Seatap dengan mertua? Siapa takut!
Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.
Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.
Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 Solusi Sementara
“Maafin Ely ya, Bu. Ely udah bilang nyesel kok tadi ke Gilang,” bujuk Gilang kepada Bu Tutik yang saat itu tak mau keluar kamar.
Ia memilih berdiam di dalam kamar dan meminta Galih datang membawakannya nasi bungkus di pagi, siang dan malam. Hal itu dikarenakan ia sedang gondok dengan Ely. Tak mau bicara dan juga makan apa pun yang dimasak oleh istri dar Gilang tersebut.
Galih malah sengaja berkata sanagt sibuk di kantor ada lembur sehingga ia hanya akan bisa mengantar nasi nanti sepulang kerja di jam tujuh malam. Spontan saja Bu Tutik semakin merajuk.
“Anak-anak pada dibesarin tapi udah besar kerjanya cuma bisa nyakitin hati orangtua ya kalian ini!” gerutunya berkali-kali di telepon.
Galih lantas meminta kakaknya untuk menasihati Ely agar tak berantem terus dengan ibu mereka. Dan karena merasa tak lagi mampu menasihati istrinya melalui telepon, akhirnya siang itu juga Gilang pulang ke rumah Bu Tutik.
“Bu, keluar, dong. Maafin Ely, ya? Ini dia udah masakin sayur lodeh sama perkedel jagung kesukaan Ibu, nih. Santannya sedikit kan, Bu?”
Gilang terus membujuk ibunya agar mau keluar dan makan.
Akhirnya, mungkin karena memang kelaparan menunggu Galih tak juga datang, akhirnya Bu Tutik menuruti ajakan Gilang. Ia duduk di ruang makan dengan wajah masih ditekuk. Harapannya ia masih mau mendengar ucapan maaf itu keluar dari mulut menantunya sendiri. Bukannya malah diwakilin ke suaminya aja.
Tapi, rupanya Ely tetap kekeh pada pendiriannya bahwa dirinya tidak salah. Makanya dia tak akan pernah sudi untuk meminta maaf pada sang ibu mertua. Mereka pun makan malam satu meja, tetapi dengan mulut yang terkunci rapat. Sungguh kondisi yang begitu tak mengenakkan.
Beberapa kali Gilang memancing obrolan untuk membuka percakapan di antara kedua wanita itu. Tapi, jawaban masing-masing dari mereka hanya pendek-pendek dan terkesan tak ingin bercakap lama. Akhirnya Galih pun menyerah pada keadaan. Karena segala upaya sudah dilakoninya tapi toh masih belum bisa menetralkan suasana.
Baru keesokan harinya Bu Tutik akhirnya mau bertegur sapa lagi dengan Ely karena terpaksa dia ingin meminta dimasakin pepes ikan patin.
“Baik, Bu. Nanti Ely masakin.” Kali ini Ely bersikap patuh karena hitung-hitung sebagai permintaan maafnya untuk kejadian kemarin.
Sementara Risvi juga semakin bisa ditenangkan oleh Lana. Tak lagi ia stress kala di rumahnya sendiri sang Ibu memang membantu segala kegiatannya. Melarangnya banyak melakukan pekerjaan rumah dulu dan juga hampir selalu mengambil alih tugas menggendong Risvi dengan senang hati.
“Aduh, kamu di sini terus aja lah sama Galih. Ibu dan Ayah nggak keberatan, loh.” Bu Asih berkata kepada Lana di suatu malam ketika ia menemani putrinya yang begadang karena Risvi sedang *****.
“Yaa Allah, padahal Ibu jadi repot sekali kan kalau kami di sini,” jawab Lana tak enak hati kalau terus-menerus merepotkan ibunya yang sudah tak muda lagi itu.
“Mana ada repot? Kalau untuk cucu mah Ibu itu malah seneng, Lana. Apalagi cucunya gemesin kayak gini. Aduh, kalau kalian tinggalin nanti bisa-bisa Ibu rind uterus nggak bisa tidur.” Bu Asih kembali berkata meyakinkan.
Dan memang Bu Asih begitu dekat dan sayang terhadap Risvi. Kata orang, memang dengan cucu pertama, semua nenek dan kakek akan begitu sayang dan perhatian juga cenderung memanjakan.
Tapi, kalau diingat-ingat, Lana tak melihat hal yang sama pada diri Bu Tutik. Ibu mertuanya itu juga tidak begitu dekat dengan Fifi. Kan Fifi adalah cucu pertama buat beliau. Bahkan dulu, ketika Fifi masih berusia di bawah lima tahun, anak kecil itu akan terus menangis dan minta pulang setiap kali dibawa berkunjung ke rumah Bu Tutik. Lana sampai sedikit heran dulu. Tapi, kalau melihat bagaimana sikap Risvi kecil terhadap beliau. Risvi tampak sekali tak pernah bisa nyaman di dalam gendongan maupun pangkuannya.
“Ya nanti Lana bilangin dulu Ke Mas Galih, ya, Bu. Tapi kayaknya sih nggak bisa.” Lana kemudian mengingat lagi bahwa minta izin di sini dua minggu saja harus melewati perdebatan panjang. Astaga!
“Paling nggak biar rumah kalian selesai dibangun dulu. Jadi nanti kalian pindah dari sini bisa langsung ke rumah kalian sendiri, tidak perlu ke rumah Bu Tutik,” kata Bu Asih kemudian.
Lana curiga ibunya itu sudah menduga bahwa ia dan sang ibu mertua kurang bisa akur. Dan tentu Bu Asih juga tahu kalau Lana nanti akan kembali stress kalau masih seatap lagi dengan Bu Tutik.
Lana langsung menyampaikan pesan ibunya kepada Galih ketika malam itu mereka sudah akan tidur. Mereka selalu terbiasa bercakap-cakap sebelum tidur di ranjang. Kalau istilah kerennya, pillow talk.
“Mas, kata Ibu kita sebaiknya tinggal di sini dulu aja sampai rumah kita selesai dibangun. Aku setuju deh kayaknya, Mas. Kan Mbak Ely bilang juga udah mulai bisa membiasakan diri dengan Ibu di sana, kan?”
“Gitu, ya? Mas kan nggak enak, Dek. Kita ngerepotin Ibu terus,” jawab Galih yang memang merasa tak pantas ia yang menantu lelaki malah tinggal di rumah oraangtua istrinya.
“Ibu bilang malah senang karena pengennya sama Risvi selama mungkin, Mas.”
Akhirnya Galih berunding dengan Gilang dan abangnya itu setuju. Alasannya karena ia semakin susah mencari uang di Malang. Bonusnya terus dipotong sementara kontrakan rumah juga bahkan dinaikkan oleh yang punya. Sepertinya sengaja agar Gilang tidak betah di sana. Soalnya Gilang ini yang paling sering nunggak uang kontrak katanya, ck!
“Nanti Galih cariin kerja di sini, Mas. Galih punya koneksi di penyaluran SDM, kok.” Galih memberikan harapan yang tentu saja direspon sangat positifoleh Gilang dan Ely.
Dan pembangunan rumah di sebelah Bu Ely pun segera dipercepat oleh Galih dan Lana. Mereka tinggal mengambil uang di deposito yang memang diperuntukkan khusu untuk pembangunan rumah mereka. Dari uang itu saja, hampir sembilan puluh persen pembangunan biayanya sudah tercover.
Sisa sedikit lagi barulah Galih mengambil tabungan pribadi Lana semasa ia masih kerja dulu. Hal itu membuat Ely merasa ia semakin ingin menetap di rumah Bu Tutik saja. Ia yakin bahwa Lana dan Galih akhirnya bisa membangun rumah berkat tinggal di rumah Bu Tutik sehingga mereka tak keluar uang sedikit pun untuk bayar kontrakan juga untuk makan. Sehingga ia berpikir kalau ia juga bersedia tinggal di sana selama sekitar dua tahun juga, mungkin dirinya dan Gilang juga bisa ngumpulin uang untuk bangun rumah sendiri di sebelahnya lagi nanti.
Padahal, bukan begitu kenyataannya. Kelak ia akan tahu bahwa Bu Tutik bahkan tak pernah keluar uang sepeser pun untuk masak, semua biaya di rumah itu ditanggung dari gaji Galih seorang. Galih dan Lana berhasil karena managemen keuangan keluarga mereka yang rapid an terkontrol plus dipaksa hemat juga oleh Bu Tutik.
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻