follow Ig ku yuk. Adisty Rere buat tau kabar terupdate cerita ini.
Teen romance.
Bagaimana alur cerita ketika cinta monyet mendera seekor gorila gila?
Namanya Fiona Narensa Ardana dan Filio Narensa Ardana. Mereka kembar tidak identik yang memiliki perangai sama persis.
Jika murid lain berlomba masuk rangking, maka mereka berdua sering keluar BP. Sifat Fiona yang semena-mena dan sang abang yang sama gilanya membuat mereka dijuluki duo gorila di SMA Tri Dharma.
Namun, apa jadinya jika si biang kerok Fiona tergila-gila dengan guru baru yang berstatus duda? Apakah sang abang yang selalu solid mendukung akan membantunya lagi ketika mengetahui ada rahasia besar di balik sosok guru itu?
Juga, akankah gorila bisa berubah jadi angsa?
Fio, sapaan gadis itu. Berpostur kurus kecil bak model kurcaci. Memiliki mata belo dengan iris berwarna kecokelatan. Punya keistimewaan, bisa berubah warna ketika melihat uang dan sang pujaan.
"Fio, ini kenapa tugas yang saya kasih satu pun gak ada yang kamu isi?" tanya sang guru dengan nada menggeram.
"Maaf, Pak. Saya gak mampu ngisinya. Sebab, isi hati, isi kepala bahkan isi dengkul saya sudah penuh dengan nama Bapak. Jadi saya gak bisa maksain diri, Pak. Takutnya saya kejang. Bahaya Pak, sedangkan kertas undangan sudah siap menunggu diisi nama kita."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal jantung.
"Ha-ha-ha."
Tawa Aulia tak berhenti sedari tadi. Cewek berkacamata itu sampai memegangi perut saking tidak sanggup lagi tertawa. Namun apalah daya, sekuat tenaga menahan diri agar tidak tertawa dia justru semakin tidak tahan.
"Udah dong, Au. Ngetawain mulu dari tadi. Tiati ada iler masuk," ketus Fiona. Dia bersedekap menatap kesal Aulia yang terus terbahak.
"Oke oke."
Perlahan Aulia meredam tawa. Dia juga menghapus jejak air yang tergenang di pelupuk matanya, lantas menatap Fiona yang berdengkus sembari bersandar di kursi.
"Gue juga gak tau bakalan gini. Gue pikir setelah naik itu dia bakalan berdebar. Bakalan sadar kalau gue itu tulus sama dia."
"Hahahah."
Lagi, tawa Aulia pecah. Dia bahkan sampai memukul meja berkali-kali.
"Aulia!" sentak Fiona. Matanya berkilat kesal.
"Lagian lo nya ada yang ngadi-ngadi."
"Ya kalo gue tau dia takut ketinggian ya gak mungkin juga dia gue ajak naik halilintar," sungut Fiona.
Teringat dia kemarin saat memaksa Kris naik roller coaster. Pria idolanya itu tampak pucat, tapi Fiona dengan kekeh mengajak naik. Tak ayal setelah turun pria itu muntah-muntah lalu tidak sadarkan diri.
"Gue jadi merasa bersalah, Au. Dia sampe gak ngajar. Kejadian kemaren pasti buat dia shock. Gimana kalo habis ini dia malah ilfil sama gue?" lirih Fiona. Dia menunduk menekuri kaki.
Aulia pun meredam tawanya. Dia sentuh pundak Fiona yang terturun. "Gak mungkin, Fi. Yakin sama gue. Lagian kan masih ada dua kali kencan lagi. Jadi usahakan kencan nanti sukses. Perlihatkan dan tonjolkan keahlian kamu. Tapi ingat, jangan ajak dia ke tempat ekstrem lagi. Bisa gagal jantung dia."
"Aulia!"
Kembali Aulia terbahak-bahak. Dia sungguh tidak bisa menahan diri. Membayangkan kekonyolan Fiona saja sudah membuatnya terpingkal. Bisa-bisanya maksa orang yang takut ketinggian naik roller coaster. Ya pasti keder.
"Jangan tawa mulu bisa gak? Bantuin. Gue lagi resah. Gue takut dia kenapa-napa. Telepon gue kagak diangkat, pesan juga kagak dibalas. Theo juga, satu pun gak balas pesen gue. Stres gue, Au."
''Sudah sudah. Jangan ngedumel mulu."
"Tapi gue gak bisa tenang. Terus gue kudu gimana?"
"Jengukin dia."
Ide itu disambut Fiona dengan senyum semringah.
"Jengukin? Itu ide bagus. Lo temenin gue, ya? Pulang sekolah nanti kita ke sana," ajak Fiona yang dibalas Aulia dengan gelengan kepala.
"Duh, maaf ya, Fi. Gue udah terlanjur janji sama bokap nyokap. Lo tau kan mereka datang itu jarang-jarang. Jadi rencananya gue mau kencan sama mereka. Maaf, ya."
Fiona mengembuskan napas panjang, lantas menatap luar jendela. Pikirannya melayang ke Kris.
Sedang apa dia? Apa dia baik-baik aja? Apa dia bakalan ilfil sama gue? batinnya bergejolak menahan resah.
***
Sesuai rencananya, Fiona datang ke rumah Kris diantar ojek online. Di depan pintu dia disambut seorang ibu berbadan gempal.
"Mau cari siapa?" tanya ibu itu. Ibu tua yang baru pertama kali Fiona jumpai.
Siapa dia? Apa mungkin orang tuanya Pak Kris? Fiona bermonolog, lantas menatap Mun—bibi pengurus rumah Kris—begitu lekat.
Segera dia sambar tangan Mun, lantas menciumnya begitu lekat.
"Loh, kok salim?" tanya Mun terheran-heran. Seumur hidup tidak pernah bertemu orang asing yang langsung menyambar tangannya, lantas menciumnya begitu khidmat.
"Iya dong, kan calon mantu," balas Fio. Dia nyengir tidak tahu malu.
"Menanti?" Mun langsung terbengong, lalu menggaruk tengkuknya. "Saya di sini pembantu, Neng."
Astaga. Fiona langsung terbelalak, dia terbeku lalu tersenyum tidak nyaman. Dia serahkan sekantong jeruk ke Mun.
"Maaf aku pikir ibunya Pak Kris."
"Bukan, Neng. Eh tapi ...." Mun menjeda kata. Dia merasa ada yang sumbang dari ucapan Fiona, tapi memilih bungkam.
"Den Kris masih di rumah sakit."
"Rumah sakit!" ulang Fio. Suaranya yang melengking membuat Mun mengurut dada. Hampir copot jantungnya.
***
Maafkan, up nya dikit ya man teman. Siang puasa jadi lemes. Malam malah ngantuk berat. Hehehe
Terima kasih karena masih setia. Habis lebaran aku usahakan kreji up.
Harusnya Krish itu belajar dri Theo terus memperjuangkan,dan sedikit egois utk kebahagiaan sendiri gak papa...Haaiiss Krish mah bikin aku tambah kesel aja...🙇🙇🤦🤦🙄🙄