Maaf sebelumnya, karena ada yang bertanya-tanya kok mirip dengan cerita india. ini memang novel dari cerita india, tapi ceita ini tak aku kontrak jadi tak menghasilkan cuan yah🙏😊
Ayara meninggalkan Devano untuk menikah dengan Rama, pria pilihan sang ayah. Beberapa tahun kemudian, Ayara bertemu kembali dengan Devano. Devano masih berharap Ayara kembali dan menikah dengannya.
Namun, saat pertemuan kembali Ayara dan Devano ternyata Ayara sudah mencintai suaminya. Berbagai macam cara Devano lakukan untuk membuat Ayara kembali padanya. Berhasilkah Devano membuat Ayara kembali padanya? Atau Ayara akan tetap bersama sang suami?
Follow👇
IG: istikomah50651
Fb: ISTI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti Shaburu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Ayara melihat sebuah telepon tergantung di dinding kamar tempat ia dirawat. Ia turun dan berjalan menghampiri telepon tersebut. Ia meraih gagang telepon tersebut dan memencet nomor telepon yang begitu sangat ia hapal.
"Hallo," ucapnya.
"Hallo," terdengar suara wanita mengangkat penggilan darinya.
"Apakah Devano ada?" tanya Ayara dengan to the poin.
"Siapa?" wanita itu diam sejenak merasa bingung. "Siapa ini?" tanyanya kembali.
"Aku Ayara," jawab Ayara membuat wanita yang mangangkat sambungan telepon tersebut terkejut, wanita tersebut adalah Sherly, yah Ayara menelepon ke rumah besar lama Rama yang telah Rama lelang dan dibeli oleh Devano.
"Ayara," ulang Sherly dengan raut wajah yang sulit diartikan, jantungnya berdegup kencang bukan karena merasakan sedang jatuh cinta tapi karena ada perasaan takut dalam hatinya. "Tunggu sebentar." Sherly menutupi telepon tersebut kedadanya dan berbalik melihat Devano yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Dev," panggilnya dengan suara yang bergetar.
"Iya," jawab Devano yang sedang menggigit pulpen bibirnya tanpa menoleh pada Sherly.
"Ada telepon untukmu," ucapnya.
"Siapa?"
"Ayara." Devano langsung melihat ke arah Sherly saat nama sang pujaan hati disebutkan membuat jantung Sherly berdesir perih.
"Siapa?" tanyanya lagi memastikan, Devano langsung berdiri dan berjalan menghampiri Sherly yang masih memegang telepon itu, Sherly memberikan telepon tersebut pada Devano.
"Hallo," ucap Devano dengan perasaan yang bahagia tapi gerogi tersebut, jantungnya seketika menjadi berdegup kencang karena kebahagiaannya, berbanding terbalik dengan perasaan Sherly yang sangat perih ia rasa. "Ayara," panggil Devano dengan begitu lembut membuat Ayara terkejut karena ia sedang melamun.
Ayara menarik napasnya perlahan. "Hallo Devano."
"Iya Ayara," jawab Devano dengan gugup, pasalnya baru kali ini ia menerima telepon dari sang pujaan hati setelah sekian lamanya.
"Devano, aku ingin bertemu denganmu," ucapnya memberitahu maksud dirinya menelepon Devano.
"Baik, baik Ayara, kau di mana sekarang?"
"Tidak, aku yang akan datang ke tempatmu, ke rumahmu," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ayara, ini rumahmu juga, cepat datanglah kemari, aku menunggumu," ucap Devano dengan nada bahagia karena sang pujaan hatinya akan datang padanya akhirnya, Sherly tersenyum getir mendengarnya.
Ayara menutup teleponnya dan mengusap dadanya seraya butiran kristal jatuh di pipinya. Sedangkan Devano diliputi rasa bahagia. Sherly juga diam-diam meneteskan air matanya merasakan hatinya yang perih.
Devano membalikkan tubuh Sherly yang menghindarinya agar Devano tak melihat air matanya. "Ayara akan datang kemari Sher, dia kembali." Devano memeluk Sherli dengan sangat erat karena bahagia. "Dia kembali Sher." Sherly meneteskan air matanya kembali dalam pelukan Devano, hatinya benar-penar perih mendengar kebahagiaan Devano.
Devano melepas pelukan Sherly dan mundur perlahan dengan raut wajah yang begitu bahagia, senyumnya sangat lebar. "Sherly aku menang, aku menang Sherly, aku ingin rumah ini terlihat berbeda aku ingin semuanya berbeda Sherly." Devano bagai orang gila berputar dan berteriak. "Hei ladies, seleramu kan bagus, apa yang harus kita lakukan?" Devano dengan antusias meminta pendapat pada Sherly.
"Seleraku?" Sherly menjawab dengan gugup dan masih mengelus dada hingga lehernya untuk menetralkan perasaannya yang sedang berkecamuk.
"Iya, bagaimana menurutmu seharusnya?" tanya Devano kembali.
"Kita harus menyalakan lilin," jawab Sherly dengan terbata-bata.
"Menyalakan lilin? yah kita harus menyalakan lilin." Devano langsung menangkup wajah Sherly dengan bahagia. "Sherly, aku mencintaimu, aku akan kembali sebentar lagi." Sherly meraih tanga Devano yang hendak pergi meninggalkan Sherly seorang diri.
"Kau mau ke mana?" Devano melepaskan pegangan tangan Sherly pada tangannya dengan lembut tapi terburu-buru seperti ada yang hendak ia lakukan.
"Sebentar, aku akan segera kembali oke." Devano pergi begitu saja meninggalkan Sherly.
"Devano," panggilnya tapi Devano sudah berlalu meninggalkan dirinya.
Devano memasuki kamar yang dulu ditempati Rama dan sang pujaan hatinya. Dirinya merasa bahagia dan senyum lebar menghiasi bibir seksinya. Ia langsung masuk sambil membuka jaz mahalnya dan melemparnya sembarang tempat.
"Yeah." Devano meloncat dan berlari menuju walk in closet.
"Yuuhuuu," dirinya sangat girang seperti memenangkan sebuah lotre berhadiah besar.
Di dalam walk in closet ia mengetuk pintu lemari pakaian satu persatu dan kemudian membuka pintu yang terakhir. Ia mengusap koper usang miliknya yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi jauh. Devano mencium koper itu lama dan menariknya keluar dari lemari dan meletakkannya di atas kasur dan membukanya.
Devano meraih bungkusan koran dan mengambil isinya yang ternyata adalah sendal usang miliknya yang terdapat lubang dibawah sendal tersebut. Ia menatapnya penuh cinta dan memeluknya sejenak. Ia juga meraih pakaian usang miliknya yang pernah ia kenakan saat menemui orang tua Ayara, ia memeluknya lama dengan penuh cinta kedua benda tersebut, senyum manis tersungging di bibir seksinya.
Devano mengganti pakaian dan sepatu mahalnya menggunakan pakaian dan sendal usang miliknya. Sedangkan Sherly sibuk mempersiapkan persiapan diruang keluarga. Ia menyalakan lilin dengan hati yang penuh dengan kesedihan, Sherly berpikir Ayara meneleponnya untuk mengatakan kalau ia akan kembali pada Devano.
Serly menoleh ke arah tangga dan melihat Devano turun dengan pakaian dan sendal yang lusuh.
"Hehehehe." Sherly tertawa geli melihat penampilan Devano yang seperti gembel memakai pakaian dan sendal usang yang serba berwarna hitam.
"Kenapa?" tanya Devano kesal.
"Kau ini kenapa Devano?" Sherly masih tertawa sambil memegang pegangan tangga dan menyender pada pegangan tersebut.
Devano menghampiri Sherly perlaha dan menunjuk pada dirinya. "Ini aku Sherly," jawabnya. "Inilah kenyataannga," lanjutnya. "Aku ingin Ayara bertemu kembali dengan Devano, dan aku akan menyanyikan lagu yang sama saat kami masih bersama, lagu yang selalu kami nyanyikan bersama." Devano berjalan menuju piano dan membuka piano tersebut perlahan dan duduk dikursi. "Aku akan menyanyikan lagu itu, sebuah lagu tentang kita berdua." Sherly menoleh pada Devano.
"Sebuah lagu? lagu apa itu? lagu yang mana?" Devano tak menjawab pertanyaan Sherly, jarinya langsung menari di atas piano tersebut dan langsung menyanyikan sebuah lagu kenangan dirinya dan Ayara.
Sherly tak kuasa mendengar lagu romantis yang isinya mengutarakan perasaan cinta tersebut. Ia berbalik dan memegang dadanya dengan kuat menahana air matanya untuk tumpah. Devano masih terus menyanyikan lagu tersebut dengan sepenuh hati sambil sesejali melihat ke arah pintu berharap Ayara datang dan mendengarkan lagu tentang mereka yang sedang dinyanyikan Devano.
Napas Sherly tak beraturan karena jantungnya berdebar kencang, membuat dadanya sesak dan sulit bernapas. Ia berharap lagu yang sedang dinyanyikan Devano tersebut untuknya. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tak luruh.
Devano masih terus bernyanyi sambil menatap arah pintu menunggu sang pujaan hati datang. Ia menoleh pada Sherly dengan isyarat, mengapa Ayara belum juga datang, begitulah isyaratnya. Sherly oun menganggukkan kepalanya dan memegang pundak Devano untuk membuatnya tenang, dia pasti akan datang tunggulah sebentar lagi, begitulah jawaban dari isyarat Devano menggunakan isyarat pula.
Devano meraih tangan Sherly yang memegang pundaknya. Sherly hendak pergi tapi tangan itu digenggamnya sangat erat dan dipeluknya di dadanya membuat Sherly tak kuasa lagi menahan air matanya. Saat Devano lengah sedang memperhatikan pintu, Sherly menarik tengannya dan mundur perlahan menjauhi Devano untuk menyembunyikan air mata dan perasaannya.
Devano sadar akan menjauhnya Sherly, ia menoleh kebelakang ke arah Sgerly sejenak dan melanjutkan lagi bait lagunya. Sherly masih terus mengusap dadanya yang terasa sesak sambil air matanya terus mengalir. Saat lagu tersebut selesai Ayara belum juga datang membuat harapan Devano sedikit pupus dan melegakkan kepalanya di atas piano tersebut.
"Ahm." Sherly terkejut saat menoleh pada pintu membuat Decano terkejut pula dan menoleh pada Sherly lalu melihat ke arah di mana Sherly menatap.
DEVANO klau d film india namanya DEV
AYARA klau d film india nmanya ANJELI