Lanjutan dari "Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen"
"Perasaanku sudah mati sejak lama. Tidak ada satu pun di antara kalian yang mampu membuat hatiku kembali bergetar seperti dulu. Berhentilah! Aku tidak akan memilih satu di antara kalian. Jangan perjuangkan sesuatu yang sia-sia!" ~Diandra.
"Aku tidak akan berhenti! Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali! Maafkan aku yang sudah pernah menorehkan luka yang sangat dalam di hatimu! Kamu tidak perlu memberi aku kesempatan, karena aku yang akan berusaha mendapatkan kesempatan itu!" ~Alden.
"Aku tidak akan berhenti! Aku mencintaimu apa adanya. Tapi, aku tidak akan egois. Semua terserah padamu. Aku tau betapa hancurnya hatimu, dan bukanlah hal mudah untuk kembali jatuh cinta setelah sakit yang teramat dalam. Aku ingin menjadi penyembuh hatimu yang luka, tapi itu semua terserah padamu. Siapa pun yang kamu pilih, aku harap kamu akan bahagia nantinya." ~Austin.
"Mau bermain? Bagimana jika kita putar balik alurnya." ~Unknown
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Tidak Menjadi Chef Saja?
Rara melotot, bisa-bisanya dia dibentak dengan kedua manusia yang tiba-tiba datang ke rumahnya. "Austin! Alden! Kalian punya sopan santun nggak sih di rumah orang!" teriak Rara.
Tanpa mereka sadari, Kelvin dan Kanaya terus mengambil rendang yang dibuat Alden, mereka berdua terus menambah tanpa berhenti saat merasakan masakan Alden yang benar-benar sangat memanjakan lidah. Mereka bahkan sesekali bertengkar saat Naya yang mengambil lauknya lebih banyak dari pada Kelvin. Hingga tanpa sadar, rendang yang ada di piring besar tersebut habis oleh mereka berdua saja.
Alden dan Austin yang sadar sontak saling pandang, kemudian menatap Rara yang raut wajahnya terlihat sedang marah.
"Maaf, Ra." Alden dan Austin kompak mengucapkan itu bersama-sama.
"Yaudah makan!" ketus Rara yang sudah merasa sangat jengkel dengan kedua laki-laki itu.
"Iya!" jawab mereka berdua lagi.
Mereka lalu mengambil porsi nasi masing-masing. Baru saja mereka berdua ingin mengambil lauk rendang tersebut, mereka sedikit terkejut melihat piring tersebut yang sudah kosong.
"Habis?" tanya Austin dengan polos sambil menatap Alden.
"Tadi masih banyak," jawab Alden polos.
"Lalu ...." Mereka berdua kompak melihat twins K yang bersandar di kursi sambil mengelus perut buncit mereka.
"He-he-he." Kelvin dan Kanaya hanya cengengesan saat mendapati ketiga orang dewasa tersebut melihat mereka dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
Sementara Alden, Austin, dan Rara speechles melihat kedua bocah tersebut yang mampu menghabiskan rendang dalam jumlah yang banyak tersebut.
"Maaf Mom, Dad, Pa. Habisnya masakan Daddy enak banget, jadi Evin dan Nay habisin aja," ucap Kelvin yang diangguki Naya.
Rara ingin marah sebenarnya, tapi mendengar anak-anaknya yang sudah meminta maaf, Rara jadi tidak tega, apalagi hanya masalah makanan saja.
'Sabar Al, mereka anak-anak lo' batin Alden.
'Sabar Ar, namanya juga anak-anak' batin Austin.
"Enggak apa-apa kok sayang. Entar Daddy masakin banyak-banyak deh buat kalian. Daddy emang jago masak banget dari dulu, bahkan Mommy aja ketagihan, lho," kekeh Alden yang teringat masa-masa bahagianya bersama Rara.
"Kenapa Daddy nggak coba jadi chef aja? Atau coba bangun restoran gitu?" celetuk Naya tiba-tiba.
Alden terdiam. Benar juga, kenapa dia tidak kepikiran untuk membangun usaha dari kemampuannya sendiri? Kenapa dia malah sibuk ingin membuat perusahaan? "Kamu benar sayang. Baiklah, Daddy akan coba bikin usaha kecil-kecilan," jawab Alden antusias.
"Cih ... dapat modal dari mana lo?" sinis Austin.
'Lagian se enak apasih masakan nih orang! Palingan masih enakkan masakan gue juga' gerutu Austin dalam hati.
"Ckk ... bukan urusan lo! Lagian gue nggak akan ngemis dari lo juga kok!" ketus Alden.
"Sumpah, masakan Daddy enak banget. Evin aja ketagihan, bahkan Evin pengen lagi kalau ada," ucap Kelvin dengan semangat.
Rara yang baru selesai makan hanya diam saja. Dia akui jika masakan Alden benar-benar sangat nikmat, bahkan mungkin ini adalah rendang terenak yang pernah dia makan. Selama ini ia makan rendang di restoran-restoran ternama, tetapi tidak ada yang se enak masakan Alden.
"Yaudah nanti Daddy masakin banyak-banyak buat orang-orang kesayangan Daddy," sahut Alden lembut.
"Enakkan mana sama masakan Papa?" tanya Austin tiba-tiba.
"Hah? Evin mana pernah makan masakan Papa. Papa kan nggak pernah masak," jawab Kelvin apa adanya.
Austin terdiam. Benar juga, dia sama sekali tidak pernah memasak untuk Rara dan kedua anak-anak yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Bukannya apa-apa, meski pun dirinya bisa memasak, tapi memasak bukanlah hobinya, sehingga dia lebih suka makan apa saja yang orang hidangkan, bahkan tak jarang Austin malah mampir ke rumah Rara untuk numpang makan.
"Yaudah Papa akan memasak untuk kalian besok!" ucap Austin mantap.
"Cih ... palingan juga rasanya aneh, secarakan orangnya juga aneh," sinis Alden meragukan Austin.
"Ckk ... gue tantang lo buat battle masak, gimana? Lo berani nggak?" tantang Austin yang tidak terima diragukan oleh laki-laki saingannya itu.
"Cih ... ngapain coba gue takut sama lo. Oke, gue terima!" jawab Alden mantap.
"Kalian jangan gila! Untuk apa coba battle masak segala! Kalian itu udah tua, bukan anak-anak lagi!" ketus Rara yang sejak tadi hanya diam saja.
"Nggak apa-apa, Ra. Toh kita cuman battle masak doang, bukan tinju-tinjuan," sahut Austin dengan lembut.
"Iya, Ra. Aku ingin membuktikan kalau aku lebih unggul dalam memasak dari pada laki-laki bule tapi jelek ini," sahut Alden dengan lembut.
"Udah, Mom, biarin aja. Biar mereka battle masak, dan kita yang akan menjadi jurinya," celetuk Naya.
"Kan lumayan bisa makan. Benar nggak, Bang?" bisik Naya di telingga Kelvin.
"Yoi!" jawab Kelvin sedikit terkekeh.
"Huh ... terserah kalian saja!" Rara mengiyakannya saja, dari pada memperpanjang masalah. "Oh, iya, Kak Austin ada perlu apa ke sini?" tanya Rara.
"Oh, iya, aku lupa. Aku ingin mengajak kamu pergi ke pasar malam, mumpung malam minggu, kan?" jawab Austin.
"Dengan anak-anak?"
"Eum ... sebenarnya aku hanya ingin mengajak kamu doang sih. Tapi, kalau kamu pengen bawa anak-anak nggak apa-apa kok."
Alden melotot, berani-beraninya laki-laki bule tersebut mengajak wanita yang dia cintai pergi berduaan. Tidak! Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Tidak! Rara tidak boleh pergi denganmu!" pekik Alden tanpa sadar.
Rara mengabaikan penolakkan Alden, toh siapa Alden yang berani-beraninya melarang dia untuk tidak pergi dengan Austin, suaminya saja bukan.
"Baiklah. Rara juga sumpek kalau di rumah mulu."
.
.
.
.
bs kalii dipakai disesuaikan dgn bahasa anak2 seusianya/Grin/