Harap Baca Suamiku Pria Lumpuh, supaya nyambung dengan kisah mereka, ya.
Bagaimana, jika orang yang kamu cintai, adalah seorang yang telah menjadi masa lalu terburukmu. Yang telah menjadi penyebab penderitaanmu dimasa lalu. Padahal, Ia telah memberikan semuanta untukmu.
Carolina Hermawan. Gadis yatim piatu itu baru saja mengenal sebuah cinta dan bahagia, sejak bertemu dengan Reza Edwardo. Salah satu pewaris Nugraha's company.
Mereka sepakat menikah usai Olin wisuda, dan telah merancang semuanya. Tapi, rupanya keluarga Nugraha atau Papa Edward memiliki masa lalu diantara keluarga Olin.
Apa masalah itu, dan bagaimana mereka menghadapinya? Berstu, atau justru memcari jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerangan Papa Edward.
Olin telah bersiap, Ia keluar dan menghampiri Reza yang bersandar di pagar di depan kamarnya.
"Mas, udah." panggil Olin.
Reza menoleh, dan langsung menggandeng tangannya berjalan menghampiri motornya. Terus diam tanpa sepatah katapun, bahkan tanpa senyum sama sekali.
"Mas," Olin menggenggam tangan Reza dan menghentikan langkahnya.
"Kenapa?"
"Marah?"
"Tidak, hanya saja..... Sudah lah, ayo berangkat. Takutnya, jam besuk tutup."
Olin mengangguk, dan Reza memakaikan helm padanya. Mereka pun berangkat menuju RSJKO, tempat Papa Edward di rawat.
Sepanjang jalan Olin terus memeluk pinggang Reza. Begitu erat, dengan dagu tepat di atas bahunya yang bidang itu. Reza meraih tangan Olin, dan mengusapnya dengan lembut.
"Maaf..." ucapnya. Olin tak menjawab, hanya terasa kepalanya mengangguk disana.
Tiba di Rumah sakit yang di tuju. Reza memarkirkan motornya di halaman dengan rapi. Olin terus menggenggam tangannya, tanpa mau terlepas. Apalagi, pada jam siang para pasien disana tengah keluar bermain dan bersantai dengan dunianya.
"Om, minta duit." seorang pasien menghampir.
"Aaa!" Olin, terpekik karena terkejut padanya.
"Hey, dia ngga papa. Kasih aja Lima ribu, dia langsung pergi." bisik Reza.
Olin mengeluarkan selembar uang dikantong, dan langsung memberikannya.
"Kamu takut?"
"Berusaha tidak." jawab Olin, tanpa melepaskan gandengannya.
Reza membawanya ke sebuah blok ruangan, dimana disana adalah tempat penyembuhan bagi pengguna obat-obatan terlarang. Papa Edward salah satunya, dengan segala gangguan yang ada.
"Masih jauh?"
"Tidak. Itu dia, tengah duduk diam di taman." tunjuk Reza.
Olin memang bukan baru pertama kali melihat Papa Reza itu. Dikantor dengan posisi elitnya, kala itu tampak tampan dengan pakaian formalnya yang mahal dan rapi.
Reza menghampiri sang Papa. Merubah mode wajahnya seolah hanya sebatas sahabat. Menyapa dengan gaya mereka seolah memang akrab, tapi bukan keluarga.
"Hay Bro? Apa kabar?"
"Hay, aku baik. Kenapa kau kemari?" tanya Papa Edwar.
"Tak ada, aku hanya bermain. Bagaimana kabarmu?"
"Aku, seperti ini. Tapi, ada sedikit perkembangan. Aku tiba-tiba ingat, dimana aku tinggal." jawabnya, dengan wajah datar.
"Itu, siapa? Cantik sekali, dengan wajah bersih dan tampak ramah? Pacarmu?"
Reza memanggil Olin agar mendekat, dan Olin menurutinya.
"Hay, Om." sapa Olin, mencium tangan sang calon mertua.
"Om? Ramah sekali." pujinya, pada gadis yang sebenarnya akan menjadi calon menantu itu.
"Siapa namamu?"
"Carolina, panggil saja, Olin."
"Ya, Carolina. Kenapa mendengarnya, terasa terngiang akan sebuah nama. Tapi, aku tak ingat. Entahlah, memikirkannya, membuat kepalaku sakit."
Papa Edward mulai memegangi kepalanya, dan tangan itu sedikit memberi pijatan dengan lembut.
"Hey, tak apa? Apa, kau mau istirahat?" tanya Reza, tampak mulai cemas.
Papa Edward, menghentikan pijatannya. Ia kemudian menatap Reza dengan tatapan tajamnya. Seolah, Ia tengah mengingat sesuatu.
"Kenapa kau kemari?" tanyanya, dalam mode berbeda.
"Papa, ingat Reza?"
"Ya, aku akan selalu mengingatmu. Tapi sebagai seorang pengkhianat. Andai kau tak mengkhianatiku, semua tak akan seperti ini. Kau... Kau menghancurkan semua keluargamu! Enyah kau!"
Papa Edward mendadak mencekik Reza, hingga terlentang di kursi panjang yang tengah mereka duduki. Begitu kuat, hingga Reza tampak mulai pucat. Reza, hanya diam dengan air mata yang mengalir deras, berusaha mengambil nafas sebisanya.
" Papa, ini Reza, Anak Papa." ucapnya lirih.
"Ya, tapi kau lah yang menghancurkan seluruh keluargaku, hingga habis tak tersisa. Kau, juga harus habis."
"Pahh.... Maaf, Pa." Reza menggenggam lengan sang Papa, meski tak bisa melawannya lagi.
Sementara Olin, berteriak sekuat tenaga untuk mencari bantuan pada siapapun yang ada.
dan dijawab tinggal ditempat jauh dan butuh waktu untuk pembuktian