wajah yang di depan ku ini benar-benar dia.
"Mau sampai kapan muka ku di lihatin terus." katanya sontak membuatku merona. "Pulang yuk, batalkan semua rencana mu itu." lanjutnya, aku tau yang dia maksud rencana ku untuk bekerja, namun aku terdiam karena aku masih baru ingat apa yang harus aku lakukan jikalau ternyata aku lolos di salah satu tempat yang sudah aku datangi.
"Maksud mas, rencana mu yang ingin bekerja. Bukankah mas udah bilang kalau kamu gak perlu cari kerja kenapa ngeyel, heuuumm." ucapnya sedikit sengit, aku sudah menduga akan hal itu.
"Iya Alin tau, Alin hanya bingung besok kalau ada telp Alin diterima disalah satu cafe gimana." jawabku.
"Ya tinggal bilang sudah keterima ditempat lain beres kan gak mungkin juga bakal dicheck sama orangnya." jelasnya, mungkin yang dimaksud mas Rei disini dengan merekayasa jawaban ku atau istilahnya menolak dengan bahasa halus.
"Sekarang jelaskan sama mas kenapa cari kerja, apa karena mas telat datangnya atau kamu yang gak sabar nunggu mas." tanyanya, aku pun menggeleng.
"Pulang aja dulu nanti Alin jelasin." jawabku menyela karena angkot tujuan daerah rumah bulek Sri terlihat mendekat, lalu aku memberhentikan, mas Rei pun mengikuti ku tanpa penolakan.
Tak lama kami sampai di gang rumah bulek Sri bernama gang Lawang Pitu, entah apa sejarah nya sehingga kawasan ini bernama Lawang Pitu. Lawang Pitu artinya tujuh pintu, mungkin semua penduduk disini hanya memiliki tujuh pintu dirumahnya entahlah aku tak sempat menghitung pintu rumah bulek Sri.
Setibanya di pelataran bulek, nampak ibu ku sedang menyapu teras rumah namun beliau tak menyadari kedatangan. Mas Rei mendahului jalan ku, aku hanya melihat punggung tegapnya yang mendekati ibuku.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum... salam." sahut ibu ku terjebak nampaknya beliau terkejut melihat sosok di depannya. Mas Rei meraih tangan ibu ku mencium takzim.
Lagi-lagi sepertinya ibu masih belum tersadar, terbukti dengan keterdiaman nya memandang mas Rei.
"Bu." panggil ku menyadarkan ibu ku dari lamunannya, spontan ibu mengerjap dan menoleh ke arah ku.
"Sopo kae sing namu Ndok (siapa itu yang bertamu Ndok)." teriak bulek Sri membahana dari dalam rumah. Tak lama beliau pun keluar dan turut dalam kebingungan dengan tamu yang datang.
"Mas Bagus niki sinten. (mas ganteng ini siapa)." tanya bulek Sri pada mas Rei.
"Saya Rei Bu, bukan Bagus." jawab mas Rei membuat bulek Sri dan ibu saling pandang, wajar mas Rei kurang paham dengan bahasa Jawa karena sejak kecil dia yang tak pernah menginjak kan kakinya ditanah Jawa.
Segera aku menggiring mereka masuk kedalam rumah, karena belum nampak ada pergerakan dari kedua wanita paruh baya itu.
"Hayuuk masuk dulu."
Aku mempersilahkan mas Rei duduk diruang tamu, begitu juga dengan ibu dan bulek Sri, aku mendudukkan mereka dihadapan mas Rei.
"Alin bikinin minum dulu yah." ucapku lalu melenggang masuk kedapur. Setelah itu entah apa yang mereka obrolkan aku tak dapat mendengarnya dengan baik. Sayup terdengar ibu mengatakan masih terkejut dengan kedatangan mas Rei karena dipikirnya Reizan tak akan datang demi ku.
"Diminum dulu baru lanjut ngobrolnya." sela ku pada ketiga human itu. Aku melirik mas Rei yang nampak tegas, tak ada keraguan sedikitpun.
"Trus kepriye Le, Rencana kowe. (trus gimana nak, rencana mu)." suara bulek Sri menengahi.
"Saya hanya ada waktu satu Minggu bulek sebelum kembali ke Jepang, dan niat saya membawa Alin dan ibu juga." jawabnya.
"Rak oleh loh Le, angger Kowe gowo-gowo wae. (ya gak boleh nak kalau langsung dibawa-bawa saja)." sahut bulek Sri.
"Jadi maksud bulek yah kalian harus nikah dulu, gak boleh tinggal bersama tanpa status pernikahan." jelas bulek Sri.
"Tentu saja bulek, sudah Rei persiapkan dari seminggu yang lalu." jawab mas Rei sontak membuat kami bertiga terkejut. Seminggu yang lalu katanya, kapan dia datang lalu apa bisa mengurus berkas pernikahan semudah itu. Sungguh tak habis Fikri, semuanya diluar Nurul.
"Kapan nak Rei mengurusnya." potong ibuku yang baru bersuara, karena sedari tadi nampak bulek Sri yang dominan bicara.
"Dari seminggu yang lalu Bu, Rei mengirim utusan untuk mengurus. Karena Rei tidak bisa menghubungi Alin jadi Rei bergerak cepat." Jawab mas Rei tegas, bahkan dia tak nampak ragu sedikitpun apalagi menghadapi bulek Sri yang sedikit bar-bar.
Ibu dan bulek terdiam tak ada satupun dari mereka yang membuka suara, aku jadi bingung juga dengan situasi ini. Lalu siapakah utusan mas Rei yang mengurus pernikahan kami dan apa semua yang diucapkan mas Rei benar adanya.
"Mmass, kalau semuanya sudah diurus lalu keluarga mas gi.. gimana." tanyaku pelan sedikit terbata, dia hanya tersenyum tak menjelaskan.
"Aku gak punya keluarga, kamu lah bakal keluarga ku. Sedari kecil aku hidup seperti boneka, tak bisa menentukan pilihanku atau keinginan ku jadi masalah berkeluarga aku gak mau lagi dituntun keluarga ku." jawabnya lirih namun bagaimana pun juga masih ada bulek dan ibu disana yang mendengarnya.
"Saya mantap Bu, bulek dengan pilihan saya jangan meragukan Rei, saya akan bertanggung jawab pada hidup Alin. Saya belum bergelimang harta namun saya yakin Alintha bisa mendampingi Rei dalam kondisi apapun." ucapnya meyakinkan kedua orang tua ku itu, ibu tersenyum dan bulek pun mengangguk tak ragu dengan sikap mas Rei. Jujur aku hanya menjadi penonton saja, tetap kedua wanita kesayangan ku lah yang akan menjatuhkan putusan.
"Pergilah nak, bahagia lah kalian berdua. Tapi Ibu tidak akan kemana-mana."
o_
o_
o_
My Lovely Pak Bos