Selena Putri Himawan seorang gadis yatim piatu berusia 18tahun,yang harus selalu bekerja keras untuk hidupan melanjutkan sekolahnya. Untuk semua alasan itu, gadis yang sehari-hari di panggil Selly itu, terpaksa harus bekerja paruh waktu di sebuah restoran.
Suatu hari, Selly tidak sengaja bertemu dengan Alviandi Wijaya, seorang Ceo muda berusia 25 tahun, yang terkenal dengan kecerdasan, ketampanan dan kesuksesannya dalam memimpin perusahaan milik mendiang sang ayah.Yaitu, Wijaya Group hingga menjadi perusahaan nomer 1 di wilayahnya,dengan cara yang kurang menyenangkan.
Semuanya memang di miliki oleh seorang Alviandi Wijaya,tapi ada satu hal sangat penting yang tidak bisa dimiliki seorang yang nyaris sempurna sepertinya. Yaitu, penglihatan.
Satu hari, terjadi kesalahpahaman antara Selly dan Alvin yang memaksa mereka harus menikah.Apakah yang terjadi sebenarnya???, dan apakah pernikahan yang terpaksa itu,akan bisa bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keisya Putr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bekal dari istri
Tak terasa seminggu sudah Selly sah menyandang status sebagai istri Alvin. Rutinitas yang ia jalani tiap harinya sama seperti istri- istri pada umumnya.Seperti menyiapkan baju ganti,air untuk mandi, hingga sesekali membuatkan makanan untuk suaminya. Meskipun di rumah itu sudah ada ART yang di tugaskan untuk menyajikan makanan .
Seperti pagi ini, Selly sengaja bangun lebih awal selain agar bisa membuatkan makanan untuk suaminya. Hari ini juga, hari pertama ia masuk kuliah. Jujur saja ,ia sama sekali tidak tahu seperti apa dan bagaimana kampusnya nanti. Karena seperti biasa, semenjak ia masuk ke keluarga Wijaya, semua urusan tentang sekolah, rumah kontrakan dan hal penting lainnya di tangani oleh Hans. Bukannya ia tak mau turun tangan sendiri, tapi sang mertualah yang selalu melarang dan mengatakan " Biarlah Hans yang mengurusnya " .Hingga urusan tentang universitas mana yang ingin ia masuki, semua sudah rapi ditangan seorang Hans Angkasa Putra.
Jujur Selly kagum pada Hans, dibalik sosoknya yang kocak atau lebih tepatnya agak gesrek.Tapi, jiwa pekerja keras dan tanggung jawabnya sangat tinggi. Terbukti dengan berbagai tugas yang di berikan oleh Alvin ,ataupun maminya selalu berakhir dengan hasil yang rapi dan sempurna.
" Vin.m,bangun! .Gue mau berangkat lebih pagi ke kampus. Soalnya ini hari pertama gue, dan gue gak mau telat! " Selly menggoyang tubuh Alvin, berharap pemiliknya segera bangun.namun Alvin hanya bergumam tak jelas.
" Hmmm."
"Vin,bangun.!"
" Hmmm,..." Lagi-lagi jawabannya tetap sama ,membuat Selly sangat kesal.
"Terserah lo mau bangun atau gak!. Yang penting semua udah gue siapin. Sekarang gue pergi dulu!." Ketus Selly,segera meninggalkan Alvin yang terlihat begitu nyaman dengan mimpinya.
" Mau kemana sayang? tumben pagi-pagi sudah rapi? " Tanya Rina yang melihat menantunya menuruni tangga dengan berpakaian rapi.
" Ah iya, Selly mau berangkat kuliah mi." Ucap Selly tersenyum manis.
" Sepagi ini?"
" Iya Mi,soalnya Selly mau ketemuan sama Reta sama Alice juga!. Kangen, udah seminggu gak ketemu mereka berdua rasanya ada yang kurang. " Jelas Selly.
" Seperti pacar saja ada ketemuan segala.! "
" Hehe, gimana mi, boleh kan..?? " Tanya Selly dengan mata berbinar.
" Tentu saja! " Jawab Rina tersenyum lembut.
" Yes! makasih mami.! " Selly mencium kedua pipi mertuanya secara bergantian dan terlihat ekspresi wajahnya begitu senang membuat senyum mengembang di bibir Rina.
" Ya udah ,Selly berangkat dulu ya mi!." pamit Selly memeluk erat sang mertua.
" Eh, tunggu dulu! kamu sudah sarapan belum?? " Tanya Rina. melepas pelukannya.
" Udah kok!. Mami tenang aja. "
" Hmm syukurlah! ."
" Iya. ya udah Selly berangkat ya mi,daaa!" Selly melambaikan tangan pada mertuanya, dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya sambil melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
" Eh, tunggu! " Ucapan Rina membuat Selly menghentikan langkahnya ,dan berbalik menatap sang mertua.
" Ada apa mi? Tanya Selly penasaran.
"Biar pak kardi mengantar mu nak!"
" Oh,kirain ada apa?. Gak usah mi,Selly udah janjian sama Reta. Bentar lagi sampai kok.! "Ucap Selly memberi pengertian.
Tin! tin!
Suara klakson mobil berbunyi,sebelum sempat Rina mengeluarkan kata-kata. dan Selly yakin itu pasti Reta.
" Tuh kan mi,jemputan Selly udah datang! dahhhh mami. Selly berangkat ya! " Selly kembali melambaikan tangan dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Yang dibalas senyuman oleh Rina sebelum benar-benar menghilang dari pandangan.
"Bi, tolong panggilkan Alvin dan Hans untuk sarapan! " Perintah Rina pada salah satu ART.
" Baik nyah..!"
Tak berapa lama Alvin dan Hans turun menuju ruang makan, dengan berpakaian rapi dan bersiap untuk kembali bekerja setelah libur cukup lama karena pernikahan Alvin.
" Kakak ipar mana bos?. kok gak ikut sarapan!" Tanya Hans, yang tak mendapati keberadaan Selly. Sayangnya yang di tanya sama sekali tak bergeming.
" Aelahhg,berasa ngomong sama tembok gue!"Gerutu Hans.
" Dasar aneh!, masa istri sendiri pergi gak tau sih! .Di comot orang baru tau rasa lo! " Lanjutnya lagi.
" Husss, mulutnya Hans! " Tegur Rina.
" Eh, maaf tante! .Habisnya Hans kesel. orang ditanya baik-baik, bukannya jawab malah diem aja macam patung.! "
" Selly sudah berangkat ke kampusnya tadi! " Jelas Rina.Hans hanya ber oh ria.
Pelayanan datang menghidangkan makanan, setelah selesai pelayanan tersebut undur diri tanpa mengatakan apapun. Ketiganya mulai menyantap sarapan masing-masing. Setelah selesai, Alvin dan Hans berpamitan untuk segera ke kantor. Kedua laki-laki itu berjalan beriringan menuju mobil bersama Rina yang mengantar mereka sampai di depan pintu.
" Eh, tuan! tunggu dulu tuan muda! " Seru bi yati yang berlari kearah mereka sambil membawa sesuatu yang dibungkus dengan tas kain berukuran sedang.Membuat Alvin mengurungkan niatnya untuk masuk ke mobil.
" Ini tuan!, bibi hampir lupa. " Ucap Bi yati. menyerahkan benda tersebut pada tuannya. dan di sambut oleh Alvin.
" Apa itu bi? " Tanya Rina penasaran.
." Ini bekal yang di buatkan non Selly Nyah,untuk tuan muda ." Jelas bi Yati menoleh pada majikannya yang berada di ambang pintu.Rina tersenyum mendengar penjelasan ARTnya itu.
"Oh ya, dan sarapan hari ini juga non Selly yang memasak Nyah. " Jelasnya lagi.
" Benarkah? ." Tanya Rina memastikan. Sambil menatap ke arah Alvin dan Hans yang masih berdiri di samping mobil. Dengan Hans yang tersenyum penuh arti ,dan Alvin yang masih setia dengan diamnya. Tapi, kita juga tak tau apa yang ada di pikirannya saat ini.
" Iya, Nyah!. "
" Wessss so sweet,yang dapat bekal dari istri tercinta! " Goda Hans.
" Berisik!, udah ayo masuk! ."ketus Alvin.di balas cengiran oleh Hans.
" Tuan tenang saja, non Selly juga membuatkannya untuk tuan! " Ucap bi Yati pada Hans.
" Udah gue duga!, kakak ipar emang orang yang manis dan pengertian. " Puji Hans.
" Biliran dapet makanan aja. baru lo puji-puji !" celetuk Alvin tersenyum sinis.
" Siapa bilang!. Tiap hari kali gue puji kakak ipar gue yang cantik itu. Lo aja gak nyadar! "
" Berisik lo!.Lo mau berangkat atau, tetep berdiri di situ ?!" Ketus Alvin. yang sudah berada di dalam mobil.
" Iya bentar, sabar napa?! " Gerutu Hans. " Dahhh tante, berangkat dulu ya! " Pamit Hans yang sudah duduk di depan stir nya, sambil melambaikan tangan pada Rina. Sedetik kemudian, mobil melaju meninggalkan rumah megah tersebut. Rina hanya bergeleng kepala menyaksikan tingkah dua laki-laki itu, yang hampir setiap pagi selalu ada saja yang di perdebatkan.
*******
Di kampus barunya, Selly tampak menikmati dan mengamati suasana dan berinteraksi dengan orang-orang baru.
" All,Ret.., nanti temenin gue ya! " Ucap Selly pada dua sahabatnya yang berjalan di sampingnya menyusuri kampus.
" Kemana? " tanya Reta.
"Ke kontrankan gue yang dulu."
" Ngapain? " Kini gantian Alice yang bertanya.
Gue mau kerumah kak Niko." jawab Selly santai.Dan mendapat tatapan aneh dari kedua sahabatnya
Selly menatap mereka secara bergantian seakan bertanya apa maksud dari tatapan itu.
" Selly, lo itu udah nikah ya,otomatis lo juga udah punya suami. Lo gak takut kalo nanti suami lo itu cemburu!. Dan lebih parahnya lagi, gimana kalo bang Niko masih ngarep sama lo??. Lo kan tau sendiri ,kalo dia suka sama lo. "Cerocos Alice membuat Selly melongo kehabisan kata-kata.
" Ngomong apa sih lo?!! " Ucap Reta memukul pelan kepala Alice
" aww,sakit Ret.! " Ringis Alice memegangi kepalanya.
" Lebay lo! ,orang gue mukulnya pelan juga!. Normalnya orang paling gak berasa. "
" Biarin!, nih kepala tiap tahun di fitrahin sama emak gue. Seenaknya aja lo main pukul- pukul sembarangan! ."
" Cih,dasar pendek! "
" Apa lo bilang??! "
" Udah, kalian berdua kenapa jadi berantem sih!? Alice lo dengerin gue!. Gue kerumah kak Niko cuma buat pamitan sama tante Ratna.Kalian tau sendiri, waktu pindahan kemaren semuanya di urus sama si Hans dan gue sama sekali gak ikut andil. Jadi, nanti gue kesana mau pamitan sama tante Ratna sekalian ngucapin terimakasih gitu, " Jelas Selly. Dan Alice hanya ber"oh" ria.
" Makanya kalo orang ngomong tuh, dengerin sampe selesai jangan main potong aja.! "Pungkas Reta.
" Hehehe.Sorry Sell.," Ucap Alice sambil nyengir kuda.
" Ya gak papa, udah ah,ayo kita lanjutin lagi keliling nya. " Selly tersényum merangkul bahu kedua gadis di sampingnya.
" Let's go..!" Ucap Alice dan Reta bersamaan. ketiga kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda.
*******
Di kantor Alvin semua berjalan seperti biasa. Hans yang masih sibuk dengan tumpukan berkasnya dan Alvin yang masih diam sambil mendengarkan beberapa hasil rapat yang di pimpin dan di rekam oleh Hans. Selama ia tidak bekerja.
Di sisi lain, ada perempuan cantik dengan perawakan yang proporsional dan tampak anggun ,memasuki gedung perkantoran Wijaya Group.
" Nona Shinta?! " Ucap salah satu resepsionis dengan tatapan tak percaya.
" Apa Ceo kalian ada di kantornya?!" Ucapan perempuan cantik itu terdengar angkuh.
Resepsionis di depannya hanya mengangguk dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Tanpa berkata apapun Shinta melangkahkan kaki menuju ruangan yang ia tuju.
" Hai ,Hans! apa kabar? " Sapa shinta setelah sampai di depan ruangan Alvin, dan melihat Hans yang sangat fokus dengan pekerjaannya.
" Shinta??? " Hans menatap tak percaya pada perempuan di depannya,yang sedang tersenyum manis.