Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 MEMORI MASA LALU
Entah mengapa...
Saat melihat sosok bermahkota hitam yang berdiri di dalam rumahku itu, seketika ingatanku kembali ke masa lalu...
Ingatanku kembali hadir dengan lesatan yang cepat.
Sosok berbaju hitam.
Berkuku hitam.
Bermahkota hitam.
Sebuah pohon yang besar dengan akarnya yang menembus tanah.
Dan juga, satu anak perempuan yang disekap di alam ghoib penuh kelam dan mencekam itu!
"Harum! Harum!" sontak aku memanggilnya sambil berteriak, setelah mengingat semuanya.
Langsung kuletakkan begitu saja pakaian di atas meja teras, kembali aku coba untuk membuka pintu depan rumahku itu, dengan sedikit dipaksa lebih kuat.
"CEKLEK CEKLEK CEKLEK"
"Harum! Harum! Nak!" suaraku saling beradu dengan suara gagang pintu yang masih saja tak bisa terbuka.
Semakin cepat kugerakkan gagang pintunya, dan karena masih saja keras, tak bisa terbuka, terlintas dipikiranku untuk mendobraknya saja.
Aku mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang, dan...
"Greppp!!!"
Terasa sebuah tangan menyentuh cepat di pundakku, seketika membuatku berhenti untuk mendobrak.
Aku terkejut, dan langsung berbalik badan.
Ternyata yang menahanku barusan adalah Sekar Mayang, salah satu perewanganku.
"Mau apa kamu Nisa?" tanya Sekar Mayang.
"A-a-anu... Harum! Harum!" jawabku terbata.
"Kenapa dengan Harum?" tanya nya lagi.
Aku jadi sedikit kesal mendengarnya. Aku jadi acuhkan saja Sekar Mayangku. Dan aku berbalik badan lagi, hendak segera membuka pintu yang sedari tadi tak bisa terbuka.
Tapi, seketika aku terdiam, berdiri mematung.
Ternyata, pintu depan rumahku itu sudah terbuka.
Dan Harum berdiri di ambang pintu.
Tubuhnya yang masih sedikit basah, hanya berbalut handuk lebar. Tanpa memakai sehelai baju pun.
Harum menatapku dengan mata putihnya, dengan ekspresi keheranan.
"Ibu? Ibu kenapa teriak-teriak sih?" tanya Harum.
"Lo-loh? A-a-Ha-Harum?"
"Ibu kenapa? Aku baru selesai mandi loh..." ucapnya.
Aku pun menoleh lagi ke belakang, dimana Sekar Mayang barusan muncul.
Dan Sekar Mayang ternyata sudah menghilang.
Kembali ku tatap anakku, dan bertanya, "Nak, kamu baru selesai mandi kah?"
"Iya Bu. Kenapa sih?" respon Harum sambil memegangi handuk lebar yang menutupi seluruh tubuhnya.
"A-a-anu, enggak, enggak apa-apa." jawabku berbohong.
"Udah, ayo masuk. Jangan di depan pintu sambil telanjang begitu ah!" ucapku, sambil sedikit mendorong Harum agar segera masuk, agar tak ada orang lain yang melihat tubuhnya hanya berbalut handuk saja.
Langsung ku tutup saja pintu depan dari dalam, dan segera ku tuntun Harum masuk ke dalam kamar.
"Ibu kenapa barusan teriak-teriak?" tanya anakku itu lagi saat sudah berada di dalam kamar.
Aku diam, tak menjawab.
Malah, aku membuka handuk yang menutupi tubuh Harum.
Dengan segera, kuambilkan pakaian dalam, baju gamis, dan jilbabnya. Kubantu Harum memakai semua itu.
Dan, ketika sudah dipakai dengan rapi, aku pun tersenyum, melihat wajah cantik dan manisnya.
Tapi, dengan bayang-bayang ingatan masa lalu itu.
Dan juga dengan apa yang ku lihat barusan.
"Duuuh... Cantiknya anak Ibu..." kataku, sambil ku cubit pelan hidungnya.
Namun, seolah rasa penasarannya belum terjawab olehku, kembali Harum bertanya yang sama lagi.
"Bu, aku nanya dari tadi gak dijawab sih? Ibu kenapa? Kenapa barusan teriak-teriak?"
"Emmm... Enggak kok, enggak kenapa-kenapa Nak."
"Ah, Ibu bohong lagi ya?"
Aku menatap wajah dan mata putihnya itu, dengan ekspresi yang tak bisa kujelaskan.
"Bu!" suara Harum agak sedikit membentak.
"Eh?" terkaget sedikit aku.
"Ah, Ibu nih, kenapa sih?"
"Kamu tuh, udah dibilangin sama Ibu juga, Ibu gak kenapa-kenapa Rum. Udah, ayo, siap-siap berangkat ngaji. Ibu anterin kamu ya Nak."
Ekspresi heran anakku itu langsung berubah, menjadi riang.
"Wah, Ibu yang anterin aku sekarang?"
"Iya..."
"Asiiik... Hehehe... Ayo Bu!"
"Iya Nak, ayo!"
Akhirnya, kami berdua pun segera berangkat ke pendopo Ustadz Furqon.
Dan untungnya, saat belum jauh kami berdua berjalan, kami berpapasan dengan Bapak yang baru pulang dari musholla setelah sholat Zhuhur berjama'ah.
"Wah, cucu Kakek berangkat ngaji nih?" kata Bapakku.
"Iya Kek!"
"Enggak dianterin sama Kakek aja nih?"
"Enggak ah, sekarang biar Ibu aja yang anterin aku ya Kek."
"Hehehe... Iya, ya udah, ngajinya yang bener ya Rum. Jangan banyak bercanda pas ngaji. Biar tambah pinter kamu." nasihat Bapakku.
"Iya Kek! Aku berangkat dulu ya Kek, Assalamu'alaikum."
"Iya, Wa'alaikumsalam."
Harum segera mencium tangan Kakeknya, dan aku juga sama, mencium tangan Bapakku itu.
"Nis, pintu rumah kamu kunci gak?" tanya Bapak.
"Oh iya! Astaghfirulloh... Kelupaan aku Pak. Belom aku kunci pintunya." jawabku.
"Haduuuh... Kamu tuh, jangan sembrono gitu dong Nis!"
"Iya Pak, maaf, aku barusan buru-buru soalnya."
"Hmmm... Dasar. Ya udah, sana anterin anakmu dulu."
"Hehe, iya Pak..."
Dan Bapakku agak mempercepat langkahnya menuju rumah. Dan aku kembali fokus mengantarkan anakku untuk mengaji.
.....
.....
Selama di jalan desa yang terik, kami berdua beberapa kali berpapasan dengan warga yang sedang duduk-duduk santai di teras rumah.
Mereka semua menyapa kami dengan hangat.
Mereka juga menyapa Harum.
Terlihat Harum membalas sapaan mereka semua dengan senyuman dan lambaian tangan. Meski kedua matanya tak bisa melihat.
Sempat juga beberapa kali, Harum berpapasan dengan beberapa anak-anak desa seusianya. Mereka juga sudah seperti teman bermain yang akrab dengan anakku itu.
Aku yang melihat Harum bisa tersenyum bahagia seperti itu, menjadi amat terharu hatiku, berbalut rasa syukur yang mendalam.
Aku sampai beberapa kali tertawa kecil melihat tingkahnya bersama anak-anak seusianya, sambil terus melangkah, menemaninya ke tempat mengaji di pendopo milik Ustadz Furqon.
.....
.....
Sejenak, sambil terus mengikuti langkahnya...
Aku bergumam sendiri dalam hati...
"Ya Alloh, ternyata kayak gini ya, rasanya punya anak."
"Bahagia ternyata rasanya ya..."
"Gak terasa ya Nak, kamu udah hidup bareng sama Ibu selama dua tahun sekarang. Semoga, Ibu akan terus jadi sosok Ibu yang baik buat kamu ya Nak..."
"Gak terasa, usiamu sekarang udah 14 tahun Nak..."
"Gak nyangka, ternyata aku bisa sekolahin dia sampai kelas 2 SMP sekarang."
"Ternyata, aku bisa ngurus seorang anak sepertinya sejauh ini."
Seperti itulah isi gumaman dalam hatiku.
.....
.....
Dan akhirnya, kami berdua sampai di depan pendopo Ustadz Furqon.
Dan langsung, seperti biasa, Harum disambut dengan hangat oleh seluruh teman-temannya.
Dodi, Farhan, Haris, Hanum, dan juga temannya yang lain menyambut kedatangan Harumku.
Dan tak lupa juga, sudah ada satu sosok pengajar di pendopo itu.
Namanya adalah Zahrotun Nada. Biasa dipanggil Bu Nada oleh anak-anak.
Dia lah yang dahulu menggantikanku sebagai pengajar di pendopo ini. Saat aku putuskan untuk berangkat ke Kediri, menjadi pengasuh di pondok pesantren putri milik Ustadz Furqon itu.
"Assalamu'alaikum, Bu Nada..." sapaku saat melihatnya mendekat.
"Wa'alaikumsalam, Ustadzah Nisa..." jawabnya sambil mencium tanganku.
Wajahnya yang membulat proporsional, dengan bentuk mata yang juga sedikit membulat, hidungnya yang sedikit mancung, kulitnya yang putih bersih, serta sikapnya yang sopan dan anggun.
Usianya memang berada di bawah usiaku, baru 22 tahun, membuatnya menaruh hormat padaku yang lebih tua. Walau aku tak memintanya.
Entah kenapa, setiap kali aku melihatnya, aku jadi teringat dengan Bunga. Rekan kerjaku di Kediri, dua tahun lalu.
"Tumben nih, Harum dianter sama Ustadzah. Biasanya sama Kakeknya." kata Nada.
"Hehe, iya... Kebetulan, kan bulan ini saya masih libur kerja. Jadi, ya pengen nemenin Harum ngaji." jawabku.
"Oh... Begitu..." responnya sambil tersenyum manis.
"Oh iya, Bu Fatimah kemana? Kok gak keliatan?" tanyaku.
"Bu Fatimah ada di dalem rumahnya kok, Ustadzah mau ketemu? Saya panggilin ya..." kata Nada.
"Eh, enggak! Saya cuma nanya aja kok Nada."
"Eh, kirain mau ketemu. Ya udah Ustadzah, saya mau mulai ngajar dulu ya." kata Nada.
"Iya Nada, silahkan." jawabku.
Ketika Nada hendak menuju pendopo, aku memanggilnya lagi. Membuat langkahnya terhenti sesaat.
"Kenapa Ustadzah?" tanya Nada.
Aku berjalan mendekatinya.
Langsung saja ku rogoh saku gamisku.
Kuberikan sejumlah uang pada Nada.
"Loh? Apa ini Ustadzah?" tanya Nada dengan heran menatapku.
"Nanti, kalo ada tukang es lewat, kamu belikan anak-anak es ya. Biar mereka semangat ngajinya." kataku.
"Owalaaah... Masya Alloh... Barokalloh... Makasih banyak loh Ustadzah. Semoga rezekinya semakin banyak dan berkah! Hihi..." Nada mendo'akanku.
"Hehe, iya... Aamiin..." responku.
Dan akhirnya Nada kembali ke pendopo, memulai kegiatan mengajar ngaji semua anak-anak desa.
Aku memperhatikannya sejenak, masih berdiri di samping pendopo.
Dan...
Kembali ingatanku melayang ke masa lalu...
Seolah aku sedang melihat diriku sendiri, sedang mengajar anak-anak itu...
Sungguh, sebuah memori yang indah, yang layak untuk terus ku kenang dalam pikiran dan hatiku...