"Mas Farel! Ngapain kamu bersama wanita itu? Kurang apa Aku Mas? Tega kamu tidur dengan wanita jallang ini?" umpat Nindy saat melihat suaminya berduaan dengan salah satu wanita yang merupakan tetangganya.
"Salah sendiri! Kalau punya suami, dijaga dong suaminya, jangan sampai kelayapan ke rumah tetangga." jawab Hani, wanita cantik yang menjadi tetangga pasangan Farel dan Nindy.
Seorang wanita cantik dan seksi yang menjadi tetangga Farel dan Nindy, datang untuk menghancurkan rumah tangga mereka, siapakah sebenarnya Hani? Dan motif apakah yang membuat Hani tega menggoda suami tetangganya?
Yuk kepoin keseruan mereka 🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelakor teriak Pelakor
"Ngomong apaan sih kamu! Kamu mau Aku pecat? Hani tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku, hanya aku wanita yang paling cantik bagi Mas Farel, dan Hani ku pastikan akan segera pergi dari kompleks kita. Dan akan ku buat malu dirinya, karena dia sudah berani mengusik rumah tanggaku." umpat Nindy dengan geramnya.
"Iya iya maaf Nyonya! Saya tidak bermaksud berkata seperti itu, hanya saja Saya berkata sesuai yang sebenarnya, bukan bermaksud membandingkan Nyonya dengan perempuan itu, yang jelas Nyonya itu tidak ada tandingannya, makanya Nyonya harus getol membuat Tuan Farel kembali ke dalam pelukan Nyonya, apalagi Nyonya akhir-akhir ini terlalu sering meninggalkan Tuan Farel, tentu saja Tuan Farel mencari kesenangan diluar rumah, eh lah kok nemu tetangga yang cantik kayak si Hani itu." seru Arum.
Rupanya ucapan Arum untuk sesaat Nindy rasa ada benarnya, mungkinkah jika dia meluluskan permintaan sang suami yang pernah mengatakan jika dirinya ingin memiliki seorang bayi akan membuat Farel kembali kepadanya, saat itu tercetus ide untuk memberikan anak untuk suaminya.
"Iya kamu benar! Mungkin saja jika aku menuruti permintaan Mas Farel untuk memiliki momongan bisa membuatnya kembali padaku." seru Nindy yang mulai berpikir untuk bisa hamil.
Sang pelayan pun mengiyakan ucapan Nindy, "Nah itu dia Nyonya, jika Anda bisa memberikan seorang anak untuk Tuan Farel, maka tidak menutup kemungkinan Tuan Farel pasti kembali kepada Anda, mengingat Anda akan memberikan anak untuknya." ucap Arum yang mendukung rencana majikannya.
"Tapi sekarang Mas Farel sudah tidak mau menyentuhku, dia bahkan tidak perduli lagi, bagaimana bisa Aku punya anak jika dia saja tidak mau menyentuhku?" keluh Nindy yang bingung bagaimana cara agar dirinya bisa bersama menghabiskan waktu bersama Farel kembali.
"Ya ampun Nyonya! Bukankah itu sudah keahlian Anda membuat Tuan Farel klepek-klepek, dulu Tuan Farel saya perhatikan kayak dicocok hidungnya, nurut terus sama Nyonya, nggak pernah membantah perintah Nyonya, mungkin Nyonya harus bisa seperti itu lagi, buat Tuan Farel tergila-gila lagi dengan Anda." kata sang pembantu.
"Andai saja Aku bisa mendapatkan kalung itu kembali, pasti Mas Farel bisa ku kendalikan, tapi Aku belum bisa menemukan kalung itu, dan itu akan membuatku kesulitan untuk mendapatkan perhatian Mas Farel lagi." batin Nindy yang cemas karena kalung pemikat dari Ki Sepuh sudah tidak ada lagi.
"Nyonya harus bisa membuat Tuan Farel betah berada di rumah, buat Tuan Farel nyaman dengan Nyonya, jangan dijudesin dia, Nyonya. Ingat! Pria itu butuh kelembutan, Nyonya. Kalau Anda sering marah dan judes, ya bisa dipastikan Tuan akan berpaling dan mencari yang lebih bisa membuatnya nyaman, misalnya nongkrong bersama Hani eh!" celetuk Arum sembari menutup mulutnya karena tanpa sengaja menyebut nama Hani.
"Teros ... teros ... kamu lama-lama jadi ngefans apa sama si Hani itu, Aku ini majikan kamu, Aku yang bayar kamu, harusnya kamu belain Aku, memuji aku bukannya Pelakor sialan itu!" umpat Nindy sembari menunjuk ke wajah Arum.
"I-iya Nyonya, maaf saya nggak bermaksud bicara seperti itu, maaf!" sahut Arum yang panik dan meminta maaf kepada Nindy.
"Hahh udahlah! Aku mau mandi, ngobrol sama kamu dari tadi nyebut nama Hani mulu, bosen!" ucap Nindy sembari dirinya beranjak pergi meninggalkan Arum yang berdiri mematung menatap ke arah bawah. Setelah melihat Nindy yang sudah pergi, Arum pun berekspresi sinis.
"Idiiih Pelakor teriak Pelakor, udah lupa ya jika dulu Nyonya juga seorang Pelakor! Kok gethiiiinnggg aku!" umpat Arum dengan wajah sinisnya.
...BERSAMBUNG...