"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"
Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.
Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.
Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.
Genre : Romantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Selamat datang di London!
Pagi yang menyenangkan, pagi yang membahagiakan. Mungkin inilah penggambaran yang tepat untuk suasana rumahku saat ini. Semua orang terlihat bersemangat dan berbahagia hari ini. Memoles diri mereka masing-masing dengan tampilan sesempurna mungkin. Sebab hari ini, rencana liburan ke luar negeri bukan lagi jadi khayalan belaka.
Dengan baju warna senada kami memasuki dua mobil mewah milikku dan mbak Brenda. Aku, mas Hafizh, si kembar Zee dan Qilla, Fatih, Syamil serta Syafiq, duduk bersama di mobil kami.
Sedangkan di mobil mbak Brenda, ada kedua baby sitter si kembar dan juga mbok Darmi. Kami sengaja memboyong mereka sekalian, bagaimana pun mereka sudah banyak berjasa dalam keluarga kami sehingga sebutan keluarga lebih pantas disandangkan untuk mereka dibandingkan asisten rumah tangga.
"Nanti Syamil naik pesawat yah ummi?" Celoteh Syamil saat mobil kami melaju kencang menuju bandar udara internasional Soekarno-Hatta.
"Iya sayang," sahutku membelai rambut lembut miliknya.
"Yey, Syamil telbang." Syamil kegirangan. Kedua tangannya terangkat mengibas seperti bendera.
"Nanti kalau aku sudah telbang, aku mau sentuh langit." Penuturan Syamil buat aku sedikit terkekeh menahan tawa.
"Bolehkan Abi? Syamil mau sentuh langit," rengeknya pada mas Hafizh yang saat ini sedang menimang Zee yang mulai sayup-sayup tertidur dalam pangkuannya.
"Sstt... Syamil bicaranya jangan keras-keras. Adik Zee mau bobo," tutur mas Hafizh dengan meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya. Memberikan isyarat pada Syamil untuk tidak membesarkan suaranya.
"Maaf Abi. Tapi Syamil pengen sentuh langit nanti kalau udah di pesawat," bisik Syamil hampir tak terdengar.
"Caranya gimana? Syamil kan duduk di dalam pesawat. Sementara langitnya di luar." Mas Hafizh mengimbangi pertanyaan dari anak sambungnya. Ia tidak langsung menjelaskan bahwa kenyataannya Syamil tak dapat menyentuh langit walau berada di dalam pesawat Sekalipun.
"Nanti Syamil tinggal buka jendela, terus mengeluarkan tangan Syamil buat sentuh langit Abi," jawab Syamil polos.
Mas Hafizh menatap lucu pada Syamil, setelah itu beralih padaku dengan tergelak kecil.
"Sayang, nanti kalau sudah di pesawat. Syamil nggak boleh buka jendelanya, nanti dimarahin sama tante pramugarinya," selorohku memberikan penjelasan pada bocah cilik yang selalu banyak ingin tahu.
"Tante pramugari itu siapa Ummi?" Tanya Syamil imut. Membuatku menjadi gemas ingin mencubit pipi tembem milik anak keduaku ini.
"Tante pramugari itu, tante yang nanti bakal ngelayanin kita di pesawat nanti." Sambil memainkan cubitan kecil pada pipinya.
"Oh, jadi nanti di pesawat bukan hanya ada kita saja ya ummi?'
"Iya sayang."
Syamil mengangguk pelan. Entah dia mengerti atau hanya berpura-pura mengerti. Tapi biarlah, setidaknya dia diam kembali. Beruntungnya Syafiq tidak ikut-ikutan berbicara, sebab ia terlihat mengantuk setelah tadi malam tidur larut karena kegirangannya akan berangkat liburan hari ini.
Tidak tau bagaimana jadinya kalau tadi Syafiq ikutan celoteh. Pasti kehebohan akan mengiringi perjalanan kami. Kehebohan antara Syamil dan Syafiq yang saling beradu argumentasi khusus anak kecil. Yang pasti mengalah tidak ada dalam buku catatan mereka. Selagi mereka tidak dibela, maka mereka akan terus menjadi. Begitulah sifat kedua anakku ini.
Sementara Fatih, lebih sibuk memainkan gadget-nya tanpa mempedulikan kecerewetan adiknya. Jarinya lihai menekan layar monitor ponselnya yang dibelikan ayah sambungnya beberapa hari lalu.
Sempat aku melempar protes pada mas Hafizh. Sebab aku tidak mau jika pembelajaran Fatih terganggu dengan kehadiran handphone mahal yang diberikan mas Hafizh.
Namun, mas Hafizh berkilah bahwa sebelum membeli ponsel Android tersebut, ia dan Fatih sudah mengikat janji di atas kertas putih bernodakan tinta hitam bekas tanda tangan Fatih. Bahwa ia akan memainkan gadget-nya hanya pada hari libur dan waktu terbatas, serta tidak mengabaikan pelajarannya.
Benar saja, Fatih memenuhi janjinya tersebut. Ia hanya akan bermain ponsel mata tiganya hanya ketika ia selesai belajar. Atau sedang dalam perjalanan seperti ini. Aku bahkan sempat memeriksa ponselnya, untuk sekedar mengecek apa yang dilakukanya pada ponselnya. Hanya ada beberapa game online, aplikasi hafalan murotal, Al-Qur'an, MP3 nasyid islami, dan juga beberapa aplikasi e-book berbayar.
"Abang, nggak pusing apa, main ponsel dalam mobil gitu?" Aku bertanya hal seperti itu, sebab aku sering merasakannya jika bermain ponsel ketika mobil sedang melaju.
"Sedikit ummi," balasnya tanpa memandangku, tapi tetap fokus melancarkan jari-jemarinya menekan cepat layar ponselnya. Sepertinya ia sedang bermain game online jika kulihat dari tampilannya.
Tak kugubris lagi perkataannya. Aku edarkan pandangan ke luar jendela, sedikit menelisik keindahan jalanan ibukota Jakarta yang sedikit tercemar udaranya dari berbagai polusi kendaraan bermotor. Di pangkuanku, Baby Qilla dengan nyeyaknya bermain dalam dunia mimpinya.
Sayup-sayup hembusan angin pagi mulai membuatku sedikit menguap sebab rasa kantuk mulai mendera. Maklumlah, perjalanan ke bandara memakan waktu satu jam. Sehingga cukuplah untuk membuat rasa kantuk itu datang. Apalagi semalam, aku sedikit tidur, lantaran kedua anak kembarku tiba-tiba rewel dan pengennya di nina bobokan dalam pelukan.
Kulirik mas Hafizh, kepalanya juga mulai terantuk kaca jendela disebelahnya, karena ia mulai hilang kesadaran. Sebab ia juga ikut serta dalam peranku tadi malam. Tanpa protes ia ikut bangun dan membantukku mengurusi Baby Zee dan Baby Qilla. Meski sesekali kepalanya goyang ke kiri dan ke kanan gara-gara ketiduran secara tidak sengaja.
Tidak bisa lagi kutahan mata yang terasa berat ini. Akhirnya aku mengalah dan membiarkan ia tertutup dengan sempurna.
***
"Ummi, Abi, bangun! Kita sudah sampe bandara." Lirih terdengar sapaan seseorang dalam mimpiku, seiring dengan kesadaran yang mulai mengambil alih tubuhku yang tergolek lemas karena tertidur pulas.
Semakin jelas sapaan itu. Hingga aku tersadar bahwa suara itu berasal dari anakku Fatih yang sudah cukup lama membangunkanku. Di samping, mas Hafizh juga baru terbangun. Ia mengerjapkan kedua matanya, kemudian menatap Zee yang masih tertidur nyenyak.
Fatih dengan cepat turun dari mobil, diikuti kedua adiknya. Sedang aku masih memperbaiki posisi memeluk Qilla dengan baik, agar tidak sampai membangunkannya. Namun, baru juga aku gerakkan sedikit tubuhku, bayi cantik nan lucu itu sudah membuka matanya sempurna.
"Eh anak ummi sudah bangun yah," lirihku sembari mencium pipi mungil Qilla.
Ia menggeliat manja. Merenggangkan badannya, kemudian berusaha menyeimbangkan tubuhnya dalam pelukanku.
Kami pun akhirnya turun. Mengedarkan pandangan pada sekeliling bandara yang banyak lalu lalang kendaraan dan juga manusia yang hendak bepergian ke luar daerah dan luar negeri.
Mas Hafizh memberikan Zee pada mbak Ani. Sedang ia pergi untuk mengurusi setiap barang kami yang masih ada dalam mobil. Kemudian ia naikkan ke Trolley yang sudah disiapkan oleh petugas bandara.
Kami masuk ke dalam untuk melakukan check-in. Beruntung kami datang lebih awal dari waktu penerbangan. Sehingga tidak harus mengantri panjang dibagian check-in counter.
Setelah menerima boarding pass. Mas Hafizh dan mbak Brenda menuntun kami menuju tempat penungguan pesawat. Tidak ada lagi barang bawaan. Karena semua koper-koper sudah dimasukkan dalam bagasi. Tersisa tas kecil yang menggantung di bahuku.
"Sambil menunggu pesawat. Bagaimana kalau kita makan dulu," usul Mbak Brenda yang dengan cepat di setujui oleh mas Hafizh.
Tanpa perlu menjawab kami mengikuti langkah Mbak Brenda. Menuju salah satu restoran dalam Airport yang cukup terkenal dengan harganya yang mahal. Memesan beberapa menu dan menyantapnya bersama.
***
"Dear passengers, welcome to London, we have landed at LONDON HEATHROW International Airport, we invite you to stay seated until the aircraft is completely stopped in its place and the seat belt sign lights are turned off. Our flight ends today on behalf of Singapore Airlines captain Anton, and all flight crew who are on duty say goodbye and hope to meet again on Singapore Airlines flights another time. Before leaving the aircraft, we remind you to double check your cabin baggage so that no items are left behind. Passengers on connecting flights please report to the transfer service section in the flight lounge. thank you." Terdengar informasi dari kapten saat pesawat kami Landed.
Tak terasa pesawat yang kami tumpangi sudah mendarat sempurna di Airport London Heathrow. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama enam belas jam lamanya. Rasa lelah sirna seketika, saat pemandangan bandara dengan ukuran sangat besar dan mewah memanjakan mata kami untuk pertama kalinya. Decak kagum dari kami sekeluarga tak terelakkan. Bahkan saat ini Syamil dan Syafiq ingin segera berlari keluar untuk lebih menikmati keindahannya dari dekat.
"Ummi, aku mau turun," ucap Syamil rewel. Untungnya, kami sekeluarga memilih penerbangan bussines class, jadi tidak perlu merasa sungkan dengan tingkah Syamil. Karena dalam kelas ini hanya terisi oleh seluruh keluarga.
"Sabar Syamil. Tidak dengar apa kata om kapten tadi?" Ucapku memberi penjelasan padanya.
"Dengar ummi. Tapi mana Syamil ngerti, orang bahasanya Om kapten begitu." Aku tertawa mendengar sahutannya. Aku lupa bahwa bahasa Inggris masih bahasa tabu untuk anak seusianya. Meski sedikit-sedikit aku mengajarkan padanya beberapa nama benda dan buah dalam bahasa Inggris.
"Kata Om kapten. Syamil baru boleh keluar kalau lampu itu sudah mati," ujarku sambil menunjuk lampu sabuk pengaman di atas kepalaku yang masih menyala.
"Oh begitu ya," lirihnya kemudian menatap kearah jendela kembali.
Tidak berapa lama, lampu yang kutunjuk tadi akhirnya padam juga. Dengan antusias Syamil berdiri dan hendak keluar. Aku mengikuti arus kepergian Syamil, sebab anak itu terlalu lincah jika dibiarkan berjalan sendiri.
Melewati pramugari cantik serta anggun yang ikut mengantarkan kepergian kami melalui pintu keluar. Seulas senyum manis mereka sunggingkan ketika berpapasan dengan kami dan para penumpang lainnya.
Sungguh negara yang indah. Namun tetaplah lebih indah negara tercintaku, Indonesia. Tak ada tandingannya, sebab disanalah aku terlahir, dan disanalah aku tumbuh dewasa.
Aku menutup mataku dan menghirup bebas udara di negara ini. Terasa sejuk dan menenangkan. Sungguh aku berterima kasih pada Allah, karena skenarionya terlalu indah untuk aku syukuri. Sebab takdirnya menuntunku bertemu lelaki baik dan Soleh seperti mas Hafizh.
Dari sini aku belajar bahwa Tak ada sabar yang berujung pahit, semuanya selalu berakhir manis dan penuh tawa.
"Sayang." Terasa tangan kokoh melingkar pada pundakku. Seiring bisikan menenangkan dari lelaki yang begitu aku cintai.
Tanpa membuka mata, aku hempaskan lembut kepalaku pada pundaknya. Dibalas kecupan manis pada puncak kepalaku.
"Selamat datang di London. Tempat kita fokus membuat adik untuk anak-anak," bisiknya lagi. Yang berhasil membuatku tersenyum malu.
"Maunya," cecarku dan mencubit kecil pinggangnya.
Mas Hafizh memekik dan selanjutnya tertawa manis sambil merangkulku kembali.
Terima kasih atas kebahagiaan ini mas. Gumamku dalam hati.
Bersambung 😁😁
dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...
karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....
banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...
keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...
lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝