NovelToon NovelToon
KAISAR 12 ELEMEN S2

KAISAR 12 ELEMEN S2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Poligami / Kultivasi / Militer / Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:859.1k
Nilai: 4.6
Nama Author: tri wardani

Cerita tentang kelanjutan Petualangan Evan Li yang akan terus berperang melawan semua musuh-musuhnya.

"Kemenangan Adalah Saat Semua Orang Yang Kamu Sayangi Tersenyum Dengan Bahagia"

"Darah Musuh Adalah Hidup Kami dan Tangisan Musuh Adalah Tawa Bagi Kami"

"Tidak Ada Yang Adil di Dunia ini Jika Kamu Tidak Memiliki Kekuatan Dan Kekuasaan"

"Jalan Penuh Mayat, Itulah Jalan Yang Kamu Lalui"

"Baju Berlumuran Darah, Adalah Permainan Kami"

"Kegelapan Berasal Dari Cahaya, Begitu Juga Dengan Kebencian Yang Berasal Dari Cinta"

"Selalu Ada Keindahan Yang Tersembunyi Dibalik Kegelapan"

"Makhluk Terkuat Adalah Dia Yang Selalu Tersenyum Walau Hatinya Sedang Terluka"

"Kalah Bukan Berarti Lemah, Menang Bukan Berarti Kuat"

"Tidak Ada Hukum Bagi Seseorang Yang Memiliki Kekuatan Dan Kekuasaan Mutlak"

"Terkadang Beberapa Manusia Memiliki Sifat Yang Lebih Buruk Daripada Binatang"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tri wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH 33 : Pesan Demi Pesan

"Selain surat ini, apakah Ibumu ada mengatakan sesuatu yang lain untuk Kakak?" tanya Evan.

"Yah, Ibu memang ada mengatakan sesuatu untuk Kakak. Ibu mengatakan, Jika Kakak ingin menemui ku, Kakak boleh datang menemui ku kapanpun Kakak mau!" kata Bai Meng menyampaikan pesan Ibunya kepada Evan.

"Benarkah, Ibumu mengatakan itu? Apakah dia benar-benar memperbolehkan Kakak menemui kamu kapan saja?" tanya Evan merasa sangat gembira mendengar pesan yang disampaikan oleh Bai Meng.

Melihat Evan yang begitu gembira, kemudian Bai Meng menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Evan.

Setelah melihat Bai Meng menganggukkan kepala untuk memberikan jawaban, Evan benar-benar merasa sangat senang.

"Kakak benar-benar tidak menyangka, Ibumu akan menjadi sebaik ini setelah apa yang terjadi hari ini. Besok Kakak harus pergi menemui Ibumu untuk mengucapkan terima kasih!" kata Evan.

"Kakak, sebaiknya kamu jangan menemui Ibu lagi!" kata Bai Meng.

"Kenapa?" tanya Evan dengan penuh keheranan.

"Karena sebelum Ibu menyuruhku datang ke sini, Ibu sempat menitipkan pesan untuk Kakak. Dalam pesan itu, Ibu melarang Kakak untuk datang menemuinya lagi di masa depan. Jika Kakak tetap keras kepala dan datang menemuinya lagi di masa depan, Ibu bersumpah akan membunuh Kakak dengan tangannya sendiri!" kata Bai Meng menyampaikan pesan kedua dari Ibunya kepada Evan.

"Yah, itu memang seperti sifat Ibumu. Aku sama sekali tidak terkejut jika dia mengatakan itu!" kata Evan sembari tersenyum setelah mendengar pesan kedua tersebut.

Namun di saat Evan sedang tersenyum, kemudian Bai Meng menyampaikan satu pesan terakhir dari Ibunya kepada Evan.

"Oh ya masih ada satu pesan lagi dari Ibu yang belum aku sampaikan. Di dalam surat itu, Ibu sudah menulis semua biaya kerusakan lantai, dinding, pengobatan, serta informasi yang harus Kakak bayar. Jika Kakak tidak segera melunasinya dalam waktu dua hari, maka Kakak harus membayar bunga sebesar lima persen dari total keseluruhan!" kata Bai Meng menyampaikan pesan ketiga dari Ibunya kepada Evan.

"Hahaha..., Ibumu benar-benar menjalankan bisnisnya dengan baik yah!" kata Evan sembari tersenyum kecut.

Mendengar perkataan Evan, kemudian Bai Meng pun ikut tersenyum dan tertawa kecil. Melihat Bai Meng yang sedang tersenyum dan tertawa, Evan diam-diam tersenyum senang.

Setelah itu kemudian Evan menurunkan tubuhnya dan duduk di atas atap. Melihat Evan duduk, Bai Meng pun ikut menurunkan tubuhnya dan duduk tepat di samping Evan.

"Apakah Ibumu masih ada pesan lagi?" tanya Evan setelah Bai Meng duduk di sampingnya.

"Tidak ada. Ibu hanya mengatakan tiga pesan itu saja!" kata Bai Meng.

"Kalau begitu, setelah kamu pulang nanti, tolong sampaikan ucapan terima kasih Kakak kepada Ibumu!" pinta Evan

"Tentu saja, aku pasti akan menyampaikan ucapan terima kasih Kakak kepada Ibu!" kata Bai Meng dengan senang hati.

Kemudian setelah obrolan mereka yang menyenangkan berakhir, mereka berdua pun saling terdiam dan menundukkan kepala.

"Kakak?"

"Yah?"

"Aku sudah mengetahui semua kebenarannya dari Ibu!" kata Bai Meng memberi tahu Evan.

"Jadi, Ibumu sudah memberitahukan semua kebenarannya padamu?"

"Iya" jawab Bai Meng sembari mengangguk pelan.

"Kalau begitu, bagaimana perasaanmu setelah mengetahui semua kebenarannya?"

"Yah, aku cukup terkejut saat mengetahui kebenarannya. Kebenaran kalau Ibu adalah wanita selingkuhan yang ditinggalkan oleh Ayah saat sedang hamil diriku. Aku ingin marah tapi aku juga ingin menangis saat mendengar cerita Ibu. Aku akui aku senang memiliki seorang Kakak, tapi di sisi lain aku juga membenci kebenaran kalau Kakak adalah alasan mengapa Ayah meninggalkan aku dan Ibuku. Aku tidak tahu bagaimana cara agar bisa menjelaskan isi hatiku!" kata Bai Meng sembari menundukkan wajahnya.

"Maaf...." ucap Evan tiba-tiba.

"Untuk apa Kakak meminta maaf? Kakak tidak bersalah!" ujar Bai Meng.

"Bukan aku tetapi Ayah!" kata Evan semakin membuat Bai Meng merasa heran.

"Dulu saat Kakak masih kecil, Ayah sering bercerita tentang kamu dan Ibumu!" kata Evan melanjutkan.

"Ayah sering bercerita tentang kami?" tanya Bai Meng merasa terkejut.

"Yah, walaupun Ayah hanya bercerita kepada Kakak, tetapi Ayah selalu terlihat bersemangat saat bercerita tentang kalian. Terkadang saat Ayah bercerita tentang kalian, Ayah tanpa sadar sering kali tersenyum dan menangis. Biasanya saat Ayah selesai bercerita, Ayah akan selalu berpesan pada Kakak agar menyampaikan permintaan maafnya kepada kamu dan Ibumu!" kata Evan bercerita.

"Apakah Ayah benar-benar berpesan seperti itu?" tanya Bai Meng.

"Tentu saja. Asal kamu tahu, sebenarnya dari dulu, Ayah selalu ingin meminta maaf secara langsung kepada kalian. Tetapi karena rasa malu, Ayah selalu tidak berani untuk datang dan meminta maaf secara langsung kepada kalian!" kata Evan.

Bai Meng yang mendengar hal itu kemudian menjadi diam dan tidak tahu harus memberikan respon seperti apa.

"Bai Meng, ini permintaan Kakak. Kakak mohon padamu jangan pernah membenci Ayah. Kakak tahu, Ayah memang sangat bersalah kepada kalian. Tetapi Kakak yakin, di dalam hati Ayah, Ayah pasti sangat menyayangi kalian. Jadi Kakak mohon padamu, tolong maafkan Ayah!" pinta Evan.

"Maaf Kakak, untuk saat ini Bai Meng belum bisa memaafkan Ayah. Jika Ayah benar-benar menyayangi Bai Meng dan Ibu, mengapa Ayah tidak pernah datang menemui kami dan meminta maaf? Apakah rasa sayang yang dimiliki oleh Ayah kepada kami tidak sebanding dengan rasa malunya?" kata Bai Meng merasa kesal

Mendengar perkataan Bai Meng, Evan pun seketika tertegun dan tidak bisa menjawab pertanyaan Bai Meng.

"Kakak jangan sampai menjadi seperti Ayah yah?" kata Bai Meng tiba-tiba.

Mendengar apa yang dikatakan oleh Bai Meng, Evan pun seketika merasa terkejut.

"Kenapa tiba-tiba jadi Kakak?" ujar Evan merasa heran.

"Karena Kakak adalah Putra Ayah, bukankah Kakak bisa saja menjadi brengsek seperti Ayah?" ujar Bai Meng.

"Ta...ta...tapi........."

"Apa tapi tapi. Jangan Kakak kira Bai Meng tidak tahu kalau Kakak dulu sering datang ke rumah bordil kami. Aku juga tahu, Kakak punya sembilan tunangan dan belasan pacar!" kata Bai Meng memarahi Evan.

"Kamu jangan salah paham. Itu hanya masa lalu. Sekarang Kakak sudah punya Istri. Kakak tidak akan menjadi seperti itu lagi!" kata Evan menjelaskan dengan cepat.

"Tidak akan menjadi seperti itu lagi, benarkah?" kata Bai Meng merasa ragu. "Kalau begitu, coba katakan padaku berapa Istri Kakak sekarang?" lanjut Bai Meng bertanya.

"E...., Enam!" jawab Evan sembari menunjukkan enam jarinya.

"Ah, ternyata Kakak benar-benar penerus Ayah. Benar-benar seorang pria brengsek!" kata Bai Meng sembari memandang rendah Evan.

"Bu...bukan begitu! Kakak tidak seperti yang kamu pikirkan. Kakak selalu bersikap adil kepada enam istri Kakak!" kata Evan.

"Bersikap adil? Apakah Kakak bisa selalu bersama enam istri Kakak di saat bersamaan?" tanya Bai Meng membuat Evan kesulitan untuk menjawabnya.

*Ah, sial! Kenapa jadi ngelantur seperti ini?* batin Evan tidak tahu harus berkata apa.

Melihat Evan yang kesulitan menjawab pertanyaannya, kemudian Bai Meng pun tertawa dengan senangnya.

"Hahaha...., Kakak benar-benar lucu. Aku hanya sedang bercanda saja, mengapa Kakak sampai kebingungan seperti itu?" ujar Bai Meng menertawakan Evan.

Mendengar pengakuan Bai Meng, Evan yang tadinya bingung seketika merasa kesal.

"Bai Meng, kamu berani becandain Kakak?" ujar Evan merasa kesal.

"Kenapa tidak berani. Kakak kan Kakakku. Kakak juga tidak akan marah dan memukulku?" ujar Bai Meng, dan kemudian mereka berdua saling tersenyum dan tertawa.

1
Syahlani Lani
ok
Dwi Sariawan
gmna ending critax bos
joerick san
ga danta ente
MOHAN HABEJA
bll
Qim
tingkat 5
Andi Abel
lanjut ceritanya sampai selesai dong author🙏
ershi_tobelove
Bikin novel baru pun tetap sama nantinya alasan sudah lupa
seprio ardi
terlalu banyak nerbitin cerita ni author nya....TPI gak ada yg kelar...
Andi Kuswanto
Luar biasa
alow
eryco
Luar biasa
Galon Poca
Mana lanjutannya Woiiiii
Muhammad indra
lanjut thor
Reymundo Hidayat
hajar
Jimmy Candra
lanjutkan
Putra Jaya
jiahhh gt aja..
Marco Tianov
update episodenya
Yustina Nirkawati
payahhhh gak niat pikiran terlalu byk cabang
Ajoy Azlong
Luar biasa
Eka Sari Agustina
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!