Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berdaya diejek dan ditindas orang lain karena menyembunyikan identitasnya?
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENYATAAN YANG MENYAKITKAN
"Kok lama? Tidur dulu?" protes Melvin.
Dia menyuruh Rei mengantarkan dompetnya yang ketinggalan di rumah. Dua jam dia menunggu sampai akhirnya Rei datang membawakan dompet miliknya.
Melvin menyesap rokoknya lalu menghembuskan asap ke udara yang terasa dingin. Malam ini, seperti biasa, dia berkumpul dengan teman-temannya di klab malam. Rei selalu menolak saat diajak. Padahal usianya juga sudah cukup untuk mencicipi alkohol dan rokok.
"Aku tadi mengantar Ruby pulang dan makan malam bersamanya."
Perkataan Rei seketika merusak mood Melvin. Entah mengapa setiap kali mendengar adiknya dekat dengan wanita itu dia merasa kesal.
"Kalian pacaran?"
"Tidak. Ah, belum."
Melvin terkekeh, "Kalau tidak pacaran kenapa tingkahmu seperti sopirnya yang harus menjempit dia pulang kerja?"
"Memangnya kenapa? Dia tidak punya pacar juga. Aku mau melakukannya dan dia mau pulang denganku."
Melvin lebih dalam menyesap rokoknya seakan melampiaskan rasa marahnya.
"Kalau kamu suka padanya, cepat katakan sebelum ada orang lain yang mendahuluimu."
"Akan aku lakukan. Tapi setelah aku menyelesaikan summer school nanti."
"Kamu jadi berangkat?"
"Iya. Kakak mau ikut?"
"Tidak. Aku sedang malas untuk pergi ke luar negeri."
"Tapi di sana ada Renata. Apa tidak ada niatan untuk menjenguknya?"
Mendengar nama Renata juga membuat Melvin jadi murung. Meskipun pernah sangat mencintainya dan kasihan dengan kondisinya sekarang, tapi rasa sakit karena dikhianati masih terasa jelas di hatinya.
"Kalau kamu mau menjenguknya, sampaikan saja salamku."
"Oke. Urusanku sudah selesai, kan? Aku mau pulang dulu."
"Tidak mau masuk bersamaku?"
"Tidak."
"Kamu sudah bukan anak di bawah umur lagi. Come on! Sesekali cobalah ikut dengan yang lain."
"Menurutku tidak ada kaitannya antara clubbing dengan usia, Kak. Aku memang tidak tertarik dengan hal seperti itu."
"Ah, ya, ya, ya.... Yang membuatmu tertarik memang hanya wanita bodoh itu."
Rei tak menghiraukan ucapan kakaknya. Ia kenakan kembali helm fullface miliknya lalu memasukkan kunci ke dalam lubang motornya.
"Jangan terlalu malam, Kak. Ibu kan ada di rumah."
"Aku sudah ijin tadi, tidak perlu khawatir. Aku juga bukan anak kecil lagi."
Rei tahu tidak ada gunanya menasihati Melvin yang keras kepala. Dia memilih pergi melajukan motornya meninggalkan Melvin.
Setiap orang punya kesukaannya sendiri-sendiri. Ketika kakaknya suka dengan rokok, alkohol, dan tempat dugem, Rei lebih suka menyendiri di kamar dengan membaca buku atau belajar trading secara mandiri.
Kalau bukan karena Ruby juga mungkin ia tak akan bergaul dengan siapapun. Bahkan dekat dengan anak-anak DKK itu karena kakaknya. Ruby orang pertama yang memang ingin ia ajak berteman dan membuatnya nyaman.
"Kamu tidak boleh begitu dong, Sayang.... "
Langkah kaki Rei terhenti ketika mrlewati kamar kedua orang tuanya yang sedikit terbuka. Sepertinya keduanya sedang berdebat di dalam.
"Rei juga seharusnya sudah kamu ajak main ke perusahaan seperti Melvin. Dia itu anak yang cerdas dan mudah mengerti."
Ibunya terdengar berbicara dengan nada yang sedikit meninggi, membahas tentang dia dan kakaknya.
"Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Aku hanya akan menyerahkan perusahaan untuk Melvin."
"Aku tahu, aku juga sudah setuju. Maksudku, aku hanya ingin kamu mengajak Rei, memberikannya pekerjaan yang sama dengan Melvin. Itu saja. Terserah nanti perusahaan jadi milik Melvin juga tidak apa-apa. Setidaknya Rei bisa ikut belajar mengurus perusahaan secara langsung."
Perasaan Rei sudah semakin tidak enak. Ibunya begitu kukuh agar dia bisa masuk ke perusahaan seperti kakaknya. Padahal, itu tidak menjadi masalah untuknya.
"Permintaanmu sudah terlalu jauh, Sayang."
"Rei itu kan juga anak kita. Kamu tidak menyayanginya?"
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa selama ini aku terlihat seperti orang yang membencinya? Aku juga menyayangi Rei."
"Tapi kamu juga harus ingat, kalau anak kandung kita hanya satu, Melvin!"
"Jangan bicara seperti itu.... Rei juga kita.... Kita yang sudah membesarkannya!" Suara Kania semakin meninggi. Dari nada bicaranya yang sedikit bergetar, sepertinya ia mulai menangis.
"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu. Kita sama-sama menyayangi Rei, tapi tetap saja kamu tidak boleh memungkiri darimana asal usulnya."
"Kalau kamu menyayanginya, seharusnya kamu tidak membedakan perlakuan pada Rei dan Melvin. Kenapa kamu seperti itu?"
"Rei sudah cukup dewasa untuk tahu yang sebenarnya."
"Dia masih kecil! Dia tidak boleh tahu!"
"Rei sudah 19 tahun, Sayang.... Kamu lupa?"
Bagi Kania, tak ada anak yang telah tumbuh dewasa. Di matanya kedua putranya itu tetaplah anak kecil.
"Aku yakin meskipun Rei tahu kalau kita bukan orang tua kandungnya, dia tetap akan menyayangi kita. Karena kita juga sudah membesarkannya dengan baik dan penuh cinta."
"Kalau kamu tetap seperti ini terus, orang-orang akan menganggapmu pernah berselingkuh dariku. Aku tidak suka kalau ada yang diam-diam membicarakanmu seolah-olah pernah melahirkan seorang anak dari lelaki lain."
"Kamu harus berani mengatakan di depan semua orang bahwa Rei hanya anak angkat kita."
"Sejak kapan kita harus peduli dengan omongan orang lain? Biarkan mereka berbicara sesuka hati mereka yang jelas aku merasa bahagia dengan kedua anakku."
"Kalau kamu tidak mau mengakui Rei, biar Rei jadi anakku saja."
"Aku juga sayang Rei, makanya aku ingin dia tahu semuanya. Selama ini dia pasti mempertanyakan, kenapa orang-orang suka membicarakan tentang dirinya. Kamu yang selalu menutup-nutupi. Rei punya rasa ingin tahu yang tinggi, kamu tahu itu!"
"Apa menurutmu dia diam karena tidak memikirkan perkataan orang-orang? Rei juga pasti menderita karena perkataan buruk tentangnya, dan tentangmu juga."
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut ayahnya sendiri membuat Rei seakan disambar petir. Meskipun itu adalah kenyataan yang selama ini sangat ingin ia dengar, namun tetap terasa menyakitkan. Padahal dari lama ia mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan ini. Ia sudah tahu kalau dirinya bukan bagian dari keluarga Adinata.
Satu hal yang membuatnya lega, bahwa ternyata ibu yang ia sayangi dan hormati selama ini tidak berselingkuh seperti ucapan orang-orang selama ini. Dia murni anak asing yang diasuh oleh keluarga Adinata.
Krak!
Helm yang ada di genggaman Rei terjatuh. Membuat Kania dan Ken terkejut. Mereka berdua menoleh ke arah pintu, dimana ada Rei yang masih berdiri di sana. Tentu saja keduanya menjadi panik. Percakapan yang mereka lakukan tidak seharusnya didengar oleh Rei.
Anak itu tampak sedih menatap ke arah kedua orang tuanya. Membuat Kania dan Ken merasa bersalah. Terutama Kania.
"Rei, kamu sudah pulang?" tanya Kania sembari merekahkan senyuman di bibirnya.
Ia tinggalkan Ken sendiri untuk menghampiri Rei. Namun, Rei memilih memungut helm lalu lanjut masuk ke kamarnya.
Kania mengikuti Rei hingga masuk kamar. "Rei, kamu mendengarkan percakapan ibu dan ayah, ya?"
Rei masih syok, ia belum bisa berkata-kata.
"Rei.... " Kania mengguncangkan tangan putranya yang terdiam seperti patung. Ia tahu pasti anaknya saat ini sedang merasakan kekecewaan luar biasa.
"Ibu minta maaf kalau sudah membuatmu sedih, Rei."
Kania menitihkan air mata. Mungkin ini pertama kalinya Rei melihat ibunya menangis di hadapannya. Wanita yang paling ia sayangi itu, meskipun sudah semakin tua, namun tetap terlihat cantik.
"Sudah, Bu. Jangan menangis. Aku tidak apa-apa."
calon mertua/Tongue/