Dia adalah putri kesayangan seorang pengusaha terkenal dan juga mafia. Ibunya mantan Queen mafia, ayah nya pebisnis hebat, dan putri nya juga seorang pebisnis seperti ayahnya, namun juga bisa menggunakan pistol dan pisau seperti ibu. Ia bertransmigrasi ketubuh seorang gadis culun yang malang, dan berniat untuk membantu tubuh gadis yang ia tempati itu mengubah takdirnya. Keluarga yang tidak peduli padanya dan ratu drama yang sok polos, semua nya akan ia balas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adella Putri R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30-Hukuman dan Amarah
-Skip-
Triing...tring...tring..triiiingggg... (bel pulang sekolah berbunyi)
"Va, pulang?" Ucap Elvira.
"Sama kk Leon aja, sekalian jelasin semua nya, aku lupa banget soal mau ngejelasin segala hal yang terjadi ke kak Leon." Terang Eva sambil memijit pelipis nya.
"Gaya kamu kayak orang dewasa yang punya banyak masalah aja, Va. Sekali-kali bersikap selayak nya remaja aja, Va. Jangan terlalu bertanggung jawab, nanti kamu bakal menyesal karna terlalu bertanggung jawab akan segala hal." Nasehat Vira panjang × lebar.
"Duh, manis banget. Kamu perhatian banget, sih! Tenang aja, aku akan mencoba untuk bersikap selayaknya umurku, Okhey!?" Jawab Eva senang dengan perhatian dari Elvira.
"Oh iya, kasih tau juga ke yang lain tentang aku yang akan kembali kerumah Eva, mengerti?!" Perintah nya.
"Siap, nona muda. Wkwk." Jawab Vira yang kemudian menutup mulut nya untuk tertawa.
...****************...
"Kak Leon, yuk, pulang!" Ajak Eva pada kakak laki-kali nya itu.
"Iya, dek, yuk!" Jawab Leon menyetujui nya dan lalu melajukan motornya setelah sang adik sudah duduk di mohe nya itu.
...🌸🌸🌸 Sesampainya di kediaman Alendra 🌸🌸🌸...
"Leon, kamu keruang kerja saya, sekarang!" Seru sang papa saat melihat Leon masuk kerumah. Leon yang mendengar perintah itu pun segera berjalan mengikuti papa nya keruang kerja nya.
Eva merasa cemas, karena dalam ingatan pemilik tubuh nya yang asli, setiap kali mereka masuk keruang kerja sang papa, jika bukan untuk hadiah, pasti untuk hukuman fisik. Dan mengingat kejadian tadi pagi, pasti Leon akan mendapatkan hukuman fisik atas perbuatan nya itu.
-diruang kerja Bara-
"Apa yang terjadi?" Tanya Bara pada anak kedua nya-Leon.
Yah, sebenarnya ada satu lagi kakak laki-laki Eva, pria itu merupakan putra sulung di keluarga Alendra. Tapi, dia sudah pergi ke luar negeri sejak umurnya menginjak 7 tahun. Sehingga Eva tidak pernah tahu dan tidak pernah melihat kakak pertama nya itu.
Sebenarnya, dia tidak pernah kembali ke Indonesia sejak 17 tahun yang lalu, dia juga tidak pernah menghubungi keluarga nya kecuali untuk urusan yang mendesak.
"Maksud papa?" Bukan nya menjawab, Leon malah balik bertanya sambil memasang wajah bingung.
"Kenapa kamu tiba-tiba saja berubah dan malah mencaci adik kamu-Helen?" Tanya Bara lagi.
"Oh." Mendengar pertanyaan papa nya yang sudah jelas itu, ia malah membalas nya dengan hanya ber'oh'ria saja.
"Oh? OH, KAMU BILANG??!" Heran Bara pada gelagat putra nya itu.
"Ya, karena memang seharusnya sejak lama Leon memihak adik kandung Leon, yaitu Eva. Dan bukannya, ratu drama kayak Hel---"
PLAKKK... Suara tamparan terdengar jelas diruangan itu. Pipi Leon yang tadi nya putih mulus kini menjadi merah akibat tamparan keras yang diberikan oleh Bara.
"Papa nggak suka? Kenapa? Emang benar, kan?!" Balas Leon lagi tanpa peduli tatapan tajam yang dilontarkan sang papa pada nya.
"Sepertinya, papa sudah terlalu lembek terhadap kamu! Maka dari itu, papa akan menghukum kamu lagi seperti yang pernah papa lakukan terhadap kamu saat dulu kamu masih membela adik j*l*ng kamu itu!" Ucap Bara yang sudah murka akibat jawaban putra nya itu.
Ctass..ctass..ctass.. terdengar juga suara cambukan yang berbunyi keras hingga belasan kali bahkan puluhan kali.
Tes..tes..tess.. dan begitu juga dengan suara tetesan darah yang terdengar tanpa henti.
"Huh, ini adalah bentuk hukuman untuk kamu. Dulu kamu masih kecil dan tubuh kamu tidak akan mungkin sanggup menerima hukuman cambuk 30 kali, maka dari itu papa selalu mencambuk kamu hanya sampai 5 kali dan paling banyak adalah 10 kali."
"Sekarang kamu boleh keluar!" Seru Bara pada putra nya yang kini pakaian nya berwarna merah menyala, terutama dibagian belakang. Mendengar perintah papa nya itu, Leon langsung berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan itu tanpa sepatah katapun.
🌸🌸🌸
-Kamar Leon-
"Akh, sakit. Padahal kadang kala gue masih suka ngerasain sakit nya, sekarang jadi kerasa setiap saat sampai luka nya sembuh." Keluh Leon sambil sesekali meringis kesakitan.
"Udahlah, bawa mandi aja. Udah biasa juga gue kesakitan." Seru nya dan lalu berjalan menuju bathroom. Dia membuka pakaian nya dan lalu menyalakan shower yang ada di bathtub itu.
Srr... bunyi shower yang tak ada henti-henti nya membasahi tubuh pria itu. Darah yang ada ditubuh nya juga mulai pudar, menyisakan luka bekas cambukan yang masih berwarna merah pucat karena melukai kulit dalam nya yang terhubung dengan nadi.
......................
30 menit ia dikamar mandi, yang dia lakukan hanya diam berdiri sambil membiarkan derasnya air shower yang dingin mengenai tubuhnya terutama luka nya itu. Dan akhirnya dia menyudahi mandi nya lalu pergi ke ruang pakaian untuk mencari piyama mandi nya.
Setelah selesai mengenakan piyama mandi nya dan juga merapikan diri, Leon lalu pergi ke teras kamarnya sambil menikmati dingin nya malam dan hembusan angin yang bertiup agak kencang.
Tadi memang ada disiarkan diberita cuaca bahwa pada malam hari ini, angin akan bertiup agak kencang dan malam ini akan menjadi malam yang cukup dingin dengan suhu yang mencapai 15° C.
Tok.. Tok.. Tok...
"Kak? Kak Leon, ini aku, Eva, kak. Buka pintu nya, dong, aku khawatir sama kakak!" Seru Eva dari balik pintu yang berhasil membuyarkan lamunan Leon.
"Hah.." Leon membuang nafasnya berat. Dan, melangkah menuju pintu. Ia lalu memutar knock pintu tersebut dan menarik nya kearah dalam agar pintu tersebut terbuka.
"Ya, Eva, ada apa?" Tanya Leon tersenyum tipis.
"Aku masuk, boleh?" Tanya Eva pada kakak nya dengan sopan.
"Oh, iya, tentu boleh!" Balas Leon dan mempersilahkan adiknya masuk. Setelah masuk, Eva lalu duduk ditepi tempat tidur begitu juga Leon yang duduk disebelahnya.
"Ada apa, dek?" Tanya Leon bingung.
"Kakak pasti dihukum!" Jawab Eva menatap sendu mata kakak laki-laki nya.
"Ah, nggak apa-apa, kok. Kakak baik-baik aja. Cuman hukuman kecil." Sahut Leon menenangkan adik kesangan nya itu.
"Kecil? Tadi kata bik Santi, kakak berjalan menuju kamar dengan darah yang menetes dari punggung dan pakaian kakak yang berwarna merah darah. Kakak yakin, itu cuman hukuman kecil!?" Tanya adik nya lagi dengan mata yang nanar menatap kakak nya.
"Pfft, gapapa, kok. Ini bukan yang pertama kali---"
"Dan ini juga bukan yang terakhir kali!!" Potong Eva dengan cepat. Kini tatapan mata nya tegas.
"Yah..., mau gimana lagi, dia orang tua kita. Kita harus terima baik buruk nya sifat dan sikap orang tua kita." Balas Leon yang kini tersenyum pahit.
"Kalo gitu, biar aku aja yang laporin keburukan papa ke luar. Biar semua orang tahu wajah asli dari seorang 'Baradian Alendra'!" Ungkap Eva yang sudah tak tahan dengan kebejatan papa dari pemilik asli tubuh nya dan juga sikembar L. Dengan kata lain, Eva sangat lah marah.
"Jangan, Eva. Papa kebal terhadap hukum." Seru Leon yang tidak ingin adiknya mendapat konsekuensi dari keputusan nya yang gegabah.
"Tapi bukan terhadap media massa dan masyarakat, kak!"Balas Eva lagi.
"Tapi tetap aja, papa bisa memanipulasi penilaian mereka hanya dengan berpura-pura menyesali semua perbuatan nya dan bersikap seolah-olah melakukan itu semua tanpa kesadaran penuh akibat tekanan pekerjaan dan lainnya, Eva."
"Kamu tau, kan, ada banyak alasan yang bisa papa gunakan untuk membebaskan diri nya atau setidak nya meringankan hukuman nya." Balas Leon yang memang ada benar nya.
"Hah.., tunggu sebentar lagi, Eva. Sebentar lagi aja, kakak yakin, semua nya akan terselesaikan. Hm!?" Ucap nya yang entah kenapa penuh keyakinan.
"Okhey, kalo gitu, aku obatin luka kakak aja dulu. Hadap sana, kak. Kebetulan, aku ada salep penyembuh luka yang lumayan bagus, kualitas nya." Pasrah Eva yang kemudian teringat akan luka Leon yang berada dipunggung belakang sehingga sulit untuk diobati sendiri.
"Iya." Balasnya singkat dan kemudian menghadap membelakangi Eva sesuai dengan arahan.
🌸🌸🌸
"Udah, kalo gitu, kakak istirahat aja."
"Tunggu dulu, Eva." Kata Leon dengan memegang pergelangan tangan Eva untuk mencegat nya agar tidak pergi dulu.
"Ada apa, kak?" Heran Eva.
"Kamu pasti mau bicarain sesuatu yang lain, kan?!" Jawab Leon yang seketika membuat Eva teringat akan tujuan nya yang lain.
"Oh iya, aku hampir lupa." Ucap nya dengan menepuk jidat nya pelan.
"Aku mau jelasin tentang hubungan aku dengan kak Elondra dan para murid baru disekolah kita waktu itu." Ucap nya.
"Hm, jadi?" Tanya Leon yang kemudian dengan seksama menyimak cerita Eva.
"Jadi gitu, kak. Kak Elondra, kak Alvian, dan juga kak Alvaro, mereka bertiga adalah kakak nya sahabat karib aku. Sedangkan, yang lainnya adalah para sepupu dan juga sahabat nya."
"Aku kenal dekat dengan dia dan seluruh keluarga besar nya itu, makanya, semenjak tahu kalau dia udah meninggal dihari aku boleh keluar dari rumah sakit, aku mutusin untuk nginap di mansion nya sekaligus pergi ke kuburan nya bareng keluarga dia untuk berduka." Alasan Eva.
Dia tidak mungkin menceritakan tentang kematian adiknya yang asli dan pindah nya roh Angel ke raga Eva, disaat kondisi Leon seperti ini.
"Oh, gitu. Yah, apa boleh buat, kakak juga turut berduka cita, ya, untuk teman kamu itu." Balas Leon dengan tersenyum tidak enak, karna mengingatkan adiknya tentang kenangan pahit itu.
"Iya, kak, gapapa. Yaudah, kakak istirahat, ya?!!" Seru Eva dan diangguki oleh Leon. Eva lalu berjalan keluar kamar dan meninggalkan kakak nya sendiri agar bisa cepat beristirahat.
bagus ceritanya tapi kurang dengan penjelasannya ,, 🙏🙏😅😅
aku selalu suport kamu
kamu yang rajin ya up cerita nya
sering sering up ya