Apa yang paling di inginkan setiap Kultivator didunia ini? Tentu saja kekuatan. Kekuatan adalah segalanya didunia ini, jika kamu tidak cukup kuat maka sesuatu yang menunggu adalah kematian. Oleh karena itu, untuk menjadi kuat semua hal akan dilakukan, meski itu harus membunuh demi sumber daya yang terbatas.
Tetapi terdapat seorang pemuda yang memiliki tujuannya sendiri, yaitu kedamaian. Dia menggunakan kekuatan sebagai alat untuk mencapainya. Setiap ayunan pedangnya akan menghancurkan kegelapan dari sisi kehidupan. Dengan pedangnya, dia akan membunuh segala musuh yang menghalangi langkahnya.
Namanya adalah Li Hui, pemuda berambut putih dengan iris emas yang setiap tatapannya akan menghancurkan mental setiap orang. Dan dengan bakatnya, dia akan memimpin setiap Kultivator melawan musuh yang sudah kelaparan selama ribuan tahun.
"Inikah akhirnya?"
Ucap Li Hui dengan pedang ditangan kirinya, memandang sedih kearah langit malam tanpa bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Levifq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.32 Berlatih
“saya ingin melihat anak yang bermarga Li itu, apakah saudara Qifan keberatan?” ucap Xiao Wu.
Mereka telah menghabiskan banyak waktu untuk berbasa-basi, hingga tiba saatnya untuk berjalan menuju topic utama.
“hahaha! Tidak masalah..tidak masalah.. Tetua Nan, tolong panggil Li Hui untuk datang kesini.” Perintah Patriak Qifan kepada Xiu Nan.
“baik patriak..” balas Xiu Nan sebelum berjalan keluar ruangan.
**
Sementara itu, didalam kediamannya, Li Hui terlihat sedang mengamati Buku Teknik Langkah Kilat. Dia akan sesekali mempraktekkan apa yang disuruh oleh penjelasan buku teknik itu, mulai dari menarik nafas dengan cara setenang mungkin, dan berlatih mengatur nafasnya sembari melompat-lompat seratus kali ditempat.
Disaat dia ingin kembali melihat apa yang tertera didalam buku teknik, pintu kediamannya tiba-tiba berbunyi karena diketuk seseorang, yang tidak lain adalah Xiu Nan.
“apakah ada yang bisa saya bantu Tetua Nan?..” Tanya Li Hui setelah membungkuk hormat.
“ah, apakah aku mengganggu waktumu Hui,er..?” Xiu Nan balik bertanya, setelah melihat kondisi tubuh Li Hui yang dipenuhi keringat.
“tidak sama sekali…”
“begini..Ketua Klan cabang Xiao ingin bertemu denganmu, jadi patriak Qifan ingin kamu datang ke Blue Palace.” Ucap Xiu Nan.
“hahaha, kamu tidak perlu khawatir…suasana hati Ketua Klan Cabang Xiao sangat baik hari ini. jadi segera ganti pakaianmu, sebaiknya kita jangan mengulur waktu lebih lama lagi..” ucap Xiu Nan menghibur, setelah melihat raut wajah Li Hui yang berubah.
Tanpa membuang-buang waktu, Li Hui langsung mengganti pakaian bagian atasnya dan mengenakan jubah khas murid batin sekte Bintang Biru. Lalu dia keluar dari ruangannya bersama Xiu Nan dan berjelan kearah Blue Palace.
Beberapa saat kemudian. Mereka akhirnya sampai dan langsung masuk melewati pintu ganda besar Blue Palace. Setibanya mereka didalam, semua perhatian langsung terarah kepada Li Hui yang membuat pemuda berambut putih itu sedikit gugup.
“hormat kepada Patriak..” ucap Li Hui sambil menurunkan tubuhnya menjadi berlutut.
“bangkitlah Hui’er..” ucap Patriak Qifan.
“ini adalah Ketua Klan Cabang Xiao, dan dia ingin bertemu denganmu..” lanjut Patriak Qifan memperkenalkan Xiao Wu kepada Li Hui.
“hormat kepada Ketua Xiao..” ucap Li Hui sembari membungkukkan tubuhnya.
Xiao Wu tidak menjawab salam Li Hui, karena sibuk memperhatikan pemuda berambut putiih itu dari atas sampai bawah. “menembus peringkat keenam di umur yang jauh lebih muda dari Yun’er…hm, sepertinya ada yang tidak beres disini” ucap Xiao Wu dalam hati.
Setelah melihatnya secara langsung, dia merasa keberadaan Li Hui sedikit tidak biasa. Karena tidak mungkin, klan Li membiarkan anak seperti dia berada disekte kecil seperti ini. “itu tidak mungkin..” ucapnya lagi didalam hati.
Dan satu lagi, dia merasa aneh dengan warna pupil mata Li Hui, karena entah bagaimana dia bisa merasakan semacam energy aneh keluar dari sana, meskipun itu sangat kecil sehingga tidak akan banyak yang menyadarinya.
“hm,bangkitlah anak muda…” ucap Xiao Wu setelah beberapa saat.
“aku sangat penasaran dengan tempat asalmu, apakah kau keberatan memberitahu pria tua ini?..” Tanya Xiao Wu kepada Li Hui.
Li Hui melirik Patriak Qifan sesaat sebelum menjawab pertanyaan Xiao Wu itu.”saya berasal dari desa daun..”
“desa daun?...aku tidak pernah mendengar tempat itu..” ucap Xiao Wu.
“desa itu berada disebelah barat daya hutan Wuda yang berada dibagian kekaisaran ini.. tidak heran jika anda belum pernah mendengarnya, karena butuh setidaknya satu setengan bulan untuk sampai kesana dari tempat ini.” Ucap Patriak Qifan untuk menjawab pertanyaan Xiao Wu.
“jadi bagaimana dia bisa sampai kesini?..”
“ceritanya sangat panjang, dan ada sedikit privasi disana. Jadi jika anda penasaran, saya akan menceritakannya kepada anda nanti.” Ucap Patriak Qifan.
“hm, baiklah.”
Li Hui mengamati percakapan kedua sosok penting itu dalam diam. Dia bisa melihat aura yang keluar dari tubuh Xiao Wu jauh lebih kuat daripada aura milik Patriak Qifan, dengan kata lain dialah orang terkuat disini.
Lalu pandangan Li Hui beralih kearah Xiao Yun yang berdiri disamping Xiao Wu. Pandangan mereka saling bertemu selama beberapa saat, sebelum Pemuda berambut keunguan itu mengalihkannya.
“aku sudah cukup melihatmu, dan kupikir kau masih memiliki urusan lain. Jadi aku tidak akan mengulur waktu mu lagi, kau bisa pergi sekarang.” Ucap Xiao Wu.
“terimakasih ketua Xiao…saya mohon undur diri.” Ucap Li Hui. Lalu dia membungkukkan tubuhnya kepada Xiao Wu dan Patriak Qifan sebelum membalikkan badanya dan pergi dari sana.
Setelah Li Hui keluar dari sana, beberapa detik kemudian Xiao Yun juga ikut keluar. “apa kau ingin membicarakan sesuatu?..” Tanya Li Hui yang menunggu didepan Blue Palace.
“hmph!...kau bisa sombong kali ini, tetapi lain kali, aku akan membuatmu malu jika berhadapan denganku.” Balas Xiao Yun, lalu melangkah pergi dari sana.
Li Hui yang melihat itu hanya mengangkat bahunya sekali, dan juga ikut pergi dari sana menuju bagian belakang sekte. Dia terus berjalan dan memasuki kawasan hutan hingga akhirnya dia sampai di pinggir tebing dimana tempat itu pernah dia kunjungi beberapa hari yang lalu.
Dia duduk bersila diatas sebuah batu, dan mengeluarkan buku Teknik pedang yang dia ambil kemarin, lalu secara bertahap membacanya dari lembar pertama.
‘Teknik Pedang:Sentuhan Roh Angin adalah sebuah teknik pedang panjang yang membuat penggunanya bisa bergerak dengan sangat ringan dan halus seperti hembusan angin.
Meskipun demikian, ketajaman yang ditimbulkan oleh ayunan itu tidak bisa diremehkan, karena ayunan pedang itu bisa membuat ketajaman sebuah pedang mencapai titik maksimal’
‘seseorang yang ingin menguasai teknik ini, harus mengerti bagaimana angin biasanya bergerak. Dan jika dia ternyata bisa menguasainya sampai hampir menyamai angin, dia bisa bergerak dan mengayunkan pedangnya tanpa menimbulkan suara apapun. Dan itu bisa menjadi serangan diam-diam yang sangat mematikan.’
Setelah selesai, dia meletakkannya dibatu dan membuka halaman dimana gerakan pertama digambarkan.
Li Hui lalu menarik Black Night Sword dan bergerak sesuai petunjuk yang tertera di manual teknik pedang itu. gerakan yang dia peragakan terlihat sangat pelan dan lembut, bahkan sesekali akan terlihat seperti sedang menari. Akan tetapi, gerakannya masih terlihat sedikit kaku, karena dia masih kurang dalam pemahaman bagian terpenting, yaitu gerakan angin.
Setelah menyelesaikan gerakan pertama, dia menancapkan pedangnya ketanah dan duduk bersila sambil menutup kedua matanya. Dia melakukan itu supaya dia bisa menyerap semua gerakan yang dilakukannya tadi kedalam pikirannya.
Li Hui membutuhkan waktu 30 menit untuk menyelesaikan prose situ. Lalu dia membuka gerakan yang kedua dan kembali memperagakannya. Setelah itu, dia kembali duduk bersila dan menyerap semua gerakan kedua kedalam pikirannya. Kali ini dia membutuhkan waktu yang jauh lebih lama yaitu 90 menit.
Dia kembali mengulanginya sampai gerakan yang keempat, dan setelah dia membuka matanya, langit sudah mulai menggelap. Teknik Pedang: Sentuhan Roh Angin itu memiliki 6 gerakan.
Setelah dia membereskan semuanya, dia berjalan memasuki hutan tetapi arah langkahnya bukan kearah sekte Bintang Biru, melainkan jauh kedalam hutan. Dia ingin melatih keterampilan teknik pedang yang baru dia pelajari ini, karena ayahnya pernah berkata bahwa untuk menguasai sesuatu dengan cepat, harus mempraktekkannya secara langsung.
Setelah berjalan selama 10 menit, akhirnya pandangan Li Hui bisa menemukan seekor ular pyton besar, yang baru keluar dari lubangnya untuk berburu. Ular Pyton itu memiliki panjang sekitar 4 meter dan lebar 20 cm.
ayo author semangat.