Aku harap ini adalah keputusan yang tepat untuk melupakan semua yang terjadi. Aku juga berharap Alexander bisa membahagiakanku. Aku ingin melupakan masa lalu dan si pria berwajah muram itu. Aku tidak ingin mengingat-ingatnya lagi. Namun, apakah semua akan berjalan sesuai kehendak hati?
Lanjutan Fall in Love with Lover
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Take Care
Sejuta bunga seolah bermekaran di hati ini. Aku tak percaya jika kami akan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Alexander telah menunjukkan bukti keseriusannya padaku. Saat ini, detik ini juga di hadapan ibu dan tetangga dekat lainnya. Sungguh aku begitu senang sekali.
Dear, kau tahu. Aku sangat bahagia saat ini.
Lantas aku mengangguk, menerima pernyataan cinta dan keseriusannya. Saat itu juga dia memakaikan cincin di jari manis kiriku. Dia mengecup tangan ini seraya menatapku. Aku pun tersenyum-senyum sendiri karenanya. Para ibu yang hadir juga ikut bahagia dengan momen indah ini.
"Puji Tuhan. Akhirnya inti dari pertemuan kali ini sudah terlaksanakan. Ayo, Ibu-ibu. Kita cicipi hidangan yang telah disediakan." Ibu Alexander meminta para ibu untuk segera mencicipi hidangan.
"Nyonya Smith memang baik hati. Wajar saja mendapat menantu yang baik juga. Selamat ya Lex, kau beruntung mendapatkan wanita secantik Lilia." Salah satu ibu mengucapkan selamat kepada kami.
Aku tersipu malu mendengarnya.
"Selamat, ya." Satu per satu ibu-ibu yang hadir pun memberikan ucapan selamat kepada kami.
Tak tahu mengapa aku merasa sudah seperti menjadi istrinya saja, bukan lagi kekasihnya. Acara sederhana ini mampu mengetuk pintu hatiku untuk menerima kenyataan jika Alexander lah yang akan kupilih untuk menemani sisa hidupku. Dan semoga saja pilihanku tidak salah untuk ke depannya. Aku juga berharap kami bisa segera menghamparkan altar pernikahan. Aku sudah tidak sabar ingin berlabuh bersamanya. Aku mencintainya, mencintai Alexanderku.
Pukul satu siang waktu sekitarnya...
"Ibu yakin mau pergi sekarang?" tanya Alexander kepada ibunya.
"Iya. Acaranya jam dua siang. Jika datang telat malah tidak enak." Ibunya menjawab seraya merapikan rambutnya.
Ibu Alexander sedang bersiap-siap sebelum berangkat arisan bersama ibu-ibu lainnya. Dan kini wanita paruh baya itu sedang mengecek kembali isi tas hitamnya. Dia mengenakan blus lengan panjang berwarna hitam dan celana dasar semata kaki. Dia tampak modis dengan perhiasan gelang di tangannya. Dia juga mengenakan perhiasan emas di tubuhnya. Tak ayal sepertinya arisan kali ini bukanlah arisan biasa. Melainkan arisan besar yang dihadiri para sosialita.
"Ibu pulang jam berapa nanti?" tanya Alexander kepada ibunya.
"Kenapa? Kau tidak ingin ibu pulang?" Ibunya langsung ngegas kepada anaknya.
Hahahaha. Aku pun tertawa sendiri di dalam hati.
"Bukan begitu, Bu." Alexander mulai merayu ibunya.
Tak tahu mengapa ibu dan putranya ini selalu saja selisih paham. Dan anehnya aku malah merasa lucu melihat sikap mereka. Bukannya takut atau merasa khawatir. Kusadari jika mereka sedang bersenda gurau satu sama lain.
"Ibu pulang agak malam. Kunci saja pintunya. Nanti sebelum sampai, ibu akan telepon," katanya lagi kepada putranya.
"Hah, baiklah." Alexander pun mengangguk. Tak lama berselang suara klakson mobil memanggil.
"Ibu sudah dijemput. Lilia, ibu pergi dulu ya. Baik-baik di sini dan tolong bantu Alexander untuk meminum obatnya." Ibunya berpesan kepadaku.
"Baik, Bu." Aku pun mengangguk.
Lantas kami pun segera mengantarkan ibu sampai ke depan pintu. Sesampainya di depan ternyata memang sudah ada mobil yang menjemputnya. Seorang supir pun keluar lalu membukakan pintu untuk ibu. Kulihat ada beberapa ibu juga di dalam sana. Sepertinya arisan besar akan segera dimulai.
Ibu ternyata seorang sosialita besar.
kapan update
ditunggu yaaqq