NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Hari pertama Alya di SMA Cakrawala menyebar lebih cepat daripada jadwal pelajaran.

Saat ia masuk kelas reguler 12-B, hampir semua siswa sudah tahu tiga hal: ia kakak kandung Dinda yang baru ditemukan, ia berasal dari Yogyakarta, dan hasil tes penempatannya biasa saja.

Tiga informasi itu cukup untuk membuat mereka merasa aman meremehkannya.

Wali kelas memperkenalkannya singkat. "Ini Alya Wiratama. Mulai hari ini dia bergabung dengan kelas kalian. Tolong bantu dia menyesuaikan diri."

Kata "bantu" muncul lagi.

Alya berdiri di depan kelas. "Saya Alya. Salam kenal."

Tidak lebih.

Beberapa siswa tampak kecewa karena ia tidak gugup, tidak malu, tidak bercerita panjang soal kehidupan desa. Ia duduk di bangku kosong dekat jendela.

Seorang gadis di depan menoleh. "Aku Kesha. Kalau butuh catatan, bilang ya. Materi di sini lumayan susah."

"Terima kasih."

Kesha tersenyum. Senyumnya tidak terlalu buruk, tetapi matanya penuh rasa ingin tahu. "Kamu benar-benar kakaknya Dinda?"

"Begitu kata akta lahir."

Kesha tertawa kecil. "Lucu juga kamu."

Anak laki-laki di belakang menyela, "Dinda baik banget mau bantu kamu. Kalau aku jadi dia, pasti canggung. Bayangin, tiba-tiba ada kakak kandung pulang."

Alya membuka buku. "Kalau kamu jadi dia, kamu mungkin tidak akan selama itu menempati kamar orang lain."

Kelas langsung diam.

Kesha menahan senyum. Anak laki-laki itu tersinggung.

"Santai dong. Aku cuma bercanda."

"Aku juga."

Pelajaran pertama matematika. Guru menulis soal di papan, lalu meminta sukarelawan mengerjakan. Tidak ada yang mengangkat tangan. Guru melihat daftar nama, lalu memandang Alya.

"Anak baru, coba nomor satu."

Beberapa siswa langsung tertawa pelan.

Alya berdiri, maju ke papan, mengambil spidol. Soalnya tidak sulit. Ia bisa menyelesaikannya dalam dua cara, tetapi ia sengaja memilih cara paling umum dan berhenti sebelum langkah akhir.

"Saya sampai sini dulu, Bu."

Guru mengerutkan kening. "Kamu tidak tahu lanjutannya?"

"Saya takut salah."

Siswa di belakang tertawa lebih keras.

Guru mengambil spidol dan menyelesaikan langkah terakhir. "Perhatikan. Di sini kamu harus substitusi ulang."

Alya mengangguk. "Terima kasih, Bu."

Ia kembali duduk.

Kesha berbisik, "Kamu tadi sebenarnya tahu, kan?"

Alya menatapnya sekilas.

Kesha menyeringai. "Oke. Aku pura-pura nggak lihat."

Menarik.

Tidak semua orang bodoh.

Saat istirahat, Dinda datang ke kelas 12-B membawa dua kotak kue. Beberapa siswa langsung berkumpul.

"Kak Alya, aku bawakan kue. Biar kamu nggak canggung makan sendiri."

Alya melihat kotak itu. "Terima kasih."

Dinda duduk di kursi kosong depan Alya. "Kelasnya nyaman?"

"Cukup."

"Teman-teman baik, kan?"

Kesha menjawab sebelum Alya, "Baik kok. Kami belum menggigit."

Dinda tertawa canggung. "Syukurlah."

Seorang siswa bertanya, "Dinda, kakakmu nanti ikut acara gala sekolah? Katanya keluarga Wiratama sponsor utama."

Dinda menjawab manis, "Seharusnya ikut. Kak Alya perlu dikenalkan ke banyak orang."

Alya membuka kotak kue. Di dalamnya ada kue lapis legit kecil. Ia mengambil satu, tetapi tidak memakannya.

Dinda memperhatikan. "Kakak tidak suka?"

"Suka."

"Kenapa tidak dimakan?"

"Aku menunggu kamu makan dulu."

Senyum Dinda menegang.

Kesha langsung menangkap sesuatu. Matanya bergerak dari Alya ke Dinda.

Dinda mengambil satu kue dan menggigitnya. "Lihat? Aman."

Alya baru memakan kue itu setelahnya. Rasanya normal. Tidak ada obat, tidak ada aroma aneh.

Mungkin kali ini Dinda hanya ingin tampil baik.

Atau mungkin ia tahu Alya akan curiga.

Apa pun itu, permainan mereka menjadi lebih rapi.

Sepulang sekolah, Alya tidak langsung pulang. Ia pergi ke perpustakaan dengan alasan mencari buku. Rafi menunggu di luar area sekolah, tidak bisa masuk, tetapi tetap mengawasi lewat pesan.

Di perpustakaan, Kesha tiba-tiba duduk di seberangnya.

"Aku tahu kamu pura-pura waktu tes."

Alya membalik halaman buku. "Kamu salah."

"Nggak. Aku anak olimpiade matematika. Cara kamu berhenti di papan tadi bukan cara orang yang tidak tahu. Itu cara orang yang sengaja terlihat tidak tahu."

Alya menutup buku. "Lalu?"

"Tidak ada. Aku cuma penasaran." Kesha menopang dagu. "Kenapa?"

"Lebih mudah mendengar orang bicara saat mereka pikir kita bodoh."

Kesha terdiam, lalu tertawa pelan. "Aku suka kamu."

"Jangan terlalu cepat."

"Tenang. Aku juga suka masalah."

Sebelum Alya menjawab, suara ribut terdengar dari luar perpustakaan. Beberapa siswa berlari ke arah aula. Kesha berdiri.

"Ada apa?"

Seorang siswa berkata, "Dinda pingsan!"

Alya tidak bergerak selama satu detik.

Lalu ia berdiri.

Di aula kecil, Dinda duduk di lantai dikelilingi teman-temannya. Wajahnya pucat, napasnya cepat. Guru BK mencoba menenangkan. Beberapa siswa merekam diam-diam.

Begitu Alya datang, Dinda mengangkat wajah dengan mata basah.

"Kak..."

Semua orang menoleh ke Alya.

Guru BK berkata, "Alya, Dinda terus memanggil kamu."

Alya berjongkok di depan Dinda. "Kenapa?"

Dinda menggenggam tangannya. "Aku tidak apa-apa. Cuma... tadi ada yang tanya soal berita Kevin. Aku panik. Aku takut Kakak marah lagi."

Kalimat itu sangat pintar.

Di depan semua orang, Dinda membuat dirinya terlihat sebagai korban konflik yang dibawa Alya.

Bisikan mulai terdengar.

"Kasihan Dinda."

"Kakaknya bikin masalah di rumah, Dinda yang kena."

"Padahal Dinda baik banget."

Alya menatap tangan Dinda yang menggenggamnya. Tangannya dingin, tetapi denyut nadinya stabil. Napasnya cepat karena dibuat-buat.

Alya berkata, "Kamu harus ke UKS."

Dinda menggeleng. "Aku takut sendiri."

"Aku antar."

Dinda tampak puas. Ia berdiri dengan bantuan Alya. Di mata orang-orang, Alya akhirnya menjadi kakak yang peduli.

Namun begitu mereka masuk ruang UKS dan pintu tertutup, Alya melepaskan tangan Dinda.

"Aktingmu makin bagus."

Wajah pucat Dinda perlahan berubah.

"Kakak juga pintar membuat orang takut," katanya pelan.

"Jadi kita sama-sama belajar."

Dinda duduk di ranjang UKS. "Aku tidak ingin melawan Kakak."

"Tapi kamu tetap melakukannya."

"Aku hanya menjaga diriku."

"Dengan membuatku terlihat sebagai penyebab kamu pingsan?"

Dinda menatapnya. "Kalau Kakak terus menyerang Mama, aku harus punya perlindungan."

Alya mengangguk. "Baik."

Dinda tampak bingung. "Baik?"

"Kamu memilih."

Sebelum Dinda bisa bertanya, pintu UKS terbuka. Guru BK masuk bersama kepala sekolah.

Pak Harun menatap Alya. "Alya, setelah ini kamu ikut saya ke ruang kepala sekolah. Ada yang perlu dibicarakan."

Dinda menunduk, menyembunyikan senyum.

Alya menatapnya sekali, lalu mengikuti Pak Harun.

Di ruang kepala sekolah, sudah ada Maya.

Maya duduk dengan wajah cemas seorang ibu.

"Alya," katanya lembut. "Tante khawatir sikapmu mulai memengaruhi Dinda."

Alya menarik kursi dan duduk.

Bagus.

Sekolah kini resmi menjadi medan perang.

Ia tidak langsung menjawab. Ia membiarkan Maya menikmati peran ibu penyelamat selama beberapa detik lebih lama. Orang seperti Maya selalu lebih ceroboh ketika merasa panggung sudah menjadi miliknya.

Pak Harun melihat Alya duduk tanpa panik. Bu Ratih membuka map kecil berisi catatan kejadian aula. Maya menunduk dengan mata basah, tetapi jari-jarinya bergerak pelan di atas tas, tanda ia gelisah.

Alya menatap ketiganya satu per satu.

"Kalau Tante ingin membicarakan pengaruh," katanya akhirnya, "sebaiknya kita mulai dari siapa yang mengajari Dinda bahwa menangis lebih berguna daripada berkata jujur."

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!