NovelToon NovelToon
Retak Mimpi

Retak Mimpi

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Patahhati / Balas Dendam / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:526.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Bagaimana jika pasanganmu, merasa bahwa dirinya seperti korban dari lagu Joji Glimpse of Us?

"Mas, yang setia. Ingat mimpi kita, katanya ingin menua bersama?"

Sesederhana itu mimpi mereka. Namun, bisakah mereka mempertahankan hubungan mereka sampai mimpi itu tiba?

Memiliki enam orang anak, tidak menjamin membuat mereka menjadi orang tua yang baik. Lika-liku rumah tangga, bahkan perceraian sekalipun, mereka sudah alami dan akhirnya memutuskan untuk kembali. Nyatanya, semua itu tidak mampu mendewasakan diri mereka.

Tetapi ada satu nama, yang mengukir sejarah di hati Ananda Givan. Seorang wanita, yang kembali dengan kondisi yang begitu memprihatinkan. Ia disebut-sebut, sebagai perempuan yang paling dicintai Ananda Givan. Tapi, apakah benar demikian?

Hingga Canda Pagi Dinanti, istri yang setiap hari memanjatkan doa untuk keberhasilan suaminya, mempercayai tentang kabar burung yang mengatakan bahwa Ananda Givan masih begitu mencintai perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RM33. Menasehati

"Mas Givan punya masalah di luar, kan sebaiknya tak dibawa masuk ke dalam rumah tangga." Canda duduk di sofa single.

Adi memperhatikan menantunya yang terlihat santai itu. "Kau mau jadi mamah Dinda? Mau tega ke suami sendiri? Suami loh yang nanggung beban dosa kau, Canda. Sebaiknya, diselesaikan bersama. Karena permasalahan ini pun, menyangkut rumah tangga kalian juga. Papah pengalaman ada perempuan ngaku hamil begini, sampai terlanjur dinikahi. Eh, tak taunya sih bukan anak Papah. Itu terjadi di belakang mamah, Papah coba selesaikan sendiri. Nyatanya dengan kami bersama-sama, kebenaran itu terungkap dan kami menang. Kan jangan sampai Givan salah ambil keputusan, kek Papah dulu. Bukannya membela pihak Ai juga, Papah pun bingung mau bantu gimana. Karena kami sendiri, masih cari tau kebenarannya. Papah yakin, anak Papah tak mungkin bohong. Tapi, Ai pun nampak begitu yakin kalau itu anak Givan. Ditambah lagi, ada jejak kriminal dari suami kau. Dia gelar Ai untuk lima laki-laki, padahal dalam akad jual belinya hanya untuk dipakai dirinya. Bisa selesai sih kalau proses hukum, Givan mendekam beberapa tahun di penjara. Tapi kami mikirnya anak Givan banyak, ada amanat usaha yang harus Givan emban juga. Kalau misal semua usahanya goyah, Papah mikirin gimana caranya kau berjuang untuk hidupi anak-anak kau. Pasti itu tak mudah, ditambah kau sendiri tak mampu megang tujuh anak, kehitung Jasmine yang diamanatkan juga. Belum lagi, anak yang di perut kau. Tuh, gimana kau nanti? Papah mikir di situnya. Papah tak mau gampangin, apalagi gampangin tenaga kau yang tak seberapa. Papah support finansial sih pasti. Tapi, keknya bakal habis kalau sampai ke biaya pendidikan semua anak kau itu. Belum biaya hidup, biaya kesehatan. Bukan Papah pelit, tapi logikanya kita begitu. Suami tampan aja, itu banyak yang mau. Apalagi, udah tampan plus kaya juga. Pasti ada aja pihak ketiga yang ngaku hamil anak mereka begini. Jangan jauh-jauh, kita tengok cerita para artis dan rumah tangganya di siaran gosip. Papah yang jelek aja, sempat punya kok kasus begini. Lantaran perempuan tersebut tau, kalau Papah punya warisan yang cukup untuk hidupi dia." Adi menarik ceritanya sendiri, agar menantunya yang lugu itu mampu memahami.

"Pah, kalau memang kita selesai pun. Kami pasti bagi anak juga, Chandra dan Ceysa pasti sama aku dan anak yang aku kandung ini. Terus aku ambil usaha bang Daeng dan konveksi aku, karena aku pun paham aku tak mampu lagi jualan seblak."

Kekehan geli Adi terukir, kalimat dari menantunya mengandung humor ringan. Meski ia paham, bahwa obrolan ini tengah serius.

"Givan pun tak bakal kek begini lagi keadaannya, kalau dia tak sama kau. Kau yakin, Givan masih pulang ke rumah kalau kalian pisah? Kau tak kasian sama anak kau yang ada di Givan, karena ayahnya jarang pulang? Itu tuh pasti, Canda. Kau rumah untuk Givan, kau alasannya untuk pulang. Anak, bukan alasan terbesarnya untuk pulang. Apalagi masa ia pekerjakan baby sitter, udah tuh tenang dia tak pulang-pulang. Pikiran laki-laki tak bisa kek perempuan, yang begitu memikirkan keadaan anak-anaknya. Laki-laki lebih memikirkan agar kebutuhan anak-anaknya terpenuhi, bukan bagaimana anak-anaknya di rumah. Kalian tak sama-sama, Ai yang bakal menang. Dia pasti lagi berbangga diri, karena sekarang kau berani ngusir laki-laki yang ia ingin miliki." Adi mempertahankan suara stabilnya, meski sebenarnya ia terpancing emosi sendiri.

"Hanya laki-lakinya kan? Ya udah, minta Ai buat berjuang sama mas Givan sana. Kan mas Givan udah di luar rumah juga, bebas tuh Ai mau apakan itu laki-laki."

Adi merasa, ini bukanlah menantunya yang paling ia sayangi. Itu adalah cerminan istrinya, dalam wujud teduh, bukan judes seperti yang berada di rumahnya.

"Kau lupa, suami kau pemimpin sebelas usahanya?" Suara Adi sudah naik satu oktaf.

"Memang kenapa? Kasarnya, dia yang kerja sama aku. Mas Givan tak bakal bisa jual aset-asetnya, aku punya kuasa untuk semua harta bendanya. Mas Givan tak bisa jual tanah ataupun perusahaan, tanpa tanda tangan dari aku. Untuk usaha itu? Kan itu atas nama anak-anak dan atas nama aku. Cuma tambang Putra Tunggal Berintan, yang atas namanya. Adi Wijaya Abadi, bahkan atas nama Papah. Sama rumah ini dan tanah sawah, itu pun atas kuasa aku, tak ada tanda tangan aku, dia tak bisa jual. Semua akses Bank, penarikan besar dan deposito juga, bisa cair kalau ada tanda tangan aku. Kalau memang dia milih perempuan itu, ya resikonya kan harus nunggu sedekahan dari aku. Paling, yang Ai dapat cuma pengambilan limit dari ATM yang mas Givan pegang. Selebihnya, dia harus ngemis tanda tangan aku. Bukannya aku sombong, ada hak dan perjuangan aku juga dalam aset itu. Kalau Ai cuma mau orangnya, ya tinggal ambil aja kalau mas Givan juga mau."

Adi yang dibuat melongo saja di sini. Ia tidak percaya, kini Canda menggunakan pikirannya persis seperti istrinya. Jika sudah begini, Adi khawatir Canda akan tidak butuh suaminya sendiri lagi.

"Gimana perasaan kau? Yakin ikhlas? Yakin tak keberatan? Suami kau loh itu, suami yang kau doakan lebih dari lima kali sehari. Yakin mau kau sia-siakan untuk perempuan lain? Kalau ada pelakor begini tuh, Canda. Buat mereka merasa kalah dengan keharmonisan kalian. Bukan malah renggang, karena dia pasti akan merasa menang." Adi mencoba untuk menghanyutkan Canda dalam perasaannya sendiri.

"Ck, laki-laki sih bisa dusta. Mereka yang berselingkuh pun, pasti romantis ke istrinya biar tak ketahuan gerak-gerik perselingkuhannya. Mereka bisa tetap romantis, meski mereka juga tidur dengan yang lain."

Ingin tidak membenarkan, tapi Adi paham sendiri bahwa laki-laki pun memang benar bisa begitu. Adi terdiam sesaat, ia akan menggunakan cara apa agar Canda bisa menarik putra sulungnya untuk bersamanya kembali.

"Ingat anak-anak kau, Canda. Ingat anak perempuan kau, ingat mereka yang begitu patuh ke suami kau. Kau bisa jawab apa, kalau mereka tau ayahnya tak serumah lagi dengan biyungnya?" Hanya ini stok nasehat terakhirnya untuk Canda.

"Mereka sama mas Givan, Pah. Bukan sama aku. Mereka masih bisa patuh ke ayahnya, mereka masih bisa dapat kasih sayang dari cinta pertamanya."

Ingin tidak membenarkan, tapi ucapan Canda tepat sekali. Adi kini bingung untuk menarik alasan lain, agar Givan kembali ke rumahnya.

Ia sudah angkat tangan. Ia akan meminta istrinya saja, untuk menasehati menantunya ini. Ia yakin, istrinya tidak akan gagal untuk membuat menantunya mengerti dengan maksud baik mereka.

Karena jika rumah tangganya seperti ini, Ai akan mendapatkan kesempatan besar untuk kembali mengecoh Givan dan mendapatkan Givan. Sedangkan kedua orang tua tersebut, mereka tidak ingin berganti menantu. Selain resiko besar yang akan diterima oleh cucu-cucunya, mereka yakin anak sulungnya pun tidak akan baik-baik saja tanpa Canda. Mereka cukup tahu, bahwa Givan begitu mencintai menantunya tersebut. Mereka paham watak dan sifat anak sulungnya.

...****************...

1
Hi Dayah
kangen canda jadi kesini baca lagi🥰
falea sezi
aib ma perempuan lain di ceritain ke istri najis bgt tau
falea sezi
pernah ada yg telfon g ada nomernya suara nya jg kek aneh
Lismardiana
ngk malu si ainya
Yunia Spm
kayaknya yg lebay mbak nisa deh ini
Yunia Spm
karakter nya ai bikin gemes banget
Yunia Spm
eng ING eng.... konflik di mulai 😁
Red Velvet
yang penasaran langsung aja baca jgn lupa subscribe
Rosita💖
Merujuk dari cerita sebelumnya aku mulai suka dengan pengokohan karakter Canda yang tegas dan lugas...

Pokoknya suka banget deh sama ceritanya...
Siti Latifah
keren
Ai Oncom
bagus banget ceritanya..
Mafa
ih modusnya yayah givan , beraksi dibalik alasan cemburu😂
Febrians
iq canda jongkok betul wkwkwkwk
Novalia Fatmawati
sehat sll kak Annisah, karyamu sll dinanti dan dihati 🤗
IG : anissah_31: terima kasih kak 🥰 bantu dukung subscribe favorit
total 1 replies
Red Velvet
Yayah harus bisa membimbing anak2nya, karena disini papah Adi dan mamah Dinda udh gak ada. 🥺
Edelweiss🍀
gak akan pernah bosan sama karya2 kak Nissah😘
chaia
makasih kak Nisa...sehat selalu😍
Komsatun Komsatun
terima kasih buat kak nisa atas cerita yang banyak hikmahnya ini.....
Yuli Amoorea Mega
Alhamdulillah ya mujabiddu....
mudah"an kak nissa ku di tangtayunan ku gusti Allah sehat" selalu biar lanjut cerita"nya...hatur nuhun author....
IG : anissah_31: terima kasih kembali kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nirwana Fabil
gk papa tamat d cerita retak mimpi..
aku tunggu d cerita seanjutnya....
sehat" selalu kak nissa🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!